Utuh

Utuh
ZAYN DWIKA KEPADA QAWIYA


__ADS_3

Wiya menuju kamar mengambil selimut kesayangannya, membawa kembali ke ruang tengah dan menyelimuti tubuhn mungilnya. Dia meraih remote dan menyalakan TV, mengganti Channel itu dari Nol kembali ke Nol tak ada satupun yang menarik perhatiannya hingga akhirnya dia tertidur kembali di atas sofa


Kali ini tidurnya lebih lelap dan dalam, entah  sudah berapa lama matanya terpejam dengan TV yang tetap menyala. Wiya dikejutkan dengan nada dering ponsel yang keras dan memecah kantuknya. Wiya meraih ponsel yang dia letakkan di atas meja, satu panggilan dari nomor tidak dikenal. Wiya mengabaikan panggilan itu lalu meletakan ponsel di saku celananya. Kemudian Dia mematikan saluran TV.


Wiya meraih selimutnya akan kembali ke kamar.  Namun langkahnya terhenti karena ponselnya berdering kembali, kali ini serentak dengan suara ketukan dari pintu depan. bulu kuduknya agak meremang, Ia melirik ke jam dinding besar di sudut ruangan, sudah pukul 9 malam. Siapa yang bertamu malam-malam begini ? Tadi kang TV kabel salah alamat. Sekarang tidak mungkin kang Ledeng nagih malam-malam begini kan?


Setelah merasa , menimbang, mengingat dan akhirnya Wiya memutuskan untuk menerima panggilan itu terlebih dahulu.


Satu detik, dua detik berlalu. Wiya sengaja menunggu orang di sebrang panggilan membuka suaranya .


"Qawiya, aku tau kamu di dalam. Buka pintunya sekarang !"


"Z..Za-Zayn !!! " Dia Mengeja nama si pemilik suara.


Wiya mematung memastikan yang baru saja terjadi bukanlah sequel mimpinya tadi. Dia memutar anak kunci dan menarik ganggang pintu mendapati se sosok manusia bertubuh tambun, tinggi, putih bermanik mata hitam pekat tengah menatapnya. Wiya belum terlalu bisa menerima kesadarannya. Dia takut yang dilihatnya bisa jadi adalah jelmaan Jin Ifrid atau teman-temannya yang sedang mengganggu Wiya. Mengingat Zayn selama ini pun tak ubahnya hantu yang datang menakut nakuti lalu menghilang pergi.


Rasa takut yang teramat sangat berubah menjadi energi besar dan kuat, sekuat tenaga dia mendorong kembali pintu itu hingga  membuat Tubuh besar itu tak mampu menahannya dan tangan kanannya terjepit tak terselamatkan.


"Wiya, tanganku Wiy, Qawiya !!! " Teriak Zayn


Wiya membuka kembali pintunya, Zayn buru-buru merongsok masuk ke dalam dan mengibas-ngibaskan tangannya yang perih.


"Zayn ? Kamu ?"


"Aduh, sakit Wiy " Masih meniup niup tangan malangnya.


"Ma...Maaf ! " Hm, Rasain!


" Ada hal penting yang mau aku  bicarakan ! Kamu harus ikut aku ! "


"Sekarang ? "

__ADS_1


"Gak ! Semalam ! "


"Ohhhh..."


"Ya iyalah sekarang Qawiya, Ayo !!!"


Tanpa menjawab Wiya berbalik badan akan masuk kedalam, Zayn dengan cepat memegang dan menahan pergelangan tangan Wiya agar tak berlalu dihadapannya. Wiya melihat tangannya yang sudah menjadi dingin di dalam genggaman Zayn. Selalu begitu.


"Aku ganti baju "


"Gak usah, kita hanya sebentar"


Wiya mengamati dirinya sendiri dari telapak kaki yang masih memakai sendal rumah sampai rambut yang masih di cepol satu. Dia hanya memakai T-shirt V-neck berwarna krem dan celana plisket putih sedikit menggantung. jangankan lipbalm, bedak tabur saja tak sempat di raih.


"Tetap Cantik" Zayn mengedipkan sebelah matanya "Ayo!"


"Tangan ku lepasin dulu ! "


Zayn melepaskan tangan Wiya, Wiya menutup pintu dan menguncinya dari luar. Dia berjalan mengiringi langkah Zayn dari belakang masuk ke dalam mobilnya. Setelah menutup pintu untuk Wiya, Zayn membuka pintu belakang mengambil jaketnya . Lalu duduk disebelah Wiya siap melajukan mobilnya.


Karena angin masih cukup kencang menyalurkan kedinginan, Wiya mengambil jaket itu menutupi tubuhnya. Zayn mengambil ujung pengait sabuk pengaman akan memasangkannya untuk Wiya. Wiya dengan cepat mencegah aksinya.


"Aku bisa sendiri !" Tolaknya.


"Oh,Okay !"


Mobil mulai melaju keluar gerbang dan melintasi jalan kota yang ramai. Wiya melirik Zayn dengan ekor matanya. Wiya tadinya mengira laki-laki ini adalah mempelai yang melarikan diri dari pertunangannya, tapi dari pakaian yang dia gunakan sepertinya tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


"Kamu tau dari mana aku udah pulang?"


"Nanti aku kasi tau ya !" Zayn mengelus lembut rabut Wiya.

__ADS_1


"Kita mau kemana ? "


"Kemana enaknya ? Cafe Puncak ? Kamu suka pemandangan dari ketinggian kan?"


"Kamu jangan gila ! aku cuma pakai baju beginian. Nih liat sandalku" Menggerak-gerakan mengayun kedua kakinya.


Zayn hanya tersenyum dan tidak menjawab lagi, dia hanya fokus mengendarai mobil dari balik kemudi sampai mobil berhenti di halaman parkir sebuah coffe shop. Wiya bersikeras tidak mau turun namun Zayn membujuknya dengan mengatakan bahwa dia tak perlu khawatir karena tidak akan ada yang memperhatikannya. Akhirnya Wiya keluar dari pada mereka harus bicara di dalam mobil berdua.


Coffe Shop itu terletak di kawasan Bukit Cermin, dari halaman parkir saja kita sudah bisa melihat indahnya pemandangan kota Tanjungpinang dari ketinggian . Gedung Coffe Shop terdiri dari tiga lantai. lantai satu dan dua nya jelas ramai oleh para millenials mengisi Sabtu malam mereka.


Zayn mengajak Wiya naik ke rooftoop yang merupakan lantai tertinggi dari gedung itu. Wiya melihat kiri-kanan, sepi. Tidak ada satu manusiapun mengisi jejeran kursi disana. Wiya mengancing penuh resleting jaketnya, angin malam usai teduh hujan dari ketinggian terasa sangat dingin namun Wiya begitu menikmatinya. Sedikit menenangkan jiwa melihat kelap-kelip lampu kota dari ketinggian apalagi di malam terang bulan seperti saat ini.


Wiya melepas cepol rambutnya. Menggerai rambut coklat sebahu dan menyisirnya dengan jari, sedikit memperbaiki penampilannya. Mereka duduk di salah satu bangku paling pinggir dan memesan Teh jahe hangat dengan sedikit cemilan. Beberapa menit dalam keheningan.


Wiya berdiri dari kursinya menuju pagar besi pembatas gedung itu. Menarik nafas dalam. Suasana hatinya kini membaik. Memandang dari ketinggian adalah hal yang paling dia suka. Dia sekarang benar-benar yakin sudah bisa mengendalikan perasaanya.  Zayn menyusul berdiri disampingnya menatap hal yang sama.


"Kenapa kamu senang sekali memblokir panggilan dan pesan dari ku Wiy ? "


"Kenapa kamu susah hati ? bukannya kamu bisa dengan mudah menghubungi ku kembali ?" dan menyakiti ?


"Jangan pergi-pergi lagi !"


"Kamu ga punya hak menahan ku ! Kamu ga bisa buat aku sakit lagi " Ucapnya tenang dan tersenyum menang.


"Tapi aku mau kamu Wiya !!! Aku mau kamu jadi ...."


Wiya berbalik menatap Zayn seolah sudah hafal dengan kondisi ini dan tau sambungan dari kalimat yang terputus itu. Mereka kini terbawa suasana seolah sudah faham dengan perasaan satu sama lain.


"Jadi apa ? Jadi teman kamu lagi ? "


"Tidak, kali ini bukan itu !" Bantah Zayn

__ADS_1


"Lalu, jadi apa ? Jadi Bintang mu ? Ketinggian !  jadi tanah ? terlalu rendah, Jadi matahari ? Panas, aku takut ! Jadi bulan ? Terlalu redup. Aku ga mau, aku gak mau semua itu. Cari aja teman mu yang lain"


" Jadi Kekasih hidupku, Ilma Qawiya, I Love You"


__ADS_2