
“Arga, makasih ya udah anterin aku sampai rumah dengan selamat. Mobil kamu semoga nggak apa-apa ya,”
“Iya, gue balik dulu,”
“Hati-hati, Waalaikumsalam,”
“Eh gue aja belum ucap salam, kenapa lo udah—“
“Oh iya baru ingat,”
Shelina menepuk pelan keningnya. Terlalu gugup berhadapan dengan Argantara yang entah kenapa kalau Ia lihat semakin hari, semakin tampan.
“Ini lagi mau ucap salam, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
“Gue lagi mau mesen ojek dulu,”
“Sambil duduk di dalam yuk, mau ‘kan? Mau lah, daripada di luar,”
Shelina sedikit memaksa supaya tunangannya itu duduk di ruang tamu. Daripada berdiri sambil menunggu kedatangan ojek online nya.
“Ayo, aku buatin minum,”
“Nggak usah,”
“Kok nggak usah? Ayo duduk aja dulu, daripada kamu cuma berdiri. Capek tau, Ga,”
Shelina berusaha supaya Argantara mau duduk di ruang tamu. Akhirnya Argantara mengangguk setuju. Shelina tersenyum senang. Ia langsung membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan Argantara masuk namun Argantara mepihat ada kursi di teras jadi Ia duduk di sana. Shelina mengernyit bingung.
“Kok disitu sih? Ayo duduk di tuang tamu aja. Ada Mama aku kok di dalam, tenang aja kita nggak cuma berdua,”
“Nggak, gue di sini aja,”
__ADS_1
“Oh gitu, ya udah, aku ambil minum buat kamu ya,”
“Nggak usah, ngapain sih repot amat? Gue di sini cuma buat numpang nunggu ojek doang,”
Ujar Argantara dengan ketus. Ia tidak mau Shelina sampai mengambil air minum untuknya, diberikan tempat duduk saja Ia sudah bersyukur.
“Nggak apa-apa, santai aja,”
Shelina bergegas masuk ke dalam rumah meninggalkan Argantara di teras. Argantara mengamati layar ponselnya, memastikan driver yang akan menjemputnya semakin dekat bukan malah semakin jauh.
“Yah elah, pake dibatalin pula,”
Akhirnya Argantara order lagi. Tidak lama kemudian Shelina keluar dengan membawa gelas berisi teh hangat dan juga kue.
“Barusan dibatalin,”
“Ya udah nggak apa-apa, udah pesan lagi ‘kan?”
“Ini silahkan dinikmati yang ada ya. Nggak apa-apa dibatalin, aku nggak ngusir kamu juga kok, makan sama minum aja dulu,”
“Thanks,”
Argantara menyeruput teh hangat yang dibuat oleh Shelina. Setelah itu Ia menatap Shelina yang juga menatapnya.
“Kenapa lo ngeliatin gue?”
“Nggak apa-apa, senang aja kamu mau minum teh buatan aku. Eh itu kuenya dimakan,”
“Lo yang buat kue?”
“Nggak sih sebenarnya, Mamaku yang bikin. Oh iya Mamaku lagi di kamar istirahat,”
“Ya nggak apa-apa nggak usah diganggu,”
__ADS_1
Melihat Argabtara mau mencoba kue yang Ia sajikan, Shelina semakin senang rasanya. Apalagi interaksi mereka sekarang, tidak didmoninasi oleh galaknya Argantara.
“Enak kuenya,”
“Makasih, kamu suka?”
“Ya, cocok di lidah gue, manisnya pas,”
“Mamaku emang nggak pernah gagal bikin kue,”
“Lo nggak belajar?”
“Belajar bikin kue?”
“Ya iyalah, masa belajar bikin rumah, itu mah nanti kalau udah nikah,”
Shelina terkekeh, Ia pikir belajar yang lain. Otaknya belum tersambung ke persoalan kue jadinya bertanya.
“Udah belajar, tapi belum berani bikin sendiri,”
“Terus kapan beraninya?”
“Ya…nanti aku beraniin deh,”
“Lo kalau takut mulu nggak bakal tau sebenarnya lo udah beneran bisa atau belum?”
“Iya iya nanti aku coba bikin kue sendiri,”
“Gue penasaran gimana rasanya,”
“Kamu yakin? Sandwich dari aku aja dibuang waktu itu. Sekarang aku bersyukur kue ini nggak kamu buang juga,”
Shelina tidak bermaksud untuk mengungkit kejadian yang sudah berlalu. Tapi Ia hanya tidak yakin saja Argantara benar-benar ingin tahu bagaimana rasa kue yang Ia buat.
__ADS_1