
“Kayaknya udah lengkap deh, Ga. Coba kamu bantu aku untuk cek,”
“Kamu nggak bawa catatan, Sayang?”
“Nggak, aku udah bawa dari rumah tapi ilang sampai kampus. Ah nggak tau nyelip dimana. Tapi aku udah tau apa aja yang dibutuhin,”
Shelina memastikan bahwa semua yang Ia butuhkan dan harus dibeli sudah masuk ke dalam troli. Setelah itu Ia mengangguk.
“Semua kebutuhan udah, kecuali untuk di dapur daging-dagingan sama buah belum,”
“Nah itu masih ada yang ketinggalan berarti, Ki,”
“Nggak ketinggalan, aku ingat kok. Maksud aku, kalau bahan makanan belum, tapi yang lain udah semua Insya Allah. Makanya sekarang kita geser ke tempat bahan makanan telur, ayam, daging, ikan, cumi, udang,”
Keperluan rumah tangga untuk bersih-bersih rumah, mandi, semuanya sudah Shelina pastikan ada semua. Tinggal bahan makanan saja.
Argantara mengikuti saja kemana istrinya melangkah. Argantara mendorong troli, sementara Shelina berjalan di depannya.
Setelah tiba di tempat bahan makanan, Shelina langsung bersorak pelan “Yeayy ke dunianya aku nih,”
“Iya si doyan masak,”
“Nanti buat makan malam kamu mau dibuatin apa?”
__ADS_1
“Sop ayam kampung, boleh nggak?”
“Boleh banget dong. Ayam kampung nggak pernah lupa aku beli,”
Shelina mengambil ayam kampung, daging sapi, telur ayam, udang, cumi, ikan, dan bumbu dapur. Setelah itu Ia memilih buah. Yang ada di sana kebetulan hanya jeruk, pisang ambon, naga, dan semangka saja.
“Udah yuk, Ga,”
“Udah cukup?”
Shelina menganggukkan kepalanya. Setelah itu Argantara mendorong troli ke kasir untuk melakukan pembayaran.
“Sayang, ambilin aku bir dong,” bisik Argantara ketika semua belanjaan sedang dihitung total harganya.
“Hah? Ngapain sih minum itu?”
“Bir yang ada alkohol itu ‘kan?”
“Iya tapi dikit doang,”
“Ih nggak usah aneh-aneh deh! Waktu itu aku dinasehatin supaya nggak minum yang begituan, padahal waktu itu aku nggak sengaja karena aku taunya itu minuman biasa. Eh sekarang kamu malah mau minum yang begituan?”
Argantara tertawa karena melihat raut wajah istrinya. “Aku bercanda doang kok, Sayang,”
__ADS_1
“Ih kamu nggak jelas banget,”
“Nggak-nggak, aku cuma bercanda doang kok, jangan kesal gitu dong mukanya,”
“Nggak serius?”
“Hahaha nggak lah, aku sukanya kopi, teh, sama jus. Udah deh yang kayak gitu-gitu aja,”
“Nah ya udah lebih baik itu daripada bir segala. Ngapain coba?”
“Iya, aku cuma bercanda, Sayangku,”
Argantara mengusap puncak kepala Shelina yang mengira kalau Ia benar-benar mau minum bir. Sementara minuman yang lain ada banyak jenisnya. Minum alkohol lebih banyak risikonya.
“Kamu jadinya mau minum apa? Biar aku ambilin, mumpung masih dihutung total belanjaan kita,”
“Kopi aja, aku lupa ngambil tadi. Tolong ambilin ya, Sayang,”
“Okay, tunggu sebentar ya,”
Shelina segera mengambil dua botol kopi kemasan untuknya dan sang suami setelah itu Ia langsung meletakkannya di atas meja kasir supaya dihitung sekalian dengan belanjaan mereka yang lain.
“Nanti kita antar belanjaan dulu ke rumah ‘kan? Baru ke hotel nya?”
__ADS_1
“Iya begitu aja, sekalian ambil baju. Bawa baju dikit aja, ‘kan cuma dua malam aja,”
Shelina menganggukkan kepalanya. Sampai di rumah, Ia punya tugas untuk mengemas perlengkapan menginap di hotel.