Utuh

Utuh
SEASON II : EPS 4


__ADS_3

Zayn dan Wiya menikmati kebersamaan mereka bersama Mama Wulan,Nikki dan Vhieya selama berada disana. Pemeriksaan Mama Wulan pun berjalan lancar dan kondisinya semakin membaik.


Keesokan harinya, Mama Wulan meminta Zayn, Wiya dan Nikki untuk izin dari kantor masing-masing dan kembali menghabiskan waktu bersama dirumah.  Sesuatu hal yang sudah sangat jarang terjadi.


Mama Wulan mengajarkan Wiya memasak makanan kesukaan Zayn, dendeng balado kering.  Dengan senang hati Wiya mencatat resep dan langkah-langkah membuat masakan khas Sumatera Barat itu.


Sedangkan Nikki dan Vhieya membuat puding keju dan minuman es lemon serai yang begitu menggiurkan.


Sementara para wanita beraktivitas di dapur, Zayn menyempatkan diri memeriksa beberapa sample design  yang Vela kirimkan.  Dengan hanya mengenakan kaos tipis dan celana pendek rumahan motif Ninja Hatori, Zayn fokus dengan laptop dan mouse di atas meja ruangan samping, yang memang sering dia gunakan untuk berkerja saat berada di rumah Mama.


Vela menghubungi Zayn, menginformasikan bahwa ada satu dokumen penting dan rahasia yang harus segera Zayn tanda tangani hari ini juga.  Jadi Zayn terpaksa meminta sopir untuk segera menjemput Vela dan membawa dokumen itu ke rumah Mamanya.


Wiya menuangkan satu gelas minuman serai dan lemon itu ke dalam gelas jus yang sudah diberi hiasan irisan lemon tipis. Tak lupa sebuah Stainless straw sebagai pengganti sedotan plastik. Kemudian Wiya membawakan minuman itu untuk suaminya.


"Diminum dulu mas," ucapnya lembut sambil meletakkan gelas di atas meja. Wiya sempat sekilas memperhatikan pekerjaan suaminya di monitor.


"Terimakasih sayang, duduk sini!" menggeser satu kursi disebelahnya lalu menyereput kesegeran minuman yang dibawakan istrinya. "Udah selesai masak dendengnya?"


"Udah, tapi gak tau deh rasanya, semoga kamu gak protes!"


"Kamu udah mau belajar masak buat aku aja, aku udah seneng banget Wiy. Sini aku cium dulu satu kali." Mengecup pipi istrinya. "Muach, eh satu kali lagi deh, muach, muach."


"Udah mas ih, masih bau minyak goreng ini." Wiya mendorong wajah suaminya yang belum mau berhenti mencium pipinya.


Zayn sejenak melepaskan pekerjaannya karena asik bercengkrama hangat dengan istrinya, mereka berdua sampai tak sadar Mba Sari sudah disana mengantar Vela sesuai instruksi dari Pak Taufik, supirnya.


"Ma..maaf Tuan, Nona. Ini ada tamu tadi kata Pak Taufik saya suruh nganterin Mbaknya kesini." Mba Sari tidak tau kalau sepasang suami istri itu ternyata sedang bermesraan disana.


Pak Taufik memang sengaja meminta Mba Sari yang mengantarkan Vela ke dalam, Zayn tidak mengizinkan laki-laki masuk jika istrinya sedang beraktifitas di dalam rumah, karena Wiya sedang tidak menggunakan hijabnya.


"Nona Vela? kamu yang minta Nona Vela kesini mas?" tanya Wiya pada suaminya. "Ayo Nona Vela silahkan masuk, Mba Sari boleh kembali bekerja lagi Mba, makasih ya."


Vela sedikit pangling saat melihat Wiya, Wiya yang ditemuinya di ruangan Zayn kemarin adalah seorang wanita berhijab dengan seragam kerjanya yang elegan dan tampak sangat ekslusif.


Namun yang dilihatnya hari ini adalah tampilan seorang Ibu rumah tangga dengan daster model midi dress selutut, apron yang masih melekat di tubuhnya, ditambah rambut panjang Wiya yang dicepol membentuk bun. Kecantikannya justru memancar dari sisi yang lain.


Ini juga pertama kalinya untuk Vela, menyaksikan Pimpinannya berpakaian sesantai ini.


Itu celananya, yaampun!


"Ini berkasnya pak," meletakkan satu map di atas meja. "Bu Wiya, apa kabar? Saya pangling ngeliatnya."


Wiya masih duduk di samping suaminya, lengan Zayn masih melingkar posesif di pinggang istrinya. Zayn melihat tidak suka ke arah Vela saat Vela mengajak istrinya bicara. Hanya dengan ditatap seperti itu saja membuat Vela kembali terdiam dan tidak berniat menjawab apa-apa lagi.


"Iya, maaf ya. Saya lagi bantuin mama masak di dapur, dan gak tau kalau kamu mau kesini, jadi gak sempat ambil jilbab di atas."


"Ibu Wiya ternyata memang cantik luar-dalam." Pujinya tulus. Namun lagi-lagi Zayn memberi kode untuk berhenti bicara yang tidak penting atau berbasa-basi.


"Ekhem," Zayn menghentikan haha-hihi dua wanita itu. Entah mengapa dia tidak terlalu suka Jika Wiya terlalu akrab dengan Vela. Walau Vela adalah sekretarisnya, dalam satu hari selama mereka bekerja, bisa dihitung dengan sepuluh jari jumlah kata-kata Zayn yang bisa Vela dengar dan pahami.


Zayn menyodorkan kembali map itu tanpa memberikan instruksi, Vela sudah sangat paham dan langsung mengambilnya.


"Kalau begitu saya permisi kembali ke kantor dulu Pak, Bu," pamitnya ramah.


"Eh, ini udah jam makan siang, kamu sekalian makan siang disini aja yuk. Tadi saya dan mama bikin dendeng balado. Kamu harus cobain deh." Wiya berdiri menahan Vela agar tidak langsung pulang, dia tak menyadari ekspresi tidak suka yang ditampakkan suaminya.

__ADS_1


Sedangkan Vela merasa mendapatkan angin segar, kebetulan sekali dia juga sudah sangat lapar. Ditambah lagi mendengar Istri Bossnya itu menawarkannya dendeng balado. Tapi Pimpinannya itu pasti tidak mengizinkannya.


"Sayang, dia mau makan siang di kantor." Zayn mencoba mencegah Wiya.


"Kasian mas, biarin Vela makan siang disini aja sama kita-kita ya."


"Yasudah, terserah kamu aja!" Zayn berdiri membawa gelas minumannya, dengan kesal meninggalkan istrinya dan Vela yang sama sekali tidak berbasa-basi untuk menolak ajakan Wiya.


"Mba Sari...Mba..." Wiya memanggil Mba Sari untuk mengantarkan Vela ke ruang makan. "Nona Vela ikut Mba Sari ke ruang makan ya, Mama, Nikki dan Vhieya ada disana. Saya mau ganti baju sebentar."


***


Usai menikmati makan siang, seluruh anggota keluarga kembali ke kamar masing-masing. Vela juga sudah kembali ke kantor bersama Pak Taufik.


"Qawiya!" Suara Zayn terdengar serius memanggil nama istrinya saat istrinya sedang membaca novel online dari ponsel miliknya. "Aku gak suka kamu terlalu akrab dengan sekretaris itu." Akhirnya Zayn melayangkan protesnya.


"Nona Vela maksudnya? apa alasannya Mas?"


"Itu bisa mempengaruhi kinerja dan profesionalismenya, lama-lama dia besar kepala karena merasa berteman dekat dengan mu."


"Gitu ya mas? hemm, iya deh. Kalau berteman biasa boleh?" Wiya mencoba melakukan negosiasi, karena selain good looking Vela itu sangat cerdas, komunikatif dan bijak berinteraksi.


"Gak bisa ya kamu tu satu kali aja gak usah pake tawar-menawar sama suami sendir,ha?" Zayn menangkap Wiya dan mendekap istrinya dalam pelukannya.


Wiya tak bisa menghindar hal-hal yang ingin dilakukan suaminya, karena dia juga diam-diam menyukai permainan semacam ini.


***


Acara tidur siang yang gagal dan berakhir dengan mandi besar. Keduanya baru selesai membersihkan diri. Wiya kembali mengenakan baju santai rumahan yang sangat nyaman. Dia sedang mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk kecil, sedangkan Zayn kembali menarik selimut tebal dan tampak memejamkan matanya.


"Siapa Bi?"


"Nona Mitty dan Neng Vinny, Non."


Wiya segera turun ke bawah menemui mereka berdua. Vinny sudah duduk kegirangan di pangkuan mama Wulan yang menyuapinya ice cream.


"Vinny?"


"Bundaaa...." Gadis kecil bersuara nyaring itu turun dari pangkuan Mama Wulan dan memeluk Bundanya.


"Sorry Wiy, kita serumah udah jelasin kalau kalian malam ini akan nginep dirumah Ibu, tapi Vinny dari pagi tetap merengek gak percaya dan minta kesini, udah ditawarin video call aja, tetap kekeuh minta kerumah Oma Wulan katanya. Maaf ya, Ma," jelas Mitty panjang lebar.


"Kok minta maaf segala sih Mitt, Vinny boleh main kesini kapan pun dia mau," saut Mama Wulan ramah. Mama Wulan sangat senang dengan kehadiran anak-anak kecil di rumahnya. "Tinggalin aja Vinny disini kalau kamu masih ada urusan lain, Mitt!" ucapnya lagi.


"Iya Ma, Mitty harus beli beberapa keperluan Vinny buat berangkat nanti."


"Yaudah nanti Vinny biar ikut Bunda sama Ayah Zayn aja pulang kerumah nenek ya." Wiya mengusap rambut panjang Vinny.


"Beneran gak apa-apa nih ma Mitty ninggalin Vinny disini?"


"Kamu kaya sama siapa aja sih, Nak"


"Yaudah kalau gitu Mitty pamit ya Ma, Wiy, gue pergi ya. Vinny jangan ngerepotin Bunda dan Oma ya nak"


"Gak akan mom, Janji deh!" ucap Vinny berseru sambil menunjukan dua jari yang membentuk huruf V.

__ADS_1


***


Vinny sangat senang diizinkan bermain disini bersama Bundanya. Wiya sedikit kebingungan karena tidak ada mainan anak-anak dirumah ini. Untung saja Vhieya meminjamkan beberapa boneka miliknya untuk mengusir kejenuhan Vinny.


Vinny sangat girang melihat Vhieya memainkan peran-peran boneka itu. Sesekali dia protes jika tak sesuai dengan imajinasinya.


Zayn terbangun, tak mendapati Wiya disampingnya. Namun dia melihat sebuah kain tipis berwarna merah tergeletak di atas tempat tidur mereka, istrinya belum sempat memakainya. Dia segera keluar mencari keberadaan Wiya, dari pagar besi pembatas lantai dua, tampaklah Wiya sedang duduk bermain bersama Vinny dan juga Vhieya.


"Wiya!" panggilnya dari atas. "Sebentar!" titahnya.


"Vinny sama aunty Vhieya sebentar ya, Bunda ke Ayah Zayn dulu, sepertinya dia butuh sesuatu"


"No ploblem Bunda"


Wiya terburu-buru menaiki tangga, dan langsung menuju ke kamarnya. Tidak biasanya Zayn memaggilnya begitu. Mungkin Zayn lapar, haus atau butuh sesuatu. Begitu fikirnya.


Saat dia membuka ganggang pintu,tiba-tiba Zayn langsung menyambar tangannya dan berhasil memeluk Wiya dari belakang. Kemudian dia menggunakan sebelah kakinya untuk menutup kembali pintu kamar yang terbuka.


"Mas, lepas mas ih, kamu kenapa?" berusaha melepaskan diri


"Siapa suruh kamu meletakkan benda-benda itu diatas tempat tidur,ha?" hidungnya masih menempel di leher belakang Wiya yang tertutup dengan rambut.


"Ya ampun, aku beneran lupa mas, maaf...maaf. Lagian kamu cuma liatin itu doang langsung mikir macem-macem sih mas?"


"Aku gak mikir macem-macem, aku mikirin kamu sayang," kali ini menyibak rambut tebal itu kesamping dan berbicara tepat di tulang leher bagian belakang, bulu kuduk halus itu meremang, pori-pori kulit Wiya bereaksi.


"Tapi di bawah ada Vinny, Mashh..."


"Kasi Vinny pengertian kalau kita akan memberinya 'teman'. Kasi tau Vinny kamu ada kerjaan dan cepat kembali lagi." Zayn melepaskan pelukannya.


Wiya setengah kesal turun kebawah menghampiri Vinny dan Vhieya. Padahal baru saja dia ingin bersenang-senang dengan Vinny. Namun titah suami selalu yang utama.


"Vinny, kamu suka mewarnai? ayo, ikut aunty Vhieya beli perlengkapan mewarnai" Kamu pasti seneng deh.


"Bunda gimana?" tanya Vinny


"Emm, Bunda  Wiya mau mijitin Ayah Zayn sebentar, nanti abis itu main lagi sama ktia ya" pujuk Vhieya yang melihat Vinny semakin ingin menempel pada bundanya, namun akhirnya Vinny setuju dan mereka berdua pergi keluar dengan mobil Vhieya.


Merasa istrinya sudah turun sangat lama, Zayn kembali keluar kamar dan berdiri ditempat yang sama saat tadi dia memanggil istrinya.


"Wiya!" panggilnya tak sabar.


"Ya ampun, iya...iyaa mas sebentar."


Akhirnya mereka menikmati satu kali pencapaian lagi sambil menunggu Vinny karena mereka akan berangkat ke rumah Ibu Ria sore ini.


____________________________________________


Just have fun, nikmati dulu alur-alur pembukanya ya temen-temen


Walau gak tau nanti akan terasa gimana, tapi konflik itu pasti akan datang jika sudah waktunya.


Jadi, jangan bosan ya pantengin terus Novel ini ^_^


Dan jangan lupa juga TAP Like, komen dan votenya ^_^

__ADS_1


__ADS_2