
“Arga, Aku mau ikut kamu ke kafe ya?"
Shelina datang menghampiri suaminya yang sedang menyesap teh hangatnya dengan mata menatap pemandangan di luar kamar mereka.
Shelina sudah cantik dengan pakaian santainya berupa celana bahan berwarna putih tulang dan baju atasan berwarna pink.
Shelina mengayunkan tangannya di depan wajah Shelina. Ia mengernyit saat tak ada respon yang ditunjukan lelaki tampan itu.
“Kamu kenapa sih? Kayaknya akhir-akhir ini ngelamun terus?"
Lagi. Ucapannya tak dihiraukan oleh Argantara. Hal itu membuat hati Shelina memanas. Seperti biasa, Shelina tak bisa menjaga emosional nya.
“Arga,”
Shelina mengguncang bahu suaminya.
Shelina tak bisa menahan laju air matanya. Sebenarnya apa yang membuat suaminya menjadi seperti ini? Argantara sering Melamun beberapa hari ini. Tak seperti biasanya.
“ARGA, KAMU DENGERIN AKU GAK SIH?! AKU NGOMONG DARI TADI SAMA KAMU! KENAPA KAMU CUEKIN AKU?!"
Keluar sudah emosi yang sedari tadi tersimpan rapi di hatinya yang lembut. Napas Shelina memburu. Wajahnya merah padam. Inilah sosok Shelina yang lain ketika otaknya sudah dipenuhi dengan amarah.
“Awsssh,”
Argantara tersadar saat mendengar pekikan istrinya. Ia langsung bangkit dari kursi yang di tempati lalu menghampiri Shelina yang terkapar di lantai dengan posisi duduk.
Shelina meringis seraya mengusap perutnya yang terasa nyeri. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan rasa sakit yang berhasil membuat keringat dingin mengalir di keningnya.
“Sayang, kamu kenapa? Apa yang sakit?"
Argantara ikut mengusap perut istrinya yang langsung di tepis kasar oleh Shelina.
“GAK USAH PEGANG-PEGANG!"
__ADS_1
Argantara langsung tertegun menatap Shelina tak mengerti. Ada guratan khawatir yang ditujukan untuk istrinya. Tetapi respon yang di terima dari Shelina menimbulkan gejolak panas dihatinya.
“KAMU KENAPA SIH?! GAK SOPAN BANGET BENTAK SUAMI!!"
“KAMU--"
“Arga, Shelina!"
Argantara dan Shelina langsung menghentikan adu mulut mereka saat mendengar suara lantang papa dan mama Argantara yang memasuki kamar mereka dengan wajah panik. Argantara langsung menoleh pada kedua orangtuanya yang sedang berjalan di ambang pintu.
“SHELINA, ASTAGHFIRULLAH--"
Tina menghampiri menantunya yang terduduk di lantai dengan cairan merah yang mengalir dari celah pahanya.
“Arga! Apa yang kamu lakuin?! Liat ini istri kamu kenapa Jadi--"
“ARGA, SHELINA PENDARAHAN! CEPAT BAWA KE RUMAH SAKIT!!"
*******
“Istri Bapak sedang mengandung dan usianya sudah menginjak empat minggu,”
“Ini pendarahan yang bisa berakibat fatal untuk kandungan istri bapak. Hampir saja kalian kehilangan titipan tuhan itu,”
Fadli hanya mampu menunduk sedih saat teringat dengan ucapan dokter yang baru saja memeriksa keadaan istrinya. Lagi-Lagi ia berbuat bodoh. Hampir saja Ia kehilangan.
Hidupnya hampir hancur saat mendengar semua penjelasan Dokter yang membuat seluruh tubuhnya seperti mati rasa. Hatinya hancur berkeping-keping saat melihat tubuh istrinya yang terkulai lemah di atas bangsal.
Shelina hanya bisa berdoa dan harapannya kepada sang pencipta agar anak dan istrinya terus baik-baik saja. Baru beberapa jam Argantara sudah merindukan mata hazel yang selalu menatapnya penuh cinta itu.
Perasaan sedih dan bahagia bercampur menjadi satu di hati Argantara. Ia bahagia karena sekarang sudah ada makhluk kecil titipan Tuhan yang hidup di perut istrinya. Akhirnya harapannya memiliki keturunan akan segera terwujud ketika nanti suara tangisan bayi menggema di dunia ini. Tetapi Argantara juga kembali di rundung rasa bersalah karena lagi dan lagi ia hampir membunuh kedua orang yang sangat ia cintai.
“KAMU--"
__ADS_1
Hampir saja tangan Tina mendarat di wajah tampan putranya tetapi Fadli sudah lebih dulu mengahalangi.
Tina mengusap wajahnya dengan gusar. Ia berjalan tak jelas di depan ruang dimana menantunya di rawat sementara waktu.
“Maafin Arga, Ma,”
“Nggak peduli dengan kata maaf kamu! Kalau sampai terjadi sesuatu sama Shelina dan cucu mama, mama gak bisa bayangin betapa marahnya keluarga istri kamu nanti saat mengetahui putri dan calon cucu mereka! Dan mama gak akan maafin kamu!"
Argantara berjalan menuju kaca transparan yang menghubungkan langsung ruang tunggu dan ruangan istrinya yang tengah diperiksa dokter lebih lanjut.
“Jino, gimana keadaan Shelina?"
Argantara langsung membeku saat mendengar suara yang sangat ia kenali berada tak jauh darinya.
Argantara menoleh saat itu juga Ia ketakutan.
“Maafin Arga, Ma, Pa. Arga buat kesalahan lagi. Tapi Arga mohon jangan pisahin Arga sama Shelina dan anak Arga. Arga mohon. Arga nggak bisa jauh sama Shelina, Ma. Arga mau jadi ayah juga. Tolong beri kesempatan sama Arga, maaf udah ngecewain nggak bisa jaga Shelina,”
Shefia dan Gani terkesiap saat melihat Argantara yang memohon pada kedua orangtua Shelina dengean sungguh-sungguh. Ia tak bisa jika nanti Shelina beserta anaknya dibawa pergi jauh darinya. Itu adalah mimpi buruk untuk Argantara.
“Arga, kamu gak perlu kayak gini,”
Shefia dan Gani menatap Argantara dengan iba. Menantunya terlihat sangat kacau dengan jejak air mata di wajah tampannya.
“Arga, gak sanggup kalau--"
“Kami gak akan marah sama kamu. Kandungan Shelina yang penting baik-baik aja,” Shefia membawa Argantara kedalam pelukannya. Pelukan hangat itu hanya ia berikan pada putri dan menantunya saja.
“Gan, sekali lagi saya minta maaf atas semua kesalahan Argantara. Maaf udah bikin kecewa,”
“Arga nggak salah, Shelina hampir keguguran bukan salah Arga kok, Arga udah baik jadi suami,”
“Gimana keadaan istri saya, dok?"
__ADS_1
“Kandungannya lemah sekali ya,”