Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 88


__ADS_3

Argantara bersama kedua orang tuanya baru saja selesai menonton satu judul film bioskop setelah itu mereka keluar dari studio dan tidak sengaja bertemu dengan Selina bersama kedua orang tuanya yang juga baru selesai menonton film bioskop dengan judul berbeda tentu saja pertemuan mereka itu membuat mereka sama sama terkejut tidak menyangka.


“Ya Allah, bisa bisa nya kita ketemu di sini,” ujar Shefia.


Ternyata emang benar benar jodoh ya,” sahut Tina sambil terkekeh.


Shelina dan Argantara langsung melempar senyum, semnetara orangtua mereka saling berpelukan singkat.


“Kok bisa sih kita ketemu?” Tanya Argantara.


“Ya aku juga nggak tau kenapa bisa kita ketemu, padahal ‘kan nggak ada janjian ya,”


“Iya, jadi malam ini tiba-tiba aja aku diajakin pergi. Ya udah aku ikut lah, aku paling senang kalau diajak pergi ‘kan,”


“Lah sama, aku juga diajakin pergi. Tadinya mau di rumah aja baca novel tapi keliatannya mama papa aku kepengen banget jalan malam ini dan ngajak aku jadi ya udah deh kami berangkat. Ternyata malah ketemu di bioskop mana studio nya sebelahan lagi ya. Coba aja tadi satu studio lebih lucu lagi tuh kebetulannya,” ucap Argantara sambil tertawa.


Argantara jadi membayangkan kalau seandainya tadi Ia tidak sengaja satu studio dengan Selina bersama kedua orang tuanya pasti akan lebih mengejutkan lagi, mereka akan lebih tidak menyangka lagi.


“Kita makan bareng yuk sekalian kita ngobrol ngobrol,” ajak Tina pada Shefia dan Gani.


“Gimana, Shel? Mau ‘kan makan dulu sama Tante Tina, Om Fadli sama Arga?”


Selina menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Iya tidak keberatan bila harus makan bersama dulu alias tidak langsung pulang memang Kebiasaannya bila pergi bersama kedua orang tuanya selalu ada makan bersama sebagai penutup sebelum akhirnya kembali ke rumah.


“Shelina pasti mau lah om soalnya Shelina itu selalu mau dekat dekat aku hahaha,”


C5 langsung mengangkat salah satu alisnya dan menatap Sang Tunangan dengan sorot mata kesal apakah tidak terbalik selama ini pada kenyataannya Argantara lah yang tidak bisa jauh darinya.


“Sih, apa buktinya?”


“Ya nggak usah oakai bukti lah, ‘kan udha faktanya begitu,”


“Nggak kebalik ya? Kamu kali yang nggak mau jauh-jauh dari aku. Orang aku ngilang bentar aja kamu cariin kemana-mana, kamu oanik ya ‘kan?” Ejek Shelina sambil menunjuk wajah Argantara yang langsung kusut dan itu mengundang tawa Shelina.


“Benar nggak? coba jawab pertanyaan aku. Terbalik tau, yang nggak bisa jauh dari aku adalah kamu,”


“Udah, pada intinya kalian sama sama nggak mau saling berjauhan jangan saling mengejek ya udah yuk kita cari restoran untuk makan bareng asik makan bareng kita udah lama kan nggak makan bareng terakhir waktu mau tunangannya Arga sama Shelina,”


“Makan di mana nih kira kira terserah karena cewek aja deh,” ujar Papanya Argantara. Dan Papa Shelina mengangguk setuju.


“Iya terserah aja dej, kita yang cowok-cowok ngikut aja, kalian yang milih tempatnya. Kira-kira yang enak dimana? Dan lagi kepengen makan apa nih?”


“Shel, kamu mau makan apa sayang?” Tanya Tiba pada calon menantunya itu.


“Aku terserah aja, Tante,”


“Loh kok terserah? Kita ikut kamu aja deh kamu kan princess nya di sini,”


“Aduh princess? Ha ha ha ha nggak cocok jadi princess aku, Tan,”


“Kata siapa nggak cocok? Orang kamu emang princes kok, bentar lagi jadi princes Argantara,”


Jujur saja mendengar ucapan arti antara, Selina menjadi salah tingkah. Siapa yang hatinya tidak Berbunga bunga setelah mendengar ucapan Argantara itu? Kalimatnya manis sekali bukan? Kata harga antara sebentar lagi dia akan menjadi princes Argantara, kalimat itu membuat perasaannya menghangat,


“Ayo sekarang Shelina aja yng milih,” ujar Tina.


Mereka berjalan keluar dari area bioskop dan menuju food court di mall tersebut. Tidak disangka kalau malam ini malah jadi jalan-jalan bersama antar dua keluarga.


“Kalau aku pengen ramen kira-kira pada keberatan nggak?”


“Oh nggak dong, Sayang. Ya udha yuk kita makan ramen,” jawab Tina yang langsung diteruskan oleh suaminya,


“Nggak keberatan sama sekali, Om juga suka itu, Arga suka itu, ya kalau udah jadi pilihan pronces apa sih yang nggak.”


“Mama papa gimana?” Tanya Shelina pada kedua orangtuanya. Kalau orangtua Argantara sudah setuju. Barangkali orangtuanya berbeda pendapat maka Ia akan dengan senang hati beralih keinginan dari ramen menjadi makanan yang lainnya sesuai kesepakatan nanti.


“Iya Mama Papa juga setuju banget,” ucap


“Aku apalagi, setuju banget-banget deh pokoknya,” ujar Argantara.


Argantara sudah diwakilkan oleh orangtuanya tadi, akan tetapi kurang rasanya kalau tidak menyampaikan secara langsung.


“Ya udah yuk kita makan ramen aja kalau begitu,”


Mereka segera bergegas ke restoran ramen yang kebetulan Shelina tahu posisinya dimana karena pernah makan di sana bersama Argantara.


Setelah tiba mereka langsung pesan menu sesuai keinginan masing-masing, sambil menunggu mereka tentunya mengobrol hangat.


“Seru ya nggak sengaja ketemu kayak gini. Sama-sama nonton bioskop. Kebetulannya lucu banget,”


“Kaget pas saling liat. Lho kok ada di sini juga,”


“Coba nontonnya satu film yang sama, studionya sama, pasti makin kaget nggak sangka lagi,”


“Kita belum sempat ketemuan lagi, eh Allah ngaturnya kayak gini. Nggak sengaja dipertemukan pas sama-sama keluar dari studio bioskop,”


“Iya Allah ngaturnya pas banget ya. Coba aja kalau tadi Shelina nggak mau ikut, yah nggak ketemu deh Shelina sama Arga,” ujar Shefia.


“Lho emang tadinya Shelina nggak mau ikut? Kenapa?” Tanya Argantara seraya menatap Shelina.


“Lagi asyik baca novel dia, Ga. Tante datang ke kamarnya dia lagi nyaman banget itu baringan sambil baca novel. Tadinya nggak mau itu, milih untuk di rumah aja. Eh tapi kayaknya nggak tega kali ya sama mama papanya. Karena emang mama papanya lagi pengen jalan malam ini. Kalau ada Shelina ‘kan lebih asyik. SMa anak tuh abwannya makin happy,”


“Iya setuju. Kalau berdua aja sama pasangan happy tapi setelah ada anak makin happy kalau bawa anak. Apalagi kalau anak udah dewasa. Karena udah semakin jarang punya waktu bareng-bareng, kalau ada kesempatan sayang untuk dilewatkan,”


“Iya si Arga kan udah makin susah diajak pergu sama Mama Papanya. Sibuk kuliah, kadang pergi sama temannya, ngerjain tugas segambreng. Ah jadi malas ngajaknya,” ujar Fadli seraya melirik sebal ke arah putra semata wayangnya itu.


“Iya sama aja nih kayak Shelina, udah agak susah dia diajakin pergi,” ujar Shefia.


“Ditambah kesibukan kita sebagai orangtua akhirnya jadi susah ketemu waktu yang pas ya, “ tambah Tina yang sudah ada di fase mulai jarang bisa kumpul dengan anak karena anak sudah dewasa dan mulai punya dunianya sendiri. Tidak seperti dulu saat masih kecil yang gampang saja mau diajak kemana pun pasti bisa.


Makanan yang mereka pesan sudah datang. Mereka langsung berdoa bersama dan mulai bersantap.


Setelah kurang lebih menghabiskan makanans ambil mengobrol sekitar satu jam, mereka langsung bergegas pulang.


“Sampai ketemu nanti lagi ya,” ujar Gani seraya menepuk bahu Fadli papa Argantara.


“Iya, hati-hati,”


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Shelina dan kedua orangtuanya lebih dulu masuk ke mobil, sementara Argantara dan keusa orangtuanya melepas mereka dulu. Setelah mobil yang membawa Shelina tidak terlihat lagi, Fadli langsung menepuk bahu anaknya dan mengisyaratkan Ia untuk segera ke mobil.


“Yah pisah deh aku sama Shelina,”


“Ya ampun, jadi ceritanya kamu kecewa? Hmm? Nggak mau pisah? Ya udah kalau gitu ikut aja harusnya di mobil Shelina,”


Argantara tertawa mendengar ucapan papanya itu. Mana mungkin Ia melakukan hal itu. Yang ada juga diusir.


“Aku senang banget deh,”


“Yuk masuk mobil, ceritanya did alam mobil aja nanti kita kemalaman pulangnya,”


“Aku aja yang nyetir ya, Pa?”


“Beneran?”


“Iya aku aja,”


“Ya udah boleh,”


Argantara dan kedua orangtuanya memasuki mobil. Argantara yang mengemudikan mobil kali ini.


“Tadi kamu mau ngomong apa, Ga? Papa penasaran. Kamu bilang tadi senang, emang kamu senang kenapa?”


“Oh itu, iya ku mau bilang kalau aku senang malam ini quality time nya nggak cuma sama Mama Papa aja tapi sama Shelina dan orangtuanay. Makin rame jadi makin seru gitu,”


“Bisa lepas kangen ya? Hmm?”


Argantara terkekeh mendengar ucapan papanya dan Ia menganggukkan kepala membenarkan.


“Padahal juga di kampus kan ketemu, tapi udah kangen aja sih,”


“Iya nih nggak tau, aku gampang kangens ama Shelina,”


“Haduh-haduh bukan main deh ah yang udah kangen sekangen-kangennya,”


“Hahahaha Mama nih bisa aja deh,”


*****


“Arga, bangun. Jangan kesiangan, kamu ‘kan ada kuliah pagi, Nak,”


Argantara membuka matanya ketika pipinya ditepuk-tepuk lembut oleh Tina. Argantara sudah bilang kemarin kalau dirinya ada kelas pagi jam delapan dan ini sudah setengah tujuh tapi belum ada tanda-tanda Argantara bangun, makanya Tina bergegas ke kamar anaknya untuk membangunkan anaknya itu.


“Kamu kok kesiangan sih? Nggak nyalain alarm ya?”


“Lupa, Ma,”


“Tidur jam berapa sih emang?”


“Malam,”


“Ya malamnya jam berapa?”


“Jam—dua kalau nggak salah,”


“Ya amlun, pantesan aja. Emnag kenaoa tidurnya sampai tengah malam begitu?”


“Aku nungguin Shelina,”


“Hah? Nungguin Shelina maksudnya? Kamu nungguin Shelina datang ke mimpi kamu gitu?”


“Bukan, Ma,”


“Lah terus?”


“Aku chat dia, eh nggak dibalas-balas. Aku nungguin smabil main game terus nggak berasa udah jam dua,”

__ADS_1


Tina berdecak sambil geleng-geleng kepala. Entah kemana hilangnya Argantara yang biasanya sinis dengan Shelina bahkan dengar nama saja kelihatan benci sekali. Sekarang malah hobi menunggu kabar Shelina.


“Dulu kalau dengar tentang Shelina ih sinis banget, nggak mau, seolah Shelina tuh irang jahat sedunia yang bikin kamu kamu emosi, eh sekaranga aj nungguin kanarnya samlai ektiduran kayak gitu,”


Argantara terkekeh mendengar mamanya mengejeknya seperti itu. Kalau ingat yang dulu, dan membandingkannya dengan yang sekarang, Areno memang merasa malu. Tapi Shelina selalu meyakinkannya bahwa masa lalu tidak perlu dibahas lagi. Shelina berbesar hati memafkannya.


“Ya udah sana kamu mandi! Abis itu sarapan ya,”


“Aku nggak usah sarapan deh, Ma,”


“Lho, terus?”


“Aku nggak sarapan, langsung ke kampus aja,”


“Eh nggak jemput Shelina dulu?”


“Oh iya jemout Shelina dulu maksud aku, nah baru ke kampus,”


“Jangan lupa jemput Shelina! Kamu saking buru-birunya nyar lupa lagi,”


“Iya, Ma,”


“Tapi Shelina dmangnya kuliah pagi?”


“Iya dia ada kelas pagi kok,”


Tina menganggukkan kepalanya lantas melangkah meninggalkan kamar sang putra. Tugasnya untuk membangunkan Argantara sudah selesai. Melihat Argantara sudah masuk kamar mandi, Tina baru benar-benar yakin keluar dari kamar Argantara. Karena Argantara itu masih suka mendarat lagi di tempat tidur padahal sudah bangun. Tapi kalau sudah masuk kamar mandi biasanya aman, dia benar-benar mandi.


Kelakuan anaknya itu memang masih seperti anak kecil, tapi itulah yang nanti dirindukan oleh Tina sebagai Ibu yang melahirkannya dan membesarkannya.


*****


“Masih lemes ya, Shel?”


Shelina menganggukkan kepalanya. Selain masih merasa badannya lemah, kepalanya juga masih terasa berat sekali. Ia tidak menyangka kalau pagi ini kesehatannya menurun.


Kepalanya masih pusing tapi memang tidak separah tadi yang akhirnya membuat Ia limbung ke bawah.


“Kamu biasanya sarapan atau emang nggak sih?”


“Biasanya sarapan, aku suka sarapan. Tapi nggak tau kenapa tadi tuh males aja. Makanya aku nggak sarapan deh terus dibekelin mama,”


“Udah biasa sarapan tiba-tiba malah nggak sarapan tadi, ya gimana nggak pingsan. Kamu cari gara-gara aja deh. Saran aku mendingan kamu pulang deh, biar istirahat di rumah. Besok kalau udah benar-benar baikan, kamu masuk,”


“Ih nggak bisa, aku ada kuis hari ini. Aku nggak bisa ninggalin,”


“Kamu setia banget sama kuis, sama dosen, sama matkul ya. Setia sama aku juga ya,”


Shelina ikut terkekeh karena ucapan Argantara yang salah tingkah sendiri usai bicara seperti itu dan akhirnya terkekeh sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal.


“Aku sih tipe cewek yang setia, Insya Allah,” jawab Shelina dengan santai tapi yakin.


“Beruntung dong yang jadi jodoh kamu nanti, Shel,”


“Hahaha nggak tau ya dia beruntung atau malah nganggapnya bala,” ujar Shelina seraya melirik Argantara.


“Sstt heh! Kok ngomong gitu sih? Dapat jodoh ya namanya anugerah, bukan bala. Apalagi kalau jodohnya kayak kamu,”


“Ya soalnya aku banyak kekurangan,”


“Lah emang kamu pikir aku ini nggak punya kekurangan? Hah? Banyak lah kekurangan aku,”


“Udah-udah, stop ngomong yang macam-macam ya, aku nggak fokus makannya, sekarang mau minum dulu. Dengerin omongan kamu bikin aku haus,”


“Cie yang salting,”


Shelina terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Berinteraksi dengan Argantara ini sangat menghiburnya, apalagi disaat kondisinya seperti saat ini. Ia butuh hiburan memang. Tapi selain menghibur, Argantara memang membuatnya jadi salah tingkah.


“Ini beneran makannya udahan?” Tanya Argantara pada tunangannya itu.


“Iya bener, aku udah kenyang. Makasih ya, Ga,”


“Iya, sekali lagi bilang makasih, aku ilang beneran dari bumi, Shel”


“Ya jangan dong, kasian mama kamu kalau kamu ilang dari bumi. Emang kamu mau kemana sih?”


“Ke kayangan nyariin bidadari eh nggak taunya bidadari udah turun,”


“Hah? Gimana maksudnya?” Tanya Shelina yang belum paham.


“Iya bidadarinya udah nggak ada lagi di kayangan, udah turun ke bumi. Nah bidadarinya ada di depan aku sekarang nih,”


“Astaghfirullah, kamu nih kenapa sih celetukannya ada-ada aja. Jangan suka ngegombal ah,”


Argantara semakin tidak sungkan untuk mengajak Shelina bercanda, memuji Shelina, bahkan mengucapkan kata-kata manis yang Shelina sebut sebagai gombalan.


“Nggak gombal itu sebenarnya. Emang beneran kamu bidadari,”


“Udah stop ya! Jangan aneh-aneh. Aku manusia, bukan bidadari, bukan ratu, bukan apapun lah pokoknya,”


Shelina mengangkat jari telunjuknya tepat di depan wajah Argantara tanpa menyentuhnya. Argantara yang melihat itu langsung tersenyum tipis dan meraih telunjuk Shelina itu. Tanpa diduga oleh Shelina, Argantara meraih telunjuknya untuk dikecup singkat.


“Kamu mau lanjut istirahat, atau mau ke kelas nih?”


Pertanyaan Argantara itu membuat Shelina akhirnya sadar kalau Ia hampir saja melayang hanya gara-gara telunjuknya digenggam lembut oleh Argantara kemudian dikecup Argantara. Walaupun itu terjadi begitu singkat, tapi cukup membuatnya kaget, sekaligus Ia merasa jantungnya tidak aman.


“Aku mau ke kelas deh, nggak enak lama-lama di sini,”


“Lho, emang kenapa? Ya nggak apa-apa dong, kamu ‘kan emang abis pingsan. Kamu nggak enak sama siapa? Kamu tuh selain insecure, orang nggak enakan juga ya? Nggak baik sih kayak gitu, harus segera dihilangkan. Karena bisa ngerugiin diri kamu sendiri kalau kamu terlalu mikirin orang, nggak enakan sama orang, nggak percaya diri alias insecure,”


“Makasih udah ingetin aku,”


“Nggak enakan sama siapa coba? Sama dosen? Ya ampun, kamu tinggal bilang kalau kamu dari sini karena pingsan tadi pas upacara, atau nggak enakan sama temen?”


“Ya nggak enak aja kalau telat. Aku ada kelas soalnya. Aku nggak bisa terlalu lama di sini,” ujar Shelina seraya tersenyum hingga matanya sedikit menyipit. Argantara yang melihat itu menggeram. Bukan karena Ia kesal Shelina tersenyum, melainkan senyum Shelina itu menggemaskan sekali jadi membuat Ia menggeram. Ia menahan dirinya sendiri supaya tidak mencubit pipi Shelina. Sentuhan yang berlebihan masih asing bagi mereka, terutama bagi Shelina yang Argantara tahu pengalaman bersama laki-laki masih minim sekali. Takutnya Ia ditampar bila melakukan itu. Shelina pernah menegurnya juga waktu itu dengan alasan kulitnya tipe yang sensitif dan kalau berjerawat susah juga untuk disembuhkan.


Tadi ketika Ia kelepasan menyentuh telunjuk Shelina bahkan mengecupnya, Ia sudah takut akan reaksi Shelina yang kelihatan membeku beberapa detik sebelum akhirnya Argantar merasa mereka canggung.


Argantara duga, dalam hati mungkin Shelina memaki-makinya yang telah lancang hanya saja Shelina tak melontarkan itu karena masih punya hati.


Argantara tidak tahu saja, kalau Shelina tidak terpikirkan hendak memaki, justru malah dibuat panik dengan jantungnya sendiri yang terasa seperti digedor-gedor, yang ada di kepalanya jantung mau copot, tidak terpikirkan mau memaki.


“Ya udah ayo aku antar ke kelas kamu,”


Argantara mengulurkan tangannya untuk membantu Shelina meninggalkan bangsal, namun Shelina menggelengkan kepala dan memilih untuk turun sendiri. Ia tidak mau dibantu oleh tunangannya itu.


“Aku bisa sendiri kok, Ga. Jangan kebiasaan bantu aku, nanti aku jadi ketergantungan,”


“Ya udah deh kalau nggak mau dibantuin,”


Argantara menurunkan tangannya yang semula terulur hendak menggenggam tangan Shelina sehingga Shelina mudah menuruni bangsal.


Setelah berdiri dengan posisi sempurna, Shelina menghembuskan napas kasar sambil memperbaiki bajunya supaya rapi lagi. Bajunya sedikit kusut karena Ia sempat berbaring tadi, tapi tidak apa-apa, hanya sedikit saja.


“Aku nggak kayak orang yang abis bangun tidur banget ‘kan?”


“Nggak lah, masih aja perfect,”


“Yang bener? Nggak berantakan banget ‘kan?”


“Nggak, Ratu, eh maksud aku, Shel,”


Shelina tersenyum dan kemudian melangkah keluar dari ruang kesehatan bersama dengan Argantara di sebelahnya.


“Ga, kamu nggak usah antar aku ke kelas ya. Kamu ke kelas kamu sendiri aja, okay?”


“Emang kenapa?”


“Ya nggak apa-apa, aku bisa sendiri kok,”


“Aku tau, tapi aku pengen mastiin kamu sampai di kelas dengan selamat, nggak ada pingsan-pingsan lagi,”


“Ya jangan sampe dong, lagian aku udah mendingan banget kok,”


“Udah nggak usah nyuruh aku untuk ke kelas aku sendiri. Pokoknya aku pengen antar kamu dulu,” ujar Argantara dengan tegas. Mau setegas apapun Shelina menolak untuk diantar, Ia akan tetap melakukannya supaya Ia merasa tenang. Ia akan bergegas ke kelasnya sendiri kalau Shelina sudah masuk kelasnya dengan keadaan baik-baik saja. Sebenarnya Argantara tahu Shelina belum seratus persen membaik keadaannya. Jadi Ia khawatir bila membiarkan Shelina sendirian ke kelasnya.


“Arnold keras kepala ya ternyata. Udah dibilang nggak usah anterin aku tapi dia masih aja,” batin Shelina seraya melirik Argantara yang berjalan di sebelahnya.


“Shel, nanti pulang bareng ya. Aku kelasnya cuma bentar aja hari ini, aku tungguin kamu pulang ya,”


“Nggak usah nungguin aku, Arga. Kamu pulang duluan aja,” ujar Shelina


“Nggak ah, gue mau nungguin lo. Gue pengen pulang bareng, boleh lah. Jangan nolak napa sih, gitu akat sama gue,” ujar Argantara dengan ketus.


“Tapi aku takutnya lama,” jawab Shelina


“Ya nggak apa-apa, nanti aku tungguin di kafe kampus ya, aku bakal kasih tau kamu kalau aku udah selesai kelasnya. Aku langsung ke kafe pokoknya, aku nungguin kamu di sana ya,”


“Aku pulang sendiri diam-diam nanti,”


“Lah kok gitu? Sia-sia dong aku nungguin kamu kalau kamu maunya pulang sendiri,”


“Ya abisnya kamu dibilangin nggak mau denger, nggak usah nungguin aku, Arga. Aku mau pulang sendiri aja,”


“Tapi aku pengen pulang sama kamu, Ratu,”


“Ih Arga! Udah dibilang jangan panggil aku Ratu! Kamu nggak paham-paham ya,” Ujar Shelina sambil menatap tunangannya dengan galak.


“Iya-iya maaf, Rat—Shel. Maksud aku, Shel. Aku pengen pulang sama kamu. Jadi nanti aku tungguin kamu di kafe kampus okay? Tolong jangan nolak,”


“Emang kamu nggak ada kegiatan setelah ngampus? Lagi kosong? Kok malah nungguin aku? ‘Kan kerajinan banget itu,”


“Aku nanti sore mau main bulu tangkis, tapi itu sore, aku di kafe nungguin kamu sambil ngerjain tugas lah, biar nggak bosen, dan ada manfaatnya nongki di kafe,”


“Oh ya udah kalau emang kamu tetap pengen pulbar sama aku, cie pulbar. Udah main singkatan aja nih aku,”


“Iya pokoknya aku pengen pulbar sama kamu, kapan-kapan kita mabar ya, kamu aku ajakin mabar nggak pernah mau karena katanya nggak bisa. Ih alasan apa itu? Belajar lah biar bisa,”


“Ngapain belajar main game? Nggak ada manfaatnya tau,”

__ADS_1


“Eh kamu jangan ngomong gitu, game ada manfaatnya lho. Bisa ngilangin stres, menantang diri sendiri, bikin kita jadi nggak insecure, pokoknya ada manfaat deh asal mainnya sesuai porsi ya,”


“Aku nggak jago main-main game gitu, Ga,”


“Aku juga nggak jago, Shel Emang siapa bilang aku jago? Aku tuh cuma sekedar bisa. Pas aku coba main pertama kali tuh, ternyata asyik jadi keterusan deh. Kalau tugas udah kelar, bingung mau ngapain, ya udah aku main game online aja,”


“Kalau aku sih mendingan nonton sama baca novel. Itu aja usah cukup bagi aku, Ga. Nggak bisa aku main game. Pusing yang ada,”


“Iya nggak apa-apa kok, lakuin yang kamu suka aja. Tapi kadang aku pengen mabar sama kamu. Cuma kamu nya ‘kan selalu bilang nggak bisa, jadi ya udah nggak masalah. Lakuin aja apa yang kamu suka, apa yang bisa. Aku nggak akan larang kok, kita punya hobi masing-masing, namanya juga manusia,” ucap Argantara dengan senyumannya.


“Tapi aku juga kadang pengen lho nyoba main game, mabar sama kamu. Cuma aku tuh bingung harus ngapain,”


Mendengar curahan hati Shelina soal game, Argantar tertawa. Shelina memang benar-benar polos soal game. Yang dipahaminya hanya tentang drama, dan juga novel.


“Aku juga pengen mabar sama kamu makanya sering aku ajakin tapi kamu belum bisa. Udah aku ajarin masih juga ngaku belum bisa, belum paham,”


“Akhirnya aku nyerah sendiri,” ujar Shelina seraya tertawa. Beberapa kali Argantara mengajarkan dirinya untuk bermain game namun Ia tetap tidak paham. Kalaupun paham, tapi akhirnya malah kalah, Ia kesal sendiri, dan akhirnya memilih untuk mogok main. Begitulah dirinya kalau dihadapkan dengan game. Daripada makan hati sendiri akhirnya Ia kembali ke dunianya sendiri, kembali ke hobinya sendiri yaitu menonton drama Korea dan juga membaca novel.


“Udah hampir sampai di depan kelas kamu. Semangat ya ngadepin materi dari dosen, ingat nanti pulang bareng aku. Pokoknya aku tungguin di kafe kampus, okay?”


Shelina menganggukkan kepalanya dan mengangkat ibu jari. Ia melambai singkat pada Argantara kemudian melangkah masuk ke dalam kelas.


********


“Lo tumben ke sini, jarang-jarang lho,”


Argantara langsung menolehkan kepalanya ketika Ia merasa ada yang menepuk bahunya dari belakang. Ia terkekeh dan langsung mempersilahkan temannya yang bernama Ryan untuk duduk.


“Tumben nongki di sini,”


“Iya gue lagi nungguin orang di sini, sekalian aja ngerjain tugas,”


“Nungguin siapa?”


“Shelina,”


“Oh cewek yang lagi lo pepet itu ya? Eh tunangan deng,”


“Dipepet ya, bukan dipelet,”


“Anjrit, serem itu mah. Nggak usah dipelet, cewek-cewek mah naksir sama lo. Termasuk dia, iya ‘kan? Gue liat lo berdua deket banget,”


“Dia sih naksir sama gue ya keliatan,”


“Nggak pacaran langsung tunangan ya, Bro?”


“Iya langsung mau nikah, nggak ada pacaran,”


“Keliatan cocok!”


“Ah masa sih? Lo ngeliatnya begitu?”


“Iya lah, gue ‘kan temen sekelas lo, suka banget liat kalian berangkat bareng, pulang juga gitu. Anjerrr roman-romannya bakal sat set nih,”


“Sat set apaan? Belum nih, kayaknya abis lulus dulu sih,”


“Tunggu apalagi? Langsung gas lah, jangan pake lama,”


“Masalahnya gue sama dia udah sepakat abis lulus, kalau dia nolak pas gue ajakin secepatnya ya malu lah gue,”


“Ya elah mana mungkin ditolak sih,”


“Namanya juga manusia, kadang suka ngerasa nggak yakin,”


“Lo tuh spek pangeran, Ga. Kenapa harus nggak yakin sih? Udah, yakin aja. Shelina nggak bakal nolak lo, percaya sama gue deh,”


“Pelan-pelan aja deh yang penting pasti,”


“Cue pelan tapi pasti, anjerr,”


Argantara terkekeh mendengar ledekan Ryan yang membuatnya jadi salah tingkah. Entah kenapa sekarang kalau membahas Shelina suka salah tingkah.


“Apa sebenarnya ada yang lo segani? Dia lagi deket juga sama cowok? Atau gimana?”


“Nggak ada sebenarnya, Yan. Cuma emang sepakatnya abis lulus. Kalau yang deketin dia sih ada aja. Tuh sahabatnya si Ganta, kutukupret itu masih aja caper,”


“Lo berdua cocok tau, seriusan deh,”


“Itu menurut lo, menurut Tuhan semoga cocok juga ya,”


“Bayanginnya lo aja yang jadi jodoh dia, jangan bayangin cowok lain, Ga. Nggak-nggak, gue yakin lo sama Shelina tuh jodoh,”


“Kenapa lo punya feeling kayak gitu?”


“Nggak tau pokoknya feeling gue begitu. Biasanya nih feeling gue nggak pernah salah, Ga,”


“Waduh, ngeri nih kalau udah bawa-bawa feeling. Mana jodoh lagi yang dibahas,”


“Iya feeling gue kalian jodoh,”


“Mesti gue Aamiin ‘kan ya ini? Karena ini doa baik,”


“Oh iya jelas, jangan lupa kalau nikah undang-undang gue ya! Awas aja lo kalau nggak ngundang,”


“Gue undang kok, tapi masalahnya belum ketauan gue kapan lepas status lajang, Yan. Ah elah lo jangan bikin gue gundah dong, tapi yang penting gue udah ngikat Shelina deh,”


“Kenapa gundah? Udah doa aja yang banyak, yang semangat supaya cepet dapat jodoh, atau kalaupun jodohnya udah dekat, ya minta supaya semuanya dipermudah, bener nggak?”


Argantara langsung menepuk singkat kedua tangannya. Ia membenarkan ucapan Ryan dan mengucapkan terimakasih karena pikirannya terbuka setelah bicara dengan Ryan.


“Iya betul,”


“Lo enak naksir sama cewek yang peluang buat barengnya tuh besar, lah gue naksir sama cewek yang ternyata udah punya cowok, anjir,”


Argantara mengerjapkan matanya mendengar ucapan Ryan yang kali ini terbuka soal perasaannya.


“Hah? Ya udah cari yang lain deh, jangan sama cewek orang. Lagian kok bisa naksir sama cewek orang?”


Argantara tidak mau Ryan sampai menyukai perempuan yang sudah punya pasangan. Karena banyak perempuan di dunia ini, Ia melihat Ryan juga laki-laki yang baik. Daripada cari perkara menyukai perempuan yang sudah memiliki kekasih lebih baik cari yang lain menurutnya.


“Iya, ini gue lagi berusaha move on, Ga. Jadi kami sempat deket gitu, eh baru-baru ini ketauan kalau dia udah punya cowok. Parah yak, udah punya cowok tapi deket sama gue, nggak bener juga tuh cewek. Harusnya dia ngehindarin gue lah. Ini nggak, diajak jalan mau-mau aja,”


“Dah, cari yang lain,” ujar Argantara seraya menepuk pelan meja di depannya.


“Iya, gue lagi berusaha move on dulu ini, cari yang lainnya ntaran dulu,”


“Banyak perempuan di dunia ini, lo tinggal pilih deh,”


“Masalahnya cewek nggak ada yang mau sama gue, nyet,”


Ryan tertawa geli. Sementara Argantara berdecak dan mengibaskan singkat tangannya. Ia tidak percaya kalau tidak ada perempuan yang mau bersama Ryan.


“Nggak yakin gue. Lo tuh baik, ganteng juga kok gue liat-liat, masa iya nggak ada yang mau?”


“Abisnya susah bener cari pacar, gue heran banget dah,”


“Belum tepat waktunya, tenang aja,”


Argantara menaik turunkan alisnya setelah berucap hal itu. Ia menenangkan Ryan yang kesal karena menurutnya sulit sekali mencari kekasih. Makanya Ia menganggap tak ada yang mau dengannya.


“Arga,”


Argantara dan Ryan sama-sama menoleh ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari Shelina. Argantara tersenyum melihat Shelina berjalan cepat mendekat.


“Sampe ngos-ngosan gitu, santai aja harusnya, Shel,” ujar Shelina


“Itu agak gerimis, makanya buru-buru,”


“Ya udah duduk dulu nih, oh iya ada temen aku, Ryan namanya,”


Argantara mempersilahkan Shelina duduk, sekaligus. memperkenalkan Ryan pada Shelina yang mungkin bertanya-tanya Ia sedang bersama siapa.


“Halo, Ryan,”


“Hai, Shelina. Mau pulang bareng Arga ya?”


“Iya diajakin pulang bareng sama Arga. Ryan ini teman satu kelasnya Arga?”


“Yoi, satu kelas. Jadi gue tau nih gimana Arga. Udah, dia baik banget. Langsung tancap gas aja,”


Ahelina masih belum paham tiba-tiba Ryan berkata seperti itu seperti tengah meyakinkannya. Ia merasa tidak pernah meragukan kebaikan Argantara.


“Heh kenapa ngomong gitu tiba-tiba?”


“Ya biar dia yakin, bro. Lo tinggal ajakin sat set aja udah,”


Argantara tertawa dibuatnya. Ada bagusnya Ryan melakukan itu supaya Shelina yakin untuk tetap dengan Argantara dan setuju ketika diajak ke jenjang yang lebih serius setelah benar-benar semua siap tanpa banyak pertimbangan lagi karena Argantara itu laki-laki yang baik.


“Eh gue balik duluan ya,”


“Oh iya, ati-ati yak, cari yang lain, inget!”


“Yoi, tenang-tenang gue cari yang lain. Gue balik, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Shelina langsung memanggil Argantara yang menatap Ryan yang sudah menjauh dari mejanya. Argantara menoleh “Kenapa, Shel?”


“Kamu nyuruh Ryan cari yang lain?”


“Iya, dia naksir sama cewek yang ternyata udah punya pacar,”


“Oh, terus Ryan kenapa ngomong kayak tadi? Biar aku yakin katanya, kamu tinggal ajakin sat set itu apa maksudnya?”


“Dia doain kita supaya secepatnya nikah, Shel,” jawab Argantara seraya meletakkan beberapa helai rambut Shelina di balik telinganya. Ia tidak kuat untuk tidak mengusap pipi Shelina. Tidak apalah dibilang lancang atau Shelina mengusir tangannya karena Shelina menyayangi wajahnya yang sensitif itu tapi yang penting Argantara sudah melampiaskan rasa gemasnya melihat Shelina yang kelihatan bingung.


“Bukannya kita udah sepakat abis lulus kuliah?”


“Iya, tapi dia sih bilang gitu, secepatnya aja langsung sat set,”

__ADS_1


__ADS_2