
Flashback Mode : On
Azmi baru saja selesai melaporkan persiapan terakhir hari pertunangan Nonanya. Sama sejak Ia melaporkan pertama kali, Brigitta tak pernah terlihat tertarik dengan apa yang dia laporkan sampai hari ini. Bahkan dia tak pernah memeriksa kembali semua yang Azmi tunjukkan padanya. Bukankah lazimnya setiap wanita yang ingin dipinang bersenang hati dan antusias menyambut hari istimewa mereka? Azmi masih berdiri mematung di hadapan Nona cantiknya.
Bahkan sekretaris Rifa saja sangat heboh mempersiapkan semuanya, Nona Bii.
"Apa masih ada yang mau kamu laporkan, Azmi?"
Tanya Brigitta melihat Asisten yang usianya 7 tahun lebih tua darinya mematung memperhatikannya bekerja.
"Tidak Nona, Nona Bii. Jika nona tidak menginginkan semuanya, nona tidak perlu melanjutkannya. Tuan Setiawan akan sedih melihat Nona menjalankan semuanya dengan terpaksa!"
"Keinginan terakhir papi adalah melihat ku menikah dengan Zayn, Azmi! Aku ingin memenuhi keinginannya sekali saja!"
"Tapi Tuan tidak tau kalau Nona tidak mencintai Pak Zayn. Jika Tuan mengetahuinya pastilah Tuan tidak akan melanjutkan perjodohan ini. Nona, pernikahan tidak dijalankan sehari dua. Tolong fikirkan diri anda sendiri!"
"Cinta akan tumbuh seiring berjalannya hari, aku akan mengusahakannya" Ucap Brigitta dengan tidak yakin.
"Nona layak diperjuangkan!! Saya ada di bawah jika Nona berfikir untuk menunda atau membatalkan semua ini. Tidak perlu memikirkan media. Reputasi Nona akan baik-baik saja. Saya jamin."
Azmi berlalu meninggalkan Brigitta, membiarkannya berfikir sendiri untuk hidupnya.
Azmi sudah bersama keluarga Brigitta 10 tahun lamanya, dia tahu betul bagaimana Tuannya memperlakukan anak perempuannya. Sepanjang yang dia amati, Brigitta tidak memiliki teman dekat, kecuali sang papi. Walau dia seorang public figure yang mempunyai lingkungan sosial yang ramai dan memujanya, Brigitta sejatinya adalah seseorang yang kesepian. Dia tidak punya teman dekat yang sebaya dengannya, dan belum ada satu orang pun yang tampak tulus dan menerima Brigitta apa adanya.
Azmi tak sampai hati membayangkan Nona cantik yang baru saja kehilangan papi sekaligus sahabat terbaik dalam hidupnya itu tidak bahagia setelah pernikahannya nanti. Dia benar-benar ingin melihat Brigitta bahagia bukan hanya di depan kamera dan headline berita media.
Kalimat Azmi tadi cukup mengusik kesadaran hati dan fikiran Brigitta. Bukan hanya dia, Zayn juga pasti tidak mudah belajar mencintai dirinya. Apalagi di dalam hatinya kini sudah terpatri sebuah nama.
Seseorang yang hanya berani dia perhatikan sejak di Universitas. Orang yang menghubunginya pertama kali saat mendapat kabar dia tidak melanjutkan studi. Orang yang lucu, manis dan sopan. Orang yang terlanjur mengambil hatinya dari kedekatan mereka akhir-akhir ini.
Brigitta mengambil ponselnya melihat kembali percakapan terakhir mereka saat Brigitta mengirimkan pesan pose dirinya dengan baju yang akan dipakai di acara lamaran itu nanti. Seseorang disebrang sana hanya membalas dengan emoticon hati, entah apa maksudnya. Brigitta sedih karena merasa tidak diperjuangkan, untuk itu dia pasrah menjalankan pertunangan ini.
__ADS_1
Namun hari ini tidak lagi, laki-laki itu takut karena merasa berjuang sendiri. Brigitta akan mencoba memperjuangkannya juga, setidaknya ini cara yang terakhir. Brigitta mengetik sesuatu dan mengirimkan pesan kembali kepada lelaki itu. Entah kalimat apa yang Brigitta ucapkan sehingga berhasil membuat laki-laki itu membalas pesannya dengan mengatakan.
"Aku akan menujumu, besok aku kembali!"
Dua sudut bibir Nona cantik mengembang membentuk sebuah senyuman.
***
Usai mengantarkan Asistennya pulang. Ilham langsung menuju kediaman Brigitta. Siang ini harusnya dia sedang menghabiskan waktu merias diri dengan MUA atau Hair stylistnya. Tapi rumah Brigitta tampak sepi seperti biasanya hanya ada beberapa pelayan seperti tidak sedang ada persiapan apapun. Saat Ilham turun dan bertanya, salah satu pelayan mengatakan bahwa Brigitta pergi ke perusahaan bersama Azmi.
Sejak semalam pesan itu Ilham kirimkan, Brigitta tidak membalasnya lagi, namun entah kenapa hati Ilham mengatakan bahwa Brigitta sedang menunggunya saat ini. Berat untuk diakui, dia sangat ingin segera bertemu dengan gadis yang akhir-akhir ini sering menemaninya merayakan sepi di dalam imajinasi.
Ilham bertemu dengan Azmi di depan gedung, Azmi tersenyum lega sekali dan mengantarkan Ilham naik ke ruangan Nonanya yang berada di lantai 9. Sepanjang jalan menuju ruangannya tampak sepi hampir tidak ada orang, karena ini adalah hari sabtu.
Ilham masuk ke ruangan bernuansa merah muda, mendapati pemiliknya sedang mengetuk-ngetuk pulpen di atas meja kerja dan sesekali melirik ke arah jam tangannya, seperti sedang menantikan sesuatu. Atau seseorang?
Brigitta yang terkejut reflek berdiri melihat Azmi masuk keruangan diikuti Ilham yang berdiri di belakang. Wajah yang tampak kelelahan, tapi Brigitta senang sekali melihatnya.
"Aku melarikan diri dari hair stylish ku! Duduklah dulu, Azmi akan mengambilkan mu minum!"
Aku tidak haus, Aku hanya rindu!
Ilham mendudukkan dirinya di sofa berwarna merah terang, matanya tak lepas menyaksikan Brigitta berjalan ikut duduk disebelahnya. Mereka belum pernah berada di posisi ini sebelumnya.
"Kenapa kamu bilang begitu semalam? Aku hampir gila membacanya!" Ilham menatap dalam mata Brigitta.
"Aku hanya ingin tau, seperti apa rasanya diperjuangkan?"" Balas Brigitta menatapnya lebih berani lagi. Dia benar-benar tidak pernah melakukan ini dengan lelaki lain, termasuk Zayn.
"Maafkan aku, aku hanya takut perasaan ku tak berbalas. Terlebih kamu adalah calon istri dari pimpinan ku"
"Sepertinya kamu trauma, karena pernah di tolak Qawiya ya?"
__ADS_1
"Wiya memang ditakdirkan untuk menjadi sahabat ku. Aku tak pernah kecewa setelah mengetahui perasaan kami tidak sama. Tapi aku tak ingin kamu menolak ku!" Ilham mengunci tatapan gadis itu.
Ilham mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak berisikan sebentuk cincin bertahtakan berlian kecil dan manis diatasnya. Dia sudah tak punya kata-kata, pun tak punya waktu, sekarang saja dia sudah sangat terlambat menyatakan semua ini.
"Brigitta Senja, aku mungkin tidak akan selalu jadi yang terbaik, kamu akan menemukan banyak kekurangan dalam diriku, aku tidak akan selalu mengerti keinginan mu, akan sering lupa hari lahir mu atau tanggal-tanggal yang istimewa dalam hidup kita, dan mungkin aku ini sama tidak peka seperti kebanyakan laki-laki lain. Tapi selama aku bisa, setelah Ibuku, kamu akan selalu jadi prioritas selanjutnya, yang aku dahulukan sebelum yang lainnya"
Tanpa mendengar jawaban Brigitta, Ilham menyarungkan cincin itu ke jari manis Brigitta.
Entah apa yang ada di dalam hati Brigitta. Banyak, sangat banyak lelaki pernah mendekatinya dan menyatakan cinta. Baru kali ini dia merasakan sesuatu yang mengetuk-ngetuk sisi lembutnya. Tapi bukan hanya Brigitta, sepasang mata yang menyaksikan dari depan pintu sana juga meneteskan air mata bahagia.
"Jadilah istri ku, aku tidak tau sampai kapan bisa menahan imanku jika berdekatan dengan mu terus!"
Brigitta membesarkan matanya. Dia baru tau Ilham tak sekuat yang Brigitta kira, ternyata calon suaminya juga laki-laki normal yang sulit menahan diri.
Azmi masuk membawakan dua kemasan air mineral dan meletakannya diatas meja kemudian berdiri sedikit menjauh.
"Aku akan segera melamar mu secara resmi, membuat pesta pertunangan pengganti pesta yang akan gagal malam nanti"
"Itu tidak perlu, Kita akan segera menikah. Haha, apakah aku harus menjual preloved gaunku yang belum sempat ku kenakan ?" Brigitta geli membayangkannya. Menjual gaun yang belum pernah dia pakai tentu tidak lah sulit, namun Brigitta belum membayangkan bagaimana akan menyikapi komentar makhluk dunia maya yang julid.
"Aku akan membelikan mu yang baru, Walau tidak lebih mahal dari yang itu"
"Kamu harus berterimakasih kepada Azm. Dia yang mempengaruhi ku sampai mengirimkan ancaman itu pada mu!"
Brigitta tersenyum usil, Azmi hanya tersenyum dan menunduk saat Ilham menatapnya penuh tanya. lalu Brigitta berdiri menggenggam tangan Ilham untuk mengikutinya.
"Kita akan kemana?" Tanya ilham.
"Menyelesaikan semuanya, Ayo!!!"
Azmi tau kemana Nona nya ingin pergi. Tentu saja ke kediaman keluarga Haris, menemui Zayn untuk menjelaskan semuanya. Kalau hanya berurusan dengan Zayn pasti tidak akan ada masalah. Tapi keluarga besarnya?
__ADS_1