Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 78


__ADS_3

“Shel, ada titipan dari Mama aku buat kamu,”


Shelina terkejut ketika Ganta memberikan satu kotak makan kepadanya. Ia menatap Ganta dnegan dorot mata bingung, kemudian Ia menatap Argantara yang mengantarkan Shelina ke kelasnya demgan hati sennag tapi tina-tiba berubah jadi kesal karena Ganta memberikan sesuatu untuk kekasihnya.


“Ini beneran buat aku, Ganta?”


“Iya itu dari Mama aku,”


“Oh ya udah kalau begitu, aku mau bilang makasih ya untuk Mama kamu sama kamu juga. Ini pasti aku makan kok,”


“Sama-sama,”


Ganta akan masuk ke dalan kelas, tapi Argantara menahan langkahnya dengan pertanyaan sinis “Ini beneran dari nyokap lo, Gan?”


Ganta yang semula sudah berbalik hendak masuk ke dalam kelas langsung memutar badannya lagi dupaya berhadapan dengan Argantara dan Shelina kemudian Ia menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Argantara.


“Dari nyokap lo atau lo sendiri?”


“Ya elah; dari nyokap gue beneran, Ga. Ngapain gue bohong. Eh tapi lagian ya kalaupun dari gue emang kenapa sih? ‘Kan mau bebruat baik itu boleh ke siapa aja. Gue mau ngaish makanan boleh ke siapapun, suka-dukanya hati gue lah,”


Argantara langsung menganggukkan kepalanya kemudian menyimpan kedua tangannya did alam saku celana.


“Okay, jadi debenarnya ini dari nyokap lo atau lo sendiri?”


“Udah gue bilang dari nyokap gue, nanya mulu, lo nggak percaya?”


“Ya bukan gitu sih, soalnya dari penjelasan lo barusan gue makin ragu, tapi ya udahlah ist okay nggak usah dibahas soalnya gue nggak ada waktu, udah mau masuk kelas,”


“Okay gue masuk kelas duluan,”


Ganta melangkah ke dalam kelas meninggalkan Argantara dan Shelina yang masih berdiri di depan pintu kelas Shelina juga Ganta.


“Ya udah kamu ke kelas kamu aja sekarang, aku juga udah mau masuk kelas aku nih,”


“Eh ya ampun aku lupa. Aku belum sarapan lho tadi,”

__ADS_1


“Lah terus gimana? Pagian kamu kenapa bisa lupa sih? Kamu apsti sekarang kelaperan ya?”


Argantara menahan tawa sinis dalam hati sambil membatin “Rasain lo, Ganta ya! Gue kerjain”


“Iya aku kelaperan banget,”


“Ya udah nih kamu ambil makanan dari Ganta. Ini buat kamu aja, aku ‘kan udah sarapan tadi,” ujar Shelina yang langsung menyerahkan kotak makan pemberian Ganta kepada Argantara.


“Lho terus kamu gimana? Ini ‘kan dari si cecunguk itu?”


“Ssstt heh! Kamu nggak boleh ngomong sembarangan gitu ih. Nama dia Ganta bukan cecunguk, curut, atau apalah itu. Yang benar kalau panggil nama orang,” tegur Shelina yang merasa tidak senang ketika tunangannya sengaja mengubah nama panggilan Ganta. Walaupun kesal, cemburu, dan semacamnya, tapi Argantara harus tetap menghargai nama Ganta yang merupakan pemberian dati orangtuanya. Mereka susah-susah mencari nama yang bagus untuk ganta, jadi tidak sehatusnya Argantara langsung mengganti seenak hati. Ini bukan tentang sahabat, cinta, pembelaan atau apa. Tapi ini tentang sopan santun dan saling menghargai.


“Kamu kenapa jadi ngebelain dia? Cinta sama dia? Atau karena dia sahabat kamu?”


“Astaga, kok kamu ngomongnya begitu sih? Aku nggak belain Ganta. Aku cuma negur kamu karena kamu tuh nggak boleh ganti nama orang seenak hati kamu. Ekang kamu mau nama kamunyang bagus itu diganti sama tikus atau apa gitu yang aneh, kamu mau?”


Argantara berdecak pelan. Ia abaikan peringatan dari Shelina itu. Dan tiba-tiba Ia revut kotak makan yang ada di tangan Shelina.


“Okay aku terima, makaish ya udah relain makanannya buat aku,”


“Iya sama-sama, dimakan ya sampai habis. Kalau bisa begitu sampai kelas tuh langsung dimakan supaya nggak kelaperan pas ada dosen,”


Argantara mengusap lembut puncak kepala Shelina setelah itu mengisyaratkan Shelina untuk masuk ke dalam kelas. Setelah memastikan Shelina duduk di tempatnya barulah Argantara pergi ke kelasnya sendiri dengan membawa makanan yang seharusnya milik Shelina tapi sengaja Ia ambil secara halus.


“Emang enak makanan lo dipegang sama gue, boro-boro dimakan sama Shelina hahahaha. Makanya jangan gatel jadi cowok. Udah tau Shelina punya tunangan masih aja belum nyerah ngedeketin Shelina. Gue tuh nggak percaya kalau makanan ini dari nyokap lo, Ganta! Lo pikir gue bodoh ya? Sorry gue nggak bodoh kalau ada hal yang menyangkut Shelina,” batin Argantara.


Argantara langsung meletakkan dengan kasar makanan pemberian Ganta di ata smejanya dan itu mengundang perhatian tiga sahabatnya, Satria, Denis, dan Ardan.


“Wey udah datang,” ujar Denis.


“Makanya jangan main game mulu. Nggak tau gue datang ‘kan lo,” jawab Argantara.


“Wuidih tumben bawa bekal. Dari siapa tuh? Dari nyokap apa dari Shelina?” Tanya Ardan setelah sadar kalau ada kotak makanan di meja sahabatnya, Argantara.


Ia tahu Argantara jarang membawa bekal makanan bahkan sangat-sangat jarang. Jadi Ia lumayan bingung dan penasaran ketika Argantara membawa kotak makanan.

__ADS_1


“Ini bukan dari nyokap gue ataupun tunangan gue,” bantah Argantara dengan tegas.


“Lah terus dari siapa dong? Nggak biasanya lo bawa bekal,” ujar Ardan yang semalin penasaran sekarang.


“Ini dari si cecunguk Ganta,”


“Hah? Ganta ngaish lo makanan? Buset, dia udah belok apa gimana, anjir? Kenapa dia perhatian sama lo? Ih kesti hati-hati lo, Ga. Jangan-jangan dia tuh selama ini nggak beneran suka sama Shelina. Bisa jadi dia boti,”


“Hahahaha anjir ngomong apaan lo!”


Denis melemparkan gulungan kertas ke arah Ardan yang baru saja punya praduga aneh. Bisa-bisanya berpikir seperti itu padahal Argantara belum menjelaskan apa-apa.


“Bukan, bego! Dia mah normal. Dia beneran suka sama tunangan gue si Shelina. Ini buat Shelina tadinya cuma gue bilang aja ke Shel kalau gue lapar terus Shel ngaish gue ini makanan deh,”


“Anjir bisa aja idenya,”


“Ya biarin, gue nggak mau tuh si cecunguk satu kesenengan gara-gara makanannya masuk ke mukut Shelina,”


“Segitunya lo, Bro. Udah bucin banget sama Shelina,”


“Ya emang harusnya begitu dari awla ‘kan? Cuma gue nya aja yang bego,”


“Alhamdulillah sadar,” jawab Denis sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan tanda Ia sangat bersyukur sahabatnya mengakui kesalahan.


“Ah kampret lo!“


Argantara akan melemparkan kotak makanan ke arah Denis namun dengan cepat Denis melarangnya.


“Heh jangan sembarangan lo ya! Gue tabok nih,”


“Makanya jangan mancing gue kesal deh. Gue lagi kesal bukan main ini,”


“Ya udah makan lah itu makanan dari saingan lo,”


“Nggak, gue udah sarapan. Lagian gue nggak mau makan dari dia. Gue bilang ke Shel kalau gue belum sarapan dan gue lapar. Itu cuma akal-akalan gue doang. Aslinya gue nggak sudi makan dari dia, anjir,”

__ADS_1


“Dia baik banget ya kasih makanan buat tunangan lo,” ujar Satria.


“Katanya sih dari nyokap dia, tapi gue nggak percaya,”


__ADS_2