
Sepanjang perjalanan menuju bandara, keluarga kecil itu bercengkrama hangat satu sama lain. Seperti tak akan habis cerita yang bergantian mereka bagi.
Mulai dari ayah yang dikejar kejar mahasiswa yang sudah semester 12 baru mau menyusun skripsi, sampai cerita Ibu yang kesal dengan drama hidup salah satu tokoh dalam serial India di salah satu TV Indonesia.
Dimana ada keluarga ini pasti selalu ada kehebohan. Hingga tak terasa mobil mereka sudah memasuki area bandara.
Mobil berhenti tepat di depan halaman depan bandara, setelah menurunkan ayah,ibu dan adiknya untuk masuk terlebih dahulu, Ridwan memarkirkan mobil dan ikut masuk ke dalam. Waktu masih cukup panjang sehingga mereka tidak harus terburu-buru.
Seseorang melambaikan tangan kepada Wiya dari kejauhan, ternyata Ilham sudah lebih dulu sampai. Wiya dan keluarganya pun menghampiri Ilham. Ilham mencium tangan keluarga Wiya satu persatu kecuali bang Ridwan. Mereka hanya bersalaman biasa.
“Nak Ilham, Ayah minta tolong liat liatin anak gadis Ayah lagi.“
Ucap Pak Ilyas menepuk pundak Ilham sambil tersenyum ramah.
“Ayah gimana sih? Ada juga Wiya yang liatin Pak Ilham yah. Kan Wiya yang asistennya.” Dengus Wiya pada ayahnya.
“Iya yah, Insya Allah, Wiya dalam tanggung jawab saya selama kami disana sampai pulang nanti.” Jawab Ilham.
“Terimakasih nak Ilham.“ Ibu tersenyum, ada kelegaan dibaliknya.
“Sama-sama Ibu.”
Lalu mereka berjalan lagi sampai berhenti di depan gerbang keberangkatan, sekali lagi Ilham dan Wiya berpamitan.
Tak lupa ayah,Ibu dan juga bang Ridwan mencium kening bidadari kecil mereka. Setiap kali Wiya akan berangkat memang se-dramatis ini.
“Hati-hati bro, titip adek gue!“ Ucap Ridwan setelah mencium kening adiknya.
“Iya bang, pamit ya!”
Keluarga Wiya pun berlalu setelah melambaikan tangan sampai Wiya benar-benar terhalang oleh kaca hitam ruang
__ADS_1
keberangkatan.
***
Ruang keberangkatan
Setelah memberikan kartu identitasnya kepada Wiya, mereka menuju counter untuk check in sekaligus untuk daftar bagasi, mengingat Wiya membawa koper dan tidak memungkinkan untuk dibawa ke kabin. Ilham menghentikan langkah Wiya seperti baru mengingat sesuatu.
“Eh iya wiy, lupa mau nyampein ke kamu. Semalam Rifa bilang Pak Zayn akan ikut berangkat bareng kita pagi ini. Tapi kok belum keliatan ya Wiy?“ Ucapnya santai sambil menyapu pandangan ke sekeliling.
Pak Zayn ikut ?
“Kok tiba-tiba ikut sih Pak, mau ngapain coba?“
Ilham menautkan alisnya, sedikit aneh memang asistennya ini ternyata.
“Ya terserah Pak Zayn dong Wiy, punya dia ini”
Senyum Ilham semakin aneh.
“Kamu gak senang ya Pak Zayn ikut? kamu takut pak Zayn ganggu kita?“ Ilham sedikit melakukan penekanan pada intonasi kata “KITA” . Sambil memainkan kedua alis tebalnya yang turun naik keluar dari kacamata.
“Astaghfirullah!“ ucap Wiya tak kalah penuh penekanan.
“Wiya, ini pertama untuk Pak Zayn, dia pasti ingin tau bagaimana teknis pembukaan outlet baru di lapangan. dan pula menurut Rifa beliau hanya akan satu hari saja, setelah grand opening akan langsung kembali.“ Jelas Ilham pada asistenya.
Di depan pintu gerbang, Zayn ternyata sudah sampai. pria berdarah jawa-melayu itu tampak lebih casual dari biasanya, dengan t-shirt berwarna abu-abu muda dan jaket kulit hitam, (author tidak bisa pastikan apakah itu kulit ular atau kulit buaya) Semakin berkarisma dengan kaca mata berwarna hitam. Hanya ada ransel kecil di pundaknya sepertinya dia memang tidak ingin berlama lama disana.
Dia mau pergi kerja?
Atau mau shooting my trip my adventure?
__ADS_1
Batin Wiya, saat Bossnya semakin mendekat ke arah mereka berdua. Ilham pun santai menyambutnya.
“Nunggu lama ya?”
Zayn berucap datar, datar sekali seperti pematangan lahan yang akan memulai pembangunan, sambil membuka kaca mata hitam itu dan melipat-gantungkan di bagian leher t-shirt nya.
“Gak apa apa pak, masih 20 menit kok sebelum check in.“ Balas Ilham, sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
“Maaf Pak, Kartu Identitasnya, untuk check in“ Pinta Wiya sok ramah sambil menengadahkan telapak tangan
Zayn tidak langsung memberikan kartu identitasnya kepada Wiya, bahkan dia tidak memperhatian sodoran telapak tangan itu. Ia menyodorkan kartu identitasnya kepada Ilham untuk diberikan kepada asistennya. Dengan sabar Wiya menurunkan telapak tangannya. Hampa.
Yaudah sana check in aja sendiri!
Ilham memberikan kartu identitas itu kepada Wiya, mereka bertiga berjalan menuju check in counter dan setelah selesai langsung naik ke ruang tunggu gate 8 .
Karena check in bersamaan, mereka mendapatkan nomor kursi yang berurutan, Zayn yang kehabisan tiket kelas bisnis santai saja walau harus ikut duduk di standar class Bersama dengan dua karyawannya.
Pramugari menunjukan seat untuk mereka bertiga, Ilham mempersilahkan Wiya yang sudah siap dengan bantal leher doraemonnya, untuk duduk di samping jendela.
Sedikit sungkan, dia mempersilahkan pula pak Zayn memilih seat nya, Zayn pun memerintahkan Ilham saja yang duduk di tengah. Ini aneh bagi Ilham, pertama saat bos besarnya yang terpaksa ikut mereka duduk di standar class dan yang kedua dia harus duduk di tengah antara boss nya dan asistenya.
105 menit yang canggung selama penerbangan berlangsung.
Arrived Safely at Kuala Namu
International Airpot
“Alhamdulillah“ Ucap Wiya penuh syukur.
***
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya