
“Sialan banget. Padahal gue udah buru-buru masih aja kalah cepat dari si cowok nggak tau malu itu. Ini kayaknya cobaan buat gue deh yang udah nyia-nyiain Shelina dulu. Tapi kok berat banget cobaan gue ya? Harus saingan sama cowok lain,”
Argantara kesal sekali ketika melihat dari dalam mobilnya motor Ganta sudah ada di depan rumah Shelina, tandnaya Ganta datang lebih cepat ketimbang dirinya. Tentu tujuan Ganta ingin menjemput Shelina. Apalagi tujuannya selain itu? Tidak ada, Ganta memang benar-benar seniat itu datang pagi untuk mengajak Shelina pergi ke kampus bersama.
Argantara memilih untuk tidak memarkirkan mobilnya di halaman rumah Shelina walaupun sebnearnya banyak ruang, apalagi mobil papanya Shelina sudah tak ada lagi karena sudah pergi ke kantor. Niatnya supaya cepat saja, kalau bisa nanti Ia langsung menarik tangan Shelina menuju mobilnya lalu mereka berangkat ke kampus tidak perlu mundur-mundur keluar dari halaman rumah.
Argantara menatap sesaat motor Ganta dengan pandangan kesal seolah motor itu adalah Ganta.
Argantara mengucap salam dan langsung melihat Ganta sedang bersama Shefia di ruang tamu. Argantara tebak Shelina belum siap makanya Ganta lagi menunggu dan Argantara bersyukur.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam ayo duduk, Ga. Shelina belum selesai. Bentar ya Tante liat dulu di kamarnya,”
“Iya, Tante,” jawab Argantara seraya tersenyum dan menganggukkan kepalanya sopan. Setelah Shefia naik ke lantai atas tepatnya ke kamar sang putri, Argantara langsung melirik ke arah Ganta yang memilih untuk sibuk dengan ponsel alih-alih tegur sapa dengan Argantara. Dari sini saja Argantara sudah bisa membaca kalau Ganta tidak menyukai sosoknya dan kehadirannya. Kalau dia orang yang mudah berteman, benar-benar baik, bisa terima kenyataan, tentunya sikap Ganta tidak akan seperti ini.
“Lo ngapain di sini?” Tanya Argantara pada Ganta yang masih menatap layar ponsel tapi karena Argantara bertanya jadi Ia jawab langsung “Jemput Shelina,”
“Lho, emang Shelina nggak bilang sama lo kalau misalnya hari ini dia berangkat sama gue,”
“Dia nggak bilang dan gue juga nggak nanya, emang kenapa?”
“Shelina berangkat ke kampus sama gue,”
“Yang datang lebih dulu siapa? Nah kalau lo udah tau jawabannya iyu berarti lo tau juga dong siapa yang berhak berangkat sama Shelina ke kampus,”
Argantara tersenyum sinis. Ganta mulai menunjukkan sifat asli kepadanya. Untung Ia tidak pernah menganggap Ganta itu temannya.
“Lo tuh lupa atau pura-pura lupa sih? Shelina itu tunangan gue. Lo udah tau kenyataan itu ‘kan?”
“Iya gue udah tau,”
“Lah terus kenapa masih di sini? Jadi yang berhak berangkat sama Shelina itu ya gue lah. ‘Kan gue tunangannya,”
“Ya masa lo nggak bolehin calon istri lo itu pergi sama sahabatnya sih? Ini cuma masalah berangkat ke kampus doang lho,”ujar Ganta seraya melepas pandangan dari ponselnya dan Ia menyimpan ponselnya di dalam saku celana yang Ia kenakan pagi ini untuk ke kampus.
“Nggak, sorry gue nggak bis abiarin lo berangkat sama tunangan gue, sorry ya,”
“Gue padahal sahabatnya Shelina,”
“Lah gue siapanya Shelina? Lo tau jawabannya ‘kan? Apa perlu gue jelasin lagi,”
“Iya gue tau lo tunangan Shelina tapi masa iya gue nggak boleh berangkat ke kampus sama teman gue sendiri,”
“Nggak boleh, sorry. Gue ke sini ya karena mau berangkat ke kampus sama tunangan gue, lo ‘kan sebatas sahabat masa iya mesti gue jelaisn sahabat itu batasannya apa aja. Gue rasa lo udah paham lah ya? Lo ‘kan bukan anak kecil lagi, lo itu udah dewasa, jadi taulah batasannya gimana ya walaupun lo sahabatnya Shelina sekalipun tapi lo harus tau Shelina itu tunangan gue, dan lo—“
“Iya gue tau kok,”
“Nah ya udah jangan maksa bisa nggak sih? Gue yang bakal berangkat sama Shelina, bukan lo,” tegas Argantara yang benar-benar tidak mau kalah sedikitpun. Enak saja Ganta bikin aturan sendiri. Ia tidak senang ketika Ganta dengan lancangnya merasa menjadi pemenang mentang-mentang dia adalah sahabat Shelina, dan Ia sebagai tunangan tidak dihargai sama sekali oleh Ganta.
Shelina datang ke ruang tamu dan Shelina bingung bagaimana harus bersikap sekarang. Tadi ketika Mamanya datang ke kamar dan menyampaikan Argantara dan juga Ganta datang ingin menjemputnya, Ia langsung diserang rasa bingung. Tidak apakah Ia menolak ajakannya Ganta demi pergi bersama Argantara? Ia tidak enak sebenarnya. Kalau tau Ganta akan datang pagi ini mungkin dari semalam sudah Ia antisipasi dengan pernyataan bahwa pagi ini Ia ingin bernagkat ke kampus bersama tunangannya.
“Hai, Shel,”
“Hai, Ganta. Kamu ke sini pagi-pagi mau ngapain?”
“Mau ajak kamu bareng ke kampus. Kamu nggak keberatan ‘kan?“
“Hah? Oh tapi—tapi ini aku mau berangkat sama Arga, Ganta. Hmm lain kali aja nggak apa-apa ya? Kamu nggak bilang juga semalam kalau mau datang,”
“Kalau aku datang emang kamu bakal mau berangkat ke kampus bareng aku pagi ini?”
“Ya nggak lah, masih aja ngarep lo. Lagian si Shelina juga kenapa sih harus bilang lain kali aja? Udah tau dia orangnya kayak gitu malah dikaish harapan. Besok dia datang lagi deh jemput Shelina ngajakin ke kampus bareng,” batin Argantara dengan menahan rasa kesalnya mati-matian.
“Ganta, Arga itu ‘kan tunangannya Shelina, jsdi Tante mau minta maaf sebelumnya kalau misal Shelina itu bakal pulang perginya sama Arga ya karena emang mereka ‘kan udah tunangan. Nah kamu interaksi sama Shelina nya di kampus aja, gimana? ‘Kan kalian satu kelas ya?”
Jujur Ganta sakit hati sekali ditolak untuk yang kesekian kalinya, tapi kali ini semakin sakit hati jarena mamanya Shelina ikut memberikan penolakan. Walaupun caranya halus sekali, tapi tetap menusuk hati Ganta.
“Ya udah deh aku ke kampus sekarang. Sampai jumpa di kampus ya,”
“Okay, Ganta,”
__ADS_1
Ganta akhirnya pamit pada Shefia setelah itu bergega ske kampus dengan motornya, dan hati yang tercabik-cabik karena penolakan.
Penolakan itu menghadirkan sakit hati, dan juga emosi di dalam hatinya. Sesakit ini mengalami keterlambatan dalam menyatakan perasaan yang akhirnya membuat Ia terlanjur ditikung oleh Argantara. Andai saja sejak Ia di Jepang Ia sudah mengatakan pada Shelina bahwa Ia menyimpan perasaan pada Shelina mungkin yang akan dijdohkan dengan Shelina adalah dirinya bukan Argantara.
“Sialan lo, Arga! Gue nggak akan terima ini semua. Gue nggak terima lo bisa milikin Shelina sementara gue nggak. Harusnya gue!
Bukan lo brengsek!”
Ganta berseru marah di tengah perjalanannya. Setelah Ia bersuara lantang, dadanya terasa lega. Ia benar-benar membenci Argantara.
****
“Lo kenapa sih harus ngasih harapan ke dia, Shel?”
“Hah? Aku ngasih harapan ke siapa maksud kamu?”
“Ya ke Ganta lah, siapalagi? Masa lo nggak paham sama omongan gue,”
Setelah mobil melaju meninggalkan rumah Shelina, Argantara langsung melamoiaskan rasa tidak terimanya karena sang tunangan memberikan harapan untuk Ganta. Tapi Shelina tidak menyadari itu.
“Aku nggak ngaish harapan ke Ganta ah. Kamu ngomong apa sih?”
“Nggak ngasih harapan ke Ganta? Jelas-jelas lo ngelakuin itu, Shena,”
“Aku nggak paham apa maksud kamu, aku aja udah nolak baik-baik ajakan dia tadi kok,”
“Ya tapi dengan lo bilang ‘lain kali aja ya’ itu namanya lo ngaish haralan ke dia, Shel. Astaga, mas anggak psham juga sih lo?”
“Ya udah aku minta maaf kalau gitu. Jangsn marah dong,” ujar Shelina pada Argantara yang ternyata tidak suka Ia berkata seperti tadi kepada Ganta.
“Nanti lain kali aku nggak begitu lagi, aku janji deh sama kamu,”
“Gue nggak habis pikir sih lo kenaoa ngomong kayak gitu. ‘Kan sama aja lo ngaish harapan kr dia kalau suatu saat nanti lo bakal berangkat ke kampus bareng dia, jadi mau lo begitu ya? Kok gue sakit hati ya? Jadi nggak selamanya dong, lo mau gue antar jemput? Padahal gue mau banget,”
“Ih aku tuh bingung gimana cara nolaknya yang baik, yang halus tanpa nyakitin perasaan dia makanya aku spontan ngomong kayak tadi. Aku nggak ada niat apa-apa sebenarnya. Apalagi ngasih harapan ke dia, nggak sama sekali. Aku cuma lagi berusaha untuk nolak baik-baik aja, Ganta, eh Arga,”
Argantara menggertakkan giginya hingga terdengar bunyi gemulutuk dari dalam mulutnya setelah Ia dnegar Shelina salah menyebut namanya yang seharusnya Argantara malah disebut Ganta. Bagaimana Ia tidak emosi tingkat dewa.
“Bisa-bisanya nama gue ditukar. Idih ogah gue tukeran nama sama dia, laki-laki nggak tau malu kayak gitu. Giliran udah dengar omongan nyokap lo baru deh dia cabut. Coba kalau nyokap lo nggak ada, gue rasa dia bakal tetap bertahan tuh di rumah lo sampai lo mau berangkat sama dia,”
“Ih gue nggak peduli ya dia mau sahabat lo kek, mau apa lo kek yang jelas dia emang nggak asyik orangnya, sombong, belagu, nggak sopan, nggak tau diri,”
“Ssstt! Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu dong. Jangan puntar ngomongin orang, kamu sendiri emangnya udah jauh lebih baik daripada dia gitu? Hmm?”
“Ya setidaknya gue nggak berharap sama tunangan orang,” jawab Argantara dengan ketus.
“Ih Arga udah ah jangan kejam-kejam kalau ngomongin orang,”
“Lho, apa yang gue omongin barusan itu fakta. Dia emang berharap sama tunangan orang ‘kan? Harusnya dia tau diri dong. Udah tau lo tuh tunangan gue, ya walaupun belum nikah sih tapi emangnya dia nggak diajarin sama orangtuanya untuk hargain perasaan orang ya?”
Shelina diam tidka menanggapi ucapan Argantara yang masih seputar Ganta saja. Shelina memilih diam karena kalau ditanggapi bisa-bisa emosinya Argantara tidak habis hingga mereka tiba di kampus.
“Pada Mama kamu udah minta kamu untuk bikin batasan yang tegas tapi kayaknya kamu masih ragu ya?”
“Ih aku kurang tegas apalagi sih bikin batasan? Buktinya tadi aku udah nolak dia,”
“Dengan ngasih dia harapan?”
Shelina menghembuskan napas kasar dan membuang pandangan ke luar jendela mkbil. Ia rasa sudah cukup membahas Ganta. Argantara tidak ada habisnya menyalahkan Ganta, menyalahkan diribya juga yang dianggap masih memberikan harapan, dan masih belum bisa tegas.
“Aku mau beli es susu dulu tuh di depan, kamu mau nggak? Biar dingin nih dada,” tawar Argantara pada tunangannya itu.
“Nggak usah, kamu aja,”
“Beneran?”
“Iya beneran, tapi emangnya nggak apa-apa ya minum es susu dingin pagi-pagi gini? Emang nggak bahaya? Kamu nggak bakal sakit perut?”
“Nggak sih, gue udah sering minum es pagi-pagi,”
“Terus nggak batuk, nggak sakit perut?“
__ADS_1
“Ya kalau gue ngerasain itu sekua pasti tue nggak mau beli susu dingin itu sekarang, Shel,”
“Oh iya juga,”
Argantara mendekatkan mobilnya dengan stand minuman susu dan teh dingin. Argantara membeli dua gelas. Barangkali nanti Shelina tiba-tiba berubah pikiran jadi mau minum yangs erupa dengannya. Setelah membayar daj dua susu dingin ada di dalam mobilnya, Ia kembali melajukan mobilnya.
“Kamu kalau kesal harus minu yang dingin?”
“Nggak juga, ini lagi kepengen aja karena ngeliat stand nya, dan gue pikir-pikir bagus juga deh ngeredain panas di dada gue,”
“Ekang kenapa sih sampai pana sgitu? Masa gara-gara Ganta aja sampai segitunya. Udahlah jangan karah-karah lagi, kalau kamu emang kamu nggak suka Ganta ya udah jangan dibahas, kita nggak perlu bahas siapapun mulai saat ini ya biar sama-sama nyaman,”
“Bahas sih nggak, tapi kalau ngeliat muka dia ya tetap aja gue panas. Lagian ya selama ini gue nggak pernah bahas dia duluan deh rasanya, selalu ada ada yang mancing dulu, misalnya ya kayak kelakuannya dia tadi oagi yang tib-tiba udah di rumah lo dan dengan pedenya bilang mau berangkat sama lo ke kampus sama dia seolah lupa gue ini siapa. Ih gue malu sih kalau ditolak kayak tadi dan gue nggak bakal ngulangin. Tapi kalau dia ngulangin berarti dia emang nggak punya malu,” ujar Argantara seraya terkekeh di akhir kalimatnya dan sambil Ia menyeruput minumannya tapi tidak menghilangkan fokusnya dalam mengemudi.
“Nih lo ambil minumannya, enak lho,”
“Aku takut sakit perut oagi-pagi minumnya susu dingin, lagian tadi aku udah minum susu hangat kok, itu buat kamu aja,”
“Ya udah ambil sama lo, buat ntar siang aja kalau gitu,”
“Nggak ah, buat kamu aja,”
“Oh jadi nggak nerima nih pemberian gue?“
Shelina langsung mengambil minuman yang dibeli oleh Argantara itu dan langsung Ia simpan di dalam tas.
“Usah aku terima, makasih ya,”
Argantara tersenyum mengetahui kalau Shelina mau menghargai pemberiannya dan Ia senang sekali.
“Nah gitu dong, biar kita minum yang sama,”
“Makasih ya,”
“Sama-sama,”
“Ntar pulang sama gue,”
“Iya, eh tapi aku kayaknya jadi hari ini deh ngerjain tugas,”
“Hah? Jadi nggak bis apulang bareng gue?”
“Hmm kayaknya nggak bisa,”
“Ya udah nanti gue jemput aja, lo mau ngerjain tugas dimana?”
“Ntar aku kabarin deh, aku juga belum pasti sih, teman-teman aku nggak tau pada mau dimana ngerjain tugasnya,”
“Ya udah okay ntar kabarin gue ya,”
Shelina menganggukkan kepalanya. Ia tidak akan lupa memberi kabar tunangannya itu, supaya mereka tetap akur. Karena kalau Ia lupa bisa saja Argantara kesal.
“Kalau lo nggak kabarin gue, ntar gue bingung lo dimana jerja kelompoknya. Gue ‘kan khawatir,”
“Cie yang khawatir, santai aja kali. Aku sama teman-teman aku kok,”
“Oh berarti sama Ganta?”
“Aku sih satu kelompok sama dia, tapi nggak tau deh dia bisa atau nggak ngerjain hari ini, kalau dia nggak bisa kayaknya yang lain bakal tetap ngerjain hari ini sih, dan aku juga gitu,”
“Nggak mungkinlah dia nggak mau, pasti dia mau banget, liat aja ntar,” ujar Argantara.
“Ya…nggak tau juga. Kalau dia aku berarti dia ada nanti sama aku,”
“Terus lo bakal pulang sama siapa? Boleh gue jemput nggak?”
“Boleh kalau kamu nggak keneratan, tapi kalau kamu misalnya ada kesibukan aku gampang lah bisa pulang sama siapa aja,”
“Ya udah pulang sama gue, tapi semoga Ganta nggak caper ya mau pulang bareng lo,”
“Dia suka ngajakin aku gituh sih, jadi aku juga bingung mau nolaknya tuh gimana,”
__ADS_1
“Ya lo tolak aja, kenapa harus bingung sih?”
“Ya karena dia sahabat aku kalau aku tolak terus ajakan pulang bareng atau berangkat bareng, aku nggak enak aja gitu sama dia, Ga,”