
“Jangan lupa tuh minta maaf sama makasih ke Arga, Shel. Dia nyariin kamu lho karena kahwatir kamu kenapa-napa,”
Begitu Shelina sampai di rumah, Shelina langsung mendapat teguran dari mamanya yang kecewa sebab Ia tidak biasanya cepat-cepat memberi kabar disaat tidak langsung pulang ke rumahs etelah kuliah.
Selain teguran, Shelina juga disuruh oleh mamanya untuk menyampaikan pernintaan maaf sekaligus terimakasih kepada Argantara. Tentu itu tidak membuatnya keberatan. Setelah ponselnya hidup nanti, Ia akan langsung menghubungi Argantara. Sejujurnya Ia merasa bersalah karena sudah membuat prang-orang terdekatnya panik. Bahkan Ia dengar dari mamanya, Lifa dan Tita pun menanyakan keberadaannya kepada sang Mama. Hari ini tak biasanya Ia membuat mereka semua khawatir. Karena hidupnya lurus-lurus saja, setelah dari kampus selalu berusaha langsungnpulang lalu tiba-tiba tadi berbeda dari baisanya tentulah mereka yang dekatnya dengannya merasa khawatir.
“Iya, Ma. Aku bakal hubungi Arga, Lifa, sama Tita. Sekarang aku naik ke kamar dulu ya, Ma,”
“Okay, jangan lupa ya hubungi mereka, Mama sih udah sampein kalau kamu udah di rumah, habis bersih-bersih istirahat deh,”
“Iya, Ma,”
*****
“Eh udah pulang si ganteng, kenapa tuh muka? Lagi kesal sama siapa nih?”
Tina menyapa anaknya yang baru saja pulang dari kampus. Tapi kali ini ada yang neda. Wajah Argantara kelihatan murung. Karena Ia penasaran, maka dari itu Ia bertanya.
“Nggak kesal, abis dibikin khawatir. Eh tapi iya sih, agak kesal sebenarnya,”
“Kenapa? Cerita dong sama Mama. Maka penasaran tau,”
“Ma, aku pikir Shelina tuh kabur atau diculik ya. Eh nggak taunya—-ah udahlah. Malas aku bahasnya,”
Mendengar cerita Argantara yang baru sepenggal, Tina mengernyitkan keningnya bingung. Ia langsung mencubit pelan lengan anaknya smabil berkata “Bruan cerita nggak! Jangan setengah-setengah dong kalau cerita ke Mama tuh. Mama penasaran, Ga,”
“Aku malas ceritanya, Ma,”
“Lho kok gitu sih? Cerita lah sama Mama biar Mama kamu ini nggak penasaran,”
Argantara menghembuskan napas kasar lalu mulai berceirta pada mamanya yang kelihatan snagat penasaran “Jadi tadi aku tuh bingung kemana Shelina. Pas aku datang ke kelansya untuk pulang bareng, aku nggak liat dia, malah kelansya tuh udah kosong. Aku telpon ke teman-teman dekatnya, terus ke mamanya, mereka nggak ada yang tau Shelina kemana. Bahkan kata mamanya Shelina benar-benar nggak ada di rumah, sampai mamanya cek sendiri di kamar. Nah akhirnya aku cari ke skeitar lingkungan kampus kayak kantin, kamar mandi, taman, bahkan ke kafe yang nggak jauh dari sekolah tapi nggak ada. Eh abis itu Mamanya ngasih tau kalau Shelina baru aja ngabarin. Dia lagi sama Ganta di toko buku dan baterai handphone nya habis. Terus dia nggak bawa power bank, dan chargeran. Akhirnya baru ngasih jabar ke Mamanya. Inti ceritanya begitu deh, Ma,”
“Ya Allah, tapi Shelina baik-baik aja ‘kan?”
“Iya dia baik-baik aja buktinya bisa telpon mamanya, dan udah disuruh mamanya pulang ke rumah kok, Ma,”
“Ya udah Alhamdulillah deh kalau begitu. Sekarang kamu bersih-bersih. Mau langsung makan atau istirahat dulu nih?”
“Istirahat dulu, Ma, aku agak capek,”
Tina menganggukkan kepalanya membiarkan sang anak bergegas ke kamarnya. Tiba di kamar, Argantara langsung meletakkan ranselnya di atas sofa, kemudian Ia bergega ske kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelah ini Ia berniat untuk di rumahs aja, tidak kemana-mana karena temannya tak ada yang mengajak pergi, dan Ia semdiri juga malas untuk pergi.
Setelah mamdid an berpakaian, Argantara langsung mendarat di atas tempat tidur. Hanya perlu waktu kurang dari sepuluh menit Argantara menyudahi mandinya.
Argantara memejamkan mata dan tidak butuh waktu lama Ia terlelap. Sekitar satu jam lebih Ia tertidur, tiba-tiba Mamanya mengetuk pintu kamar dnegan pelan. Karena tak ada jawaban dan Tina khawatir akhirnya Tina membuka pintu kamar anaknya itu. Ia melihat Argantara ternyata tidur pantas saja ketukannya tidak ditanggapi.
“Oalah pantesan aja Mamanya ngetuk pintu nggak dijawab ternyata karena lagi tidur, ya udah deh ntar aja aku sampein ke Arga kalau ada makanan kirimannya Shelina,”
******
Shelina tersenyum setelah melihat laporan kalau makanan yang Ia kirimkan ke rumah Argantara sudah diterima. Kemudian Ia kembali menghubungi Argantara. Sebenarnya tadi sudah Ia hubungi sebnayak dua kali akan tetapi Argantara tak ada respon.
-Arga, kamu marah sama aku?-
Karena tidak kunjung memberikan tanggapan akhirnya Shelina mengirimkan pesan kepada Argantara dengan isi seperti itu. Jujur Shelina takut tunangannya marah. Larena tidka biasanya Argantara sulit untuk dihubungi.
“Kayaknya dia marah deh. Kok tumben dia nggak angkat-angkat telepon aku? Sebenarnya dia marah atau nggak ya? Duh aku jadi merasa bersalah nih. Dia paati ekspa deh karena aku udah bikin repot dia. Yang harusnya dia langsung pulang, eh malah nyari-nyari aku dulu,” batin Shelina.
Shelina berjalan tidak menentu di dalam kamarnya menunggu telepon balik dari Argantara. Tapi sampai lima belas menit kemudian Argantara tidak menghubunginya.
*******
“Ma, Papa mau ngajakin Arga nonton ah ntar malam, Mama mau ikut nggak?”
“Nonton? Maksudnya nonton di ruang keluarga atau nonton bioskop?”
Pertanyaan dari Tina membuat Fadli tertawa. “Ya kalau nonton di ruang keluarga kayak biasa nggak usha ngajak-ngajak, Mama. Ini maksud Papa nonton di bioskops ekalian kita makan malam bareng di sana gimana?”
“Makan malam di bioskop?”
“Ih si Mama senhaja bener mancing suaminya kesal,”
“Ahahahah bercanda, Pa. Di restoran ‘kan maksudnya? Hayo aja Mama. Selalu semangat kalau diajakin pergi,”
Tina menerima ajakan suaminya dengan antusias. Ia tentu tidak akan menolak karena tidak setiap haru mereka bisa quality time bersama.
“Ya udah Papa mau bangunin Arga deh,“
Fadli segera naik ke lantai atas untuk membicarakan tentang rencananya nanti malam kepada Arganta. Ia langsung membuka pintu kamar anaknya yang tidak dikunci itu.
“Nak, bangun eh. Sholat maghrib bareng yuk,”
Fadli membangunkan Argantara dengan cara menggeliki telapak kakinya dan itu langsung berhasil.
“Dih Papa kenapa ganggu?
“Bentar lagi udah mau adzan tuh. Ayo bangun, jangan keterusan tidurnya,”
“Okay, Pa,”
“Kenapa kamu? Kecapekan?”
“Capek hati,”
“Lah, kenapa nih? Tanda-tanda nggak beres ini mah,”
Argantara tertawa mendnegar ucapan papanya lalu Ia menggelengkan kepala tak mau membahas.
“Eh Papa mau ngajakin kamu pergi nanti malam,”
Fadli duduk di sebelah anaknya. Argantara langsung memutar posisi duduk supaya menatap sang papa yang baru saja mengajaknya pergi.
“Wah pergi kemana tuh, Pa?”
“Nonton,”
“Nonton bioskop maksud Papa? Ayo aja aku, senang malah diajakin nonton tapi ditraktir mkan? Ini nggak pakai duit jajan aku ‘kan?”
“Ya kali pakai uang jajan kamu. Nggak lsh, Papa teaktir,”
Argantara tertawa lalu memeluk papanya singkat setelah itu mengangkat kedua ibu jarinya. “Mantap, mau ditraktir sama Papa. Ya udah ayo kemana kita? Maksud aku mall mana?”
“Yang dekat sama rumah aja,”
“Okay siap, Pa,”
“Berangkat kapan, Pa?”
“Abis Isya mungkin ya,”
Argantara langsung memasang sikap hormat. “Okay siap, Pa,”
“Tuh ada kiriman dari Shelina lho di meja makan,”
“Kiriman apa?”
__ADS_1
“Pizza sama jus, banyak banget lagi ngirimnya ya Allah. Udah bilang makasih belum kamu? Papa tadi dikasih tau Mama,”
“Oh gitu ya udah deh aku hubungin dia dulu kalau gitu, aku nggak buka-buka handphone karena barusan tidur,”
Fadli menganggukkan kepalanya dan berjalan hendak keluar kamar. Sesaat sebelum Ia menutup pintu kamar, Ia berpesan pada anak sematawayangnya itu “Jangan lupa ya ntar malam abis Isya,”
“Okay siap, Pa. Aku ingat kok, Pa,”
Fadli sudah keluar dari kamar anaknya dan tidak lupa menutup pintu. Setelah itu Argantara meriah ponsel genggamnya yang ada di nakas kemudian Ia langsung menghubungi Shelina.
“Halo, Ga,”
“Halo, kamu ngirim makanan sama minuman ya? Duh ngapain sih repot-repot? Tapi makaish banyak ya,”
“Iya aku yang ngirim, semoga kamu suka dan semoga kamu nggsk marah lagi ya sams aku, Ga,”
“Hah? Aku marah sama kamu?”
“Iya, kamu marah ‘kan sama aku karena aku tadi perginya nggak bilang-bilang? Alias main pergi aja ke toko buku sama Ganta,”
Argantara menghembuskan napasnya dengab kasar kemudian Ia memijat pangkal hidungnya sambil menjawab Shelina “Aku cuma khawatir aja sih sebenarnya. Aku takut kamu kenapa-napa. Aku panik nyari kamu kemana-mana dan nggak ketemu tapi ternyata kamu pergi sama Ganta ke toko buku dan aku nggak tau sama sekali. Tapi untungnya Mama ksmu ngaish tau jadi aku bisa dtop nyari kamu dan aku langsung pulang,”
“Aku minta maaf ya, maaf udha bikin kamu cemas. Sumlah sku nggak ada maksud. Jadi handphone aku itu habis baterai, mau ngabarin aku takut keburu abis baterainya. Karena aku pengen pake handohone aku untuk order ojek online eh nggak taunya tetap aja mati. Akhirnya aku diantar sama Gants ke rumah,”
“Yang bikin aku marah sama dia ya, dia sengsja banget cuekin telepon dan chat aku. Apdahal apa sudahnya dia bilang ke aku kalau dia lagi sama kamu. Jadi aku bakal jemput kamu di sana. Emang keterlaluan itu orang,”
Shelina mengernyitkan keningnya. Apdahla yang Ia ingat, Ganta itu sering mengecek ponsel selama bersamanya. Tapi entah kenapa panggilan dan pesan Argantara sengaja diabaikan oleh Ganta.
“Oh kamu telepon sama chat Ganta ya?”
“Ya italah, karena teman kamu bilang, mereka terakhir liat kamu ngobrol sama dia. Dan emang nggak ada alasan aku nggak curiga ke dia sih. Entah kenapa feeling aku emang kalian pergi berdua,”
“Tapi ke toko buku itu karena ajakannya Ganta, Ga. Aku kebetulan emang mau beli buku jadi ya udah deh akhirnya barengan. Aku minta maaf ya nggak ngasih kabar,”
Argantara menghembuskan nspasnya dnegan kasar. Kalau mau melampiaskan amarahnya, Ia pasti sudah membentak Shelina sekarang tapi Ia tidak mau melakukan itu. Semuanornag punya eksalahan termasuk dirinya sendiri. Lagipula Shelina sudah berusaha untuk menjelaskan. Jadi tidak ada alasan untuk Ia tetap kesal.
“Aku minta maaf ya, Ga,”
“Iya nggak apa-apa. Aku emang sempat kesal sama kamu, kecewa juga. Karena biasanya kamu tuh nggak pernah kayak gitu tiba-tiba,”
“Iya aku minta maaf. Aku nggak akan kayak gitu lagi,”
“Nggak usah mau deh diajakin pergi sama siapapun itu kalau nggak bilang ke Mama kamu atau ke orang terdekat kamu, paham nggak?”
“Tapi aku pakai handphone Ganta untuk ngasih kabar ke Mama kok,”
“Ya tapi ydah telat ‘kan, seharusnya sebelum dia ajak kamu, dia udah ngomong dong ke orangtua kamu kalau emang dia mau ngajak kamu pergi kemanapun itu tujuannya dekat harus ngomong, apalagi kalau jauh,”
“Tapi nggak jauh banget dari sekolah,”
“Ya pokoknya mau jauh atau dekat dia harusnya ngasih kabar, Shel,”
“Iya-iya aku minta maaf, aku emangs alah, dan Ganta juga salah. Tapi sebenarnya kalau aja aku ngomong ke Ganta untuk pinjam handphone dia dari awal untuk ngasih kabar, semuanya nggak bakal kayak gini. Nggak sepenuhnya salah Ganta,”
Argantara mendengus kesal karena Shelina masihs aja membela temannya itu padahal sudah jelas bahwa dia salah.
“Dhel, aku udha bilang ya sama kamu. Dari awal dia udah salah. Karena tanpa kamu punya inisiatif lebih dilu, ya harusnya dia lah yang inisiatif untuk kasih kabar, sekaligus minta izin. Kalau tiba-tiba bawa kamu tanpa pamit ke Mama kamu, ya itu sama aja dia emang sengaja mau bikin kita-kita khawatir,”
“Iya, Arga. Kamu jangan marah dong, aku ‘kan udah minta maaf atas nama diri aku semdirid an juga Ganta,”
“Kalau kamu, aku udah maafin, tapi kalau dia, sorry-sorry aja. Sudah bagi aku untuk maafin dia. Karena apa? Dia keterlaluan. Harusnya dia pamit dulu sama Mama kamu, kita datang ke rumah orang aja harus pakai permisi, apalagi kalau mau bawa anak perempuan orang. Main tarik aja, kamu juga ayo-ayo aja. Kenapa? Kamu merasa nggak enak ya? Hmm? Terus aja nggak enakan kayak gitu, Shel. Dia bisa aja salah paham sama sikap kamu. Kebaikan kamu itu bisa bikin dia berpikir kalau kamu udah bslas perasaan dia,”
Akhirnya Argantara mengeluarkan isi hatinya. Ia tidak kau Shelina terus menerus punya rasa tidak dnak terhadap orang lain, yang akhirnya bisa merugikan diri sendiri dan juga orang-orang terdekatnya.
“Iya tadinya aku meras anggak enak nolak ajakan dia soalnya aku tuh udha seirng nolak, Ga. Terus kebetulan aku emang lagi pengen beli buku. Jadi ya udah deh aku pergi sama dia,”
“Ya nggak nginap juga dong. Ksmu berlebihan ah,”
“Ya abisnya aku bingung ya sama kamu. Kamu itu punya aku lho, Shel. Kalau kamu butuh apa-apa kamu jangan sungkan, tinggal ngomong sja ke aku. Apalagi ini cuma minta temenin beli buku pasti aku bakal temenin. Ya ampun jangankan belu buku, kamu minta temenin pelaminan juga aku siap kok,”
“Yee kok jadi ngelantur ngomongnya,”
Tawa Argantara pecah di tengah situasi yang sedang menegang. Shelina juga ikut tertawa akhirnya.
“Kamu jangan sungkan, tinggal bilang aja ke aku untuk temenin kamu ke toko buku ‘kan neres. Aku bakal turutin kok jadi kamu nggak pelru khawatir. Untuk apa kamu sama yang lain coba?“
“Iya maaf udah bikin kamu cemburu,”
“Udah tau aku cemburu maish dilakuin. Kayaknya kamu emang sering sengaja ya bikin aku cemburu,”
“Astaga nggak, hahahaha. Kamu kenap mikir kayak gitu sih, aku nggak sengaja. Aku juga bingung kenaoa kamu merasa cemburu,”
Argantara berdecak mendengar perkataan itu keluar dari mulut Shelina. Bisa-bisanya Shelina bingung kenapa Ia bisa cemburu.
“Kenapa kamu bingung? Emang kamu nggak pernah dengar ungkapan ini ya’cemburu adalah tanda cinta’ kalau aku cemburu ya artinya aku cinta sam kamu, aku benar-benar cinta. Terus kenala kamu masih tanya coba? Masa iya sih kamu nggak pernah dengar kata-kata itu?”
“Oh okay aku paham sekarang,”
“Paham apa coba?”
“Kamu cinta sama aku? Iya aku tau, ‘kan aku udah pernah dengar kejujurna kamu itu,”
“Ya terus kenapa kamu bodo amat? Kenapa kamu cuek aja meskipun kamu tau kalau aku cemburu banget tiap ngeliat kamu sama yang lain apalagi si Ganta itu,”
“Ya aku nggak habis pikir aja kenapa kamu cemburu sih? Aku ‘kan sama Ganta dekatnya biasa aja, kedekatan kamu ya memang begini bahkan sebelum ketemu kamu. Jadi jujur aku bingung sih harus gimana, aku udha jaga jarak sebenarnya, cuma yang nsmanys teman ya nggak bisa lah kalau benar-benar jaga jarak. Dia itu teman aku yang dekat sam aku, Ga,”
“Shelina, dia itu suka sama kamu. Dia nggak anggap kamu cuma sekedar sahabat aja, kamu ingat nggak sih dia udah nyatain perasaannya?Masa harus aku ingetin lagi sih?”
“Ya tapi dia udah paham keadaan, Ga. Dia udah tau kalau aku ini nggak bisa balas perasaan dia dan dia juga udah tau aku udah sama kamu jadi harusnya nggak ada yang perlu kamu khawatirkan okay?”
“Ya ampun, Shel. Emang dia bakal langsung paham? Hah? Belum tentu. Kalau udah cinta ya bakal susah untuk nerima takdir,”
“Masa aku harus berhenti sih temenan sama dia? Aku nggak siap kalau harus kehilangan teman, lagian aku udah jaga jarak kok,”
“Ya kalau jaga jarak kamu nggak akan segampang itu sih untuk nerima ajakan dia untuk pergi berdua tanpa aku atau siapapun di antara kalian,” ujar Argantara dengan menekan kata berdua supaya Shelina sadar bahwa sudah sebesar itu rasa cemburunya karena Shelina pergi bersama Ganta dan tanpa sepengetahuannya.
“Maaf, Arga. Udah dong jangan marah lagi,”
“Udah ya, aku nggak bisa lama-lama lagi deh ngomong sama kamu. Bentar lagi adzan juga. Aku mau pergi juga ntar malam,”
“Lho kok tiba-tiba udahan?”
“Iya, aku nggak bisa lama-lama,”
“Kamu pasti eksal ya sama akuvl
“Udahlah percuma juga aku marah, nggak penting. Nggak bakal didengar juga sama kamu,”
Sambungan telepon mereka diakhiri secera tiba-tiba pleh Argantara. Shelina langsung berdecak pelan.
“Arga masih marah atau gimana sih? Padahal aku udah minta maaf lho, kok dia masih marah ya,”
*****
Selepas sholat berjamaah, Argantara dan kedua orangtuanya langsung bergegas ke kamar masing-maisng untuk bersiap ke mall paling dekat dengan rumah.
__ADS_1
Argantara hanya membawa ponseld an juga dompetnya saja. Setelah itu keluar dari kamar dan menunggu di ruang tamu. Tidak lama kemudian orangtuanya datang dengan senyum sumringah.
“Yuk berangkat,”
“Ayo, Mama Papa kayak sumringah banget, kenapa nih?”
“Nggak apa-apa, bukannya emangs elalu sumringah ya? ‘Kan mau jalan sama padnagan dan anak, masa cemberut sih,”
“Hmm kayaknya aku nggak jadi ikut deh,”
“Lho, kok gitu? Kenapa sih emangnya? Mendadak kamu ada acara sama teman kamu? Ya harusnya sama Mama Papa dulu lah, sama teman ‘kan bisa nanti-nanti, lagian sama teman udha keseringan juga,”
“B,kan, maksud aku bukannya aku mau jalan sama teman, tapi—kayaknya Mama Papa jalan berdua aja deh, ‘kan jadi flashback waktu oacaran tuh, waktu belum ada aku lebih tepatnya,”
Fadli langsung berdecak dan menatap anaknya dengan kesal. Setelah punya Argantara, jalan berdua dengan Tina maish menjadi hal yang menyenangkan, tapi akan lebih menyenangkan kalau bersama anak.
“Eh kalau udah ada anak, ya lebih seru jalan sama anak, iya nggak, Pa?”
“Betul itu, udah nggak zamannya lagi lah pergi berdua, udah tuwir, udah punya anak dewasa. Jsutru sennag kalau ngajak kamu soalnya kamu ‘kan sering sibuk,”
“Jiahh seirng sibuk nggak tuh. Emang sibuk ngapain? Sibuk tidur maksudnya? Hahaha,”
“Ya sibuk sama dunia kamu lah, entah itu kuliah, teman-teman, percintaan, ya pokoknya dunia kamu,”
“Ya udah okay-okay kita berangkat sekarang yuk, jadi aku diajak nih?”
“Ya kalau kamu nggak diajak, kamu nggak akan Papa biarin siap-siap, Arga! Udah Papa kurung kamu did alam kamar paham?”
Tawa Argantara pecah seketika. Ia langsung merangkul papanya itu dan meminta maaf. “Okay kalau gitu kita bernagkat sekarang,”
“Ntar kalau udah ada istri kamu, kita quality time nya jadi berempat, nggak bertiga lagi. Dan Mama mau seirng-seirng, pokoknya harus! Biar makin harmonis lah kita. Kalau ada waktu senggang, ada kesempatan, ya kita jalan bareng untuk quality time,”
Argantara membukakan pintu mobil bagian depan, tepatnya di sebelah pengemudi untuk mamanya duduk, namun mamanya itu menggeleng pertanda menolak.
“Kamu aja yang did elan sama Papa ya, Mama di belakang,”
“Beneran, Ma?”
“Uta, kamu aja. Kalau sama kamu ya kamu aja yang di depan, ‘kan pas tuh cowok sama cowok,”
“Kirain malam ini Mama mau di sebelah Papa gitu, biar kayak pasutri baru nikah, jalan malam berdua, belum ounya anak. Beuh seru banget tuh,”
“Halah ngomong mulu kamu. Udah sana masuk ke mobil,”
Argantara langsung menganggukkan kepalanya tapis ebelum masuk, Ia membukakan pintu bagian belakang untuk mempersilahkan mamanya duduk. Barulah Ia menyusul.
“Pakai semua seatbelt, jangan mentang-mentang dekat,” ujar Fadli pada anak dan istrinya.
“Okay siap, Pa,”
********
“Eh ada film Barbie lho di bioskop. Kamu nggak kau nonton apa? Diam mulu di rumah, betah banget lagi di kamar baca novel terus,”
Tiba-tiba Shefia membuka pintu kamar anaknya yang ternyata sedang membaca novel dnegan posisi nyaman. Shelina setengah berbaring menatap televisi yang menampilkan siaran, tapi Shelina fokus dengan buku yang ada di tangannya.
“Eh Mama ternyata yang datang, kirain siapa. Ini novel yang baru sku beli lho, Ma,”
“Novel tentang apa?”
“Fantasy gitu deh, seru makanya aku belu. Tadi udah sempat aku baca sedikit terus sekarang aku lanjut deh,”
“Oh gitu, nggak mau nonton, Shel?”
“Nonton? Nih lagi nonton,” ujar Shelina sambil menunjuk televisi yang ada di depannya.
“Oh bukan nonton televisi lho maksud Mama, Shel,”
“Ph, maksud Mama tuh nonton bioskop ya?”
“Iya betul, nggak mau apa? Di rumah terus ‘kan kita. Mumpung Papa kamu tanya tuh mau kemana malam ini. Kayaknya Papa juga lagibosan deh, mungkin lagi pengen jalan-jalan terus ngodein kita. Barangkali Papa bingung mau jalannya kemana makanya nanya ke Mama,”
“Kalau aku sih malas ya keluar r,mah, Ma. Udah nyaman banget ini rebahan sambil baca novel, udah gitu bebas tugas kampus lagi. Uh jarang banget,”
“Ya justru itu mumpung kamu lagi nggak ada tugas, Nak,”
Shelina menatap mamanya dengan mata memicing. Sepertinya sang mama begitu menginginkan keluar dari rumah malam ini.
Kalau Ia tidak ikut nampaknya sang mama harus menahan keinginannya itu dan Ia tidak tega.
“Hmm ya udah okay ayo kita bonton film barbie di bioskop. Aku juga kebetulan pengen nonton itu, pas banget Mama ngajalin,”
Mendnegar ucapan anaknya, Shefia langsung tersenyum sumringah. “Beneran mau, Shel?” Tanya Shefia yang langsung dijawab dengan anggukkan kepala oleh Shelina.
“Iya beneran, Ma. Ayo deh kita nonton, tapi kira-kira Papa mau nggak ya nonton barbie,”
“Mau lah, paoa tuh yang penting jalan-jalan,”
“Ckba tanya dulu ke Papa deh, Ma. Nanti aku tanyain deh, sekarang aku siap-siap dulu ya,”
“Okay,“
Shefia menutup pintu kamar anaknya yang segera menutup novel yang sebelumnya Ia baca kemudian Ia simpan di rak buku-bukunya. Setelaj itu Ia mempersiapkan diri untuk pergi bersama kedua orangtuanya. Shelina hanya mengganti baju, menyisir rambut, menggunakan pelembab wajah dan bibir. Ia menyimpan ponsel dan dompet di dalam sling bag, setelah itu barulah Ia keluar dari kamar.
Ternyata mama dan papanya dudah menunggu di ruang tamu. “Udah dari tadi Mama Papa nungguin aku?”
“Nggak kok, Nak. Cepat kamu kalau dandan, tapi tetap cantik,” puji Gani.
“Ah Papa bisa aja deh, jadi malu nih aku, oh iya Papa keberatan nggak kalau misalnya aku mau nonton barbie?”
“Nggak dong, papa mau kemana aja ayo,”
“Beneran? ‘Kan barbie itu biasnaya yang suka cewek, bukan cowok. Papa beneran nggak keberatan ‘kan?”
“Nggak, Nak. Papa suka-suka aja kok,”
“Okay deh, Pa,”
“Ya udah yuk kita pergi sekarang, Ntar jadinya kemalaman. Mama udha pesan tiket,”
“Mama udha pesan tiket? Wow gercep ya,”
“Ya iya dong, mau punya mantu aja gercep kok,”
“Hah? Maksudnya, Ma?”
“Ya iya, Mama ‘kan udah mau punya mantu bentar lagi, nah itu tandanya gercep,”
“Emang Mama tau gercep apa?”
“Cepat ‘kan?“
“Iya Mama gaul banget ya hahahaha,”
“Iya dong, Mama bakal jadi nenek gaul juga ntar kalau udah punya cucu,”
__ADS_1
“Ya ampun Ma kejauhan deh ngomongnya,”