Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 69


__ADS_3

Malam ini, Shelina diundang oleh teman semasa SMP nya untuk datang ke acara ulang tahunnya. Shelina sudah sepakat dengan teman-teman SMP nya termasuk Lara teman yang paling dekat dan masih berkomunikasi dengannya sampai saat ini, untuk menghadiri acara ulang tahun Caca.


Shelina dijemput oleh Lara yang berpikir setelah Ia sampai di rumah Shelina, gadis itu sudah siap. Ternyata belum, karena Shelina ketiduran sebentar. Usai menjalankan ibadah sholat Isya bersama mamanya, Shelina masuk ke kamar dan malah terlelap, alih-alih bersiap. Begitulah Shelina kalau diajak keluar malam. Selalu tak ada semangat, bawaannya ingin tidur saja. Ingin menolak, Ia tak enak hati pada temannya yang sedang berulang tahun itu, dan mamanya juga selalu mendorong Ia supaya mau keluar rumah, mengingat Ia memang anak yang kurang bergaul dengan dunia luar. Setiap hari kerjaannya hanya keluar rumah untuk kuliah, selepas kuliah langsung masuk ke dalam rumah, dan menghilang di kamar sibuk dengan dunianya sendiri yaitu belajar atau mengerjakan tugas, membaca novel, ataupun menonton drama.


“Maaf lama ya, Lar. Aku soalnya baru banget siap-siap,”


“Iya nggak apa-apa kok, tapi lo sebenarnya ingat atau nggak kita bakal pergi ke partynya Caca?”


“Ingat, cuma aku tuh sempat ketiduran tadi. Biasa lah, agak malas-malasan kalau mau keluar rumah malam-malam begini, enaknya emang tidur, Lar,”


“Gue nggak akan biarin lo tidur sih. Kalau seandainya tadi sampai sini gue tau lo masih tidur, gue bakal bangunin lo, Shel. Gue gedor pintu kamar lo sampai jebol, Shel,”


Shelina tertawa membayangkan betapa kesalnya Lara bila seandainya Ia belum siap dan malah tidur. Sudah ada dalam bayangannya juga ketika Lara menggedor pintu kamarnya supaya tidurnya terganggu.


“Jangan dong,ara. Bahaya, ntar kalau kamar aku nggak ada pintunya ‘kan repot,”


“Ya udha ayuk buruan kita capcus. Nyokap lo mana? Pamit dulu kita,”


“Di kamar, tadi abis bangunin aku langsung masuk kamarnya. Aku panggil dulu sebentar ya,”


Lara menganggukkan kepalanya. Ia membiarkan Shelina bergegas ke kamar orangtuanya sementara Lara masih bertahan di ruang tamu.


Ketika Shelina membawa mamanya, Ia langsung beranjak berdiri dan tersenyum hendak berpamitan.


“Tante, berangkat dulu ya,”


“Iya, kalian hati-hati ya,”


Shelina dan Lara mencium tangan Shefia yang mengantarkan mereka hingga ke halaman. Indah tak lupa berpesan pada Shelina agar memberitahu dirinya bila Shelina sudah sampai di tempat tujuan, dan Shelina tidak pulang terlalu larut. Walaupun Ia malah mendorong Shelina supaya pergi, tak banyak diam di rumah, tapi Ia ingin Shelina tidak pulang terlalu malam karena itu membuatnya khawatir apalagi mengingat anaknya juga jarang sekali keluar malam hari.


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Shelina dan Lara pergi dengan menggunakan mobil Lara tentunya. Nanti ketika pulang, Shelina akan diantar oleh Lara.


“Lar, ini acaranya dimana sih?”


“Kayaknya kafe deh,”


“Udah banyak yang datang?”


“Iya, udah lumayan rame,”


“Tapi kita nggak telat ‘kan ya?”


“Nggak, mudah-mudahan kita sampai sebelum Caca make a wish dan tiup lilin ya,”


“Iya, nggak enak kalau telat,”


“Lo dandannya cepat sih, Shel. Makanya kita nggak telat, semoga. Walaupun lo ketiduran tapi lo dandannya cepat, njir. Nggak kayak gue bisa sampai satu jam setengah gue dandan,”


“Nggak apa-apa, namanya juga perempuan ‘kan, wajar aja kok,”


“Makanya gue harus cari suami yang sabar, Shel. Soalnya dalam hal dandan aja gue mancing emosi, mesti nunggu satu jam setengah baru kelar lo bayangin dah tuh, kudu sabar emang kalau sama gue,”


“Aku yakin nanti pasangan kamu sabar kok. Emang ada orang yang perlu waktu lama buat siap-siap, ada yang nggak, ada juga yang sedang aja. Ya pokoknya macam-macam lah tipe orang itu,” ujar Shelina yang tak mempermasalahkan kebiasaan temannya yang suka lama bila berdandan. Menurut Shelina itu hal wajar. Karena memang setiap manusia itu punya kebutuhannya masing-masing. Ada yang butuh waktu sebentar untuk berdandan, ada yang lama. Tidak bisa disamakan antara manusia yang satu dengan yang lainnya.


“Itu kalau make up ke acara-acara resmi gitu sih, Shel. Kalau make up daily mah lebih bentar,”


“Iya wajar, kondangan ‘kan jarang-harang ya, jadi mesti perfect, kayak kamu malam ini nih, cantik banget ya ampun,”


Shelina tak segan memuji Lara yang malam ini mengenakan dres cantik yang begitu pas di badan Lara. Dres berbahan satin, dengan tapi kecil yang menggantung di kedua bahunya membuat Lara tampak seksi dan anggun malam ini.


“Lo baju baru ya?” Tanya Lara seraya melirik Shelina. Sebenarnya ketika pertama kali melihat Shelina tadi, Ia menebak dalam hati. Baju yang Shelina pakai sepertinya masih baru.


“Hah? Iya ini baju baru,” jawab Shelina dengan gugup, dan sempat diam dulu tadi sebelum menjawab.


“Serius? Gue padahal nebak aja lho, tapi emang keluatan sih barunya,”


“Iya beneran,”


“Beli dimana, Shel? Cantik lo pakai itu,” kali ini gantian Lara yang memuji Shelina. Malam ini Shelina mengenakan gaun yang lengannya hingga siku. Di bagian dada, ada pita berukuran kecil, dan di pinggang ada tali yang sengaja Shelina ikat sehingga membentuk badan Shelina yang memang ramping.


“Nggak tau beli dimana,”


“Lah, gimana ceritanya lo nggak tau baju yang lo pake sekarang beli dimana. Emang bukan lo yang beli? Atau lo lupa?”


“Ini tuh dikasih orang, Lar,”


“Oalah, pantesan. Gue penasaran, siapa yang ngasih?” Tanya Lara setelah itu terkekeh kecil. Penasaran terhadap Shelina menyenangkan juga ternyata. Ia makin dibuat penasaran karena tadi Shelina sempat gugup tak langsung menjawab.


“Bagus nggak?”


Alih-alih menjawab, Shelina malah bertanya pada temannya yang masih fokus mengemudikan mobilnya itu.


“Ya bagus lah, gue suka dan gue penasaran lo dikadoin siapa? Beneran dikadoin?”


“Iya beneran kok, Lar. Ini emang dikadoin sama Argantara,”


“Oh gitu, dari Arganta? Kenapa nggak langsung ngomong aja sih? Lo mah sengaja bikin orang penasaran aja nih, lo ngomongnya tuh jangan setengah-setengah,”


“Emang aku ngomong setengah-setengah?”


“Iya lah, lo harusnya langsung bilang itu dari Arga,”


“Ya deh, aku agak ragu mau bilang,”


“Lho, emang kenapa?”


“Takut diledekin kamu. Soalnya kamu tuh iseng ‘kan,”


“Iseng gimana maksudnya?”


“Iya nanti aku diledekin, cie-cie dibeliin Arga. Kamu tuh suka nyebelin, Lara,”


“Cie dikasih baju sama Arga,”


Lara langsung mewujudkan apa yang ada di benak Shelina. Akhirnya membuat Shelina tertawa. Ia sudah menduga reaksi Lara akan seperti itu makanya Ia sempat ragu hendak jujur atau tidak.


“Dalam rangka apa Arga ngasih baju ke lo, Shel?”


“Nggak dalam rangka apa-apa sih, dia mendadak ngasihnya. Aku juga bingung, padahal aku nggak lagi ulang tahun,”


“Ya mungkin dia emang pengen aja kasih kejutan buat lo, ngomong-ngomong keren sih bajunya. Cocok buat lo yang karakternya tuh nggak neko-neko,”


“Makasih pujiannya, Lara. Kamu juga cantik banget malam ini. Aku sampai nggak bisa berkata-kata tau,”


“Ah lebay lo mah. Gue nggak ada apa-apanya dibanding lo, Shel. Aku mah apa atuh, aku cuma butiran debu,”


“Ih kamu tuh yang omongannya lebay. Emang aku udah sehebat apa? Setinggi apa sampai kamu anggap diri kamu itu butiran debu? Jangan gitu ah,”


Mobil Lara tiba dengan selamat di area parkir. Shelina mengernyit ketika melihat ke dalam tempat yang menjadi tempat tujuannya bersama Lara.


“Lara, ini sih bar, bukan kafe,”


“Iya ya, tulisannya begitu tuh,” ujar Lara seraya menunjuk nama bar yang benar-benar berukuran besar sehingga dengan mudah mereka baca.


“Kayaknya ramai ya, Lar,”


“Iyalah, bar emang kebanyakan ya ramainya di malam,”


“Kamu yakin mau masuk? Aku jujur mala sbanget tau, mendingan tidur deh tapi nggak enak udah diundang sama Caca,”


“Yakin lah, ayo kita masuk. Udah sampe nih, Ku. Masa iya kita mau balik lagi? Sia-sia aja kita ke sini. Kita cuma bentar aja yang penting udah nampakkin muka, sebagai tanda bahwa kita hargai undangan ulang tahunnya Caca,”


“Okay deh, tapi benerna ya kita nggak lama, cuma bentar aja,”


“Iya, Sayang. Tenang aja, yang penting kita udah hadir diliat sama Caca. Kuy kita masuk,”


Lara membuka pintu mobil setelah melepas seat belt yang mengungkung badannya sejak tadi. Disusul oleh Shelina yang ragu ingin masuk. Tapi kalau dipikir-pikir percuma juga Ia datang kalau seandainya tak jadi masuk.


“Lar, pelan-pelan aja dong, jangan pisah dari aku,” ujar Shelina pada Dara yang hendak berjalan lebih cepat di depannya. Lara antusias menghadiri acara ulang tahun Caca. Sekentara Shelina sendiri berkebalikannya. Mengetahui bahwa acara berlangsung di bar, malam hari, dengan pengunjung yang lumayan ramai, dan kebanyakan tidak dikenal Caca tentunya membuat Shelina jadi semakin malas, inginnya berbaring saja di atas tempat tidur.


“Cie bucin banget sama gue sampai nggak mau ditinggal, tangan gue dipegang,” ujar Lara meledek Shelina yang menggenggam erat tangannya sebelum berjalan masuk ke dalam bar.


“Santai aja, Shel. Semua aman kok, tenang aja ada gue,”

__ADS_1


“Iya okay, makasih ya,”


“Susah emang pergi sama orang yang jarang banget keluar rumah, apalagi malam, udah gitu ke bar pula,”


“Kita langsung cari Caca yuk supaya ngucapin langsung sama dia gitu,” ujar Shelina setelah memasuki bar yang musiknya lumayan keras dan itu cukup mengganggu diri Shelina.


“Caca!”


Caca langsung menolehkan kepalanya. Dan Ia tersenyum lebar melihat kedatangan Shelina dan Lara untuk menyapa mereka.


“Caca, happy birthday ya. Semoga apa yang kamu harapkan di usia yang baru ini tercapai ya,”


“Aamiin, makasih banyak udah datang, Shel, Lar,”


“Yoi, ternyata di bar yak. Tadi si Shelina sempat ragu tuh, masuk atau nggak,”


“Kenapa ragu, Shelina? Aman kok, tenang aja. Sengaja milih ini supaya kita bisa party bareng-bareng dan tempatnya luas gitu,”


“Iya, agak kaget aja ternyata acaranya di bar,”


“Iya, gue ngikutin sukanya teman-temannya aja, Shelina. Ada yang hobi banget party. Nah kebetulan barnya juga besar jadi enak buat party,”


“Lo mau minum apa, Shelina?” Tanya Lara pada temannya yang malam ini pergi ke bar bersamanya untuk menghadiri acara ulang tahun Caca.


“Eh iya, buruan ambil minum, makanan, have fun pokoknya ya,” ujar Caca seraya merangkul bahu keduanya kemudian pergi.


“Aku mau air putih aja,” ujar Shelina.


Pernah diingatkan sekali oleh Argantara mengenai dirinya yang tak boleh sembarangan menyeruput minuman, apa lagi ini lagi ada di acara party.


“Hah? Air putih? Nggak mau nyobain dikit yang bikin nge-fly?”


“Nggak ah, aku nggak mau yang aneh-aneh, aku mau air putih aja, Lar,”


“Ah payah, udah gede belum sih? Masa ke party minumnya air putih?”


Lara meledek Kia terus. Tapi Shelina tetap saja ingin air putih. Lara tertawa dan akhirnya merangkul bahu Shelina yang punya prinsipnya sendiri.


“Okay, gue juga maunya air putih aja,”


“Yeee sama aja kamu nih, segala ngeledekin aku,”


“Iya, nggak demen yang aneh-aneh, eh tapi kalau ada jus gue mau jus,”


“Ya udah, ayo kita ambil minum,”


“Gue aja, lo duduk gih, cari tempat sana,”


“Makasih ya,”


Lara menganggukkan kepalanya. Shelina bergegas ke meja untuk mengambil air minum sementara Shelina mencari tempat.


Shelina memilih salah satu sudut untuk menjadi tempatnya dan Lara duduk. Shelina mengamati suasana sekitar. Disaat orang sibuk mengobrol, ada juga yang menggerakkan badan mereka seirama dengan musik yang ada.


“Aku malah ngantuk, mereka keliatannya malah semangat banget,”


Shelina menyatukan kedua tangannya di atas meja untuk menjadi tumpuan keningnya. Ia memejamkan mata sejenak. Nampaknya Ia akan bicara pada Lara, setelah minum, Ia ingin langsung pulang saja. Karena rasa kantuknya makin bertambah. Tadi di perjalanan sempat hilang sekarang malah mengantuk lagi.


“Eh Shel, nih air minum sama blackforest cake buat lo,”


Shelina langsung menatap Lara yang baru saja datang membawa dua gelas minuman juga dua piring kecil blackforest cake untuk dirinya sendiri dan juga sang teman, Shelina.


“Woah, makasih ya, Lara,”


“Sama-sama, lo suka sama kue ini ‘kan?”


“Suka kok, makasih udah diambilin,”


“Iya, bilang makasih sekali lagi, gue kawinin lo sama Arga,”


“Heh ngomong apa sih?”


Lara tertawa lebar melihat pelototan tajam Shelina. Tanpa rasa bersalah Lara menyantap blackforest di depannya.


“Ya ‘kan lo sama Arga emang deket, mau nikah malah kayaknya,”


“Ya tapi nikah aja belum, udah ke kawin aja ngomongnya. Kamu kejauhan, Sayang,”


“Eh ngomong-ngomong, lo udah bilang Arga kalau lo ke sini sama gue?”


“Nggak, dia lagi sibuk mungkin. Terakhir kali chatingan pas pagi. Dia ngajakin aku berangkat bareng tapi dia nya kuliah pagi, nah aku kuliah siang, nggak jadi deh,” ujar Shelina bercerita terakhir kali Ia berkirim pesan dengan Arga adalah tadi pagi ketika Argantara mengajaknya untuk berangkat bersama ke kampus. Tapi Ia menolak karena kelasnya siang, sementara Argantara pagi. Akhirnya mereka tidak jadi berangkat ke kampus bersama.


“Dia lagi sibuk sama tugasnya kali,”


“Lo nggak chat?”


“Nggak, ngapain? Biarin aja dia fokus, aku nggak mau ganggu,”


“Tapi kalau ternyata dia nungguin lo yang hubungin duluan, gimana?”


“Nggak lah, Lar. Aku nggak mau ganggu Arga. Dia tuh mungkin lagi sibuk ngerjain tugas, atau lagi ada urusan. Kalau dia udah nggak sibuk dan emang ada perlu sama aku, ada yang mau diomongin, pasti dia bakal hubungin aku kok,” ujar Shelina yang enggan menghubungi Argantara karena Ia berpikir Argantara sedang sibuk makanya belum mengirimkan pesan, ataupun menelponnya. Terakhir kali tadi pagi mereka berkomunikasi.


“Kita pulang yuk, aku nggak mau lama-lama, aku ngantuk,”


“Bentar, gue mau abisin kuenya, lo nggak abis?”


“Aku kenyang,”


“Ah elah, lo diet ya? Jangan diet, Shelina. Lo tuh udah perfect, ngapain diet lagi sih?”


“Astaga, aku nggak diet, emang aku udah kenyang. Sejak kapan aku diet? Aku makan apa aja yang aku pengen, jajan ya jajan aja nggak mikirin ini itu,”


“Tapi tetap aja badan lo segitu, nggak berubah,”


“Hai, boleh gabung nggak?”


Shelina dan Lara menoleh ketika dihampiri oleh seorang lelaki yang berdiri menatap mereka berdua dan meminta izin sebelum bergabung di meja yang sama dengan mereka.


Shelina dan Lara saling menatap satu sama lain. Lara yakin temannya itu tak akan menjawab, Ia yang disuruh bersuara oleh Shelina mengingat Shelina orangnya memang tak banyak bicara kalau dengan orang baru, akhirnya Lara yang mempersilahkan.


“Boleh dong, duduk aja,” kata Lara.


“Temannya kuliahnya Caca?”


“Teman SMP, lo sendiri?”


“Teman main aja. Oh iya kenalin, gue Rangga,” ujar lelaki itu seraya mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya kepada Shelina dan Lara.


“Shelina,”


“Gue Lara,”


“Okay, Shelina, Lara. Kalian berdua sama-sama teman smp nya Caca?”


“Yup, betul banget. Llo juga teman sekolah Caca?”


“Gue kenal Caca dari zaman SMP, tapi teman main aja kok,”


“Oh gitu, okay. Udah ketemu Caca nya?”


“Udah kok, kalian baru datang atau gimana?”


“Nggak baru juga sih, ini udah mau balik,”


“Yah, ntar-ntaran aja. Ngobrol dulu, masa gue baru duduk, kalian langsung pulang? Nggak enak nih gue jadinya. Gue ganggu kalian ya?”


“Eh Astaga, nggak sama sekali, lo kok ngomong gitu. Emang kita mau pulang ini,”


Ketika Lara bicara dengan Rangga, Shelina meraih ponselnya yang berdering sekali. Ada panggilan dari Argantara yang sengaja Shelina akhiri. Tapi Shelina mengirimkan pesan. Shelina tidak enak kalau bicara di telepon sementara Ia sedang bersama Lara dan Rangga. Kalau Ia harus menyingkir sebentar untuk menerima panggilan Argantara, Shelina terlalu malas untuk beranjak sendirian. Ia ingin beranjak meninggalkan teman duduk kalau Lara juga melakukannya.


-Ga, aku lagi di acara ulang tahunnya Caca temen aku. Maaf ya nggak bisa angkat telepon kamu dulu- begitu isi pesan yang dikirimkan oleh Shelina kepada Argantara.


-Hah? Kamu ada dimana sekarang? Udah malam nih, hati-hati ya. Baliknya gimana?-


-Aku sama Lara kok. Aku di Nightlife bar, Ga-


-Aku jemput ke sana-

__ADS_1


Shelina mengerjapkan matanya ketika membaca pesan itu dari Argantara. Setelah beberapa jam mereka lalui tanpa ada komunikasi sama sekali. Sekarang tiba-tiba Argantara menanyakan keberadaannya kemudian langsung mengutarakan bahwa dirinya akan menjemput Shelina.


Dengan cepat Shelina mengirimkan pesan yang tentunya berisi penolakan. Ia tidak mau Argantara menjemputnya. Seharusnya Argantara istirahat, lagipula Ia akan pulang dengan Lara.


-Eh nggak usah, Ga-


Pesan Shelina itu hanya dibaca saja oleh Argantara yang tak memberikan balasan apapun. Shelina mendengus pelan. Perasaannya mengatakan Argantara sudah bergegas ke tempat ini. Artinya Ia harus menunggu Argantara sampai Argantara datang. Kalau Ia tiba-tiba pulang, dan Argantara sampai sini Ia tak ada lagi, kasihan Argantara. Kedatangannya sia-sia.


-Aku otw-


Shelina menghela napas pelan setelah mendapatkan pesan singkat dari Argantara. Benar dugaan Shelina. Argantara akan datang.


Lara dan Rangga juga kebetulan jadi banyak mengobrol. Shelina malah menjadi pendengar saja. Beberapa menit kemudian Lara baru ingat kalau seharusnya Ia dan Shelina tidak lama-lama di tempat itu. Shelina tadi sudah berkata bahwa dirinya mengantuk.


“Ayo balik, Shel,”


“Serius mau balik?” Tanya Rangga pada mereka berdua.


“Lara, Argantara bilang mau ke sini,” ujar Shelina dengan senyum meringis pada Lara. Sejujurnya Ia tak enak. Sebelumnya Ia dan Lara sudah sepakat untuk berangkat dan pulang bersama, tapi sekarang tiba-tiba Argantara datang hendak menjemputnya.


“Dia mau jemput lo, Shel?”


“Iya, kamu pulang sendiri sekarang, nggak apa-apa?


“Oh ya udah, gue tungguin lo sampai dijemput,”


“Serius? Nggak apa-apa kalau mau pulang duluan,”


Sebenarnya Shelina berat sekali bila harus ditinggal oleh Lara. Tapi Ia tak mungkin egois membiarkan Lara di sini bersamanya sampai Argantara datang sementara Lara mungkin sudah ingin pulang ke rumahnya.


“Nggak apa-apa, santai aja. Gue tungguin sama Argantara datang jemput lo,” begitu kata Lara yang membuat Shelina tersenyum. Lara ternyata tetap ingin menemaninya sampai Argantara datang, dan Ia senang karena hal itu.


“Sorry, Argantara siapa?”


“Itu tunangan Shelina,” ujar Lara yang langsung membuat salah satu alis Shelina menukik. Yang ditanya adalah dirinya tapi yang jawab Lara. Tidak masalah setidaknya Shelina tidak perlu buka mulut karena sudah ada yang mewakilkan.


“Oh tunangan. Kirain teman kalian yang mau gabung juga di sini,”


“Nggak-nggak, dia tunangngan Shelina, mau jemput Shelina di sini. Tadinya Shelina mau pulang sama gue cuma kalau cowoknya mau jemput ya nggak apa-apa. Mungkin Arga khawatir kali kalau biarin Shelina pulang sama gue,”


“Ih nggak gitu, Lara. Padahal aku udah bilang sama kamu tapi dia tetap aja,”


“Iya mungkin dia bakal tenang kalau lo dijemput sama dia, lo nggak balik sama siapa-siapa,”


“Shelina satu kampus sama kalian?”


“Sama Shelina,”


“Oh, kenal di kampus sama Arga ya, Shel?” Tanya Rangga pada Shelina yang sedari tadi banyak diam.


“Iya, Rangga,” ujar Shelina menjawab pertanyaan lelaki yang ada di depannya itu.


“Oh, udah berapa lama pacaran, Shelina?”


“Udah mau nikah mereka, Ga, usah nggak usah ditanya lagi kapan pacarannya,” ujar Lara yang tak hanya membuat kaget Rangga, Shelina juga ikut kaget mendengar ucapan Lara. Yang ditanya oleh Rangga adalah dirinya, tapi yang menjawab malah Lara. Lagi-lagi Lara jadi perwakilan. Tadi mengatakan bahwa Argantara itu tunangannya, barusan mengatakan sudah mau menikah padahal kenyataannya masih nanti.


“Oh? Serius udah mau nikah? Wuih selamat ya, semoga lancar,”


“Makasih lho doanya, Ga. Temen gue ini bentar lagi lepas status single,”


“Nah kalau lo sendiri gimana, Lar?” Tanya Rangga lagi, tapi kali ini Ia melontarkan pertanyaan itu kepada Lara.


“Gue? Belum ada tanda-tanda nih,” ujar Lara seraya terkekeh. Rangga menatap dengan dua sorot mata yang tidak percaya.


“Serius nih? Masa iya belum ada tanda-tanda? Tapi pacar udah ada ‘kan?”


“Pacar juga belum ada, Ga,”


Akhirnya mereka lanjut mengobrol sampai kemudian Shelina mendapatkan panggilan dari Argantara yang sudah tiba di tempat tujuan.


Argantara tidak membiarkan Shelina pulang seorang diri ataupun bersama temannya, entah kenapa Ia ingin memastikan sendiri Shelina tiba dengan selamat atau baik-baik saja di rumah.


Shelina langsung menggeser panel berwarna hijau menerima panggilan dari tunangannya yang menurutnya cepat juga sudah sampai.


“Halo, Shel. Aku udah sampe. Kamu di dalam ‘kan?” Tanya Argantara pada Shelina yang kaget tiba-tiba Argantara sudah tiba. Secepat itu, menurut Shelina.


“Arga terbang apa gimana?” Batin Shelina.


“Shel, dengar aku suara aku ‘kan? Musiknya lumayan ganggu ya,” ujar Argantara yang merasa risih dengan suara musik.


“Iya emang lagi ada musik di sini. Ya udah aku aja yang nyamperin kamu. Tunggu di luar aja ya,”


“Eh nggak usah, kamu bilang aja dimana meja kamu?”


“Nggak, aku aja yang keluar. Tunggu ya pokoknya,”


Sudah datang menghampirinya saja, Shelina sangat berterimakasih pada Argantara. Ia tinggal menghampiri Argantara saja, supaya Argantara tak perlu masuk ke dalam bar. Sehingga mereka bisa cepat pulang.


“Udah datang si Argantara?”


“Udah, ayo kita pulang, Lar,”


“Okay, kuy balik,”


“Rangga, gue sama Shelina pamit pulang duluan ya,” ujar Lara.


“Eh bareng, gue juga mau balik aja,”


“Oh gitu? Ya udah ayo, tapi lo balik sendiri ‘kan? Nggak nebeng gue atau Shelina?”


“Ya kali, nggak dong, Lar. Gue pulang sendiri kok, tenang aja. Gue bawa mobil, Lar. Gue nggak bakal nebeng sama lo atau Shelina,”


“Hahahah bercanda, Ga. Jangan baper ya,”


“Nggak, santai aja. Gue nggak baper, cuma ngejelasin soalnya gue pikir lo tuh curiga gue bakal nebeng padahal mah nggak sama sekali. Gue bawa mobil,”


“Kenapa ikutan pulang?”


“Nggak mau lama-lama, apalagi kalian juga pulang. Teman ngobrol jadi nggak ada deh,”


“Lah ‘kan masih banyak orang, Ga,”


“Nggak ah, gue juga niatnya doang nggak mau terlalu lama,”


“Oh mau kencan sama gebetan ya?”


“Sok tau, Lar. Lo tuh sok tau,”


Lara tertawa mendengar sahutan Rangga yang ikut berjalan keluar dari bar bersama Lara dan juga Shelina yang hendak pulang.


Shelina langsung melambai singkat ke arah Argantara yang berdiri di dekat mobilnya. Argantara akhirnya melihat Shelina. Tadinya mau bergegas masuk ke dalam bar, karena takutnya kalau menunggu Shelina keluar bar malah lama. Tapi ternyata tidak, setelah mereka bicara di telepon, tak lama kemudian Shelina keluar dari bar.


“Gue langsung ya,”


“Okay, bye. Ati-ati, bro,” ujar Lara pada Argantara yang membelokkan langkah ke arah mobilnya. Shelina hanya melambai singkat pada Rangga kemudian melanjutkan langkah mendekati Argantara, begitupun Lara yang langsung bergegas ke mobilnya sendiri.


“Siapa itu, Shel?” Tanya Argantara begitu Shelina berdiri di hadapannya.


“Rangga, baru ketemu tadi,”


“Oh bukan teman kamu?”


“Bukan, temannya Caca. Baru ketemu tadi,”


“Ya udah ayo pulang,”


Argantara membuka pintu mempersilahkan Kia untuk masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu Argantara menyusul masuk ke mobil juga. Argantara duduk dibalik kemudi. Tak lupa Ia mengingatkan Shelina untuk menggunakan seat belt.


Setelah itu Argantara mulai melajukan mobilnya meninggal bar. Shelina tidak menduga kalau pulang dari bar Ia malah pulang dengan orang yang berbeda. Awalnya hendak pergi dan pulang dengan Lara tapi kenyataannya Ia malah pulang dengan Argantara.


“Kamu udah lama di sana, Shel?”


“Nggak juga,”


“Aku nggak tau kamu ke sana. Kamu nggak ada cerita mau ke sana,”


“Emang harus cerita?”

__ADS_1


“Ya nggak sih, cuma aku kaget aja kamu ke bar,”


“Caca ulang tahun dan dia ngundang aku sama Lara. Aku juga sebenarnya pengen tidur aja di rumah cuma Lara ngajakin datang bareng ke sana. Jadi ya udah deh aku berangkat. Lagian nggak enak juga sama Caca. Eh ketemu lah sama si Rangga. Aku nggak cerita ke kamu soalnya nggak mau ganggu kamu. Aku pikir kamu pasti lagi sibuk sama tugas atau lagi ada yang diurus,”


__ADS_2