Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 57


__ADS_3

“Makasih ya udah ngajakin aku ke rumah kamu. Udah diterima dengan baik, pokoknya aku senang banget,”


“Iya sama-sama, sering ya, jangan jarang-jarang,”


“Iya Insya Allah,”


“Kan kata Mama gitu, lo harus sering-sering,”


“Iya okay,”


“Gue langsung balik, makasih juga lo udah mau jalan sama gue,”


“Iya, hati-hati,”


Argantara nenganggukkan kepalanya. Ia mengusap puncak kepala Shelina sekilas kemudian Ia bergegas pulang meninggalkan kediaman Shelina. Ia sudah tenang mengantar Shelina dengan selamat sampai di rumah sekarang waktunya Ia pulang ke rumah.


Argantara, senang sekali bisa menghabiskan waktu bersama Shelina tadi walaupun tidak lama. Tapi setidaknya ada waktu berdua untuk mengobrol.


Setelah Argantara pergi, Shelina langsung masuk ke dalam rumahnya dan memanggil mamanya dua kali namun tak ada jawaban.


Malah Bibi yang menghampirinya.


“Ibu di kamar ya, Mba,”


“Oh gitu, okay makasih, Bi,”


“Sama-sama,”


Shelina langsung menghampiri Mamanya di kamar, memberitahu kalau Ia sudah pulang dari rumahnya Argantara.


“Assalamualaikum, Mama,”


Shefia langsung menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba dibuka oleh putrinya. Ia tersenyum menatap Shelina dan mengisyaratkan Shelina untuk duduk di sebelahnya yang sedang merajut.


“Mama rajut terus nggak bosan apa, Ma?“


“Nggak, ini Mama buatin dompet kecil buat kamu semoga jadi ya,”


“Malasih, Ma,”


“Sama-sama, gimana ke rumah Argantara tadi? Ketemu sama Tante Tina?”


“Iya ketemu, Ma. Aku malah dihidangin pempek yang enaaaakkk banget. Masakannya Tante Tina ternyata enak juga ya, sama kayak Mama aku masakannya,”


“Oh ya? wah berarti kamu harus belajar nanti,”


“Duh percuma juga kayaknya, Ma, nggak bLal seenak masalan tante Tina. Orang belajar dari Mama aja aku nggak bisa bikin masakan yang menyerupai Mama,”


“Bisa, belum waktunya aja untuk benar-benar bisa,”


“Masak pasta aja gosong,”


“Itu ‘kan cuma sekali aja gosongnya, karena kamu nya kelupaan,”


“Iya sih, Ma. Tapi aku emang belum bisa diandelin deh kalau masak-masak itu,”


“Bisa, Mama yakin anak Mama bisa,”


“Aku datang pas Mama nya Arga belum selesai masak. Aku jad nggak enak ‘kan, Ma. Ngerasa udah ganggu kesibukannya tapi Tante Tina bilang jangan ngomong kayak gitu. Aku ngerasa nggak enak soalnya dadakan diajak ke rumah, karena emang Arga benar-benar dadakan banget ngajak aku main ke rumah. Dia bilang mamanya keseringan nanyain aku,”


“Mama pikir emang udah direncanain dari sebelumnya,”


“Nggak, pas dia ngeliat motornya Ganta baru Arga ngajakin aku ke rumahnya,”


“Lho, dadakan gitu ya?”


“Iya, Mama tau nggak alasannya apa?”


Shefia menggelengkan kepalanya. Ia meletakkan rajutannya di atas nakas kemudian menatap anaknya dengan fokus.


“Emang kenapa, Nak?”


“Dia kayaknya cemburu sama Ganta. Biar aku nggak ketemu Ganta, makanya dia dadakan banget ngajak aku ke rumahnya dan emang kebetulan Mamanya udah sering nyuruh dia ngajak aku ke rumah,”


“Hah? Cemburu? Kamu udah jelasin kalau Ganta itu sahabat kamu ‘kan?”


“Udah, Ma. Tapi ya dia tetap aja kayak yang nggak senang gitu kalau misalnya aku dekat sama Ganta,”

__ADS_1


“Oalah, ya wajar juga sih. Namanya juga udah tunangan ‘kan. Kamu harus sewaharnya aja sama Ganta, tau batasan jangan sampai Arga cemburu,”


“Aku biasa aja sama Ganta dari dulu sampai sekarang, Ma. Kalau dia anggapnya berlebihan ya itu urusan dia,”


“Eh iya kamu udha bilang juga ke Ganta kalau kamu udah punya tunangan. Kalau Mama sih kayaknya belum ya. Waktu ketemu Dia sama Mamanya malah nggak kepikiran,”


“Iya ntar aku ngomong deh sama dia,”


“Dan Arga juga nggak senang kalau aku dekat sama Noval, teman SMP aku, Ma,”


“Oalah gitu ya. Dikasih pengertian aja biar nggak salah paham,”


“Padahal dua-dianya teman aku semua,”


“Iya wajar lah kalau ada cemburu-cemburu dikit namanya juga sayang,” goda Shefia sambil menyenggol lengan anaknya dan tertawa.


“Jelaisn juga ke Noval kalau kamu itu udah tunangan. Ya bukan apa-apa sih, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan aja sebenarnya. Memang Noval itu deketin kamu atau gimana?”


“Dia ‘kan ngirim makanan tuh, sering chat aku, Arga curiga gitu ke dia,”


“Curiga apa?”


“Ya curiga kalau Noval suka sama aku, Ma,”


“Hahaha Arga…Arga, emang kamu sebidadari apa sih sampai ngira dua orang suka sama kamu ya? Kayaknya kamu dianggap kayak bidadari banget deh,”


“Iya ih aku juga bingung. Emang aku ini apa sih? Kok dia sampai segitunya ngira kalau cowk-cowok suka sam aaku? Aku ‘kan nggak cantik, biasa aja, aku juga nggak baik,”


“Tuh ‘kan mulai insecure. Malas kalau kamu udah begitu ah. Kata siapa kamu itu nggak cantik nggak baik? Hmm? Kamu itu memang cantikd an baik kok jadi wajar kalau ada yang suka sama kamu, dan bikin Arga ketar-ketir,”


“Harusnya biasa aja, Ma. Orang aku nggak mau macam-macam juga. Tapi Arga nya tuh aneh banget,”


“Eh jangan gitu. Wajar aja kalau ada cemburu-cemburu dikit. Itu bumbu dalam hubungan tau. Kalau nggak cemburu malah aneh dan perlu dipertanyakan dia ada rasa nggak ke kamu? masa iya nggak ada cemburu sedikitpun,”


“Ya udah aku ke kamar aku dulu ya, Mama,”


“Iya, Sayang,”


Shelina langsung bergegas ke kamarnya untuk mandi karena dari kampus belum mandi, langsung ke rumah Argantara, dan ini sudah sore sekali.


*****


“Aman, Ma. Shelina aman udah aku anterin dengan selamat sampai di rumahnya,”


“Alhamdulillah kalau begitu. Ya udah sana bersih-bersih terus istirahat. Jangan keluyuran kamu,”


Argantara langsung bergegas mandi setelah itu langsung mendarat di atas tempat tidur dan memejamkan mata tapi tidak tidur.


“Gue kenapa ya sekarang suka kepikiran Shelina dulu padahal kemarin-kemarin nggak deh,”


Argantara mengambil ponselnya dan membuka galeri untuk melihat foto Shelina yang Ia ambil dari profil whatsapp Shelina.


Ia perhatikan wajah perempuan itu dalam diam, dan senyum hadir tanpa Ia sadari. “Cantik banget dia,” puji Argantara.


“Kok gue bisa kayak gini sih, gue kayaknya udah cinta sama Shelina ya? Udah cinta banget kayaknya,” guman Argantara sambil terus mengamati.


Ketika ada yang menghubungi, Ia sempat kesal karena kesibukannya menatap wajah Shelina harus diganggu.


Tapi setelah tahu kalau yang menghubunginya adalah Shelina, Ia langsung tersenyum dan berbunga-bunga hatinya.


“Halo,”


“Udah sampai rumah ‘kan?”


“Udah, lagi baringan aja. Emnag kenapa, Shel?”


“Nggak apa-apa mau mastiin aja. Ya udah kalau gitu, aku—“


“Eh bentar, ngobrol aja dulu,”


“Lah ‘kan udah banyak ngobrol ya tadi,”


“Ah elah, cuma bentar ngobrol di rumah gue,”


“Nggak juga ah, lumayan lama. Kamu sekarang lagi ngapain?”


“Lagi—ya lagi baringan aja, nggak ngapa-ngapain,”

__ADS_1


“Oh kirain lagi mikirin aku lho hahaha,”


“Kepedean lo ah,”


Argantara dengan gengsinya yang tinggi tidak mengakui kalau Ia memang sedang memikirkan Shelina.


“Biarin, kan harus pede kata kamu,”


“Ya tapi jangan kepedean juga,”


“Iya deh iya,”


“Tapi gue sennag deh kita udah bisa banyak ngobrol kayak gini, kalau dulu ‘kan nggak ya,”


“Ya mana mungkin orang ketemu aku aja kamu bawaannya marah-marah mulu, dan ngobrol di telpon, aku nggak berani soalnya aku takut kena sembur omelan-omelan kamu yang ketus luar biasa itu. Aku nggak mau ambil risiko,”


“Maaf ya,”


Argantara langsung berubah suasana hatinya. Yang sebelumnya senang, tiba-tiba jadi sedih karena Shelina membahas bagaimana Ia di masa lalu dan itu selalu menghadirkan penyesalan dalam dirinya.


“Sekarang gue nggak mau jahat lagi ke lo, Shel udah cukup gue jahat ke lo, sekarang gue nggak mau lagi kayak gitu. Gue benar-benar nyesal, Shel,”


“Iya, bagus lah kalau ada penyesalan jadi itu artinya kamu emang merasa bersalah,”


“Jangan balas dendam pakai cara uang lo sebut tadi ya, pliss jangan,”


“Hehehe, yang bikin kamu cemburu itu ya?”


“Iya, jangan ya?”


“Hmm liat nanti deh,”


“Aduh, Shel….jangan lah. Lo kenapa sih nggak kau dengar omongan gue? Kok jahat sih, Shel?”


“Hahaha nggak-nggak, aku bercanda. Ammaku juga udha ngomong kok,”


“Ngomong apa?”


“Aku ‘kan udah cerita sama Mama kalau misalnya kamu nggak senang aku dekat Noval sama Ganta. Mama bilang hargai perasaan kamu. Dekat sewajarnya aja sama Ganta Noval,”


“Padahal ya, aku selalu biasa aja tau kalau berteman sama lawan jenis, nggak pernah lebih dari wajar,”


“Ya tapi mereka nya mau gitu juga nggak? Yang gue liat sih nggak ya apalagi si Ganta, dia udah niat banget itu deketin lo. Keliatan dari gerak geriknya, lo anggao dia teman tapi dia nya lebih, dari matanya kalau natap lo aja udah bisa ditebak kok,”


“Ya udah biarin aja deh, nggak usah kamu pikirin itu,”


“Gue sebenarnya nggak mau juga ya terlalu over protektif dan posesif ke lo, tapi kalau udah ngeliat gelagat cowok yang jelas-jelas naksir sama lo masa iya gue cuma diam aja?”


“Ya udah lah daripada mikirin mereka lebih baik mikirin aku aja, Ga,”


“Udah, gue lagi liatin foto lo malah,”


Alih-aluh ingat dengan gengsinya tadic sekarang argantara malah kepeasan jujur dan entah kemana perginya gengsi itu.


“Hahahaha ngaku juga dia,”


“Bercanda,”


“Masa sih? Yah aku kecewa,”


“Nggak-nggak, gue beneran kok,” entah kenapa Argantara sekarang tidak bisa membuat Shelina kecewa ataupun sedih.


“Beneran apa?”


“Ya beneran tadi, mikirin lo,”


“Kenapa emang?”


“Ya nggak kenapa-napa, kepikiran aja,”


“Hmm gitu, ya udah aku tutup teleponnya ya,”


“Ya udah doang, kirain mah ngomong apa gitu ya,”


“Aku harus ngomong apa? Makasih ya udha mikirin aku, Argantara. Tapi nggak usah keterusan mikirin aku takutnya stres. Udah ya, bye Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalma dih nyumpahin gue stres? Bisa-bisanya nih orang,”

__ADS_1


Argantara langsung meletakkan ponselnya dengan kesal di sebelah bantalnya. “Sembarangan! Mana mungkin gue stres gara-gara mikirim Shelina,”


__ADS_2