
Zayn kembali ke penginapan tempat mereka beristriahat. Dirinya dan keluarga sedang menikmati akhir pekan di pantai pesona sejak sabtu malam.
Zayn menendang keras pelepah kelapa kering dengan kakinya. Perjumpaan pertamanya dengan Wiya setelah 3 tahun dia menunggu hari ini dengan setia.
Hatinya mengatakan Wiya masih gadisnya, Wiya masih miliknya, Tapi fikirannya mencerna beberapa fakta yang dikirim dari indra penglihatan dan pendengarannya.
Seorang gadis kecil yang begitu mirip dengan Wiya, memanggilnya dengan sebutan bunda dan Wiya mengajak gadis itu menuju Ayahnya. Zayn sempat mendengar gadis polos itu menyebutkan nama, Zayn mencoba mengingatnya siapa itu tadi? Vinny? Vidi? Vinci? Ah siapapun namanya, andai malam itu Zayn tidak gegabah, mungkin gadis itu adalah anaknya dengan Wiya. Kini kakinya menendang keras batang pohon kelapa yang tak bersalah.
Jika kemungkinan gadis kecil itu adalah anak Wiya, berarti Wiya sudah menikah. Tapi siapa suaminya, apa Bian? Rasanya tidak mungkin, Bian masih pekerja di perusahaan keluarganya dan dia belum menikah.
Atau Wiya menikah dengan pria berkebangsaan Malaysia. Tapi siapa? Aiman Hakim? Miller Khan? Tidak mungkin, Zayn berbesar hati karna percaya deretan lelaki diatas tadi bukanlah tipe Wiya.
Tunggu dulu, jika semua daftar lelaki keren tadi tidak menjadi pertimbangan, apalagi dirinya yang jujur saja hanya punya kelebihan ketampanan. Arggh Baru saja dia akan menendang onggokan batu pantai yang besar tapi kakinya masih nyeri setelah menendang batang pohon kelapa tadi.
Ataukah Wiya sekarang seorang janda? Entah kenapa rasanya kemungkinan yang satu ini jauh lebih menenangkan dirinya. Harusnya tadi Zayn mengikuti sampai kemana Wiya membawa gadis kecil tadi menemui laki-laki yang mereka sebut "Daddy".
Satu buah kelapa kering terjatuh dari atas pohon hampir saja mengenai kepalanya. Untung reflek menghindar bahaya dalam dirinya masih bekerja dengan baik.
Astaga Wiya, Lihatlah, pohon kelapa juga ikut memberikan ku pembalasan.
***
"Mungkin saja kan? Wiya itu gadis cantik, pintar dan berpendidikan. Mama dengar sekarang dia punya perusahaan sendiri. Pria mana yang bisa menolaknya Zayn?" Ucap Mama Wulan di sela-sela memperhatikan ART nya memberesi kembali barang yang akan mereka bawa pulang.
"Mama, kok kesannya kaya Wiya yang menawarkan diri ke laki-laki sih? Ada juga Wiya yang menolak pria-pria itu ma."
"Hush kamu, bukan gitu maksud mama. Usia Wiya udah mapan, orang tuanya pasti sudah mencarikannya jodoh terbaik."
"Itu juga kecil kemungkinan ma, Zayn tau Ayah dan Ibu Wiya bukan tipe yang seperti itu."
"Oh ya? Kalau ternyata tidak seperti itu pun belum tentu Kak Wiya masih mau sama kak Zayn." Celetuk Vhieya menyodorkan cermin kecil yang diambil dari dalam tasnya "Nih ngaca, liat betapa awut-awutannya, hahaha."
Zayn mengambil cermin itu, benar saja. Sudah lama sekali sengaja membiarkan rambut-rambut halus memenuhi sisi kiri dan kanan wajahnya.
"Oke...oke, STOP! Hentikan spekulasi kalian semua, acara berandai-andainya kita cukupkan sampai disini . Biar Zayn selesaikan sendiri masalah ini ma. Zayn tak mau lagi menduga-duga. Zayn harus menghadapi kenyataannya apapun yang terjadi." Ucap Zayn percaya diri.
"Mama,Nikki dan Vhieya harus jadi tim Zayn ya! Bantu Zayn lewat doa!" Lanjutnya.
***
Belajar dari pengalaman sebelumnya, Zayn kali ini tak ingin membuang waktu lebih lama. Malam hari saat mereka semua sudah kembali dari berakhir pekan di pantai, Zayn langsung bersiap-siap.
Dengan handuk yang masih melilit di pinggang, Zayn bercermin mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Jari jempol dan telunjuknya memegang dagu dan rahangnya yang sudah kembali klimis.
Dia baru saja mencukur semua rambut halus disana. Tak disisakannya sedikitpun seperti membuang ketidak beruntungan yang selama ini melekat di dirinya.
Usai berpakaian, Zayn pamit dengan Mama Wulan dan segera mengendarai mobil menuju kediaman Wiya. Walau tidak terlalu jauh, tapi Zayn memang sudah lama tidak melewatinya.
Zayn hampir merasa dirinya salah alamat karena tampak dari depan rumah Wiya memang jauh berbeda. Tapi nomor rumah dan nama Ayah Wiya yang tertera di depan menunjukkan rumah itu benar kediaman keluarga Wiya.
Zayn semakin yakin, tatkala dilihatnya gadis mungil yang kemarin digendong Wiya sedang berlari-lari bersama seorang wanita yang terlihat seperti pengasuhnya. Zayn turun dengan gagahnya dari mobil dan menhampiri gadis kecil yang berhenti berlari karena melihat kehadiran Zayn.
"Hay Girl" Sapa Zayn setengah berlutut.
"Halo Paman, Paman ini siapa?" Ternyata Vinny tak mengingat wajah Zayn di benaknya.
"Hm, Bunda ada?"
"Bunda?" Vinny melihat ke arah Nanny nya.
"Apa Tuan mencari Mba Wiya? Mba Wiya ada di atas tuan. Silahkan masuk nanti saya panggilkan." Sapa Nanny itu ramah
__ADS_1
Zayn masih tertarik untuk berbicara dengan Vinny.
"Kalau.....Ayah?" Telisik Zayn lebih dalam. Berharap Vinny menjawab ayahnya sudah tidak ada. Atau Vinny tidak tau dimana ayahnya.
"Ayah? Maksud Paman? Daddy ya?"
Hati Zayn mulai retak, berarti ayah dari Vinny memang juga tinggal disini bersama mereka. Hampir Saja Zayn akan memilih mengikuti logikanya untuk berbalik arah.
"Tuan mencari Mba Wiya atau Pak Ridwan? Bapak masih di masjid, silahkan masuk dulu, tunggu di dalam saja. Mungkin sebentar lagi pulang."
Ridwan? Vinny memangil Daddy untuk Ridwan?
Belum menyelesaikan koflik bantinnya sendiri. Zayn reflek menoleh ke arah suara cempreng dari dalam memanggil-manggil nama Vinny.
"Vinny...Vinny..." Teriak Mitty dari dari dalam rumah menuju ke teras rumah yang luas. Dia tampak sedang mencari Vinny yang sudah malam tapi masih minta bermain di luar. Mitty tertegun melihat siapa yang sedang berlutut berbicara dengan anaknya.
"Pak Zayn?" Dengan ekspresi terkejut.
Zayn langsung berdiri saat Mitty meraih Vinny dan menggendongnya.
"Mommy, tadi Vinny kelual kalena ada tamu mom, Paman tampan ini temenna Daddy. Untung saja Vinny ada di lual kalau enggak kan paman ini kebingungan mom kacian" Vinny berakting mencari alibi agar tidak di omeli sang Mommy.
"Tidak begitu Mom Mitty, Tuan ini baru saja tiba. Vinny sudah keluar sejak tadi, saya kewalahan mengejarnya." Jelas Mba Asih kepada Mitty. Mitty menggeleng-gelengkan kepala, bagaimana Vinny sangat pandai bermain drama padahal menyebut huruf R saja belum bisa.
Zayn masih menyusun puzzle yang dihadapkan padanya saat ini.
"Mba Asih, Ini Bawa Vinny sikat gigi sekarang ya, dan jangan lupa bajunya diganti lagi." Mitty menyerahkan Vinny ke gendongan pengasuhnya. "Pak Zayn, mari silahkan masuk. Maafkan perkataan Vinny tadi."
"Ti-tidak apa-apa, Itu ... ? Maksud ku, Vinny ?"
"Iya pak, itu Vinny puteri kami. Memangnya Bapak fikir?"
Kamu benar Wiy, Gak semua pertanyaan harus dijawab saat itu juga
Ah tentu saja kamu selalu benar, Qawiya
"Ah tidak, dia sangat manis. Dan energik. Tapi kenapa wajahnya itu sangat ....?"
"Mirip Wiya?" Celetuk Mitty
"Haha haha" Zayn tertawa garing.
"Iya saya juga heran, kenapa anak itu malah mirip dan manja banget sama Wiya."
"Mitt, ngobrol sama siapa?" Ibu Ria yang mendengar suara aktivitas diluar rumah keluar menyusul menantunya. "Nak Zayn? Mitty kenapa ada tamu tidak disilahkan masuk?" Sapa Bu Ria ramah
"Ahh iya, Mitty jadi keasikan ngobrolnya Bu, Mari pak silahkan."
Mereka bertiga masuk ke dalam, Ibu menemani Zayn di ruang tamu sedangkan Mitty ke belakang meminta Asisten rumah tangga mengantarkan minuman.
***
Saat sedang berbincang hangat, Ayah Ilyas dan Ridwan pulang dari masjid dan bergabung bersama Ibu dan Zayn di ruang tamu. Malam itu Mereka terlibat pembicaraan yang cukup serius dan berdiskusi cukup lama. Entah apa yang mereka bincangkan. Yang pasti sampai Zayn pamit pulang, dia tidak bertemu dengan Wiya.
Mitty keluar dari kamarnya ingin memastikan apakah puteri kecilnya itu sudah tertidur.
Tapi di kamar Vinny hanya ada Mba Asih yang sedang memberesi pakaian di lemari puteri kecil itu. Mba Asih memberi tahu bahwa Vinny tadi minta diantar ke kamar Wiya.
Mitty menuju kamar Wiya dan langsung masuk karena kamar itu belum dikunci. Benar saja, gadis kecil bersuara nyaring itu sedang berada dalam satu selimut dengan perempuan yang dipanggilnya bunda. Wiya tampak sedang membacakan sebuah buku cerita bergambar.
"Vinny, Mommy kira kamu udah tidur. Ternyata kamu disini."
__ADS_1
"Vinny mau bobo sama bunda aja Mom." Vinny menelusup kedalam selimut menenggelamkan seluruh kepalanya karena takut Mommynya akan memindahkannya ke kamarnya sendiri.
"Biarin aja sih Mitt."
"Hmmm, eh gue kira lo dibawah dari tadi."
"Dibawah?"
"Iya tadi Pak Zayn datang ketemu sama Ibu dibawah. Gue kira Ibu minta si Mba manggilin lo. Eh taunya lo malah ngeladenin si Vinny."
Wiya langsung keluar dari selimutnya dan turun dari ranjang menuju ke balkon kamarnya,sayangnya yang masih terlihat hanya sebelah punggung Zayn saja yang sedang masuk ke mobil dan langsung melaju meninggalkan halaman rumah.
"Vinny sini aja ya sama Mommy sebentar, Bunda mau ke kamar nenek"
Wiya menuruni anak tangga dengan terburu-buru menuju ke kamar Ibunya. Ternyata Ibunya masih di ruang Tengah menemani ayah menonton TV.
"Ibu, tadi Zayn habis dari sini?"
Ibu dan ayah kompak menoleh dari balik sandaran sofa.
"Belum tidur kamu ternyata? Iya tadi nak Zayn ngobrol lama disini." Jawab Ibu sekenanya.
"Emh, Kok Ibu gak manggil Wiya?" Ucapnya penuh nada penyesalan
Ibu tersenyum membelakangi Wiya. Sebenarnya Ibu tau Wiya pasti ingin menemui Zayn. Hanya saja hatinya terlalu kokoh untuk dia lawan sendiri.
"Loh, Ibu kira kamu masih gak mau ketemu dia."
"Hmmm" Gumam Wiya.
"Kenapa dek?" Tanya ayah yang sama menyeringai seperti istrinya.
"Ya gak kenapa-kenapa, besok-besok kalau Zayn datang, Minta tolong Wiyanya dipanggil aja." Kali ini lisannya tidak lagi melawan kata hati.
"Oh, udahan marahnya ?" Goda ayah lagi.
"Apa sih yah, siapa yang marah? Ya ampun ayah dan Ibu kok malam ini jadi nyebelin gini, huaaaaaa." Rengek Wiya.
"Kok kamu jadi BT sih? Hahaha iya iya besok kalau nak Zayn kesini lagi ayah akan langsung panggil kamu. Tapi ini kalau loh ya, kalau. Kamunya jangan nunggu."
"Hmmm, iya juga sih. Untuk apa dia datang lagi. Hahha. Yasudah Wiya belik ke kamar lagi ya yah, Bu."
Wiya kembali menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
***
Setelah malam itu, Setiap tamu yang datang kerumah, Wiya selalu mengintai dari jendela kamar memastikan mobil Zayn yang terparkir di halaman. Dia semacam ada aktivitas baru setiap harinya saat dirumah, menunggu Zayn datang.
Sesekali saat dia pergi ke perusahaanya dia juga mengintai CCTV dari ruangan yang khusus menampilkan halaman depan dan lantai parkir perusahaan. Tapi tak sekalipun mobil Zayn tertangkap melintas di kamera pengawas.
Wiya bahkan telah membuka semua blokir kontak Zayn, hati kecilnya meminta dia melakukan itu. Tapi Zayn tak pernah satu kalipun mencoba menghubunginya. Pernah sekali Wiya menunggah sebuah WA Story yang menampakan foto name tag di atas meja kerjanya. Dari hampir 1000 kontak yang melihat unggahannya Wiya meneliti satu persatu nama setiap dua menit, NIHIL. Zayn tidak menjadi salah satu diantara 1000 orang yang melihat aktivitasnya.
Walau setiap hari terasa berjalan lambat, tapi tak terasa sebentar lagi Wiya akan segera kembali ke Malaysia untuk mengurus segala administrasi menjelang Wisuda.
Di beberapa hari terkahirnya di Kota ini dia masih sangat berharap Zayn datang menemuinya kembali, mengulang maaf, menyadari kesalahan dan kalau perlu meminta hal yang lain.
Tapi setiap kali Wiya berdiri mengintai dari jendela, dirinya hanya melihat kehampaan diluar sana. Ibu sesekali memperhatikan ekspresi penantian yang tak bisa Wiya sembunyikan.
Baiklah, ku anggap perjuangan mu hanya segitu ! Eh tidak, mungkin aku yang hanya pantas diperjuangkan sebatas itu !
Bener yang Ayah bilang, harusnya memang aku gak perlu nunggu!
__ADS_1
Wiya tidur lebih awal, karena besok dia akan kembali menuju Malaysia untuk menyelesaikan perjuangannya.