Utuh

Utuh
BONUS CHAPTER III/ RAMADHAN PENGANTIN BARU


__ADS_3

Satu bulan menjalani bahtera rumah tangga, semua berjalan normal walau masih sangat banyak peneyesuaian. Zayn kembali sibuk dengan IQ Media, begitupun Wiya yang juga merupakan pimpinan dari Zahira Akuntansi. Tak jarang mereka hanya bisa bertemu saat keduanya sudah sama-sama kelelahan.


Satu pekan lagi mereka akan menyambut bulan suci ramadhan, Zayn berencana akan mengajak Wiya pindah kerumah baru mereka yang baru selesai disempurnakan.


Malam itu sebelum tidur, seperti biasa mereka selalu menyempatkan diri untuk bertukar cerita seputar kegiatan yang mereka lakukan.


"Mas, Maaf ya aku terlalu sibuk akhir-akhir ini. Jadinya kamu lebih sering pulang duluan, aku juga jadi sungkan sama mama." Ucap Wiya usai mengenakan krim malam di wajahnya.


"Dimaafkan,sayang! Aku ridho atas apapun kebaikan yang kamu lakukan." Zayn memeluk Wiya sambil menatap pantulan bayangan sang istri cantiknya dari cermin meja rias. "Mama juga gak masalah kok, mama malah bilang ke aku untuk gak membatasi mu, selama kamu tidak melupakan kewajiban utama sebagai seorang istri"


"InsyaAllah Mas, rasanya aku ingin kembali menjadi asisten di perusahaan mu biar bisa sama-sama terus seperti dulu."


"Silahkan masukkan surat lamaran Ibu Wiya melalui HRD dan nanti akan dihubungi jika lulus administrasi dan layak untuk interview" Ucap Zayn setengah berlagu.


"Aku maunya langsung jadi sekretaris pribadi kamu." Wiya memutar badan, dengan lebih berani menghadap suaminya. Tangan Zayn kini berpindah ke pinggang istrinya. Wiya sengaja berjalan perlahan sehingga Zayn mundur mengikuti langkahnya.


"Hmm, mana ada yang seperti itu di perusahaan ku. Mana Ilma Qawiya yang paling proffesional dan totalitas tanpa batas itu?" Ledek Zayn lagi mengingatkan Wiya bagaimana dirinya saat masih bekerja sebagai asissten dan Manajer keuangan di Omelate Food dulu.


"Ayo sini aku tunjukkan proffesionalisme ku yang sesungguhnya." Wiya mendorong suaminya sehingga telentang dan merentangkan tangannya di atas ranjang.


Zayn terkejut namun tetap membiarkan istrinya melakukan apa yang yang ingin dia lakukan malam itu. Satu babak yang di dominasi istrinya pun berlalu.


***


"Terimakasih sayang." Zayn mengecup pipi istrinya yang semakin hari semakin tampak menggemaskan. Wiya hanya tersenyum sambil mengatur nafasnya yang masih tersengal. Berada di atas ternyata melelahkan.


"Sayang, sudah tidur?" Tanya Zayn melihat Wiya yang tak bersuara memeluk dirinya.


Wiya hanya menggeleng-gelengkan kepala. Zayn membelai lembut rambut istrinya.


"Rumah kita sudah bisa ditempati, tadi pagi aku udah ngomong sama mama, besok kita akan pindah. InsyaAllah bulan puasa nanti bisa kita sambut berdua dirumah baru kita"


Wiya melepaskan pelukannya dan duduk di sisi ranjang. Kalimat Zayn tadi mengalirkan aliran darah yang hangat ke sekujur tubuhnya. Terdengar sangat manis persis seperti impiannya selama ini.


Walau dia sangat senang tinggal dirumah ini, tapi dia sudah berjanji akan ikut kemanapun suaminya itu mengajaknya pergi. Dan punya tempat tinggal sendiri akan bisa melatih mereka berdua untuk lebih bisa mandiri.


Ternyata rencana kepindahan ditunda, karena Mama Wulan meminta mereka untuk tinggal lebih lama, akhirnya mereka memutuskan untuk pindah pekan depan sebelum satu Ramadhan. Namun barang-barang yang diperlukan sudah lebih dahulu dipindahkan.


***


Lokasi tempat tinggal mereka cukup jauh dari rumah kedua orang tua, Namun cukup dekat dengan perusahaan mereka masing-masing. Sebuah hunian dua lantai. Tampilan luar dan interior dalam rumah di buat sesuai dengan keinginan Wiya.


Mereka sedang menunggu agen penyalur ART mengirimkan seorang pekerja yang akan membantu mereka dirumah. Jadi untuk sementara waktu pekerjaan rumah diselesaikan bersama-sama.

__ADS_1


"Mas, apakah ini tidak terlalu besar untuk kita berdua?" Wiya mengamati ruang tamu luas yang dindingnya dilapisi wallpaper bernuansa kuning cerah dengan sofa rendah berwana abu-abu. Di sisi-sisi dinding dan sudut ruangan pula sudah terpasang foto pernikahan mereka.


"Bukan hanya kita berdua yang akan tinggal disini sayang," Zayn mendekati istrinya yang sedang asik berkeliling menyapu pandangannya. "Ini adalah hunian kita dan anak-anak kita kelak. Hari ini mungkin cuma ada kita berdua, tapi besok lusa pasti akan terisi dan menjadi sangat ramai dan berisik"


"Aamiin" Ucap Wiya dengan khusyuk dari dalam hatinya.


"Atau jangan-jangan disini sudah ada isinya nih sayang." Zayn menekuk lutunya menempelkan dun telinga ke perut istrinya yang rata "Tuk..tuk..tuk, Assalamualaikum, ada orang di dalam?" Seolah sedang mengetuk pintu.


"Apaan sih Mas, hahhaa, geli mas ih, emang ini kamar mandi? Pake ditanya ada orang atau engga. Hahaha" Wiya menarik tangan Zayn untuk berdiri  "Belum ada sayang, aku kan baru selesai periode tadi pagi."


"Oh begitu? Yasudah tunggu apa lagi? ayo kita coba sekali lagi, dua kali lagi, tiga kali lagi juga tidak masalah"


"Astaga, kamu benar-benar selalu memanfaatkan setiap kesempatan yang ada."


"Kamu harus memberi ku lebih hari ini, karena besok udah puasa yang, kita gak bisa melakukannya di siang hari. Dan Itu juga termasuk salah satu tujuan aku mengajak mu segera pindah kesini. Asal kam tau aja sih." Seringainya.


"Mas,tapi ini di sofa?" Posisi Wiya sudah terdesak di sudut kursi.


"Everywhere u want, baby"


"Enak aja, ini kamu yang mau bukan aku."


Tidak ada jawaban, karena setelah itu mereka sama-sama terhanyut dalam permainan.


Begitulah agaknya kehidupan pengantin baru, aktivitas utamanya adalah hal-hal demikian. Bekerja, dan aktivitas lain hanya mereka anggap selingan.


***


"Udah Bund?" Teriaknya memanggil sang istri meniru gaya panggilan Vinny.


"Udah Mas, ayo!" Wiya memasang tali belakang mukenahnya. Adzan isya baru saja selesai. Mereka berjalan bersama menyusuri jalanan komplek menuju masjid.


Di masjid, Wiya bertemu dengan banyak orang dan bersilaturahim singkat seusai shalat. Suasana menyambut ramadhan yang begitu berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tiba-tiba dia teringat kenangan indah puasa dirumah orang tuanya.


Seperti saat pergi tadi, pulang dari masjid mereka berdua juga berjalan kaki. Sembari menyapa masyarakat sekitar dan melihat anak-anak kecil yang lalu-lalang keriangan bermain kembang api.


Sesampainya dirumah, Wiya langsung menuju dapur menanak nasi dan mempersiapkan bahan makanan yang akan dimasak untuk sahur besok subuh.


Sebenarnya setelah itu dia ingin langsung tidur karena sudah sangat lelah sekali, namun lagi-lagi suaminya tidak mau rugi melewatkan satu malam begitu saja. Hingga akhirnya mereka baru tertidur pukul dua belas dini hari.


***


Badan Wiya terasa remuk sekali saat membuka matanya, dengan santainya dia meraih ponsel yang ada di atas nakas sebelah tempat tidurnya.

__ADS_1


Ponsel itu langsung terpelanting dari tangannya tatkala Wiya terkejut melihat jam yang ditujukan sudah pukul 4.20, itu artinya waktu untuk mereka sahur hanya tinggal beberapa menit lagi.


"Mas, Mas, Mas bangun. Lihat nih udah jam berapa, kita kesiangan" Ucapnya dengan panik.


Zayn pun terbangun karena mendengar suara istrinya yang gusar. Tanpa  banyak bicara, suami-istri itu segera berpakaian dan langsung menuju ke dapur, Wiya mengambil makanan instan yang ada di kulkas, karena tidak akan mungkin sempat jika dia harus masak terlebih dahulu.


Zayn membuat teh manis, Wiya membawa piring dengan sedikit berlari menuju magicom mengambilkan nasi untuk suaminya.


Hampir saja piring yang digenggaman dilepasnya ke lantai karena melihat nasi yang diharapkan masih berupa beras yang tergenang di dalam air.


"Masss......." Ucapnya memelas.


"Kenapa sayang?"


"Magicomnya, aku lupa cetekkin. Huaaaaa" Air mata Wiya benar-benar keluar karena merasa gagal mempersiapkan sahur pertama untuk suaminya.


"Udah-udah gak apa-apa sayang, nih aku bikinin teh manis. Kita sahur pake roti aja ya? Karna kayanya adzan subuh nanti tuh nasinya baru mateng." Zayn menarik tangan Wiya untuk ikut duduk disebelahnya, menikmati apa yang ada di atas meja.


"Maaf ya mas."


"Tidak masalah sayang, ini juga semua karena aku terlalu bersemangat tadi malam kan? sampai kamu kelelahan dan jadi kesiangan." Goda Zayn lagi.


"Sementara kita puasa dirumah Ibu atau Mama aja deh mas kayanya."


"Hahahahaha, Iya,iya Kayanya itu lebih baik ya sayang."


Mereka menikmati sahur pertama dengan beberapa potong roti dan teh manis.


"Senyum dong Wiy, ini diminum. A cup of sweet tea for my sweety." Zayn meniupkan teh panas itu untuk istrinya.


"Thankyou, My one and only"


*********************************************


Hay-hay kesayangan, ada yang kangen gak sih ? Hahah. ini dua bonus chapter sekaligus sebelum release sinopsis UTUH Season II


Reader : Thor, katanya udah utuh ? Kok ada sambungan lagi sih ? Gak kosnsisten deh.


Author : Yaudah deh ga jadi. Huaaaaa hiks hiks.


Hahahah. Author lagi bikin outline untuk release kelanjutan kisah mereka (Tsaaaah gaya amat gue). Ujian kehidupan setelah pernikahan tentu akan lebih berat dan penuh lika-liku kan gaess? Jadi konflik yang akan mereka hadapi tentu akan lebih berat dari sebelumnya. Begitulah kira-kira pokoknya.


Jangan lewatkan like, dan spam komen dong bagusnya lanjut atau udahan aja?

__ADS_1


Selamat berpuasa everyone. Yang tahun ini puasana masih sendiri, author doakan tahun depan udah ada yang nemanin dan bikinin Sweet Tea. ^_^


Ehhh jangan lupa melipir ke "OTW Soleha" yaaaa 😆**


__ADS_2