Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 97


__ADS_3

"Shel ... Hei bangun. Kita udah sampai nih di rumah kamu. Kamu lanjutin tidurnya di kamar kamu aja ya,”


Ucapan itu berhasil membuat Shelina terbangun dari tidur. Ternyata di perjalanan tadi Shelina tertidur? Bisa-bisanya Ia tertidur setelah mendapat kejutan dari tunangannya, Argantara. Lagi-lagi dapat kejutan.


"Oh udah sampe ya? Ya ampun aku ketiduran maaf ya,”


Ucap Shelina sembari mengerjapkan matanya.


"Nggak apa-apa kok. Kamu istirahat nya di dalem aja ya. Sekarang aku antar yuk masuk ke dalam,”


Tawar Argantara pada Shelina dengan lembut.


"Nggak usah. Aku bisa sendiri kok. Kamu pulang aja nanti kamu kemalaman kalau harus nganter aku masuk. Makasih ya buat malam ini. Aku nggak nyangka akan dapat ini semua dari kamu,”


Shelina menolak tawaran Argantara.


"Kamu bilang makasih mulu sama aku. Ya udah kamu masuk gih ke dalam, terus langsung istirahat ya,”


Ucap Argantara dengan lembut sembari mengelus lembut rambut Shelina yang dibalas dengan anggukan sembari tersenyum.


"Ya udah aku masuk yaa. Sekali lagi makasih. Kamu hati-hati ya pulangnya bye,"


Ucap Shelina pada Argantara. Lalu Shelina memutuskan untuk keluar dari mobil Argantara. Tapi saat Shelina ingin membuka pintu mobilnya, ada tangan yang menahan lengannya dengan sangat lembut. Tangan siapa lagi kalau bukan tangan Argantara.


"I love you,”


Ucap Argantara lalu melepaskan genggamannya dari tangan Shelina.


"I love you too,”


Shelina membalas ucapan Areno dengan lembut. Lalu Shelina bergegas masuk ke dalam rumah.


"Eh Shel, lo udah pulang ternyata?”


Tanya Liva yang sedang menginap bersama Tita kepada Shelina.


"Iya,”


Jawab Shelina singkat sembari tersenyum.


"Gimana dinner nya ? Happy nggak lo, Shel?"


Tanya Tita pada Shelina. Shelina tak membalas pertanyaan itu dengan ucapan tapi dengan senyuman.


"Kok ditanya malah senyum sih?”


Tita jadi bertanya lagi.


"Cepetan, Shel. Cerita sama kita gimana dinner Lo sama Arga? "


"Pasti happy kan?"


"Jawab dong, Shel. Kok Lo diam aja si?"


"Happy dong pastinya? Udah bisa ditebak dari wajah lo yang senyum-senyum gitu."


"Shelina nembak lo lagi kayaknya ya? Kali ini lebih romantis ya? Cihiw so sweet,”


"Dih kok lo diam aja si? Cerita sama kita,”


Mereka berdua mencecar dengan beragam pertanyaan mereka sampai Shelina mau menjawab.


" I'm so happy,”


Ucap Shelina dengan memekik kegirangan. Mereka hanya menatap Shelina heran sambil mengernyitkan dahi mereka.


"Tuh kan bener kata kita, kalau lo itu pasti happy malam ini,”


"Cieeee yang seneng,"


"Cerita dong sama kita. Seneng nya kenapa?"


Mereka kembali penasaran dengan Shelina.


"Lo jadian ya sama Arga?"


Pertanyaan itu membuat pipi Shelina makin merona.


"Waaah ada yang merona nih. Berarti bener kalau Lo jadian sama Arga?"


"Serius, Shel, Lo jadian sama Arga? Maksud gue jadian kali ini nya tuh jadian serius gitu, dia nembak lo lagi biar makin yakin hubungan kalian bisa lanjut ke tahap yang lebih serius,”


Pertanyaan mereka kembali berlanjut. Shelina kembali tak menjawab pertanyaan mereka dengan ucapan tapi dengan anggukan sembari tersenyum girang.


"What? Oh my god. Sumpah gue ikut seneng dengarnya,"


"Lo serius, Shel? Ya ampun seneng banget gue dengar ini semua,”


"Gue seneng liat lo sama Arga. Gue yakin Arga bisa buat lo bahagia. Selamat ya, Shel. Semoga langgeng sampai maut memisahkan jiahhh,” Mereka memekik kegirangan mendengar kabar ini. Terlihat mereka sangat bahagia .


"Makasih buat doa nya. Makasih juga buat semua dukungan kalian. Pokoknya makasih buat segalanya,”


Ucap Shelina tulus sembari memeluk teman-temannya yang sudah Ia anggap sebagai keluarganya sendiri.


"Sama-sama, Shel,”


Ucap teman Shelina tak kalah tulus dan membalas pelukan Shelina.


"Ya udah kita ke kamar gue yuk. Udah malam mending kita tidur. Biar besok nggak kesiangan lagi."


Ajak Shelina pada mereka dan dibalas oleh anggukan setuju. Lalu kami bergegas menuju kamar Shelina untuk segera tidur.


******


"Shel, bangun. Nanti telat lagi,”


"Hhmm. Bentar lagi ya. Gue masih ngantuk,”


"Nggak ada bentar-bentar lagi. Cepetan bangun. Lo mau nanti telat? Ayo buruan bangun."


"Ayo, Shel bangun. Lo kebo banget sih. Susah banget di bangunin kalau tidur,”


"Gimana kalau Arga tau ceweknya itu kebo. Dih kalau gue sih malu banget,”


"Ih kenapa bawa-bawa Arga si? Nggak ada hubungannya juga,”


Shelina terbangun dari tidurku sembari mendengus kesal dengan teman Shelina yang mengganggu tidur Shelina.


"Ya udah kalau Arga nggak boleh tau, buruan sana mandi nanti telat lagi,”


Perintah mereka pada Shelina.


"Iya bawel. Ini udah mau mandi,”


Shelina menuruti perintah mereka dan segera menyambar handuk di stand hanger lalu berlalu ke kamar mandi. Begitupun teman Shelina yang berpencar untuk mandi di kamar mandi yang berada di rumah Shelina ini.


"Cieee yang hari ini punya status baru,”


Gofa Shelina padaku.


"Apaan sih? Ya ‘kan emang udah tunangan, cuma entah kenapa dia kayak nembak gue semalam,”


“Ya mungkin dia mau nembak yang versi serius,”


Shelina tak terima dengan ledekan mereka. Sekarang mereka memang sedang berada di meja makan untuk sarapan.


"Eh, Shel , ngomong-ngomong lo belum cerita soal semalam sama kita lho,”


"Iya, Shel, Lo belum cerita apapun sama kita soal diner Lo sama Arga semalam,”


"Romantis ya, Shel?"


Teman-teman Shelina kembali membahas soal itu.


"Banget. Dia main piano yang ada di atas panggung itu dengan indahnya. Pas selesai main piano, dia nyatain perasaan nya pakai kata-kata yang bikin hati gue tersentuh. Sampai akhirnya air mata gue jatuh juga setelah dengar dia ngucapin kata-kata indah itu dengan tulusnya, lebay ya gue? Hahaha,”


Shelina memberi penjelasan pada teman-teman Shelina. Dan Shelina lihat tema-teman Shelina sangat antusias mendengar ceritaku itu.

__ADS_1


"Aaaa so sweet,”


"Jadi mau huhuhu,”


"Pengen kayak Lo, Shel. Yang bisa dapat cowok romantis,”


Ucap mereka penuh harap yang membuat Shelina terkekeh.


"Udah ah kita lanjutin sarapan nya. Ntar kita telat,”


Shelina memutuskan pembicaraan ini. Dan kini mereka melanjutkan menyantap sarapan yang sudah disiapkan bik imah untuk kami.


Tiinn... Tiinnn..


"Pasti itu Arga. Cieee yang dijemput sang pujaan hati,”


Ucap Liva sembari mencolek dagu Shelina.


"Arga tuh. Buruan pakai sepatunya,"


Liva ikut memperingatkan Shelina.


"Iya bawel,”


Ucap Shelina pada mereka.


"Selesai. Ya udah berangkat yuk,”


Ajak Shelina pada teman-temannya itu. Dan mereka membalas dengan anggukan sembari tersenyum. Shelina mendapati Argantara yang sudah di ambang pagar. Dia langsung melemparkan senyum pada Shelina. Lalu Shelina segera membuka pagar rumah Shelina.


"Kok kamu jemput aku? Aku kan nggak minta di jemput,”


Shelina bertanya pada Argantara. Memang seingat Shelina, Arani semalam tak mengajak Argantara berangkat sekolah bareng.


"Ya nggak apa-apa dong? Emangnya nggak boleh berangkat bareng sama tunangan plus pacar sendiri? Lagian semalam aku whatsapp kamu tapi nggak di balas. Mungkin kamu udah tidur,”


Argantara berbicara dengan Shelina sembari tersenyum menatap dalam mata Shelina.


"Ya boleh aja sih. Emang iya kamu Semalem chat aku? Aduh maaf ya aku nggak tau kalau kamu chat aku. Semalam aku ngantuk banget, jadi langsung tidur deh abis jalan sama kamu,”


Shelina memberi penjelasan pada Argantara. Shelina memang semalam tak membuka ponselnya. Karena mata Shelina sangat berat.


"Iya nggak apa-apa kok."


Ucap Argantara dengan pengertian. Lalu Ia mengelus pucuk rambut Shelina dengan lembut.


"Ekhem. Maaf ya, Mba, Mas ganggu sebentar. Pagar nya mau dibuka dulu. Kita mau ngeluarin motor,”


Ucap teman-teman Shelina sembari tertawa kecil.


Shelina dan Argantara memang tepat berada di ambang pagar. Yang membuat pagar sulit di buka. Karena kehadiran kami. Mendengar ucapan mereka, Shelina dan Argantara juga tertawa kecil. Lalu mereka sedikit menyingkir dari ambang pagar menuju sudut pagar.


"Ya udah kita berangkat yuk,”


Ajak Argantara padaku. Teman-teman Shelina memang sudah lebih dulu berangkat ke sekolah.


**********


"Ya udah aku masuk kelas dulu ya,”


Ucap Shelina pada Argantara yang sedang meletakkan motornya di parkiran.


"Iya. Belajar yang bener ya tunangan aku,”


Ucap Argantara dengan senyum manis nya dan mengelus pucuk kepala Shelina. Lalu Shelina balas dengan anggukan sembari tersenyum juga, setelah itu bergegas ke kelas.


*******


"Shel, Lo mau makan apa? Biar sekalian gue pesenin,”


Ucap Tita pada Shelina. Shelina lagi bingung. Tumben Argantara tidak mengajaknya untuk pergi ke kantin bersama? Mungkin dia masih ada jam kuliah. Dan baru kelas Shelina saja yang baru istirahat.


"Gue nanti aja deh makan nya,”


Jawab Shelina pada Tita. Lalu di balas oleh Shelina dengan anggukan. Shelina hanya melamun di kantin ini sembari menunggu Argantara datang. Tapi Argantara tak juga datang. Tiba-tiba mata Shelina memicing saat melihat di seberang sana ada Argantara dengan seorang perempuan. Sepertinya Shelina belum pernah melihat dia sebelumnya di sekolah ini. Kenapa mereka tampak akrab? Sesekali Shelina melihat di sela obrolan mereka melepaskan tawa mereka. Jadi ini yang membuat Argantara tak pergi ke kantin mengajaknya? Tidak apa, hanya sedikit risih saja sebenarnya.


"Shel, Lo ngeliatin apaan sih?"


"Hah? Nggak kok, gue nggak liatin apa-apa"


Jawab Shelina berdusta. Shelina melihat Tita yang mengangguk paham. Perhatian Shelina kembali terfokus saat Shelina melihat perempuan itu berjalan ke arah kantin. Diikuti Argantara di sampingnya. Walau Shelina duduk di paling ujung kantin ini, tapi Shelina bisa melihat jelas mereka sedang bersama ke kantin. Setelah itu Shelina melihat mereka sama-sama memesan makanan. Shelina pura-pura tak memperhatikan momen itu. Shelina berusaha untuk berpikir positif. Tidak masalah, Shelina rasa perutnya sudah lapar Shelina memutuskan untuk memesan makanan di kantin ini. Shelina memesan makanan sendiri karena teman Shelina sudah lebih dulu membeli makanan sampai tiba-tiba


Brrukkk


"Oh ya ampun,”


Shelina kaget ketika melihat seragam yang telah penuh dengan kuah bakso. Ditambah lagi tubuh Shelina sangat terasa panas dengan kuah bakso itu.


"Eh Lo bisa jalan yang bener nggak si? Bakso gue sekarang tumpah gara-gara lo,”


Ucap perempuan dengan kasar itu yang ternyata adalah perempuan yang bersama dengan Argantara tadi. Jelas, dia yang salah tapi kenapa dia yang marah - marah?


"Duh seharusnya gue yang marah sama lo , bukan sebaliknya. Lo yang nggak bisa jalan dengan benar. Bukan gue! Sekarang Lo liat kan seragam gue penuh sama kuah bakso Lo? Liat kan?! Belum lagi badan gue terasa panas banget karena kuah bakso ini!”


Ucap Shelina dengan nada tinggi dan membentak. Shelina tidak terima disalahkan. Yang biasanya sabar, tiba-tiba dipancing. Beginilah jadinya. Tiba-tiba saja perempuan itu mendorong Shelina.


Suasana ketika berubah menjadi tegang. Semua mata tertuju pada Shelina dan perempuan itu.


"Ya ampun, Shel. Udah jangan diladeni,”


Ucap kedua teman Shelina meleraikan keributan ini.


"Gimana nggak diladeni. Jelas dia yang salah. Tapi kenapa gue yang di bentak? dasar cewek aneh!"


Ucap Shelina kembali dengan penuh penekanan.


"Lo yang aneh! Gila!"


Tak terima dibilang gila, dia balik mengejek Shelina.


"Lo"


"Lo"


"Lo"


"Lo"


"Udah cukup. Kalian nggak malu apa diliatin sama banyak orang?"


Kini Argantara ikut melerai Shelina dan perempuan itu.


"Shel, udah ya. Jangan berantem, kamu apa-apaan sih?! Hah?!”


Argantara kini berbicara pada Shelina dengan anda yang naik.


"Nggak usah panggil-panggil gue ih! Gue nggak butuh panggilan itu. Lebih baik lo kasih panggilan itu buat perempuan ini. Selamat ya rencana Lo selama ini berhasil,”


“Shel, tunggu dulu kamu salah paham,”


Shepina mendengar ucapan temannya dengan samar yang menatap kepergian Shelina.


"Puas kan Lo sekarang? Hah?Lo udah buat Shelina kecewa sama Lo!" Ujar Tita pada Argantara.


Shelina kembali mendengar ucapan teman-temanku samar yang ditujukan pada Argantar. Sedangkan Shelina masih terus berlari dari ini semua. Shelina terlambat sampai di kelas setelah istirahat tadi karena sebelum aku masuk kelas Shelina membersihkan seragam Shelina dulu di toilet. Setelah istirahat tadi dan setelah kejadian itu juga Shelina jadi tak konsentrasi belajar.


"Shel, Lo udah nggak apa-apa kan?"


Tanya teman Shelina khawatir. Shelina hanya membalas dengan anggukan.


"Shel, aku mau ngomong sama kamu. Aku mau jelasin semuanya. Aku tuh nggak ada niat untuk belain dia tadi,”


Tiba-tiba suara itu menghampiri Shelina dan aku menoleh ke asal suara itu. Argantara. Ya, ternyata Argantara yang kini sedang di hadapan Shelina sekarang. Shelina tak membalas ucapan nya Shelina lebih memilih berlalu dari hadapannya. Tapi saat Shelina ingin berlalu, tangan Argantara menahan lengan Shelina.


"Plis kamu dengerin penjelasan aku dulu. Aku mohon,” ucap Argantara lirih.


"Nggak ada yang perlu di jelasin. Semuanya udah jelas, dia nyalahin aku, dan kamu kayak belain dia tau nggak sih,”

__ADS_1


Balas Argantara dengan tak menoleh sama sekali ke Argantara. Tapi Argantara menangkup wajah Shelina, agar menatap nya. Tapi Shelina sama sekali tak mau menatap matanya.


"Tolong kamu liat aku. Aku sama anak baru itu nggak ada apa-apa aku yakin kamu mikir ada yang lebih ‘kan di antara kami, dia namanya Laura. Dan tadi tuh aku nggak mau bela dia kok, sumpah aku nggak ada niat untuk belain dia, dan nyalahin kamu. Aku cuma nggak mau kamu berantem, takut kamu kenapa-napa,”


Ucapan itu keluar dari mulut Argantara dengan nada lirih nya. Tapi tetap saja, sampai dia selesai berbicara Shelina sama sekali tak menatapnya.


"Aku mohon sama kamu, Shel. Maafin aku. Aku nggak ada maksud buat kamu kecewa. Aku sedih kamu ketus kayak gini sama Aku,”


Ternyata ucapan Argantara masih berlanjut. Entah kenapa aku masih belum bisa menerima penjelasan Argantara. Sudah rasanya percaya gitu aja sama dia. Shelina memang tipe cewek yang lebih percaya dengan apa yang Shelina lihat langsung dengan mata Shelina sendiri daripada dengan ucapan orang lain. Keras kepala? Ya mungkin itu adalah sifat Shelina yang dari dulu tidak pernah bisa hilang.


"Aku butuh waktu sendiri,”


Jawab Shelina pada Argantara dan segera bergegas meninggalkan Argantara dan teman-teman Shelina yang masih mematung di tempatnya. Hari ini Shelina pulang dengan supir pribadinya yaitu Pak Udin. Supir pribadi Shelina yang juga sudah lama mengabdi dengan kedua orang tuanya, sama seperti bik imah. Setelah Shelina berlalu dari Argantara, Shelina langsung menaiki mobil alphard berwarna putih milik papa Shelina. Mobil ini sengaja selalu siap siaga di garasi mobil yang berada di Shelina. Sebenarnya mobil ini jarang sekali dipakai. Mama dan papa Shelina tak ada di rumah, Shelina kalau keluar rumah sekarang jarang pakai mobil lebih sering menggunakan motor. Mungkin hampir setiap hari Shelina beraktifitas di luar rumah menggunakan motor kecuali bersama teman-temannya. Tapi berhubung tadi pagi Shelina berangkat ke sekolah bersama Argantara, jadi Shelina tidak bawa motor. Dan setelah istirahat tadi Shelina juga lagi ada masalah dengan Argantara. Sebelum pulang, Shelina sudah menelepon mang Udin untuk menjemput Shelina. Hari ini Shelina sedang malas pulang dengan Argantara.


"Eh, Non, sudah pulang. Ayo non makan siang dulu. Bibik sudah siapakan makanan kesukaan, Non,"


Ucap bik imah yang melihat Shelina masuk kedalam rumah. Shelina lihat bik imah sedang membersihkan rumah, pikir Shelina mungkin karena baru selesai masak. Jadi lantai kotor. Sehingga bik imah lagi membersihkannya.


"Nanti aja deh, Bik. Aku mau istirahat dulu"


Ucapnya pada bik imah sembari mencium punggung tangannya setelah itu berlalu dari bik imah untuk ke kamar Shelina. Sampai di kamar, Shelina memutuskan untuk segera mandi. Karena Shelina rasa tubuhnya ini bau kuah bakso. Padahal tadi di sekolah sudah Shelina bersihkan, tapi entah kenapa aroma kuah bakso itu masih sangat menusuk hidung Shelina. Ditambah lagi badan Shelina juga terasa lengket. Shelina yakin tubuhnya pasti agak melepuh karena tadi kuah bakso itu masih sangat panas mengenai tubuh Shelina. Mungkin kuah bakso itu baru mendidih, sehingga masih sangat terasa panas.


Seusai mandi Shelina memutuskan untuk beristirahat. Shelina ingin mencoba menetralisir emosi yang ada di tubuhnya itu. Cukup lama Shelina tertidur pulas. Bisa dibilang sampai menjelang malam.


"Assalamualaikum. Non maaf mengganggu istirahat non. Ini bibik bawakan susu hangat dan makanan untuk non. Dari tadi siang non belum makan"


Shelina mendengar bik imah berbicara dengan samar di ambang pintu kamar Shelina. Tak lama Shelina membuka pintu kamarnya. Dan benar saja, kini di tangan bik imah sudah ada nampan yang berisi susu dan sepiring nasi beserta lauk pauknya.


"Makasih ya, Bik,"


Ucap Shelina pada bik imah yang kini masuk ke dalam kamar Shelina untuk meletakkan makanan itu.


"Iya sama-sama, Non. Oh iya , dari tadi bibik perhatikan non agak sedikit berbeda. Apa non sakit? Biar bibik ambil kan obat ya,”


Ucap bik imah penuh khawatir. Bik imah memang sangat khawatir bila Shelina sakit. Dia sangat perhatian pada Shelina.


"Enggak kok bik. Aku nggak sakit."


Ucap Shelina pada bik imah sembari duduk di tepi ranjang. Dan Shelina lihat bik imah juga mengikuti Shelina duduk di ranjangnya ini.


"Terus kalau nggak sakit, non kenapa? non ada masalah? non cerita aja sama bibik. Siapa tau bibik bisa bantu,”


"Aku ada masalah sedikit sama Arga, Bi. Tapi nggak apa-apa kok. Aku bisa ngatasin sendiri,”


Jelas Shelina supaya Bibi tidak bertanya-tanya lagi.


"Waah Den Arga hebat ya. Bisa membuat non keliatan murung gini. Itu tandanya Den Arga sangat berperan penting dalam kehidupan non. Buktinya kalau non ada masalah sedikit dengan Den Arga, non jadi sedih dan tampak murung seperti ini"


Ledek bik imah pada Shelina. Di saat seperti ini , bik imah memang sangat sering menghibur Shelina. Shelina hanya membalas bik imah dengan senyuman kecil.


"Ya sudah. Bibik keluar dulu ya. Jangan lupa susu dan makanan nya di habiskan. Non jangan terus-terusan seperti ini. Nanti non bisa sakit,"


Ucap bik imah sembari bergegas keluar dari kamar Shelina.


Ya Tuhan, Shelina bingung dengan ini semua. Argantara seenaknya membuat Shelina jatuh cinta padanya. Dan kini dia mengecewakan Shelina. Jujur ada rasa menyesal yang menyelimuti diri Shelina. Kenapa dengan mudahnya Shelina mencintai Argantara.


"Arrrgghh. Lo bodoh Shelina. Lo bodoh! Kenapa cepat banget Lo cinta sama dia? Dan sekarang lihat, dia ngecewain Lo Shel! Dia ngecewain Lo!"


Shelina berteriak memaki dirinya sendiri. Shelina benar-benar tak habis pikir. Bisa-bisanya dia bilang kalau tadi hanya sekedar ngobrol biasa? Padahal jelas-jelas Shelina sangat melihat kebahagiaan yang hadir diantara mereka.


*********


"Eh non sudah siap berangkat sekolah? Ya sudah ayo silakan non sarapan. Bibik sudah siapkan semuanya di meja makan,”


Bik imah menyambut kehadiran Shelina. Saat Shelina menuruni anak tangga. Sebenarnya hari ini Shelina sangat malas sekali untuk sekolah. Tapi sayangnya Shelina harus mengubur rasa malas itu dalam-dalam karena hari ini Shelina ada ulangan. Tak mungkin Shelina tidak mengikuti ulangan itu cuma gara-gara sedang ada masalah dengan Argantara.


Shelina memakan sarapan Shelina dengan sangat tidak bersemangat. Bukan karena tak lapar atau tak menghargai masakan bik imah, tapi karena memang Shelina sangat beraktivitas apapun hari ini. Suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Bik, aku berangkat sekolah dulu ya. Assalamualaikum,”


Pamit Shelina pada bik imah lalu mencium punggung tangan bik imah lembut.


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya non,”


Pesan bik imah pada Shelina dan Shelina balas dengan anggukan sembari tersenyum. Saat Shelina sudah sampai pagar, ingin mengeluarkan motor Shelina. Tiba-tiba Shelina dikejutkan dengan kehadiran Argantara di ambang pagar rumahnya. Shelina hanya memutar bola matanya malas. Shelina tak menggubris Argantara sama sekali. Shelina mencoba membuka pagar Shelina. Karena sekarang Shelina sudah siap untuk mengeluarkan motor dan berangkat ke sekolah.


"Shel, aku mau minta maaf sama kamu. Plis Shel kamu jangan kayak gini. Aku mohon maafin aku. Kamu jangan buat hubungan kita renggang gini, Shel,”


Ucapan Argantara berhasil membuat Shelina menatapnya tajam.


"Aku nggak salah dengar? Aku yang buat hubungan kita berantakan ? Kamu tuh punya kaca nggak sih ? Hah? Lebih baik kamu ngajak dulu yang bener baru ngomong kayak gitu. Yang ada itu kamu yang udah buat aku kecewa! Kamu yang udah buat aku benci sama kamu! Dan kamu juga yang udah buat hubungan ini renggang!"


Suara Shelina bergetar. Shelina berusaha menahan tangisku. Marah dan kecewa, itulah yang sedang Shelina rasakan.


"Ya aku emang salah. Makanya aku bener-bener minta maaf sama kamu. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Dan aku nggak ada maksud buat kamu kecewa. Ini bukan rencana aku untuk buat kamu cemburu sama aku. Aku tuh beneran cinta sama kamu, nggak pengen kamu mikir yang aneh-aneh. Jadi aku sedih kalau kamu jauhin aku kayak gini. Nggak ada niat juga untuk bela dia pas kejadian yang kuah bakso itu tumpah,”


Ucap Argantara dengan nada lirihnya. Sejak Argantara berbicara pada Shelina hanya memalingkan wajah Shelina tak ingin menatap Argantara.


"Aku nggak mau liat kamu nangis. Aku benar-benar nyesel udah bikin kamu kayak gini. Aku emang cowok bodoh yang udah bikin kamu sakit hati. Plis liat aku, Shel. Aku bener-bener minta maaf sama kamu. Aku minta maaf,"


Kini Argantara mengarahkan wajah Shelina dengan lembut agar menatapnya. Tapi tetap saja Shelina memalingkan pandangannya ke arah lain.


"Please, Shel. Aku mohon maafin aku. Aku janji nggak akan buat kamu nangis lagi. Aku janji, Shel,”


Argantara masih memegang wajah Shelina dengan lembut. Kini Shelina mulai menatap mata yang berwarna hitam legam ini. Mata yang selalu membuatku jatuh cinta, mata yang selalu membuat pipi Shelina merona saat di tatapnya. Shelina bisa melihat ketulusan yang terpancar dari mata indah milik Argantara ini. Shelina terpejam merasakan lembutnya sentuhan Argantara untuk wajahnya ini. Kini Shelina menggenggam tangan Argantara yang masih setia memegang pipi Argantara.


"Aku akan coba maafin kamu untuk kali ini. Tapi aku nggak janji kalau aku bisa maafin kamu lagi setelah kamu mengulangi kesalahan kamu kembali,”


Jawab Shelina yang masih menggenggam tangan Argantara yang masih berada di pipi Shelina ini. Shelina lihat wajah sumringah yang langsung terpancar saat Shelina mengucapkan kata-kata itu.


"Makasih, Sh. Aku janji nggak bakal mengulangi kesalahan aku lagi. I promise,”


Balas Argantara sembari membawa Shelina ke dalam pelukannya.


"Sekarang kamu jangan nangis lagi. Aku nggak bisa liat kamu kayak gini. Sekali lagi aku minta maaf ya udah buat air mata kamu terbuang sia-sia,”


Ucap Argantara dan merenggangkan pelukannya pada Shelina lalu mencium dahi Shelina lembut.


"I love you,”


Ucap Argantara tulus yang masih memeluk Shelina.


"I love you too,”


Shelina menjawab dengan tak kalah tulus


"Ya udah sekarang kita berangkat ya,”


Ajak Argantara lalu menggenggam tangan Shelina. Tapi Arani tak mengiringi langkah Argantara. Argantara yang sadar dengan hal itu lalu menoleh menatap Shelina heran.


"Kenapa? Ada yang ketinggalan?"


Tanya Argantara pada Shelina yang hanya membalas dengan gelengan.


"Terus kenapa? Kok kamu diam?"


Argantara kembali bertanya dengan Shelina dengan heran.


"Aku mau berangkat kuliah pakai motor aku sendiri. Boleh ya?"


Shelina merengek layaknya anak kecil dengan Argantara.


"Nggak, Shel. Pokoknya mulai sekarang kamu akan aku antar jemput,”


"Yah. Tapi aku kangen sama motor aku. Sekali aja deh. Boleh ya? ya? ya?"


"Kalau kayak gitu caranya. Apa gunanya aku jadi pacar kamu? Aku nggak jadi pelindung kamu dong? Sama aja kan pacaran atau nggak nya sama aku toh kamu pulang pergi kuliah dengan sendiri juga,”


Kini Argantara bertanya sinis padaku. Apa ada yang salah dengan keinginan Shelina? Argantara hanya ingin memakai motor Shelina hari ini untuk berangkat sekolah. Karena memang sudah beberapa hari aku tak menggunakan motornya. Selama pacaran dengan Argantara, Shelina selalu berangkat dan pulang kuliah bersama.


"Ya udah deh. Iya aku berangkat sama kamu,”


Shelina pasrah. Kalau sudah berdebat dengan Argantara. Biasanya aku selalu menang. Tapi untuk hari ini sepertinya Shelina harus rela kalah.


"Nah gitu dong. Aku ini pacar kamu. Aku mau jadi pelindung kamu. Dengan kita kemanapun selalu bareng, itu akan memudahkan aku untuk menjaga kamu dari bahaya apapun,”


Kini Argantara menangkup wajah Shelina. Dia mengelus pipi Shelina dengan sangat lembut membuat Shelina sejenak memejamkan mataku.

__ADS_1


"Ya udah kita berangkat yaa. Ayo naik ke motor aku,”


Ucap Argantara dengan menggenggam tangan Shelina menuju motor sport miliknya. Setelah itu kami bergegas menuju kampus.


__ADS_2