
Argantara diam sebentar tapi tatapan matanya dalam mengarah pada Shelina yang mengernyitkan keningnya bingung.
“Oh iya, aku belum bilang makasih. Aku lupa, maaf. Sekali lagi makasih ya udah ajakin aku makan malam, terus antar aku pulang juga seperti biasa, makasih ya,”
“Sama-sama, aku mau ngomong sesuatu makanya nahan kamu supaya nggak keluar dulu. Sebabnya bukan nungguin kamu bilang makasih, Shel,”
“Oh okay, kamu mau ngomong apa emangnya?” Tanya Shel yang benar-benar penasaran. Melihat raut wajah Argantara, Ia menebak hal yang ingin dibicarakan Argantara sepertinya hal penting. Makanya Argantara ingin mereka bicara dulu di dalam mobil.
“Maaf kalau menurut kamu aku lancang nanya ini sekarang. Kamu beneran mau nikah sama aku ’kan? Jujur, aku udah makin nyaman sama kamu, Shel. Kalau ditanya aku udah punya apa sampai berani ngajakin kamu nikah sekarang. Aku punya pemasukan dari diri aku sendiri, mungkin kamu belum tau, aku ada kafe sama bakery shop. Aku bakal berusaha untuk berkembang terus, Shel. Aku yakin bisa cukupi kebutuhan kamu dengan kerja keras aku nantinya. Aku belum tau pasti aku udah cinta atau belum sama kamu tapi yang jdlas aku nyaman, dan aku nggak senang kalau kamu dekat sama yang lain. Aku pengen milikin kamu. Kalaupun memang kita nikah belum saling cinta, seiring berjalannya waktu cinta itu bakal hadir seiring dengan terbiasanya kita bersama, Shel,”
Sejujurnya Shelina terkejut ketika Argantar bicara seperti itu. Ia tidak menyangka kalau Argantara akan membahas pernikahan secepat ini. Padahal sebelumnya sudah sepakat ketika sudah lulus. Keberanian Argantara patut diacungi jempol juga. Ketika Argantara mengakui kalau dirinya nyaman dekat dengan Shelina, tentang apa yang Ia punya, kemauan untuk bekerja keras dalam menghidupi Shelina, itu semua membuat Shelina tercengang untuk beberapa saat.
“Udah pernah dibahas sebelumnya, setelah lulus kuliah aja nggak apa-apa ‘kan kalau aku nggak kau berubah pikiran?”
“Iya aku ngomong kayak gini bukan untuk maksa kamu supaya mau nikah sama aku dalam waktu dekat kok. Aku nggak akan maksa. Nikah itu ‘kan harus benar-benar dari hati. Kalau kamu belum siap ya nggak apa-apa,” ujar Argantara seraya tersenyum tipis memandang ke dalam manik hitam legam milik Shelina yang menatapnya tanpa ekspresi, tapi jantungnya tak aman, dan hatinya menghangat.
“Jujur aku masih belum yakin untuk nikah dalamw aktu dekat aku pengen bebas dulu. Aku nyaman banget sama kamu tapi kalau nikah bum sekarang ya,”
“Iya, dan sekarang aku juga nyaman banget, serius. Rasa pengen memiliki kamu juga besar banget,” ujar Argantara pada Shelina dengan nada yang lugas. Sebesar itu keinginannya untuk memiliki Shelina. Walaupun Ia baru saja mengakui bahwa Ia tidak tahu apakah Ia sudah benar-benar mencintai Shelina tapi Argantara yakin suatu saat nanti akan datang waktunya Ia bisa benar-benar mencintai Shelina, begitupun sebaliknya. Cinta itu akan datang seiring berjalannya waktu, dan seiring kebersamaan mereka.
“Yang penting aku udah dengar sekali lagi dari mulut kamu kalau kamu mau nikah sama aku, Shel,”
Shelina menganggukkan kepalanya. Kalau menolak, rasanya sulit sekali untuk melakukan itu. Sebab Ia mengakui kalau dirinya juga nyaman bisa dekat dengan Argantar, dan ada keinginan juga untuk memenuhi keinginan orangtua mereka. Lagipula sudah dimulai juga walaupun baru sekedar pertunangan.
“Tapi kamu ngajakin aku nikah karena ada keinginan orangtua kita ya?”
“Jujur aku juga mikirin itu. Tapi sebenarnya aku udah lebih mikirin rasa nyaman itu sih, dan keinginan orangtua jadi nomor dua. Jadi aku ngajakin kamu nikah semata-mata bukan karena orang tua kita maunya gitu, tapi karena emang aku merasa nyambung, aku merasa klop sama kamu, aku merasa cocok lah intinya,”
“Ya udah, aku masuk dulu ya. Aku harap kamu bisa ngerti,”
“Iya, semoga semuanya dilancarin lulus kuliah kita bisa bersatu. Semoga kita semakin dikasih rasa yakin untuk hidup sama-sama ya, Shel,”
“Okay, kalau gitu aku masuk rumah, kamu pulangnya hati-hati,”
“Sip,”
Shelina hampir meraih tuas pintu mobil namun Argantara melarang. “Bentar, aku aja yang bukain,” ujar lelaki itu seraya tersenyum manis hingga matanya saling menarik satu sama lain yang akhirnya terlihat menyipit.
Argantara membuka pintu mobil dan mempersilahkan Shelina keluar dari mobil. Kemudian Ia mengantarkan Shelina sampai di depan pintu rumah dan Argantara yang menekan bel supaya dibukakan dari dalam.
“Assalamualaikum,”
Argantara mencium tangan Shefia yang pakaiannya belum berganti sehabis menghadiri acara yang dilaksanakan oleh tetangganya.
“Waalaikumsalam,”
“Maaf ya, Tan, kalau lama,”
“Nggak kok, gimana makan malamnya?”
“Asyik, mama pengen banget Tante gabung tadi cuma aku udah bilang kalau tante mau hadir ke acara tetangga. Mama titip salam,”
“Iya nanti lain kali ikutan deh. Ayo masuk dulu,”
“Seperti biasa, Tante. Yang penting aku udah anterin Shelina sampai rumah dengan selamat, dan udah nemuin Tante. Aku mau langsung pulang aja ya, Tan,”
“Yah, langsung pulang terus ya kamu kalau udah anterin Shelina pulang,”
Argantara terkekeh. Mau bagaimana lagi? Ia merasa sudah tenang setelah mengantarkan Shelina sampai di rumahnya dengan selamat. Ia ingin langsung pulang ke rumah, supaya Shelina dan mamanya juga bisa istirahat, tak harus meladeni tamu yaitu dirinya.
“Maaf ya, Tante. Lain kali deh aku bakal duduk santai dulu,”
“Iyalah, duduk-duduk dulu, minum dulu, ngobrol dulu, ‘kan enak begitu,”
“Udah, sebelum aku bawa Shelina pergi pasti aku duduk dulu ‘kan, Tan. Ada aja yang Tante hidang, nah kalau pas anter Shelina balik, aku duduk lagi ya ngerepotin,”
“Ih kok ngomong begitu sih. Ya nggak lah, kayak sama siapa aja sih kamu. Nggak ada tuh istilah ngerepotin,”
“Tante selalu terima tamu dengan baik, aku nggak pernah kecewa deh kalau udah datang ke rumah, dilayani dengan ramah. Disuruh duduk, dikasih hidangan,”
“Ke tamu emang begitu harusnya, Ga. Apalagi kamu itu udah kayak anak Tante sendiri,”
“Lain kali Tante gabung ya makan bareng sama aku, Shelina, dan mama,”
“Iya Insya Allah,”
“Okay kalau gitu aku pamit, makasih udah kasih izin bawa Kia, Tan. Selamat malam, Assalamualaikum,”
Shefia mengusap singkat bahu Argantara yang mencium tangannya lagi sebelum bergegas masuk ke mobil.
“Waalaikumsalam, hati-hati ya,”
“Iya, Tan,”
Argantara menurunkan kaca jendela supaya Ia bisa membalas lambaian tangan Shelina dan mamanya. Ia melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Shelina dengan kecepatan yang normal sambil menghidupkan playlist lagu supaya tidak terlalu sunyi di dalam mobil. Tadi ada Shelina di sebelahnya, sekarang hanya Ia sendiri di mobil, dan takutnya Ia malah mengantuk. Kalau bersama Shelina, rasanya sulit untuk mengantuk karena mereka sesekali akan mengobrol.
*****
“Kamu sama tante Tina pasti banyak ngobrol ya? Kalau mama boleh tau, ngobrolin apa aja, Shel?”
Setelah Shelina mengganti pakaian, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Dan begitu Ia membuka pintu ternyata mamanya berdiri di depan pintu kamar dengan baju yang sudah berganti juga.
“Mama pasti mau dengerin cerita-cerita aku yang habis makan bareng sama Argantara dan mamanya ya? Okay aku bakal cerita. Ayo mama duduk di kasur aku,” ujar Shelina sambil menggenggam tangan sang mama dan mengajaknya ke ranjang.
“Mama tuh penasaran kalian ngobrolin apa sih? Ada yang penting gitu nggak?”
“Hmm nggak ada sih, Ma. Cuma ngobrol-ngobrol santai aja, Ma. Tapi Tante Tina minta aku buat panggil beliau mama Tina. Karena katanya kalau Tante kayak masih asing,”
“Oh ya? Terus apa lagi?”
“Malah tadi aku sempat disuruh manggil beliau mama mertua, dalam hati aku langsung nolak. Ya kali aku panggil beliau mama mertua, orang aku belum jadi anak mantunya, apa nggak aneh kalau aku panggil mama mertua? Belum tentu jadi, Ma,” ujar Shelina yang mengundang tawa mamanya.
“Hahahah kamu kamu amat sih, Sayang. Tante Tina itu bercanda aja, tapi mungkin itu kode juga sih. Syukur kalau kamu nurutin, kalau nggak ya nggak apa-apa juga,”
“Tapi aku kaget aja gitu, Ma. Tiba-tiba katanya boleh panggil mama mertua. Lah, orang aku sama Arga aja belum apa-apa ‘kan. Eh iya aku mau cerita juga soal Arga tadi,”
“Kenapa tuh?”
Shefia langsung melipat kedua kakinya dna memangku boneka sang anak, Ia nampak siap mendengar cerita dari anaknya soal Argantara. Tadi tentang Tina saja sudah cukup menyenangkan untuk didengar, sekarang Shelina hendak bercerita soal Argantara. Sepertinya lebih menyenangkan lagi.
“Tadi, sebelum turun dari mobil. Argantara ngajakin aku ngomong bentar,”
“Ngomong apa?”
“Dia ngajakin aku nikah, Ma. Nggak nyangka dia bakal bahas itu lagi,”
__ADS_1
“Lah ‘kan emang udah tunangan? Terus apa kata kamu?”
Tak hanya Shelina saja, Shefia pun ikut terkejut mendengar Argantara mengajak Shelina menikah lagi padahal sudah tunangan. Tanpa diduga kalau malam ini Argantara akan memberanikan dirinya untuk meminta Shelina lagi menjadi istrinya.
“Aku bilang, aku jelasin lagi kalau aku pengen setelah lulus. Dia nggak keberatan. Dia paham, dia kasih aku waktu,”
“Menikah itu nggak mudah, tapi nggak sulit juga kalau dijalani nya nggak dengan enjoy. Nikmati setiap fase yang ada, pasti nikah jadi terasa menyenangkan,”
“Aku butuh waktu untuk lebih yakinin diri aku sendiri, Ma,”
“Dia cinta sama kamu? Dan perasaan kamu ke dia gimana?”
“Ma, jujur aku merasa bingung udah cinta atau belum sama Arga, tapi aku nyaman-nyaman aja sama dia, dekat sama dia. Nah, tadi Arga pun ngomong kayak gitu. Dia ngaku kalau dia sebenarnya bingung udah atau belum cinta sama aku, Ma. Tapi katanya, cinta bakal datang seiring berjalannya waktu, seiring kebersamaan aku sama dia,”
“Hmm rupanya kalian masih belum saling cinta ya,”
“Kayaknya iya, itu salah satu alasan yang aku pertimbangkan. Emang bisa nikah tanpa cinta? Hanya mengandalkan nyaman, emang bisa, Ma?”
Shefia tersenyum ketika anaknya meminta pendapat. Ia langsung mengusap lembut pipi Shelina yang menatapnya penuh tanya. Shelina ini masih lugu sekali soal cinta, pengalamannya soal cinta atau laki-laki masih minim sekali.
“Bisa aja, Nak. Kalau memang nyaman, sama-sama mau dan siap untuk nikah, ya bisa aja nikah,” ujar Shefia.
“Tapi emang bakal baik-baik aja, Ma?”
“Ya itu tadi, mama bilang. Semua bakal terasa mudah, terasa menyenangkan kalau dinikmati setiap fasenya. Ada banyak pernikahan yang dimulai tanpa cinta tapi akhirnya saling cinta dan langgeng, memang benar adanya, cinta itu bisa datang karena terbiasa bersama. Tapi di realitanya, banyak juga pernikahan yang nggak berhasil karena dimulai tanpa cinta. Tinggal gimana hati kamu memilih aja. Ikutin apa kata hati kamu, Nak,”
“Iya, Ma. Aku bakal pikirin matang-matang, aku bakal pahami apa kata hati aku,”
“Iya, jangan sampai salah ambil keputusan, dan di kemudian hari malah nyesal. Mama papa memang sempat pengen kamu nikah sama Arga. Tapi jangan jadikan keinginan kami orangtua ini sebagai hal yang harus kalian penuhi, dan akhirnya nggak ada pikir panjang atau pertimbangan sebelum ambil keputusan. Kalian berhak untuk nentuin mau kemana hidup kalian, mau sama siapa kalian nikah, kalian berhak untuk milih. ‘Kan memang dari awal, kami juga nggak maksa, nggak mau egois,”
“Iya aku ngerti kok, Ma. Kalau kalian egois mungkin sekarang aku sama Argantara udah jadi suami istri, kami nggak dikasih kebebasan untuk milih,”
“Iya karena kami tau kalian berhak untuk nentuin masa depan kalian sendiri termasuk urusan jodoh,”
“Makasih udah pengertian ya, Ma. Aku bakal pikirin dulu sebelum benar-benar ambil keputusan,”
“Iya, mama dukung apapun yang nantinya kamu pilih. Nikah sama Argantara atau nggak. Semoga Allah tuntun kamu untuk ambil keputusan yang paling baik ya,”
“Tapi kalau seandainya aku nikah sama Argantara, apa mama bakal senang?” Tanya Shelina pada Shefia.
“Kalau kamu tanya soal itu, tentu aja mama senang. ‘Kan memang sempat jadi keinginan mama juga supaya Argantara dan kamu nikah,”
“Tapi kalau seandainya aku nolak, apa mama bakal kecewa?”
“Nggak, Insya Allah mama ikhlas terima apapun keputusan kamu,” ujar Shefia dengan yakin seraya tersenyum manis. Walaupun sempat ada keinginan supaya Shelina dan Argantara menikah, tapi kalau Shelina tak mau bersama Arga dan Tuhan juga merestui itu, Ia tak bisa bilang apa-apa. Ia berusaha untuk menerima itu dan yakin bahwa artinya Tuhan sudah menyiapkan laki-laki lain yang lebih baik untuk putrinya.
“Mama, makasih banyak udah ada di sisi aku terus, mama selalu aja pengertian ke aku. I love you,”
Shelina memeluk erat mamanya. Mode manjanya memang kerap datang apalagi di momen-momen seperti ini.
“Ya udah, sekarang kamu istirahat ya. Mama juga mau istirahat,”
“Malam ini tidur sama aku yuk, Ma,”
“Hmm? Beneran?”
Kia menganggukkan kepalanya. Ia sudah rindu dengan kebiasaan tidur bersama mamanya. Dulu ketika kecil sering sekali Ia tidur di antara mama dan papanya. Menginjak remaja sampai dewasa mamanya yang tidur di kamarnya. Apalagi ketika Tama, laki-laki berharga dalam hidup mereka tak ada lagi, Shefia semakin sering tidur bersama putri semata wayangnya itu. Terkadang tanpa diminta oleh Kia, Indah yang datang sendiri.
“Okay, ayo kita tidur,”
“Malam juga, Nak,”
“Eh aku belum pakai skin care, bentar ya, Ma. Cuma bentar doang kok,”
“Iya, lama juga nggak apa-apa. ‘Kan mama nggak tungguin, mama merem aja,” ujar Shelina seraya tertawa. Ia membiarkan anaknya mengurus diri.
Shelina duduk di hadapan cermin, kemudian Ia mulai menggunakan produk-produk perawatan wajah yang jumlahnya tak banyak. Tadi ketika mandi, Ia sudah membersihkan mukanya. Sekarang Ia tinggal menggunakan toner, serum, dan pelembab saja. Setelah itu Ia bergegas ke atas ranjang.
“Lho, mama katanya mau merem, kok belum?”
“Pengen bareng aja sama anak mama yang baru aja abis diajakin nikah,”
“Mama, jangan ngomong begitu, aku malu jadinya,”
“Lho, kok malu? Malah itu tandanya kamu udah dewasa, Shel. Buktinya udah ada yang dengan gentle ngajakin kamu berumah tangga, tinggal kamu pikirin lagi deh itu, mau setuju atau malah nolak aja sekalian? Ya nggak apa-apa walaupun udah tunangan,”
“Aku lagi mau timbang-timbang dulu, lagi mau minta petunjuk juga sama yang di atas,”
“Iya, Sayang. Sekarang tidur yang nyenyak aja dulu, okay? Lupakan sejenak ajakan nikahnya Argantara,”
Shefia mengusap kepala anaknya dengan lembut, kemudian merengkuh Shelina dengan erat. “I love you, Sayang,” ujarnya dengan lembut dan diakhiri dengan mengecup kening Shelina.
“I love you too, mama cantik,”
Malam ini mereka tidur dengan saling berpelukan. Shelina merasa tenang setelah bercerita pada mamanya, dan mendengar kata-kata yang terlontar dari mamanya.
******
“Ah elah, kenapa harus ada macet segala sih?! Gue udah telat ini. Gila banget gue tidur ya. Padahal alarm udah nyala masih aja kesiangan,”
Argantara tak henti menggerutu kesal. Ia kesal pada dirinya sendiri yang terlambat bangun hingga akhirnya gagal menjemput Shelina di rumah, padahal niatnya ingin berangkat bersama ke kampus.
“Padahal tadinya pagi ini gue pengen bareng Shelin, eh malah kesiangan. Akhirnya dia berangkat sendiri, gue berangkat sendiri. Untung aja dia nggak bareng gue. Kalau bareng, kasian banget dia bakal telat,”
Argantara macet di sekitar area stasiun kereta api. Ia muak dengan kemacetan yang harus Ia hadapi saat ini tapi mau bagaimana lagi? Salahnya sendiri yang bangun terlambat.
“Ya ampun, lelet banget ini kendaraan pada nggak jalan! Astaga, pengen terbang aja gue jadinya,”
Ia menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan dan Ia makin gelisah. Sudah bisa dipastikan Ia terlambat masuk kelas.
“Jarang-jarang banget gue telat. Semoga aja dosennya nggak masuk, atau kalaupun masuk ya maklumin gue yang kesiangan ini,”
Kendaraan di depannya mulai bergerak lagi. Setiap ada laju walaupun sedikit, Ia akan senang. Walaupun hatinya makin tidak tenang.
Matanya fokus menatap ke depan, kemudian menatap sekitar. Lalu lintas benar-benar padat di jam seperti ini.
********
“Ryan, pas banget ketemu kamu di sini. Arga telat ya masuk kelasnya?”
Shelina bersama satu orang temannya ke kafe kampus, dna tak sengaja berpapasan dengan Ryan yang hendak keluar dari kafe. Ia bertanya tentang hal yang membuatnya penasaran.
“Iya bener dia telat,”
“Oh, tapi udah datang berarti ya?”
__ADS_1
“Udah kok, Shel. Tapi emang telat. Dia kesiangan katanya,”
“Iya, dia emang bilang ke aku, nyuruh aku duluan aja berangkatnya. Okay, makasih ya, Yan,”
Ryan menganggukkan kepalanya seraya tersneyum kemudian bergegas meninggalkan kafe sementara Shelina dan Dara, temannya, memilih untuk menempati satu meja bundar yang dekat dengan pintu kafe.
“Lo kenapa tiba-tiba nanya Argantara?”
“Nggak apa-apa, penasaran aja. Ternyata dia beneran telat dong, Astaga. Bisa-bisanya telat. Untung aku nggak bareng dia sih,”
“Kalau lo bareng dia, kalian bisa telat bareng,” ujar Dara seraya tertawa.
Shelina bertanya pada Ryan, karena Ia ingin memastikan Argantara tetap masuk, meskipun terlambat.
Shelina merasakan getaran di saku celananya. Ponselnya bergetar dan ternyata ada pesan masuk dari Argantara.
-Aku lagi di kelas, kamu lagi ngapain? Jangan lupa makan kalau belum makan, Shel-
Shelina menggelengkan kepalanya pelan. Argantara masih saja menyempatkan waktunya mengirimkan pesan, di sela Ia fokus mendengarkan materi yang dipaparkan oleh dosen.
-Aku lagi di kafe. Makasih udah ingetin. Fokus dengerin dosen ya-
-Ok sip. Di kafe sama siapa, Shel?-
-Teman aku, Ga-
Shelina hampir menyimpan ponselnya. Ia pikir jawabannya itu sudah cukup bagi Argantara tapi ternyata Argantara mengirimkan pesan berisi pertanyaan lagi.
-Temen kelas? Siapa?-
-Dara-
-Oh, nggak kenal. Hehe. Ok, udah dulu ya-
Shelina mendengus pelan. Sudah tahu tidak kenal dengan teman-temannya, tapi masih saja bertanya.
“Shel, lo sama Arga beneran belum pacaran?”
“Beneran, Dar. Emang kelihatannya pacaran? Perasaan tadi kamu udah sempat nanya deh, tunangan aja tapi belum pernah ada omongan pacaran deh kayaknya,”
“Asli, gue susah percaya sih. Soalnya kalian keliatan deket, sering berangkat bareng, pulang juga bareng,”
“Ya itu karena aku diajak aja sama Arga, kebetulan aja kelasnya barengan, terus abis kelas juga barengan, dan karena dia tunangan aku juga,”
“Tapi kalian cocok tau,”
“Hadeh, jangan mulai deh. Cocok gimana maksudnya?”
“Cocok, kayaknya jodoh,”
Shelina tersenyum menanggapi ucapan Dara. Menurut orang yang sering melihat kebersamaan Argantara dan Shelina, pasti sudah untuk percaya bahwa mereka itu bukanlah sepasang kekasih.
“Aku harus Aamiin, atau gimana nih?”
“Aamiin lah, dia ‘kan ganteng, kelihatannya juga baik. Dia gimana ke lo? Pasti lo punya penilaian sendiri,”
“Ya emang dia baik, ramah, rajin menabung, dan tidak sombong,”
Mendengar jawaban Shelina yang tentu sedang berkelakar, langsung mengundang decakan kesal dari mulut Dara. Ia bertanya serius, tapi Shslina menjawab dengan candanya.
“Heh, gue tuh tanya beneran!”
“Iya beneran, dia baik kok,”
“Terus tadi ngapain ngomong rajin menabung, dan tidak sombong segala? Hah? Jawaban lo aneh bener,”
“Hahahah maaf-maaf, sengaja aku bercanda supaya kita santai dikit dulu,”
“Udah santai, Shel. Tinggal lo jawab doang ribet amat ah,”
“Iya, Arga baik, Dar,”
“Udah pernah ngajakin lo pacaran? Masa iya sih udah pulang pergi sering bareng tapi nggak mau lebih dari teman,”
Shelina memijat keningnya sebentar sebelum menjawab. Tidak hanya sekedar mengajak pacaran, Argantara bahkan sudah mengajaknya untuk menjejaki kehidupan pernikahan.
“Eh kok nggak jawab? Wah jangan-jangan kalian tuh sebenernya udah pacaran ya? Tapi masih nggak mau publish?”
“Ih, ngapain diam-diam? Emang nggak pacaran, Dara, tunangan aja sih aku rasa,”
“Ya udah, pacaran dong,”
Shelina menghela napas pelan. Alih-alih menanggapi ucapan Dara, Shelina malah memesan makan juga minum.
“Kalau lo pacaran, apalagi nikah, jangan lupa undang gue ya, Shel,”
“Iya, tenang aja. Nama kamu nggak akan ketinggalan,”
“Yeayyy okay, nggak sabar banget,”
“Nggak sabar apa?”
“Nggak sabar diundang sama lo, Ki,”
“Aku undang ke acara ulang tahun aku deh nanti,”
“Erghh bukan itu! Diundang ke acara nikah,”
“Nikahan aku?”
“Ya iyalah, Shel. Masa ke nikahan Pak Bastian dosen kita? ‘Kan nggak mungkin. Ngomong-ngomong dosen kita yang ganteng dan masih muda itu mau kawin noh,”
“Iya aku udah dengar kabar-kabarnya. Kamu diundang?”
“Nggak, kayaknya dia nggak ngundang mahasiswa deh,”
“Yah galau, cari yang lain aja, Dar,”
Shelina meledek Dara yang menaruh rasa kagum terhadap dosen mereka yang usianya masih terbilang muda dan memiliki paras yang tampan. Mereka dengar tak lama lagi dosen itu akan menikah. Shelina tidak ingin Dara malah gundah gulana. Makanya Ia suruh untuk cari yang lain.
“Iya, nggak demen-demen lagi deh gue sama tu dosen. Udah mau kawin soalnya, ngeri banget macam-macam sama laki orang. Lo kapan nyusul Pak Bastian?”
“Ih Dara. Kamu nih ngomong apa sih? Belum lah kalau sekarang,”
“Ya udah besok,”
__ADS_1
“Main besok-besok aja, dikira nikah tuh game kali ya, gampang dimulai, gampang juga diakhiri. Nggak kayak gitu penggambarannya, Dar. Pernikahan itu kompleks, ribet, tapi bikin bahagia asal enjoy ngejalaninnya nggak pake rasa terbebani. Aku sering dengar dari orangtua aku sih begitu,”