
Perjalanan kali ini tidak membuat Shelina panik atau tegang lagi karena Argantara mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang wajar, tidak gila-gilaan seperti tadi pagi.
Walaupun selama dalam perjalanan tidak ada obrolan sama sekali, tidak ada playlist musik juga yang mereka dengarkan tapi Shelina merasa ini jauh lebih baik, daripada Ia dan Argantara bicara malah membuat suasana jadi memanas. Situasi saat ini berbanding terbalik dengan tadi pagi yang menegangkan bagi Shelina.
Tiba-tiba ponsel Shelina yang ada di dalam tas berdering. Ia langsung menoleh ke sebelahnya dimana Argantara fokus menyetir.
“Aku boleh angkat telepon Mama aku bentar? Nggak ganggu ‘kan?”
“Ya udah jawab aja sana, ngapain harus izin sama gue?”
“Takutnya kamu merasa terganggu,”
“Nggak! Udah jawab aja sana,” ujar Argantara yang tidak merasa terganggu bila Shelina ingin menerima panggilan dari mamanya. Ia tahu kalau tidak dijawab, pasti akan dihubungi terus. Mamanya punya ciri khas seperti itu, dan Argantara rasa semua ibu begitu. Kalau sekali panggilan tak dijawab anaknya, maka akan ditelpon terus sampai dapat jawaban. Mamanya pernah bilang itu terjadi karena seorang ibu akan khawatir bila anaknya dihubungi tak kunjung memberikan respon.
“Assalamualaikum, kamu pulang kapan, Nak? Gimana hari pertama kuliahnya, Shel?”
“Waalaikumsalam ini udah di jalan pulang, Ma,”
__ADS_1
“Oh gitu? Okay, Mama tunggu ya. Hati-hati pulangnya. Eh tapi kamu pulang sama siapa? Pak Indra ‘kan belum jemput kamu, Shel,”
“Aku pulang sama Arga, Ma,”
“Oh kayak tadi pagi ya. Okay deh, hati-hati ya,”
“Iya, Ma, nggak lama lagi aku sampai kok,”
“Iya, Sayang, mama tunggu di rumah,”
“Kenapa nggak lo ceritain sekalian sama nyokap lo kalau tadi lagi gue hampir bikin lo mati? Hmm?”
“Untuk apa? Cukup aku simpan sendiri aja. Aku nggak mau cerita-cerita ke siapapun soal kejadian tadi pagi,”
“Halah, omong kosong! Paling nanti sampai rumah lo bakal laporan sama nyokap bokap lo, iya ‘kan?”
“Kamu kenapa sih nuduh aku kayak gitu? Emang kamu punya buktinya?”
__ADS_1
“Tanpa bukti gue udah bisa nebak kalau lo tuh pasti bakal laporan. Lo ‘kan manja, anak kesayangan, paling nggak bisa sedih, pasti apa-apa cerita saking terbukanya sama orangtua,”
“Aku emang terbuka kok sama orangtua aku. Tapi untuk kejadian tadi pagi aku nggak mau bahas karena untuk apa juga? Yang ada, aku ingat lagi sama kejadiannya kalau aku bahas itu, dan aku nggak mau ingat yang buruk-buruk, kejadian yang dulu aja pengen banget aku lupain tapi belum bisa sampai sekarang, tadi pagi ditambah lagi sama kejadian kamu yang ngebut banget bawa mobil sampai aku takut kalau kita bakal kecelakaan dan aku meninggal,”
“Gue nggak nyesal sama sekali karena menurut gue, lo emang pantas dapetin itu,” ujar Argantara dengan dingin dan tajam menusuk.
Shelina menghembuskan napas pelan. Argantara benar-benar tidak disaring dulu kalau bicara. Begitupun dengan bertindak. Argantara tidak tahu apa dampaknya.
“Tapi lo punya nyali yang besar juga ya. Berani juga lo pulangs ama gue,”
“Aku udah sebutin alasannya tadi. Aku menghargai apapun itu kata orangtua, dan mama kamu udah aku anggap sebagai orangtua aku juga, Ga,”
“Kayaknya bukan karena menghargai deh, bukan karena berani juga, tapi karena emang lo nggak punya malu ya? Gue kalau jadi lo, udah nggak mau sih satu kendaraan lagi sama orang yang udah bikin trauma lo datang,”
“Terserah kamu deh mau ngomong apa, Ga. Aku nggak mau ambil pusing. Yang jelas, aku nggak kayak yang kamu pikirin,”
“Gue mau nggak mau nerima perjodohan itu, karena lo nerima dan gue nggak ada lagi kesempatan untuk nolak. Tanpa lo sadar, gue lagi jebak lo ke dalam neraka, Shel,”
__ADS_1