Tunangan Galak

Tunangan Galak
Bab 93


__ADS_3

“Yang ngefans sama tunangan lo emang banyak kok, Shel. Seriusan dah, gue nggak bohong,” sambung Tita sambil mengangkat dua jarinya yaitu jari tengah dan telunjuk untuk membuktikan bahwa dia memang benar-benar jujur berkata seperti itu berdasarkan apa yang Ia ketahui.


“Termasuk gue fans nya. Gue ngefans banget sama Arga, cuma fans tapi ya, jangan salah paham,”


“Ya ampun, Lifa. Iya, aku tau kok. Kamu kenapa khawatir banget aku salah paham?”


Shelina mengusap lengan Lifa yang sudah dua kali menegaskan kalau dirinya hanya sekedar menyukai ketampanan Argantara, sekedar jadi fans, tidak lebih.


“Ya gue takut aja lo salah paham gitu ‘kan. Gue nggak mau pertemanan kita jadi renggang gara-gara itu hahahah. Eh tapi lo bukan tipe yang kayak gitu deh kayaknya,”


“Iya, aku paling males berantem soal cowok makanya selama ini nggak pernah pacaran. Karena mikirnya bakalan ribet punya pacar, terus takut malah ada konflik sama teman karena inilah itulah, jadi mendingan single deh,”


“Eh serius lo selama ini single?”


Shelina menganggukkan kepalanya. Ia tidak berbohong. Memang selama ini Ia belum pernah memiliki kekasih.


“Ya ampun, padahal cantik,”


“Ah kamu jangan gitu. Nanti aku terbang lho dipuji sama kamu, Lif,”


“Masa iya sih lo nggak pernah pacaran? Padahal lo hampir sempurna. Udah cantik, baik, sopan, nggak neko-neko anaknya, kok nggak pacaran?”


“Ya karena nggak neko-neko itu kali ya makanya aku nggak mau pacaran,”


“Oh iya bener, lo pengen hidup lo lurus-lurus aja ya? Kalau pacaran ‘kan bisa belok ke jalan yang nggak benar, nah itu bahaya,”


“Aku nggak mau pacaran tunangan aja, ribet dan dosa juga,”


“Ih pinter,”


“Aku udah ribet sama kuliah, jadi nggak mau tambah ribet dengan punya pacar. Biarin aja deh teman-teman aku pada punya pacar, katanya sih untuk nyemangatin belajar, tapi kalau aku takutnya malah nggak bisa fokus setelah punya pacar. Ditambah lagi, dosanya aku jadi nambah dong kalau pacaran. Dosa aku aja udah setumpuk gunung, malah nambah kalau pacaran,”


“Top prinsipnya, semoga gitu terus ya, sampai nikah sama Arga, cihuyyy,”


“Kalau kalian gimana? Aku penasaran, boleh tau nggak kalian pernah pacaran? Terus kalau pernah, berapa lama?”


“Gue pernah sekali,” jawab Lifa.


“Gue pernah dua kali, abis itu jomblo mulu. Gue pacaran pas SMA,” Tita ikut bercerita tentang kisah percintaannya.


“Nah sama, gue juga pas SMA. Itupun cuma setahun abis itu putus,” jelas Lifa.


“Kala gue ya, pertama pacaran itu cuma dua bulan, nah yang kedua tuh lumayan sekitar satu setengah tahunan lah,” Tita tak mau kalah juga untuk berbagi cerita kepada Shelina yang penasaran.


“Oh pas SMA? Selama kuliah belum pernah berarti?”


“Belum, dekat-dekat doang tapi nggak jadian,”


“Jiahh curhat dia,”


Lifa mendorong bahu Tita yang baru saja bercerita bahwa selama masa kuliah ini, Ia belum pernah punya pacar lagi, tapi kalau dekat dengan laki-laki pernah beberapa kali, hanya saja tak pernah sampai menjadi pacar.


“Kalian disuruh sama Allah untuk fokus kuliah dulu, jadi belum didatengin cowok yang pas deh,”


Tita dan Lifa langsung menatap satu sama lain. Ucapan Shelina langsung masuk ke hati dan pikiran mereka yang masih suka merasa iri ketika tahu teman punya kekasih, senentara mereka tidak.


“Ih kok lo omongannya bikin adem sih,”


“Bukan maksudnya menggurui atau gimana ya, tapi menurut aku nggak punya pacar jangan dipikirin, fokus aja dulu sama kuliah. Ntar jodoh nyusul,”


“Tapi jujur suka iri sama teman kalau punya pacar, Shel,” aku Lifa.


“Iya emang, tapi hilangin aja rasa iri itu, karena sebenarnya pacaran itu nggak penting, menurut aku lho ya. Lebih banyak sisi negatifnya. Nanti kalau udah selesai pendidikan nih, cari deh cowok yang pas sama kalian. Atau bisa jadi tanpa perlu kalian cari, orang itu datang ya karena emang udah waktunya untuk dipertemukan,”


“Duh adem banget kata-kata lo, jadi ngefans sama lo deh, selain ngefans sama Arga,”


“Jangan ngefans sama aku, soalnya aku bukan siapa-siapa,”


“Kata siapa? Orang lo tunangannya Arga,”


“Ya baru tunangan, ‘kan belum lebih,”


“Eh kok ngomong gitu sih?”


Shelina langsung menutup melipat bibirnya ke dalam ketika mendapat peringatan dari temannya, Lifa yang kini menatapnya tajam.


“Aku salah ya?”


“Lo ngomong gitu emang nggak bakal lebih dari sekedar tunangan? Hmm?”


“Tujuan tunangan tuh pengen ke pernikahan ‘kan, Shel?”


“Iya,”


“Nah ya udah jangan ngomong kayak tadi lagi,”


Shelina menganggukkan kepalanya. Ia hanya ragu saja, entah akan berakhir seperti apa pertunangannya dengan Argantara. Ia tidak bisa memastikan apakah akan berlanjut sampai ke pelaminan atau tidak. Mengingat Argantara sangat membencinya, dan Argantara yakin ada banyak cara yang bisa Argantara lakukan. Shelina pasrah saja kalau memang Argantara ingin membatalkan pernikahan itu. Yang jelas Shelina sudah berbakti pada orangtuanya. Shelina sendiri tidak akan mundur dari apa yang sudah Ia mulai. Tapi kalau Argantara mundur, maka terpaksa Ia akan ikut tertarik untuk mundur.


“Eh lo tau nggak mantannya Arga?” Tanya Lifa.


Shelina langsung menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Lifa. Beberapa kali Ia dengar dari mulut Argantara menyebut nama Alya. Tapi Ia sendiri tidak tahu seperti apa rupanya Alya dan bagaimana karakternya. Argantara mengaku sangat mencintai Alya, dan posisinya tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun.


“Mantannya pernah kuliah di kampus kita, Shel. Tapi nggak tau deh sekarang kemana,”


“Oh ya? Mereka berapa lama pacarannya kalian tau nggak?”


“Lumayan sih dari semester awal-awal kalau nggak salah tapi pastinya nggak tau deh udah berapa lama. Sorry ya kalau gue ngomong gini, tapi mereka emang keliatan saling cinta banget, pulang pergi hampir tiap hari bareng, terus keliatannya akur-akur aja gitu, walaupun Arga banyak yang naksir, tapi mereka tetap adem ayem. Ya mungkin Alya nggak khawatir kali ya karena ‘kan Arga cinta banget sama dia, jadi Alya bodo amat sama cewek-cewek yang naksir itu, dan Arga sih emang dari dulu cuek, kecuali ke Alya,”


“Oh namanya Alya?”


“Iya, cakep sih cewek ya, tapi kata gue lebih cakep elo,”


“Nggak ada yang lebih dari aku, Ta. Buktinya Arga benci banget sama aku,” batin Shelina.


“Bener kata Tita, Alya cantik, tapi cantik lo, mukanya adem, dari muka aja udah keliatan kalau lo tuh orangnya lembut, dan setelah kenal eh beneran lembut ternyata,”


“Kalau Alya sendiri gimana orangnya?”


“Nggak dekat sama dia, Shel, soalnya ‘kan nggak sekelas. Dan jarang jadi perbincangan hangat nggak kayak cowoknya tuh yang banyak fans. Paling dia diomongin ya karena jadi pacarnya Arga, ada pro dan kontra tapi mereka tetap aja tuh awet. Nah yang gue bingung si Alya nggak pernah keliatan lagi di kampus, tapi gue juga nggak tau sih sebabnya apa. Mungkin dia pindah kampus, dikeluarin karena satu dan lain hal,” jelas Tita.


“Udah nggak usah dipikirin, Shel. Alya itu ‘kan mantannya Arga. Tita cerita kayak tadi bukan mau bikin lo kepikiran ya, Tita cuma pengen lo tau aja tentang Alya sama Arga karena lo ‘kan juga penasaran bahkan nanya,”


“Iya aku paham kok, lagian ‘kan aku yang nanya sama kalian, jadi wajar kalau kalian jelasin karena emang aku yang penasaran, makasih ya udah cerita,”

__ADS_1


“Itu doang yang kita tau, Shel. Selebihnya nggak tau lagi deh,”


Shelina menganggukkan kepalanya. Sekarang Ia tahu gambaran hubungan Argantara dan mantan kekasihnya seperti apa. Kalau dari cerita temannya, hubungan Argantara dan Alya itu harmonis, saling mencintai, dan tidak peduli dengan apapun yang ada di luar hubungan mereka sehingga hubungan mereka bisa berdiri kokoh. Sejujurnya Ia bingung kenapa hubungan mereka bisa berakhir. Padahal mereka saling mencintai dan dari luar kelihatan baik-baik saja.


“Eh jangan bengong! Lo nggak apa-apa ‘kan?”


“Santai, aku nggak apa-apa,”


“Jangan overthingking, Shel. Mau gimanapun mantannya Arga, tetap lo yang menang, karena lo yang dipilih Arga, bahkan kalian udah tunangan,”


“Aku cuma bingung aja sih kok bisa ya mereka sekarang jadi jauh?”


“Kalau kata gue sih. Mereka putus baik-baik, terus Alya mutusin untuk pindah, mungkin karena nggak mau dekat sama Arga kali, atau emang dia ada kepentingan di luar sana makanya menjauh dari Arga, nah si Arga tunangan sama lo,”


“Aku tunangan sama Arga karena dijodohin,”


“Iya nanti cinta bakal datang dengan sendirinya kok seiring dengan terbiasanya kalian bersama jiahhh omongan gue baku amat deh hahaha,”


“Iya gue rasa mereka putus baik-baik sih. Terus Alya pindah, nah Arga dijodohin sama orangtuanya, tunangan deh sama lo,”


*****


“Aku diusir ini?”


“Gue nggak usir lo. Ini mobil tiba-tiba mati, lo ‘kan tau sendiri, masa mesti gue kasih tau lagi sih?”


Shelina sedang merasakan perutnya itu sakit, makanya Ia enggan untuk keluar dari mobil Argantara.


Hari ini Argantara mengajaknya pulang bersama, dan lagi-lagi karena suruhan mamanya.


Intinya kalau Argantara berbuat baik, mengajaknya berangkat atau pulang bersama, itu pasti ada campur tangan Tina.


Shelina terlihat berat sekali keluar dari mobil, dan itu membuat Argantara jadi kesal. “Lo kenapa sih?”


“Nggak apa-apa,”


“Muka lo cemberut aja, lo nggak ikhlas gue suruh turun bentar?”


“Emang kenapa aku disuruh turun? Kita mesti dorong mobil kamu ya?”


“Siapa yang nyuruh lo dorong mobil?”


Shelina menatap Argantara bingung. Ia disuruh turun dari mobil, bukankah ada tujuan? Biasanya kalau mobil mogok ya didorong oleh penumpang mobil itu sendiri. Lalu salahkah kalau Ia berpikir seperti itu?


“Terus mau apa, Ga?”


“Ya kita naik taksi aja kalau setelah gue cek gue nggak nemu masalahnya dan mobil tetap nggak bisa nyala,”


Shelina menganggukkan kepalanya. Lantas Ia melepaskan seatbelt yang mengurungnya dari kampus sampai setengah perjalanan ke rumahnya.


Argantara memeriksa mesin mobilnya dan Ia yang sebenarnya tak begitu paham soal mesin bingung sekarang apa masalah mesin mobilnya? Sampai-sampai mobilnya mendadak mati.


“Gimana, Ga?”


Shelina melihat tunangannya itu mengutak-atik sebentar, kemudian masuk ke dalam mobil dan ternyata tidak hidup juga.


Argantara keluar lagi dari mobil dan memghembuskan napas kasar. Shelina sudah tahu apa yang skan terjadi selanjutnya.


“Terus mobil kamu gimana, Ga?”


“Ya nggak gimana-gimana, nggak bakal ilang juga,”


“Ih jangan remehin gitu. Takut diapa-apain sama orang,”


“Lo tenang aja, gue minta tolong sama supir bokap nanti buat ngambil ke sini,” jelas Argantara yang akhirnya memilih untuk pulang dengan taksi saja alih-alih mengharapkan mobilnya hidup.


“Mobil kamu kenapa ya kira-kira? Rusaknya dimana? Terus ini beneran aman?”


“Lo bisa jangan cerewet nggak?”


Shelina langsung mengatupkan bibirnya mendnegar ucapan Argantara. Padahal Ia hanya bertanya, karena jujur meninggalkan mobil Argantara di jalanan yang sepi seperti saat ini, rasanya mengkhawatirkan.


“Aku minta maaf ya udah ngerepotin kamu. Harusnya kamu langsung pulang ke rumah dan mungkin mobil kamu nggak bakal mogok kayak gini,”


“Apaan sih? Dikit-dikit minta maaf. Emang udah takdirnya dia mau mogok. Ngapain dipikirin banget? Nanti jyga udah ada yang ngurusin,”


Argantara yang punya mobil saja santai, tapi Shelina malah yang kelihatannya kepikiran karena mobil Argantara tiba-tiba berhenti.


“Aku pulang sendiri aja nggak apa-apa kok, Ga. Lagian ini ‘kan udah dekat sama rumah aku. Kamu langsung pulang aja ke rumah kamu, gimana? Aku naik ojek online,”


“Emang kenapa nggak mau naik taksi bareng gue?”


“Bukan nggak mau, tapi nanti supirnya jadi nganterin dua orang,”


“Ya terus kenapa? Yang penting gue bayar sesuai tarif,”


“Nggak usah, aku bayar sendiri aja, Ga,”


“Lo ngeremehin gue berarti, lo anggap gue nggak mampu buat bayar—“


“Eh nggak-nggak, bukan gitu maksud aku sumpah. Aku nggak anggap remeh kamu. Tapi malah aku nggak enak sama kamu kalau kamu bayarin,”


“Ya udah naik taksi bareng gue,”


“Biar sama-sama cepat sampai rumah, bukannya lebih enak naik ojek knline aja ya kita? Aku ke rumah aku, dan kamu ke rumah kamu,”


“Terus kalau lo nggak sampai rumah gimana? Nyokap lo ngomong ke nyokap gue, dan gue disalahin, lo mau tanggung jawab? Hmm?”


Shelina akan sampai rumah, Shelina pastikan itu karena memang Shelina tidak ada tujuan selain rumah untuk saat ini.


“Aku mau langsung pulang ke rumah kok,”


“Nggak keluyuran?”


“Nggak,”


“Kalau gue nggak percaya?”


“Ck, terserah kamu deh,”


“Biar gue percaya ya bareng aja naik taksi. Ntar gue bilang ke driver tujuannya ada dia,”


“Emang bisa begitu?”

__ADS_1


“Ya ntar gue omongin, masa iya dia nggak mau sih? Lagian ‘kan nggak gratis,”


Entah kenapa Shelina merasa Argantara itu seperti ingin sekali memastikannya sampai di rumah. Padahal Ia sudah yakinkan bahwa Ia tidak akan kemana-mana selain rumah, tapi Argantara sulit sekali percaya.


******


“Arga, makasih ya udah anterin aku sampai rumah dengan selamat. Mobil kamu semoga nggak apa-apa ya,”


“Iya, gue balik dulu,”


“Hati-hati, Waalaikumsalam,”


“Eh gue aja belum ucap salam, kenapa lo udah—“


“Oh iya baru ingat,”


Shelina menepuk pelan keningnya. Terlalu gugup berhadapan dengan Argantara yang entah kenapa kalau Ia lihat semakin hari, semakin tampan.


“Ini lagi mau ucap salam, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


“Gue lagi mau mesen ojek dulu,”


“Sambil duduk di dalam yuk, mau ‘kan? Mau lah, daripada di luar,”


Shelina sedikit memaksa supaya tunangannya itu duduk di ruang tamu. Daripada berdiri sambil menunggu kedatangan ojek online nya.


“Ayo, aku buatin minum,”


“Nggak usah,”


“Kok nggak usah? Ayo duduk aja dulu, daripada kamu cuma berdiri. Capek tau, Ga,”


Shelina berusaha supaya Argantara mau duduk di ruang tamu. Akhirnya Argantara mengangguk setuju. Shelina tersenyum senang. Ia langsung membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan Argantara masuk namun Argantara mepihat ada kursi di teras jadi Ia duduk di sana. Shelina mengernyit bingung.


“Kok disitu sih? Ayo duduk di tuang tamu aja. Ada Mama aku kok di dalam, tenang aja kita nggak cuma berdua,”


“Nggak, gue di sini aja,”


“Oh gitu, ya udah, aku ambil minum buat kamu ya,”


“Nggak usah, ngapain sih repot amat? Gue di sini cuma buat numpang nunggu ojek doang,”


Ujar Argantara dengan ketus. Ia tidak mau Shelina sampai mengambil air minum untuknya, diberikan tempat duduk saja Ia sudah bersyukur.


“Nggak apa-apa, santai aja,”


Shelina bergegas masuk ke dalam rumah meninggalkan Argantara di teras. Argantara mengamati layar ponselnya, memastikan driver yang akan menjemputnya semakin dekat bukan malah semakin jauh.


“Yah elah, pake dibatalin pula,”


Akhirnya Argantara order lagi. Tidak lama kemudian Shelina keluar dengan membawa gelas berisi teh hangat dan juga kue.


“Barusan dibatalin,”


“Ya udah nggak apa-apa, udah pesan lagi ‘kan?”


“Udah,”


“Ini silahkan dinikmati yang ada ya. Nggak apa-apa dibatalin, aku nggak ngusir kamu juga kok, makan sama minum aja dulu,”


“Thanks,”


Argantara menyeruput teh hangat yang dibuat oleh Shelina. Setelah itu Ia menatap Shelina yang juga menatapnya.


“Kenapa lo ngeliatin gue?”


“Nggak apa-apa, senang aja kamu mau minum teh buatan aku. Eh itu kuenya dimakan,”


“Lo yang buat kue?”


“Nggak sih sebenarnya, Mamaku yang bikin. Oh iya Mamaku lagi di kamar istirahat,”


“Ya nggak apa-apa nggak usah diganggu,”


Melihat Argabtara mau mencoba kue yang Ia sajikan, Shelina semakin senang rasanya. Apalagi interaksi mereka sekarang, tidak didmoninasi oleh galaknya Argantara.


“Enak kuenya,”


“Makasih, kamu suka?”


“Ya, cocok di lidah gue, manisnya pas,”


“Mamaku emang nggak pernah gagal bikin kue,”


“Lo nggak belajar?”


“Belajar bikin kue?”


“Ya iyalah, masa belajar bikin rumah, itu mah nanti kalau udah nikah,”


Shelina terkekeh, Ia pikir belajar yang lain. Otaknya belum tersambung ke persoalan kue jadinya bertanya.


“Udah belajar, tapi belum berani bikin sendiri,”


“Terus kapan beraninya?”


“Ya…nanti aku beraniin deh,”


“Lo kalau takut mulu nggak bakal tau sebenarnya lo udah beneran bisa atau belum?”


“Iya iya nanti aku coba bikin kue sendiri,”


“Gue penasaran gimana rasanya,”


“Kamu yakin? Sandwich dari aku aja dibuang waktu itu. Sekarang aku bersyukur kue ini nggak kamu buang juga,”


Shelina tidak bermaksud untuk mengungkit kejadian yang sudah berlalu. Tapi Ia hanya tidak yakin saja Argantara benar-benar ingin tahu bagaimana rasa kue yang Ia buat.


Tiba-tiba Argantara langsung meraih tangan Shelina dan menggenggamnya dnegan erat sambil menatap Shelina dengan sorot mata yang lembut.


“Gue minta maaf untuk semua kesalahan gue ya, Shel. Tolong maafin gue. Gue janji nggak akan ngulangin kesalahan yang pernah gue lakuin dulu ke lo,”

__ADS_1


__ADS_2