Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 48


__ADS_3

“Aku Noval, yang pernah satu SMP sama kamu tapi pindah ke Bandung,”


“Oh iya iya aku ingat,”


Shelina antusias setelah mengingat sosok yang baru saja menyapanya itu. Mudah diingat siapa Noval, setelah Noval mengatakan Ia adalah teman SMP yang pindah ke Bandung. Karena dulu Noval pernah mengaku telah menyukainya bahkan mengajaknya untuk pacaran. Ya namanya juga cinta monyet. Tapi Shelina menolak baik-baik. Fokus dengan sekolah adalah alasan yang Shelina gunakan. Lalu entah kebetulan atau bagaimana sebulan dari momen dimana Ia menolak Noval, Noval tiba-tiba memutuskan pindah dari sekolah itu. Noval bilang ayahnya pindah tugas.


“Gimana kabarnya, Shel?”


“Aku baik, kamu sendiri gimana?”


“Baik kok, kamu udah nggak ingat aku ya? Aku masih ingat kamu lho padahal,”


“Heheh iya maaf. Udah beda banget soalnya. Dulu ‘kan kamu nggak gondrong rambutnya, sekarang gondrong terus diikat jadi aku susah ngenalinnya,”


“Iya, tapi gimana sama penampilan aku?”


Shelina tersenyum ketika dimintai pendapat soal penampilan. Belums empat Ia menjawab, tiba-tiba Argantara bersiul memanggilnya.


“Mau minum apa?” Tanya Argantara padanya.


Ia langsung menggelengkan kepala ke arah Argantara yang seketika berubah ekspresi wajahnya.


“Aku sengaja manjangin rambut ya biar beda aja sih soalnya ‘kan udah kuliah juga,”


“Iya bagus kok, cocok di kamu. Keliatan lebih manly gitu,”


“Wow thanks ya,”

__ADS_1


Shelina tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia memberi penilaian sesuai dengan apa yang Ia lihat. Menurutnya, Noval cocok dengan rambut panjangnya itu.


“Shel, mau minum apa?”


Lagi-lagi Argantara bertanya soal minuman. Dan itu dijawab dengan gelengan oleh Shelina. Sudah Shelina hitung ini kedua kalinya Argantara bertanya disaat Ia sedang bicara dnegan Noval.


“Itu siapa, Shel?” Tanya Noval pada Shelina yang langsung menatap Argantara.


Shelina tahu Argantara mendnegar pertanyaan Noval dan sekarang Argantara lelihatan penasaran dengan jawabannya. Kedua mata Argantara memicing menunggu jawaban apa yang kira-kira Shelina berikan untuk pertanyaan dari teman SMP nya itu.


“Itu teman aku. Dia teman kuliah aku, Nov,”


Argantara menggerakkan lidahnya did alam langit-langit mulut sambil kenganggukkan kepala. Shelina mengakui dirinya sebagai teman, bukan tunangan. Ini menarik untuk dibahas nanti setelah Noval pergi.


“Okay kalau gitu aku duluan ya,”


“Iya, Nov,”


“Buat?”


“Ya biar gampang komunikasi aja. Selama ini kita ‘kan nggak pernah komunikasi lagi,”


Shelina menganggukkan kepala lantas mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecil yang Ia bawa. Kemudian Ia menunjukkan nomornya sendiri pada Noval yangs egera menyimpan nomor Shelina di daftar kontak ponselnya.


“Okay udah aku save nanti aku chat supaya bisa kamu save juga nomor aku ya,”


“Iya, Nov,”

__ADS_1


“Aku dulaun ya,”


Shelina tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Noval sudah berlalu, dan sekarang Ia menghampiri Argantara yang masih berada di depan kulkas minuman.


“Aku udah jawab lho tadi, kenapa ditanyain lagi?”


“Ya kali aja lo mau minuman makanya gue nanya,”


“Sampai dua kali nanya itu,”


“Ya terus kenapa? Masalahnya dimana?”


“Ya nggak enak aja, aku lagi ngomong sama orang, kamu nya—“


“Ah elah ribet lo! Suka-suka gue lah mau nanya berapa kali sama lo,”


“Ya udah iya-iya, aku minta maaf,”


“Dia teman lo?”


“Iya, tadi udah dengar ‘kan? Dia itu pernah jadi teman SMP aku,”


“Oh, gue juga teman ya?”


“Iy—nggak,”


“Lah terus tadi lo bilang ke dia, gue teman lo, plin-plan najis banget. Nggak jelas lo ah,”

__ADS_1


__ADS_2