
“Shel, kamu cantik lho pake ini, anggun,”
“Anggun? Penyanyi dong,”
Sebenarnya Shelina bicara seperti itu untuk mengusir rasa gugupnya setelah dipuji oleh Argantara yang membukakan pintu dan mempersilahkan Ia keluar setelah mereka tiba di sebuah kafe yang menjadi tempat berlangsungnya pesta ulang tahun Diana.
Baru kali ini ada laki-laki yang dengan gamblang memujinya. Makanya Shelina gugup. Biasanya cuma papanya saja, kali ini Argantara yang memuji penampilannya malam ini. Padahal Ia merasa biasa-biasa saja. Tapi entah kenapa Argantara memujinya cantik dan anggun.
“Serius, kamu makin cantik dandan kayak gini,”
Shelina tertawa, andai saja Argantara tahu bahwa dirinya hanya mengenakan pelembab muka, dan juga pewarna bibir. Tidak ada dandanan yang istimewa malam ini.
“Dandanan cewek-cewek di dalam pasti niat banget, aku nggak niat makanya cuma pake pelembab aja sama lipbalm,”
“Kamu nggak niat aja udah keliatan cantik banget, Shel, apalagi kalau niat. Jangan deh, malah bahaya kalau kamu niat dandan,”
“Lho, emang kenapa?”
“Jadi banyak orang terpesona sama kamu, nanti aku yang repot,”
“Repot gimana maksudnya?”
“Pokoknya repot deh. Aku nggak senang kalau ada orang yang terpesona sama kamu. Tapi ‘kan aku nggak bisa larang ya, manusia punya hak untuk repsona sama siapa aja,”
“Kamu ada-ada aja. Berlebihan ke aku nya, padahal aku nggak cantik, biasa aja,”
“Menurut aku sih cantik banget, walaupun nggak niat make up,”
“Ada yang muji aku lho, senang banget aku, tapi jujur aku malu,”
Argantara tertawa dan tiba-tiba saja meraih tangan Shelina. Dan itu tentu membuat Shelina tersentak kaget. Argantara menggenggam tangan Shelina dengan erat dan menghadirkan rasa hangat yang menjalar dari tangan Shelina sampai ke hati Shelina.
“Malam ini nggak apa-apa ‘kan aku pegang tangannya? Takut lepas soalnya,”
“Emang aku ayam?”
“Ya nggak, pengen aja mastiin kamu sama aku terus, berhubung ini udah malam dan banyak orang jadi kamu amannya sama aku aja ya. Di pundak aku udah dikasih tanggung jawab untuk jagain kamu,”
Shelina sampai kehabisan kata-kata. Apa memang begini love language seorang Argantara? Word affirmation, senang melontarkan kata-kata manis. Tadi memujinya cantik, sekarang dengan tegas mengatakan bahwa Ia akan menjalankan tanggung jawab dalam menjaga Shelina. Argantara tidak ingin Shelina jauh-jauh darinya. Supaya Argantara lebih mudah untuk menjaga Shelina.
Tapi sebentar. Love language? Memang Arnold mencintainya? Shelina masih ragu walaupun Argantara sudah semakin terang-terangan menunjukkannya.
“Hai, Ga. Wuih bawa cewek nih,”
Diana menyambut kedatangan Argantara dengan hangat, dan Ia melirik Shelina yang tampak cantik sekali malam ini.
“Happy birthday, Di. Gue doain yang baik-baik untuk lo. Oh iya, kenalin, ini Shelina namanya. Sekampus sama kita cuma beda jurusan aja,”
“Iya-iya gue pernah liat tapi emang nggak tau namanya. Hai, Shelina, thanks ya udah datang,”
Diana mengulurkan tangannya yang langsung diterima dengan hangat oleh Shelina. “Hai, Diana. Selamat ulang tahun ya. Aku nggak diundang sama kamu, tapi diajakin sama Argantara,”
“Gue undang siapapun pacar teman-teman gue,”
Mendengar kata ‘pacar’ Shelina langsung kikuk sejenak. Masalahnya yang Argantara ajak saat ini bukan pacar, tapi statusnya masih teman.
“Ayo-ayo makan. Have fun ya, Ga, Shel,”
“Okay thanks,”
Argantara mengajak Shelina untuk mendatangi sebuah meja bundar yang ukurannya cukup besar dan di sana sudah ada beberapa teman Argantara.
“Ga, kita mau ke sana?” Tanya Shelina sambil melangkah, dan tangannya masih digenggam erat oleh Argantara.
“Iya, emang kenapa? Kamu keberatan? Mau cari tempat lain?”
“Emang nggak apa-apa aku gabung di sana? Itu teman kamu semua ya?”
“Iya, nggak apa-apa lah kamu gabung di sana, emang kenapa? Mereka semua baik kok, orangnya welcome. Syukurnya semua teman aku tuh nggak neko-neko, Ki,”
“Aku malu aja mau gabung, Ga,”
“Kenapa harus malu, Shel? Percaya diri lah, jangan malu-malu, mereka baik kok, asyik juga, tenang aja, kamu nggak bakalan diusir sama mereka,”
“Ih aku juga nggak ngira bakal diusir, aku bakal canggung nanti,”
“Nggak usah canggung, anggap aja temen sendiri,”
“Iya-iya, aku nggak akan canggung,”
Mereka sebentar lagi tiba di meja yang menjadi tempat berkumpulnya beberapa teman Argantara. Melihat kedatangan Argantara, lima lelaki yang menjadi penghuni meja tersebut langsung menyapa Argantara. Mereka berlima juga membawa kekasih masing-masing.
“Duduk, bos. Wuidih nggak datang sendirian nih. Di grup mah anteng aja, kirain bakal datang sendiri, eh nggak taunya bawa gandengan,”
“Namanya Shelina,”
“Halo, Shel,”
Mereka langsung tersenyum menyapa Shelina dengan ramah. Benar apa yang dikatakan Argantara barusan. Mereka semua menyambutnya dengan tangan terbuka.
“Udah tunangan berapa lama lo, Ga? Kapan nikahnya? Buruan dong jan lama-lama hehe,”
“Doain aja,”
Hanya begitu jawaban Argantara yang tentunya membuat mereka semua bingung. Sempat mengira kalau Argantara dan Shelina sudah menjalin hubungan sebagai sepasang tunangan dan dalam waktu dekat akan menikah tapi sepertinya belum karena jawaban Argantara bukan tentang waktu yang ditanyakan oleh Idan. Karena Idan penasaran sejak kapan Argantara dan Shelina menjalin hubungan.
“Pengennya abis lulus, doain,” ujar Argantara melanjutkan perkataannya.
“Oh nggak pacaran nih berarti? Waduh, tapi roman-romannya nggak lama lagi nih,”
“Jangan-jangan mau langsung sat set ini mah, bisa jadi sebelum lulus,”
“Doain yang terbaik aja udah,”
Lagi-lagi Argantara hanya meminta doa. Mereka semakin curiga Argantara akan langsung nikah, tak lagi berpacaran. Argantara tipe yang tak banyak omong, bisa jadi nanti tiba-tiba langsung sebar undangan.
“Pokoknya kalau udah beneran mau nikah, lo harus bagi-bagi undangan ke kita ya, Ga,”
“Pasti, tenang aja,”
“Ah, takutnya pasti-pasti eh nggak taunya malah nggak bilang mah nikah,”
“Ya udah, ntar aja dibahas nya, ‘kan gue belum mau nikah besok pagi,”
“Kia, kuliah tempat kita ya? Sering liat soalnya,”
“Iya,”
“Oh ternyata Argantara sukanya yang beda jurusan gitu ya, Ga?”
“Nggak juga, tergantung orangnya,”
“Tapi ini tunangan aja apa gimana sih? Belum pacaran?”
Lelaki dengan topi di kepalanya menatap Argantara dan Shelina dengan mata memicing. Dia benar-benar penasaran sebenarnya apa hubungan Argantara dan Shelina ini.
“Ya kalau tunangan bisa dibilang pacaran nggak sih? Gatau deh gue,” ucap Argantara yang tak peduli statusnya apa sekarang ini yang penting Shelina sudah Ia ikat semi permanen.
“Oalah, tapi kayaknya sih udah dekat istimewa ya? Bukan dekat biasa aja. Soalnya Shelina udah diajak ke sini,”
“Ya karena gue deketnya cuma sama dia, masa gue bawa yang lain? Bawa dia lah pasti,”
“Cie, uhuy. Tancap gas bro! Jangan kelamaan, udah siap lo mah,”
“Siap apaan?”
“Siap nikah dong,”
Argantara tertawa dan mengaminkan dalam hati. Kalau masalah siap, Ia sudah berani bilang iya. Tapi jodohnya siapa belum tahu, tapi Ia berharap Shelina lah jodohnya dunia akhirat. Sementara Shelina? Entah Shelina sudah siap atau belum kalau dalam waktu dekat karena obrolan mereka setelah lulus terus.
Mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol sampai kurang lebih tiga puluh menit. Argantara menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia ingat, tak bisa membawa Shelina pergi terlalu lama, kalau dirinya sendiri tak masalah mau pulang sampai jam satu malam sekalipun. Ia tinggal jujur pada mamanya kalau Ia masih bersama teman-temannya.
“Eh gue sama Shelina pamit pulang ya,”
“Okay, ati-ati di jalan, bro,”
“Kok cepet amat sih? Baru juga jam sembilan nih,”
“Nggak bisa malam-malam gue, soalnya bawa anak orang, Dan,”
Idan langsung menganggukkan kepalanya. Ia mengerti, ternyata Argantara tidak mau terlalu lama di acara tersebut karena membawa Shelina. Idan pikir, mungkin sudah ada kesepakatan dengan orangtua Shelina supaya Shelina tak dipulangkan terlalu malam.
Argantara dan Shelina pamit pada si pemilik acara, yaitu Diana sebum mereka benar-benar meninggalkan acara.
“Okay, hati-hati ya, thanks banget udah mau datang,”
Setelah pamit, barulah Argantara dan Shelina berjalan ke arah pintu keluar kafe. Tapi sebelum itu, Argantara ingin buang air kecil dulu. Karena sebenarnya sudah sejak tadi Ia ingin ke kamar mandi, namun karena asyik mengobrol jadi sungkan mau ke kamar mandi.
“Shel, aku ke kamar mandi bentar nggak apa-apa ya?”
“Iya nggak apa-apa kok, aku duduk di sini deh,”
Mereka berdua berhenti. Shelina langsung duduk di salah satu kursi yang kosong, masih di dalam kafe, sementara Argantara bergegas ke kamar mandi.
“Tunggu sebentar, jangan kemana-mana ya,” pesan Argantara seperti itu sebelum meninggalkan Shelina.
Shelina akhirnya duduk mengamati suasana pesta ulang tahun Diana yang meriah. Semuanya berbaur akrab.
“Aku pengen minum ah,”
Shelina tak sengaja melihat meja yang berisi banyaknya gelas minuman yang tersusun rapi. Dan mendadak Ia ingin mencoba.
Ia segera beranjak mengambil kemudian menyeruputnya sedikit. Karena rasanya aneh, Ia segera meletakkannya lagi.
“Apaan sih itu? Kok nggak enak ya?” Gumamnya pelan dengan wajah mengernyit. Ia menyesal telah menyeruput minuman tersebut karena rasanya tidak sesuai dengan selera dan baru kali ini Ia mengenal rasa dari minuman itu. Ia mengedarkan pandangan mencari air putih untuk mengusir rasa tidak enak di lidah, Ia melihat ada botol air putih yang disusun rapi juga. Tanpa berlama-lama Ia segera mengambilnya.
“Nah, kalau ini enak, air putih kayak biasanya aja. Yang tadi tuh apa coba? Aneh banget,”
“Shel!”
Shelina langsung menoleh ketika namanya dipanggil. Argantara datang menghampirinya dengan perasaan lega karena apa yang Ia tahan akhirnya sudah dibuang juga.
“Kamu haus?”
__ADS_1
“Nggak sih, cuma penasaran aja tadi sama minuman yang itu, pas aku coba nggak enak. Ya udah aku ambil air putih aja deh, untungnya ketemu. Kalau nggak, lidah aku masih ngerasain nggak enak dari minum itu padahal cuma dikit aja aku minum,”
“Astaga, Shel. Itu ‘kan alkohol, kenapa kamu minum?”
Argantara langsung menatap Shelina dengan khawatir. Tadi matanya sempat membelalak ketika Shelina menunjuk susunan gelas yang merupakan minuman beralkohol, kemudian Ia menatap minuman yang Shelina pegang memastikan bahwa itu bukan alkohol tapi benar air putih biasa.
“Hah? Itu alkohol? Maaf, aku nggak tau. Aku penasaran aja tadi makanya aku coba. Eh ternyata rasanya nggak enak sama sekali,”
“Buat yang nggak suka, nggak biasa minum emang nggak enak. Makanya kalau di pesta tuh jangan sembarangan minum, kamu ‘kan nggak tau itu aman atau nggak,”
Argantara tidak mau Shelina salah lagi nantinya, maka dari itu Ia nasihati. Ia tidak menyangka kalau Shelina akan mencari minuman sendiri. Dan dapatlah minuman alkohol yang tidak disukai Shelina.
“Lagian nggak minta tolong sama aku aja untuk ambil minum,”
“Ngapain? Aku ‘kan punya tangan sama kaki sendiri. Aku bisa ambil sendiri,”
“Ya tapi akhirnya kamu malah dapat alkohol ‘kan,”
“Cuma dikit doang kok tadi. Untungnya sih dikit, aku nggak tau kalau itu alkohol, seriusan deh. Kalau tau, aku nggak bakal mau nyoba. Aku pikir di sini nggak ada minum-minuman begitu,”
“Udah biasa, namanya juga anak muda yang ulang tahun, yang bikin party. Jadi suka ada minuman kayak gitu. Tergantung tamu aja mau atau nggak. Ya udah sekarang kita pulang yuk,”
Argantara langsung meraih tangan Shelina dan mengajaknya untuk keluar meninggalkan keramaian di dalam kafe yang sengaja dipesan khusus untuk merayakan ulang tahun Diana malam ini.
“Shelina, apa yang kamu rasain setelah minum itu? Kamu baik-baik aja ‘kan?”
“Cuma masih nggak enak aja di mulut, aman kok, Ga,”
“Pokoknya lain kali jangan sembarangan lagi ya, kalau dikasih orang minuman di party gitu, kamu juga mesti waspada. Kamu ‘kan orangnya lugu banget, keliatan dari mukanya. Takut dikerjain orang. Duh, ternyata aku masih lengah aja jagain kamu, Shel. Maaf ya, gara-gara aku ke kamar mandi kamu jadi—“
“Arga, kok ngomong gitu sih? Jangan ngomong gitu lah. ‘Kan salah aku yang nggak tau kalau itu ternyata alkohol,”
“Biasanya ada petugas kafenya yang jaga di meja deh, kok nggak ada sih tadi?”
“Mungkin lagi ada yang dikerjain bentar, jadi ninggalin meja deh,”
“Tapi kamu beneran baik-baik aja ‘kan? Nggak mual? Nggak pusing, Shel?”
“Nggak, Ga. Tenang aja, aku nggak apa-apa kok, cuma masih berasa nggak enak di mulut aku,”
“Ya ampun, makanya ingat pesan aku yang tadi ya, jangan sampai lupa. Kalau datang ke acara tuh terutama party-party lah, jangan sembarangan minum. Kalau kamu anaknya yang hobi minum gituan sih nggak masalah, nah ini kamu kebalikannya,”
“Ternyata gitu rasanya? Kenapa sebagian orang suka?”
“Ya enak,”
“Hah? Enak? Ih rasanya aneh gitu, enak darimana?”
“Menurut mereka enak, Shel,”
Argantara dan Shelina tiba di area parkir. Argantara langsung membuka pintu mobilnya dna mempersilahkan Shelina masuk. Shelina langsung menggunakan seat belt, dan Argantara menyusul masuk ke dalam mobil.
“Kamu suka minum kayak gitu, Ga?”
“Nggak,”
“Tapi pernah nyoba nggak?”
“Pernah, tapi nggak doyan. Kalau aku minum yang normal-normal aja udah. Kayak air putih, teh, susu, jus. Aku seleranya begitu, nggak yang aneh-aneh. Tapi kalau lagi kumpul sama teman, terus ada minuman kayak gitu dan diajakin minum ya aku minum, biar samaan,”
“Ih, kamu orangnya nggak enakan ya sama orang?”
“Tujuannya biar nyamain aja sih, biar sedikit bakal aku minum, tapi abis itu ya aku cuekin aja,”
“Kok ketawa?”
Mendengar Shelina terkekeh, Argantara tentu bingung. Sedetik kemudian Ia ingat kalau Shelina baru saja menyeruput minuman beralkohol. Ia langsung menepikan mobilnya untuk memastikan Shelina benar-benar aman.
“Nggak apa-apa, lucu aja denger cerita kamu. Karena pengen samaan kayak teman, jadi minum walaupun cuma dikit. Kayaknya kamu punya rasa solidaritas yang tinggi nih,” ujar Shelina masih dengan tawanya.
“Shelina, kamu ketawa karena emang lucu atau mabok sih? Aku ‘kan jadi khawatir ini, Shel,”
“Hah? Mabok?”
“Iya, kamu mabok? Makanya ketawa-tawa,”
“Ih enak aja! Aku sadar, aku nggak mabok, Ga! Kok kamu ngiranya aku mabok sih?”
“Ya aku takut aja gitu, soalnya kamu tadi—“
“Aku cuma minum seuprit, ya ampun. Tenang aja, aku rasa itu nggak ngaruh. Orang aku benar-benar minum secuil dikit banget. Setelah cobain rasanya nggak enak, aku langsung taruh aja di meja. Dan aku cari air putih,”
“Soalnya kamu tuh belum pernah minum kayak gitu ‘kan? Makanya aku takut reaksinya di tubuh kamu berlebihan,”
“Nggak-nggak, tenang aja, Arga,”
Shelina sampai mengusap lengan Argantara singkat untuk menenangkan Argantara. Lelaki itu kelihatannya benar-benar cemas.
Padahal Ia sudah menegaskan bahwa Ia baik-baiks aja. Minuman itu hanya masuk sangat sedikit ke mulutnya, Ia pikir tak ada reaksi yang berlebihan dari tubuhnya.
“Kalau kamu sampai kenapa-napa, aku yang khawatir, aku panik. Takut juga aku sama mama kamu. Ntar nggak boleh pergi lagi sama kamu,”
“Tenang aja, aku sehat, aman, sentosa,” ujar Shelina diselingi caranya supaya suasana hati Argantara tidak tegang.
“Semoga di aku nggak apa-apa. Cuma nggak enak di lidah, rasanya masih ada dikit, di kerongkongan juga jadi nggak enak,”
“Mau permen nggak? Aku ada permen tuh di dashboard mobil, ambil aja coba,”
“Kamu ada? Aku mau, beneran permen ‘kan ini?”
“Iyalah, beneran permen, rasa susu terus manis. Emang kamu pikir permen bohongan?”
“Nggak yang bikin mabok ‘kan?”
Argantara tertawa, alih-alih tersinggung. Nampaknya karena perkara minuman tadi, Shelina jadi trauma. Ia tidak akan menyimpan barang yang berbau negatif di mobil ataupun rumahnya.
“Aku nggak neko-neko orangnya, Shel. Kamu tenang aja. Nggak usah takut, makan aja permennya, kamu cari sendiri ya,”
“Okay, boleh aku buka dashboard kamu ya?”
“Boleh dong, cari di sana permennya,”
Begitu Shelina buka dashboard mobil Argantara, ternyata ada tiga jenis permen. Shelina sampai bingung pilih permen yang mana karena kelihatan semuanya enak.
“Ih kamu kok banyak sih permennya di mobil? Aku pengen semua ‘kan jadinya. Aku pilih yang mana ya? Keliatan enak semua nih. Yang rasa susu ada, buah ada, cola ada,”
“Ambil aja semuanya, nggak usah dipilih, Shel. Bawa semua sama kamu ya. Biar kamu bisa makan di rumah juga,”
“Ya ampun, masa iya aku bawa semua permen yang ada ini. Nggak tau diri itu mah namanya,”
Shelina tak akan melakukan itu walaupun Ia menyukai permen dan permen yang ada di dashboard mobil Argantara kelihatan enak semua.
Tentu saja Ia malu kalau sampai mengambil alih makanan manis itu.
“Lho, kok ngomong gitu? Serius, ambil aja sama kamu. Aku orangnya jarang juga makan permen. Itu beli waktu sebulan lalu kalau nggak salah. Temenin mama aku ke supermarket, terus beli itu deh, nah belum dibuka-buka sampai sekarang karena emang aku jarang makan sesuatu kalau di perjalanan,”
“Nggak ah, aku minta yang susu aja, satu buat aku ya,”
“Ya ampun, cuma satu gagang doang. Satu plastik aja sekalian kalau emang nggak mau tiga-tiganya kamu ambil,”
“Nggak, kebanyakan, Arga. Satu buah aja udah cukup,”
“Kebaikan orang nggak boleh ditolak lho, Shel. Ayo buruan ambil aja semuanya. Orang nggak seberapa juga kok. Pokoknya itu semua kamu bawa turun nanti ya,”
“Ih, nggak tau diri banget aku pulang-pulang ngerampok permen di mobil kamu,”
Shelina menertawakan dirinya sendiri. Sebelum orang memberinya penilaian seperti itu, Ia sudah melakukannya lebih dulu.
“Tiga plastik ini isinya banyak banget. Nanti mama aku kaget, dikiranya aku abis nyolong di acara ulang tahun Diana,”
“Dih, ngomong apa sih kamu? Aku nggak suka ah dengarnya,”
“Ya abisnya kamu nggak kira-kira. Masa semuanya buat aku?”
“Ya nggak apa-apa dong, cuma permen aja kok. Aku kurang suka makan gitu kalau lagi di perjalanan apalagi pas nyetir, jadi daripada permen nya nganggur mending buat kamu lah. Kamu ‘kan kebetulan suka juga sama peremn,” ujar Argantara pada Shelina yang bersikeras tak mau menerima apa yang sudah Ia berikan. Padahal Argantara akan sangat bahagia kalau Shelina menerima.
“Aku beli itu iseng aja mau ngisi dashboard. Soalnya dashboard aku sepi ya ‘kan. Nah ya udha aku beli lah permen. Eh nggak dimakan-makan itu. Kayaknya udah sebulan lebih deh, jangan sampai kadaluarsa gara-gara aku cuekin tuh permen. Kalau sama kamu pasti dimakan, pasti abis karena kamu suka permen ‘kan?”
“Suka banget, cuma ya—“
“Makan permennya, biar itu jejak-jejak minuman laknat nggak ada lagi,” suruh Argantara yang tak ingin lagi membahas perkara permen.
“Okay aku makan ya, aku minta ya,”
“Iya, Shelcan,”
Argantara kali ini tak hanya menyebut sepenggal nama saja, melainkan Shelcan yang artinya Shelina cantik. Tidak pernah ada siapapun yang memanggil Shelina seperti itu. Dan entah kenapa suara lembut Argantara ketika menyebut namanya membuat Shelina tersenyum.
“Suara Arga sopan ya di kuping,”
“Eh, kok diam? Malah ngeliatin aku. Makan permennya, Shel,”
“Eh iya lupa,”
Sedang membayangkan ketika Argantara marah, dan penasaran bagaimana penampakan ketika Argantara marah, akhirnya membuat Shelina lupa untuk menyantap permen rasa susu yang Ia minta dari Argantara.
“Makasih ya, Ga,”
“Makasih untuk apa?”
“Udah ajakin aku jalan-jalan malam ini, akhirnya aku ketemu teman baru, makasih udah jagain aku juga, makasih udah ngasih permen, pokoknya makasih untuk semuanya deh,”
“Sama-sama, kamu harusnya nggak perlu ngomong makasih,”
“Harus dong, karena kamu ‘kan baik,”
“Makasih juga udah jadi teman pergi aku malam ini ya, maaf kalau ada hal yang bikin kamu nggak nyaman,”
“Nggak ada, seriusan deh. Aku nyaman-nyaman aja kok pergi sama kamu, Ga. Teman kamu juga pada bikin aku nyaman tadi, aku nggak canggung, berbaur aja gitu,”
“Kalau sama teman aku jangan terlalu nyaman, bolehnya nyaman sama aku aja,”
“Kamu orangnya posesif ya?”
__ADS_1
“Hmm? Nggak juga,”
“Soalnya tadi aja aku benar-benar dijagain banget, terus barusan aku nggak dibolehin nyaman sama teman kamu. Emang kenapa?”
“Nyaman sama aku aja udah, kata orang ‘kan rasa nyaman bisa jadi cinta,”
Shelina tertawa karena lagi-lagi Ia dapat hiburan gratis. Daripada Ia canggung ketika Argantara membahas cinta. Lebih baik Ia tertawa saja. Pembahasan cinta itu terlalu berat untuknya yang rasa-rasanya belum pernah jatuh cinta.
Mobil Argantara tiba di rumah Shelina. Argantara berjalan ke sebelah kiri untuk membukakan pintu tapi Shelina sudah membuka pintu untuk dirinya sendiri.
“Nggak usah bukain pintu buat aku, Ga. Udah macam ratu aja aku,”
“Ya emang ratu, cewek ‘kan ratu, kalau cowok namanya raja,”
“Tapi aku bukan ratu, aku sama ratu itu bagaikan langit dan bumi,”
Argantara menjawil ujung hidung bangir Kia yang baru saja merendah. Argantara tidak senang ketika orang terlalu insecure, seperti Shelina ini. Tahu diri memang perlu, tapi terlalu insecure juga tidak baik.
“Kamu tuh punya kelebihan, jangan terlalu insecure deh, nggak bagus,”
“Ya makanya jangan samain aku kayak ratu, ih kamu nih nggak paham ya kalau cewek emang insecure nya tuh tinggi,”
“Tapi emang kamu tuh ratu, bentar lagi jadi ratu kedua aku setelah mama. Semoga tercapai keinginan aku, hehehe,”
Entah mengapa Argantara jadi salah tingkah sendiri setelah berucap seperti itu. Dan Ia langsung berusaha mencari pengalihan.
“Eh permennya mana?”
Karena di tangan Shelina kosong, jadi Ia bertanya soal permen yang harusnya Shelina bawa turun juga dari mobil.
“Nggak aku bawa,”
“Kok kamu gitu sih? Pokoknya itu buat kamu aja,”
Argantara buru-buru mengambil tiga bungkus permen. Yang satu bungkus sudah dibuka Shelina tadi, dan Shelina mengambil satu buah, sementara yang dua bungkus lagi belum dibuka sama sekali. Argantara menyerahkan itu semua untuk Shelina yang terperangah beberapa saat.
“Ini beneran buat aku? Kamu nggak nyesal? Permen kayak gini enak-enak lho, Ga. Lagian aku ada permen juga kok di rumah,”
“Ya udah simpan aja. ‘Kan permen di rumah kamu belum tentu sama kayak ini, iya ‘kan? Pokoknya bawa aja ya,”
Sekarang Argantara menekan bel rumah Shelina. Dan tak lama kemudian mamanya Shelina, Indah, membukakan pintu.
“Assalamualaikum, Tante,”
“Waalaikumsalam, Alhamdulillah sampe sini dengan selamat,”
“Makasih udah izinin Shelina pergi sama aku ya, Tante,”
“Sama-sama, ayo masuk dulu,”
“Nggak usah, Tante. Aku mau langsung pulang aja, supaya nggak malam-malam banget sampai di rumah,”
“Oh gitu, ya udah hati-hati ya. Salam buat mama kamu, makasih juga udah jagain Shelina,”
“Iya nanti aku sampein ke mama. Aku pamit pulang dulu, Tante,”
Argantara mencium tangan Shefia untuk pamit. Ia sudah menyerahkan Shelina lagi ke mamanya dengan keadaan baik-baik saja.
Argantara juga pamit pada Shelina yang bersedia menjadi teman perginya malam ini untuk menghadiri acara ulang tahun Diana. Malam ini Argantara bahagia sekali. Rasanya lebih dekat dengan Shelina.
“Hati-hati, Ga. Makasih ya,”
“Iya, kamu langsung istirahat, okay?”
Shelina menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Argantara tak lupa menyuruhnya untuk istirahat. Padahal tanpa disuruh, Shelina pasti akan langsung tidur karena sejujurnya Ia sudah mulai merasakan kantuk ketika masih dalam perjalanan pulang.
Setelah mobil Argantara tak terlihat lagi, Shelina dan mamanya masuk ke dalam rumah. Shefia tak membiarkan anaknya ke kamar dulu.
“Gimana acaranya tadi?”
“Lancar, Ma. Aku dapat teman baru,”
“Ada yang kamu kenal?”
“Ada kok, Ma. Tapi cuma dikit, yang aku tau. Itu teman-temannya Argantara kebanyakan. Tapi asyik semua,”
“Jadi keluar malam ini nggak nyesal ‘kan? Hampir aja kamu nggak mau pergi, malah di tempat tidur karena malas keluar,”
“Nggak nyesal, Ma,” jawab Shelina seraya terkekeh memperlihatkan barisan giginya yang tertata rapi dan bersih.
“Itu apa yang kamu pegang? Di acara ulang tahun Diana dapat permen?”
“Ini permen dari Arga. Jadi tadi, pas Arga ke kamar mandi aku penasaran sama salah satu minuman di sana. Terus aku coba, Ma. Eh ternyata nggak enak, untungnya cuma dikit aja yang aku cicip. Dan kata Arga, itu minuman alkohol, makanya Arga kasih permen ke aku karena mulut aku masih ada sisa-sisa rasa nggak enaknya dari minuman itu,”
“Hah? Astaghfirullah, Shel! Bisa-bisanya kamu minum begituan,”
Shelina langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Indah langsung kelihatan kaget, sampai matanya membelalak. Shefia pasti tidak menyangka. Sama, Shelina sendiri juga tidak menyangka tangannya bisa meraih minuman itu.
“Maaf, Ma. Aku nggak kenal sama rupanya minuman itu jadi aku minum deh, karena aku pengen cobain. Eh ternyata alkohol kata Arga. Tapi aku nggak mabuk kok, Ma. Aku cuma minum dikit banget, benar-benar secuil, untungnya sih cuma dikit ya. Jadi nggak ada efeknya di badan aku mudah-mudahan. Tapi emang nggak enak di mulut sama kerongkongan aku, aneh banget rasanya,”
“Ya ampun, untungnya cuma dikit,”
“Iya, Arga khawatir banget aku mabuk, Ma,” ujar Shelina menceritakan bagaimana reaksi Argantara tadi ketika Ia habis meneguk sedikit minuman beralkohol itu.
“Ya iyalah, dia bawa anak orang pulang-pulang dengan keadaan mabuk ya pasti khawatir, pasti takut juga dia bikin mama kecewa,”
“Terus aku disuruh makan permen. Dikasih semuanya sama dia, aku udah nolak eh malah dipaksa. Jadi ya udah deh aku terima. Alhamdulillah rezeki anak baik, anak cantik, kayak ratu,”
“Lah, tumben pede, biasanya juga nggak merasa cantik,”
“Kata Arga nggak boleh insecure, Ma,”
Shefia tertawa melihat wajah tersipu Shelina yang baru saja dengan percaya diri menilai dirinya cantik, baik, padahal biasanya paling enggan memuji diri sendiri, yang ada juga tidak percaya diri terus.
“Bagus deh Arga ngomong kayak gitu, jadi biar kamu berubah. Kamu emang susah banget disuruh percaya diri, seolah nggak ada kelebihan sedikitpun. Tapi tumben ngomongin ratu, kamu pengen jadi ratu?”
Shelina melipat bibirnya ke dalam. Ia tak sengaja bicara seperti itu karena tadi Argantara juga membahas tentang dirinya yang disemogakan bisa jadi ratu keduanya Argantara selain sang mama.
“Nggak, Ma. Salah dengar deh mama,”
“Ah, jangan-jangan selain Argantara nggak bolehin kamu insecure, Argantara juga rubah panggilannya ke kamu ya? Kamu dipanggil ratu sama dia?”
“Ih mama kok bisa-bisanya mikir ke sana? Nama aku ‘kan Shelina ngapain Arga manggil aku Ratu?”
“Ya kali aja, dia udah mulai gombal-gombal,”
“Nggak, Ma. Dia bilang semoga bisa jadiin aku ratu kedua,”
Shefia tertawa melihat kepolosan anaknya ketika bercerita. Tadi kelihatan malu-malu sekarang dengan lancar menceritakan apa yang dikatakan Argantara.
“Jadi Arga ngomong gitu? Ratu pertamanya siapa? Oh mamanya ya?”
“Iya, mama betul sekali,”
“Bagus, kamu dijadikan yang kedua. Karena sampai kapanpun memang ratunya anak laki-laki itu ya mamanya dia sendiri. Jangan marah kalau dia ngomong begitu,”
“Nggak marah, Ma. Justru aku senang karena nggak jadi yang pertama, aku nggak mau lah ada di posisi perempuan yang udah berperan besar dalam hidup Arga,”
“Kayaknya obrolan kalian udah makin jauh, jadi gimana nih?”
“Gimana apanya, Ma?”
“Ya..gimana? Udah ada obrolan buat ke arah sana? Nikah? Apa dia udah benar-bsnar yakin? Nggak nolak lagi kayak waktu itu? Hmm?”
“Nggak, Ma. Tapi nanti-nanti aja, habis lulus deh,”
“Tapi si Arga mama liat makin berani ya, mau selangkah lebih maju keliatannya,”
“Iya, Ma. Aku ngantuk nih, pengen tidur, Ma. Aku pamit ke kamar ya, Ma,”
Shefia menganggukkan kepalanya. Ia langsung menyuruh anaknya untuk bergegas ke kamar beristirahat. Kelihatan dari matanya yang mulai berat, Shefia tahu anaknya memang mengantuk. Makanya Ia mengakhiri obrolan mereka.
Shelina segera membersihkan badannya sebentar, kemudian mengenakan pakaian tidur. Ia hendak mengisi daya baterai ponsel supaya besok pagi dibawa ke kampus dengan daya yang penuh. Setelah Ia menyambungkannya ke listrik, daya masuk bertepatan dengan panggilan masuk dari Argantara.
“Assalamualaikum, kenapa, Ga?”
“Waalaikumsalam, nggak apa-apa, pengen mastiin aja kamu udah tidur atau belum,”
“Kamu udah sampe rumah ya?”
“Udah dong, makanya udha bisa telepon kamu. Kok kamu belum tidur?”
“Ini lagi mau tidur, tadi charge handphone terus tiba-tiba kamu telepon,”
“Oh okay, good night ya, kamu ada kuliah pagi besok?”
“Iya ada, Ga,”
“Aku jemput ya,”
“Kamu kuliah pagi juga?”
“Nggak sih, jam sepuluh baru ada. Cuma aku pengen aja bareng kamu,”
“Nggak usah, aku jam tujuh dan kamu jam sepuluh. Nanti kamu kelamaan di kampus,”
“Lho, kenapa emangnya? Nggak masalah dong, malah aku rajin banget nanti dibilang sama dosen,”
Shelina malah tidak enak kalau Argantara sampai menjemputnya di sini kemudian mereka bersama-sama ke kampus. Ia kebetulan ada jam kuliah pagi tepatnya pukul tujuh, sementara Argantara di pukul sepuluh. Lelaki itu akan menunggu kelasnya mulai lumayan lama sekitar tiga jam.
“Nggak usah, aku pergi sendiri aja. Nggak usah kamu jemput, Ga,”
“Kok gitu sih? Nggak mau banget bareng aku,”
“Bukan gitu, Arga. Harusnya kamu jam tujuh masih bisa leha-leha di rumah, terus kamu malah mau anterin aku ke kampus? Yang bener aja kamu. Capek lho, nunggunya kurang lebih tiga jam,”
“Nggak apa-apa, Shel. Emang aku yang mau kok. Aku pengennya bareng,”
“Ya udah lah terserah kamu. Sekarang aku mau istirahat. Udah dulu ya,”
Argantara diam-diam tersenyum karena Shelina tak menolak lagi. Ia akan memasang alarm supaya besok bisa bangun pagi sehingga tidak terlambat menjemput Shelina di rumahnya kemudian mengantarkan Shelina ke kampus.
“Malam, Ratu Kia cie Ratu hahahaha,”
__ADS_1