
Wiya mengintip sedikit dari balik selimut memastikan Zayn dan Brigitta benar-benar sudah tidak ada disana. Setelah dipastikan hanya tinggal Ibu dan ayah saja, dia membuka selimut itu dan kembali duduk. Dia meminta ayah menyuapinya lagi dengan nasi rendang tadi, kali ini Wiya bahkan meminta tambahannya. Entah ini kebiasaan baik atau buruk, namun ketika sedang sedih, porsi makannya memang meningkat drastis sesuai dengan tingkat kepedihan hatinya. Kesedihan Ibu dan ayahnya hanya menggeleng-gelengkan kepala tanpa bertanya apapun.
Tiga hari dirumah sakit Wiya sudah dibolehkan kembali kerumah dan tetap melakukan rawat jalan sesuai saran dokter Ivan. Selama dirumah sakit setiap Zayn datang Wiya selalu mengulang aksinya. Berpura-pura sedang tidur, namun setiap hari pula Zayn tak pernah lupa mengunjunginya.
Brigitta juga kembali lagi kerumah sakit seperti janjinya, namun dia tidak datang bersama Zayn melainkan dengan Ilham. Jika tempo hari kehadirannya dengan Zayn karena tak sengaja bertemu di parkiran, saat dengan Ilham mereka janjian datang bersama. Anehnya Wiya tidak melakukan aksinya dan menyambut kedatangan Brigitta dan Ilham bahkan berbincangbdengan hangatnya seolah dia tak pernah menyimpan kecewa.
Setelah dirasa fisiknya telah cukup kuat untuk kembali bekerja, Wiya bersiap-siap untuk kembali masuk ke kantor hari itu, tapi saat Ia tak sengaja memeriksa notifikasi email masuk di akun miliknya ternyata sebuah surat cuti yang dikirimkan dari perusahaan untuknya dua hari yang lalu yang jelas menjelaskan bahwa dia diberikan dispensasi cuti masa pemulihan sampai satu pekan ke depan.
Wiya mencoba menghubungi divisi HRD perusahaan untuk mengkonfirmasi ulang bahwa dia sama sekali tidak mengajukan cuti dan sudah sangat pulih untuk kembali ke kantor. Namun salah satu petugas HRD mengatakan bahwa itu perintah langsung dari Direktur.
Ingin rasanya Wiya menghubungi langsung direktur yang mereka maksud, namun Wiya benar-benar sedang merawat hatinya yang dia rasa perlahan sudah mulai bisa dikendalikan. Pemulihan sakit hati butuh waktu lebih lama ternyata.
Saat sedang memainkan ponsel di tangannya, ada satu panggilan masuk. Wiya langsung menggeser ke atas menjawab panggilan itu dan meletakan ponselnya bersandar pada salah satu benda yang ada di meja riasnya.
Lah, kenapa malah dia yang nelpon sih?? panggilan video pula.
“Ada apa?" Dengan nada suara dan ekspresi yang paling biasa.
“Hay Wiy, gimana keadaan kamu hari ini?” Sapa seorang di sebrang panggilan yang tampak sudah duduk manis di ruangan kerjanya.
“Aku sangat baik, Alhamdulillah. Tapi entah kenapa perusahaan memberiku surat cuti sampai minggu depan. Aku tidak merasa pernah mengajukannya” Cibir Wiya.
“Itu hukuman untuk sekretaris manajer yang suka kerajinan ngerjain pekerjaan diluar tanggung jawabnya! Kamu udah ga professional!”
Apa-apaan?
“Tapi jatah cuti ku jadi habis. Kenapa kamu ga suruh HRD mengirim surat peringatan atau surat pensiun dini ku sekalian?” Sungutnya kesal.
“Jangan cemberut begitu. Kamu boleh mengajukan cuti kapan pun kamu ingin cuti”
__ADS_1
“Ohya? Dalam mimpi ku Zayn. Aku bukan tuan puteri!“
Saat Zayn hendak kembali menjawab obrolan itu, tiba-tiba pandangan matanya beralih ke arah pintu. Ada seseorang yang masuk. tanpa mengakhiri panggilan videonya Zayn menjawab sapaan tamunya pagi itu.
“Zayn, ahh maaf aku mengganggu. Lanjutkan saja dulu” suara itu terdengar samar-samar dari ponsel Wiya. Tapi Wiya yakin itu pasti Brigitta si tuan puteri yang sesungguhnya.
Kemudian Zayn kembali menatap layar ponselnya.
“Yasudah aku akhiri dulu ya, jangan lupa minum obat mu! Okay?“
“Huum” Jawab Wiya acuh.
“Gimana kabar Wiya, Zayn? Apa sudah benar-benar pulih?” Tanya Brigitta membuka obrolan mereka.
“Perusahaan memberikannya cuti satu pekan untuk recovery”
“Biar ku tebak, dia pasti tidak setuju dengan kebijakan itu. Kamu mengaggapnya seorang pesakit parah Zayn. Pasti dia kesal sekali”
“Hahaha. Iya kamu benar. Tapi dia memang harus benar-benar pulih atau dia akan bekerja membabi buta seperti kemarin. Entah apa yang ada dalam fikiran gadis itu” Zayn mengenang gadis mungil itu sambil tersenyum.
“Ah iya. Ada yang mau aku sampaikan dengan mu,Bii” Nada nya kini terdengar lebih serius.
“Apakah tentang mama Wulan?"
__ADS_1
“Apa yang kamu ceritakan padanya Bii? mama begitu tenang dan tidak emosi lagi sejak kamu datang menemaninya malam itu. Kesedihannya pun perlahan memudar dan sudah bisa beraktifitas kembali. Aku akan mentraktirmu segelas teh tarik sebagai ungkapan terimakasih.”
“Haha. Sepertinya kau akan memberikanku lebih dari itu Zayn” Ucap Brigitta penuh percaya diri dengan ucapannya “Waktu itu mama menanyakan keputusan mu. Maaf aku terpaksa mengarang cerita dengan mengatakan bahwa kamu sudah membicarakan pada ku tapi aku lah yang masih meminta tangguh waktu”
“Oh, jadi dihadapan mama, aku seolah-olah mengejar mu? begitu?“
“Mau bagaimana lagi? Aku hanya mengucapkan apa yang ingin mama mu dengar. Aku juga kehilangan papi. Aku mengerti kesedihan yang dialami mama Wulan. Tidak mungkin bagi ku mengatakan bahwa sejujurnya kamu sama sekali tidak punya niat menikahi ku, sesuai permintaan papa mu sebelum pergi. Bisa aku pastikan mama Wulan akan semakin sedih dan tidak memikirkan kesehatannya lagi” Kalimat panjang Brigitta terurai tanpa jeda. Dia mencoba menghirup o2 disekitarnya sebelum mulai berbicara lagi.
“Sekarang aku juga terjebak dengan kalimatku sendiri. Kita harus cari waktu yang tepat untuk membicarakan kebenaran”
“Kebenaran apa?“
“Kebenaran bahwa kita tidak akan, tidak mungkin, tidak akan pernah menikah” Ucap Brigitta menahan getir hatinya.
“Apa kamu sungguh-sungguh ingin menikah dengan ku?“
“Andai aku punya pilihan!” Brigitta tertunduk sendu.
Pasca kepergian papinya dia merasa sangat tertekan akan rasa kehilangan yang dalam. Dia tidak pernah menerima tawaran pekerjaan diluar perusahaannya. Sejak hari kepergian itu dia bahkan tak pernah lagi memposting sesuatu di sosial media dan dia tak ingin bertemu dengan media manapun. Dia benar-benar ingin bersama bayangan papi tanpa hiruk pikuk lainnya. Melakukan hal-hal yang papinya suka dan mengingat-ingat nasehat hidup yang selalu papi sampaikan padanya. Termasuk keinginan papi melihatnya menikah dengan Zayn, anak dari sahabatnya.
Namun dia mengerti sikap Zayn padanya sudah seperti hubungan saudara, Zayn memperlakukannya sama seperti Zayn terhadap Nikki dan Vhieya. Melindungi tanpa banyak bicara. Sepanjang kedekatan mereka, Zayn hanya membahas hal-hal penting dan jarang sekali bercanda yang tak penting. Sejak dulu, sejujurnya perasaan dirinya terhadap Zayn pun belum sampai kemana-mana. Beda dengan perasaannya terhadap Bu Wulan. Wanita yang masih tampak cantik di usianya yang sudah tak muda lagi, bagi Brigitta Mama Wulan adalah sosok Ibu dihidupnya .
“Aku sudah memutuskannya Bii, kita tak punya banyak waktu lagi”
Brigitta mengangkat kepalanya memperhatikan air wajah Zayn yang datar saat mengatakan keputusannya.
__ADS_1