Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 141


__ADS_3

“Tenang aja, Sayang. Kita berdua nggak akan luntang lantung nggak jelas di sana. Aku udah ada gambaran bakal kemana, dan ngapain aja kita di sana,”


“Palingan juga tidur, makan, udah gitu doang,”


“Kita jalan-jalan dekat hotel nanti,”


“Iya abis itu tepar karena kecapekan jalan-jalan. Akhirnya bakal tidur juga. Sebenarnya rugi ke hotel ya. Mending di rumah aja, kalau mau jalan-jalan ya nggak apa, balik ke rumah nggak bayar, nggak perlu sewa kamar untuk tidur,”


“Beda suasana nya, Sayang. Kalau di rumah aja tuh udah biasa, bosan ‘kan?”


“Nggak ah, aku nggak pernah bosan kok di rumah”


“Aku sih bosan, aku yakin kamu juga bosan tapi kamu nggak mau cerita aja,”


“Nggak, aku nggak pernah bosan. Masa di rumah sendiri bosan,”

__ADS_1


“Pasti bosan lah sesekali, Shel. Jadi wajar aja kalau kita sering pergi-pergi, mumpung masih berdua juga, Sayang,”


“Aku sih senang-senang aja kemana pun kamu aja pergi liburan, tapi kadang mikir kalau itu pemborosan,”


“Asalkan nggak tiap hari ya nggak apa-apa, Sayangku. Kalau tiap hari itu yang gawat,”


Shelina terkekeh membayangkan kalau mereka setiap hari berlibur. Bukan gawat lagi, tapi itu gawat darurat. Selain uang yang bakal terkuras, tenaga juga. Karena sesungguhnya berlibur itu menimbulkan rasa lelah juga, terutama lelah di perjalanan.


“Akhirnya balik normal lagi nih Arga. Tadi diam-diam aja, sekarang udah banyak ngobrol lagi sama aku, dan aku senang banget. Jadi nggak kepikiran lagi deh,” batin Shelina seraya melirik suaminya.


“Kamu jangan diam-diam kayak tadi lagi ya. Aku ngerasa bingung tau,”


“Ya jelas aku bingung lah. Tiba-tiba kamu jadi pendiam abis belanja di supermarket, terus kamu nggak fokus, pokoknya kamu beda deh. Aku smeoat mikir apa aku bikin salah ya makanya kamu diam? Tapi aku berusaha ingat-ingat, aku nggak merasa abis bikin kesalahan. Sebelumnya kita juga nggak debat. Terus aku tebak-tebak lagi, apa kamu ada beban pikiran yang nggak mau dibagi ke aku? Tapi aku tanyain, kamu selalu jawab nggak apa-apa. Tapi aku yakin ada sesuatu yang aneh dari kamu. Cuma aku nggak tau itu apa dan kamu juga nggak mau jujur. Akhirnya aku makin bingung,”


“Santai aja, aku nggak apa-apa kok. Suami kamu ini nggak marah, nggak lagi mikirin apapun, pokoknya semua aman,”

__ADS_1


Shelina menganggukkan kepalanya. Sejak tadi Kia sulit percaya dengan jawaban Argantara itu, tapi kali ini Shelina berusaha untuk percaya karena Argantara juga sudah kembali normal. Ia tidak diam diam lagi, dan kembali meladeninya dengan baik.


“Pokoknya kamu kalau ada apa-apa, jangan sungkan cerita ke aku ya, Ga,”


“Mana mungkin aku cerita ke kamu tentang gimana kagetnya aku, gimana nggak nyangka nya aku ketemu sama mantan aku. Aku bingung kenapa kamu ketemu lagi, aku bingung selama ini dia kemana, pikiran aku isinya tentang Risa semua setelah ketemu sama Risa. Maafin aku ya, Shel,”


Argantara membatin sambil tangannya bergerak mengusap puncak kepala sang istri. Kemudian Ia meraih tangan Shelina dan Ia kecup dengan hangat.


“Maaf ya udah bikin kamu bingung, kesal, dan sedih,”


“Nggak apa-apa,”


“Lain kali nggak usah khawatir,”


“Tapi sampai sekarang aku masih bingung kenala kamu jadi tiba-tiba pendiam, dan nggak fokus. Kamu emang suka begitu mendadak ya?”

__ADS_1


“Aku merasa yang tadi tuh aku nggak kenapa-napa. Kamu nya aja yang terlalu mikirin, padahal aku nya sih aman,”


“Udah dibilang, aku tuh tau kamu gimana. Aku istri kamu walaupun masih sebulanan kita nikah. Aku bisa liat perbedaan kalau kamu lagi baik-baik aja atau nggak. Tapi ya udah lah, nggak usah dibahas lagi. Daripada nanti malah jadi debat ‘kan nggak enak. Masa mau liburan malah debat. Akhirnya nanti kita dingin, canggung, saling diam. Liburannya nggak bisa dinikmati. Lupain aja, nggak usah dibahas lagi, tapi kamu nya jangan diam-diam lagi ya, dan kalau ada apapun cerita ke aku, karena aku ini istri kamu, Ga,”


__ADS_2