
“Shelina, sejujurnya bukan Tante yang ngirim itu semua, Sayang,”
“Terus siapa, Tante? Arga sendiri yang bilang, katanya itu dari Tante. Pas aku sakit demam, Tante. Mungkin Tante lupa kali ya?”
Tina menatap anak laki-lakinya yang sudah kelihatan gugup sekali saat ini. Ketahuan Argantara berbohong pada Shelina. Sudah jelas Tina selaku orang yang disebut-sebut tidak merasa telah mengirimkan makanan untuk Shelina melalui Argantara ketika Shelina sakit.
“Nggak-nggak, Tante nggak lupa kok. Memang bukan Tante. Itu kerjaannya si Arga berarti. Dia mau luapin perhatiannya sama kamu. Makanya dia bawa makanan untuk kamu pas sakit tapi karena dia gengsi, jadi dia nggak bilang yang sebenarnya. Parah banget dia ya? Masa bawa-bawa nama Mamanya, padahal ‘kan gampang tinggal ngomong aja ke kamu kalau itu dari dia,”
Tina menyindir langsung di depan orang yang sedang disindir. Tina tak habis pikir. Bisa-bisanya Argantara berbohong pada Shelina hanya karena gengsi saja. Argantara tidak mau dibilang perhatian, maka dari itu menyangkut pautkan mamanya.
“Oh gitu ya, Tante? Maaf akus alah orang,”
“Eh nggak apa-apa, Sayang. ‘Kan yang salah itu Arga. Dia yang bohong sama kamu. Dia aslinya baik, perhatian, cuma keliatannya aja cuek, dingin, ketus. Kamu jangan heran ya, dan mohon maklum,”
__ADS_1
Shelina terkekeh dan di dalam hatinya Shelina senang sekali. Sekarang Ia tahu kalau makanan yang dibawa Argantara beberapa malam lalu ketika Ia sakit adalah dari Argantara sendiri bukan dari mamanya.
“Tapi aku tetap bilang makasih banyak karena kalau mamanya nggak baik, pasti anaknya juga nggak baik. Nah ini ‘kan Arga baik banget, pasti nurunin dari orangtuanya. Jadi aku harus tetap bilang makasih. Tante juga udah perhatian banget sama aku sampai-sampai nelpon gini untuk tanya keadaan aku. Sekali lagi makasih ya, Tante,”
“Iya sama-sama, semoga kejadian jatuh dari tangga itu pertama dan terakhir kalinya deh. Jangan sampai terulang lagi. Lain kali harus lebih hati-hati lagi ya, Nak,”
Shelina tersenyum mendengar ucapan Tina. Ia senang ketika mendapat perhatian dari Tina. Rasanya diperhatikan oleh dua ibu. Yang pertama mamanya sendiri dan yang kedua oleh mamanya Argantara.
“Ya udah kalau begitu Tante tutup dulu teleponnya, Tante mau sidang Arga ya. Istirahat ya, Sayang, Assalamualaikum,”
Setelah sambungan telepon mereka berakhir, Tina langsung mengembalikan ponslenyang Ia gunakan barusan kepada sang pemilik yaitu anaknya yang akan beranjak meninggalkan meja makan karena sudah selesai makan.
“Eh kamu mau kemana? Dengar Mama ngomong sidang, kayaknya makin gugup nih. Kenapa? Duduk sekarang! Jangan kemana-mana dulu,”
__ADS_1
Akhirnya Argantara tidak jadi beranjak meninggalkan meja makan. Ia kembali duduk di hadapan sang mama.
“Ketauan ya perhatian sama Shelina? Ya ampun, santai aja sih. Wajar kok perhatian sama tunangan sendiri. Jangan galak-galak, nanti dia kabur. Memang harus diperhatiin begitulah,”
“Apaan sih, Ma? Aku nggak perhatian sama dia sebenarnya, aku biasa aja kok. Perlakuan aku ke teman-teman lain kalau mereka lagi sakit pasti juga sama,”
“Ah beginilah yang mama nggak suka. Shelina itu perlu tau juga gimana pedulinya kamu, perhatiannya kamu sebagai laki-laki ke dia yang statusnya adalah tunangan kamu ya terlepas dari mau atau nggaknya kamu bersama Shelina ya,”
“Dia nggak usah tau juga nggak apa-apa, Ma. Aku nggak berharap dapat pujian juga atas apa yang udah aku lakuin. Ngasih makanan buat orang yang sakit ‘kan hal yang biasa, benar nggak?”
“Nggak biasa kalau buat kamu ke Shelina,”
“Ah Mama ada-ada aja,”
__ADS_1
“Katanya mau belajar nerima Shelina, ya coba hilangin dong rasa gengsinya biar dia juga tau niat kamu apa,”