Utuh

Utuh
SEASON II : EPS 15


__ADS_3

Pagi kamis yang manis. Mengetahui jadwal suaminya yang harus berangkat sepagi mungkin, Wiya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Wiya begitu cekatan dan telaten melayani kebutuhan Zayn, sehingga walau harus berangkat sebelum matahari naik tinggi, Zayn tidak harus tergesa-gesa dan tetap bisa menikmati sarapan pagi.


Wiya melepas kepergian suaminya dari depan pintu sampai mobil yang membawa suaminya menghilang dari balik pagar tinggi rumah mereka. Sebenarnya sejak tadi Wiya menunggu suaminya mengucapkan sesuatu tentang hari ini, tapi Zayn berangkat kerja tanpa memberi ucapan apa-apa.


Tapi Wiya tak ingin kekanak-kanakan lagi. Ini adalah hari ulang tahun pertama pernikahan mereka, Wiya tak ingin merusaknya dengan hal-hal yang tidak penting. Lagipula suaminya harus pergi berkerja, ada pertemuan pagi yang jauh lebih penting dari sekedar mengucapkan hal itu.


Wiya kembali ke dapur untuk melanjutkan sarapan usai mengantar suaminya. Ayah juga tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.


"Kamu mau pulang sekarang? Ayo ikut ayah sekalian," tawar ayah


"Engga yah, aku mau masak dulu sama Ibu. Nanti mas Zayn yang jemput kok," ucap Wiya antusias.


"Oh yasudah kalau begitu, ayah pergi dulu ya," Ayah Ilyas mencium kening anaknya dan beralalu.


Wiya menyelesaikan makanannya dan membantu ibu mencuci piring bekas sarapan. Setelah dapur kembali bersih, Wiya berpakaian untuk membeli bebarapa bahan makanan yang sudah dia catat dari grup kelas memasak.


"Bu, Mamang yang jualan sayur masih sering lewat gak sih?" tanya Wiya pada Ibunya yang sedang membuka toko.


"Masih Wiy, tumben deh kamu. Gak pernah-pernahnya, mau beli apa? nanti ibu yang belikan aja," ujar Ibu Ria.


"Kan Wiya mau masak buat Mas Zayn bu, jadi biar Wiya aja yang beli. Udah lama kan gak pernah keluar komplek sini," sambil membantu Ibu memindahkan kursi.


"Yasudah terserah, paling sebentar lagi lewat itu mamangnya, mau bikin apa sih memangnya?"


"Eheheh, gulai daun singkong bu," cengir Wiya.


"Ikan asinnya jangan lupa," imbuh Ibu sambil tertawa.


Saat toko sudah selesai dibersihkan, Ibu mengubah signboard yang bergantung di pintu kaca. Dan tampaklah tukang sayur keliling mengayuh kereta dengan gerobak sayur besar yang sarat muatan. Beragam sayuran hijau dan plastik-plastik yang bergantungan. Dia berhenti tepat di bawah pohon ketapang besar sebrang jalan di taman komplek.


"Tuh Wiy, mamangnya," seru Ibu.


"Ah iya, oh ya bu. Tapi aku gak punya uang,"


"Nah gimana sih? Mau beli sayur tapi gak punya uang. Suaminya gak ngasi jatah belanja neng?"


"Pinjemin kek bu, masa iya belanja sayur pake kartu?"


"Hem..hemmm...itu di laci pake dulu. Catet loh ya,"


"Ahahaha. Iya bu..iya"


Wiya mengambil beberapa lembar puluhan dari laci milik Ibu Ria. Lalu dia meraih kaos kaki, memakai sendal rumah dan langsung menuju ke tukang sayur yang sekarang sudah dikerumuni para penggemarnya.


Wiya sedikit menyapa beberapa ibu yang dikenalinya disana. Diantaranya ada teman-teman sekolah yang sekarang juga sudah berkeluarga. Ibu-ibu lain yang mengenal Wiya juga heboh menyapa Wiya, seolah Wiya adalah artis di komplek mereka.


Sebenarnya Wiya tidak terlalu pandai berbasa-basi, tapi dia tetap tersenyum ramah dan menghilangkan ekspresi canggungnya berada di tengah-tengah mereka.


"Ilma, udah lama banget gak belanja. Nikahan kemarin gak ngundang, terus sekalinya pindah udah jarang pulang kesini kan?" ucap salah seorang wanita disana.


"Eheheh,Iya Mel maaf ya. Resepsinya dadakan, maaf ya bu ibu semua." balas Wiya ramah, "Em, mang saya mau daun singkongnya seperempat aja mang," Wiya mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Makin cantik aja sekarang, yaiyalah ya. Suaminya kan orang kaya, ganteng pula, pasti perawatannya sakti ini si Ilma sekarang kan ya?" imbuh Ibu lainnya.


Sakti gimana ya ini maksudnya ? Skin care gue pake mandra guna?


"Iya sekarang mah mainnya perawatan ya bu, padahal dulu inget gak sih suka main becekan sama comberan,"


Waduh, Ilma kampung sebelah kali bu ah.


"Ini neng daun sigkongnya, santan sama bumbu langkoknya teu sakalian?" ucap si mamang dengan logat khas sunda. Dia menyerahkan bungkusan daun singkong, Wiya memasukkannya ke dalam keranjang belanjanya yang terbuat dari jerami.


"Iya mang sekalian aja, berapa semuanya ya?" Wiya mengeluarkan uang dari sakunya. Dia tak sabar ingin segera berlalu dari sana.

__ADS_1


"Eh tapi sekarang gemukan deh Ilma, iya kan bu ibu?" Ibu ini tipe kepo luar biasa, dia bertanya sambil memegang perut Wiya. lalu disahut oleh satu orang temannya.


"Lagi hamidun mungkin kamu ih, Iya ya Ilma? Kamu baru hamil ya?" desak Ibu lainnya.


"Ibu-ibu maaf saya udah selesai belanjanya, senang ketemu ibu-ibu semua. Saya duluan ya, udah ditungguin ibu," pamit Wiya. "Oh ya bu satu lagi, saya belum hamil. Saya gemukan mungkin karna terlalu bahagia. Mang, makasih ya. Ambil aja kembaliannya." Wiya memperhatikan kendaraan di kiri dan kanan lalu langsung menyebrang jalan meninggalkan kerumunan yang begitu menyeramkan. Sedikit saja lebih lama Wiya bertahan, entah apa lagi yang akan jadi bahan perjulidan mereka.


Sepeninggalan Wiya, para jurnalis komplek melanjutkan aktivitas mereka. Belanja sambil bergibah ria.


"Eh bu, masa sih bahagia bisa bikin gemuk? Hidup ku udah nelangsa gini  kok, mau gemuk ya gemuk juga, makin gemuk malah ini sekarang,"  oceh seorang Ibu yang paling besar disana.


"Makannya atuh bu, jangan suka julid ama hidup orang,"  ucap Mang sayur sambil menertawakan ulah para Ibu. "Kalau ibu-ibu mah bukan gemuk karena bahagia bu, tapi kebanyakan makan daging tetangga, alias gibah,ahahha."


"Ih si mamang, kita gak jadi belanja nih ya?"


"Ya jangan atuh bu...jangan...sok atuh buruan saya masih mau meeting ma ibu-ibu ke komplek sebelah"


"Huuuu, belagu lu mang ah!"


***


Saat Wiya sampai di rumah. Ibu sedang sibuk melayani pembeli di tokonya. Wiya langsung ke dapur dan meletakkan keranjang belanjaan di atas meja. Wajahnya ditekuk sembilan lipatan. Wiya sangat tersinggung dengan perlakuan ibu-ibu komplek barusan.


Apa aku segendut itu? sampe dikira hamil? hiks.


Wiya mengambil ponsel di saku bajunya, dia ingin mengadukan hal ini pada Zayn. Biasnya suasana hati Wiya akan membaik setelah mendengar nasehat suaminya.


Tuuuut...tuuut... terdengar suara nada sambung dari ponsel. Namun tak ada jawaban sampai beberapa panggilan.


Tak ingin mengganggu suaminya, Wiya meletakkan ponsel itu di atas meja. Kalau nanti sudah tidak sibuk pasti akan kembali menghubungi, setelah melihat penggilan tak terjawab dari kontak Wiya. Wiya tetap melanjutkan niatnya.


Sambil memetik daun singkong dan memisahkan daun yang keras dengan pucuknya, Wiya tak lupa melirik ke arah ponselnya menunggu panggilan dari Zayn. Namun sampai Wiya selesai mencuci sayur dan mengupas semua bumbu halus, ponsel itu belum kunjung berdering.


Wiya meraih benda itu dan memeriksa sesuatu. Namun tidak mendapati apa-apa. Dengan sangat terpaksa Wiya mencari kontak Vela dan menghubunginya.


"Maaf nona Vela, apa suami saya ada di ruangannya? Sejak tadi saya telpon gak dijawab. Apa dia sudah selesai presentasi tadi pagi?"


"Setelah presentasi tadi pagi, Pak Zayn langsung meeting diluar  kantor bu. Tadi pergi sama pak Taufik, dan dia meninggalkan ponselnya diruangan bu."


"Huff, yasudah tolong sampaikan ya, saya minta di telpon balik,"


"Baik bu, ada lagi bu?"


"Tidak, maaf saya malah menghubungi ke ponsel pribadi mu, Vela apakah jadwal suami ku padat sekali hari ini?"


"Tidak apa-apa bu, mungkin karena semalam Pak Zayn mau pulang lebih awal, makannya kerjaanya yang urgent memang harus diselesaikan hari ini juga," jelas Vela panjang lebar.


Wiya mengakhiri panggilan dan meletakkan ponsel kembali ke tempatnya. Wiya masak dengan perasaan gundah gulana.


Kamu sibuk banget, pasti lupa deh ngucapin happy anniversary ke aku


Padahal semalam kamu bilang kamu gak lupa hari istimewa  ini. huh


Wiya melanjutkan aktivitasnya. Dia menumis bumbu halus hingga bau wangi rempah keluar dari sana, lalu Wiya menyampurkan sedikit air ke dalam cup tempat dia menghaluskan bumbu tadi dan menuangkannya ke dalam panci, tak lupa menuangkan santan ke dalamnya, baru kemudian memasukkan daun singkong yang sudah diremas terlebih dahulu. Semua dia lakukan sambil tetap memperhatikan ke arah ponselnya.


Kemudian Wiya menuangkan setetes kuah gulai ke telapak tangan, sambil duduk dan mengucap basmallah, Wiya mencicipi rasa dari gulainya.


Menggoreng ikan asin yang menyebabkan bau gurih seisi rumah, tak lupa menggiling sambal terasi ala tangannya sendiri. Ponsel itu belum juga berdering.


Saat masakan telah matang dan tersaji di atas meja, Wiya melepas apronnya. Mengambil ponsel akan segera naik ke kamarnya. Hari sudah hampir jam makan siang, tapi Zayn tak kunjung menghubunginya. Pergi  kemanakah suaminya itu?


Wiya membersihkan diri, mandi dan makan siang bersama Ibu dibawah. Setelah itu Wiya memilih duduk di sofa empuk kesayangannya di ruang TV. Sofa abu-abu panjang yang sengaja tidak diganti karena sangat nyaman bagi anggota kelarga di rumah ini. Tiba-tiba ponsel di atas mejanya berdering. Tanpa menunggu nada itu berdering dua kali, Wiya segera menjawabnya.


"Mas," dengan sangat antusias. Dia sudah tak ingin menceritakan perihal ibu komplek tadi.

__ADS_1


"Sayang, maaf ya. Aku baru aja kembali ke kantor. Dan sekarang masih harus pergi. Tadi ponsel ku ketinggalan." jelas Zayn. "Ada apa sayang?"


"Kok ada apa sih, heum. Mas gak mau ucapin sesuatu gitu?"


"Oh iya hampir lupa, happy anniversary ya," ucap Zayn dengan terburu-buru. "Sayang boleh aku akhiri dulu? nanti aku hubungi segera kalau udah selesai kerjaanya, oke?"


"Iya mas, hati-hati ya." jawab Wiya lemas.


Udah? gitu aja anniversarynya? hiks hiks.


Menunggu panggilan selanjutnya dari Zayn, Wiya sampai kelelahan dan tertidur di sofa. Ibu hanya sedikit membenarkan posisi anaknya. Wiya tertidur hingga menjelang ashar tiba. Lelapnya terusik saat mendengar suara ketukan dari pintu depan.


Dengan sigap dia terbangun membukakan pintu dengan penuh semangat. Suaminya pulang lebih cepat untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Begitu fikirnya.


"Mas, udah pulang?" ucapnya riang sambil membuka ganggang pintu. "Ayah?" nadanya terdengar memelas.


"Assalamualaikum, kenapa nak?" tanya ayah.


"Waalaikumsalam, tadinya aku kira Mas Zayn yang pulang,"


"Yaampun kesian anak ayah nungguin suami pulang  sampe segitunya? emang tadi dijanjiin apa kok kecewa banget pas tau bukan Mas mu yang pulang?" ayah menggusal-gusal kepala Wiya. "Ya permisi dong dek, ini ayahnya gak diizinin masuk dulu?" seloroh ayah karena Wiya belum beranjak dari depan pintu.


"Ayah....." rengek Wiya.


Hari sudah hampir senja, belum ada tanda-tanda kepulangan Zayn. Suaminya itu juga belum ada menghubunginya kembali setelah tadi siang. Wiya masih menunggu sembari memeriksa pekerjaan yang dikirimkan Risma. Tapi Wiya nyatanya sama sekali tidak bisa berfikir jernih saat ini.


Dia termenung menatap langit yang sudah gelap dari meja kerjanya. Akhirnya Wiya berinisiatif menghubungi suaminya. Ternyata tanpa menunggu lama, panggilan itu langsung diterima.


"Assalamualaikum, sayang. Maaf aku belum bisa pulang sekarang. Nanti kamu pulang dijemput sama Pak Taufik aja ya Wiy. Gak apa-apa kan?"


"Aku pulang sendiri aja mas,"


"Loh kok ngambek sih? Aku kan kerja Wiy, bukan pergi main. Aku juga cape Wiy. Plis ngerti!."


"Aku gak ngambek, aku bisa pulang sendiri,"


"Kamu mau dengerin aku atau enggak?" ucap Zayn tegas.


"Kok kamu jadi marah sih mas?"


"Aku gak marah, aku tanya sama kamu. Masih mau dengerin omongan aku, gak?."


Wiya tidak menjawab panggilan itu, entah mengapa hatinya begitu rapuh mendengar kalimat tegas Zayn yang terasa asing. Seperti sebuah awal perubahan pada sikap pasangan setelah satu tahun pernikahan.


Aku udah bilang kan mas, pelan-pelan kamu akan berubah.


Wiya menyeka bulir yang tak sengaja jatuh di pipi. Deru mobil masuk dari pagar rumahnya. Pak Taufik sudah datang menjemput dan mengantarkannya pulang ke rumah.


"Yasudah mas, pak taufik udah di bawah. Aku siap-siap pulang dulu ya."


"Hati-hati," ucap Zayn dari sebrang sebelum mengakhiri panggilan.


Sesungguhnya dari hati kecil Wiya yang paling dalam, luka lama kembali menguak ke permukaan. Wiya teringat kenangan anniversary hubungan mereka yang pertama sekaligus terakhir beberapa tahun silam.


______________________________________________


Happy reading ^_^


Silaturrahmi me socmed ku yuk


jangan lupa follow me on :


Ig : eNKa2804

__ADS_1


__ADS_2