
Di sebuah bangunan di sudut kota.
Seorang gadis baru selesai mengeringkan rambutnya dengan alat pengering. Dia meletakkan kembali handuk kecil itu di tempatnya. Kemudian mengenakan gaun tidur yang sangat cantik membaluti tubuhnya nan indah.
Ravela Gisha, seorang gadis mandiri yang merantau ke Ibukota, jauh dari keluarga. Dia seorang pekerja keras dan sebenarnya punya jiwa sosial yang tinggi.
Usianya sudah lewat dari kepala tiga, namun Vela belum pernah terlintas untuk menikah dan membangun sebuah keluarga. Itu karena dirinya punya kriteria yang sangat sulit dijangkau oleh lelaki yang ada di lingkungannya.
Vela mendambakan laki-laki yang baik hati, tampan, mapan dan romantis. Entah mengapa kriteria ini belum juga ditemukannya sampai dia melihat sisi lain dari diri pimpinannya. Setelah masa pencarian yang cukup panjang, mengapa hatinya cenderung kepada pria yang beristri?
Vela tidak ingin di cap sebagai perempuan perebut milik orang. Ya, merebut Zayn dari Wiya juga sesuatu yang hampir mustahil.
Kemudian Vela menghempaskan diri di atas ranjang. Dia membuka ponselnya dan membuka sosial media. Entah mengapa yang pertama kali ingin dia lihat adalah profil milik Ilma Qawiya.
Semakin ditelusuri, semakin Vela merasa tak sebanding jika harus bersaing dengan istri dari pimpinannya ini secara licik. Hampir sempurna, tidak ada celah yang bisa di komentari dari perempuan itu.
Mencari perhatian Zayn pun terasa tak ada gunanya. Jangankan tertarik, Zayn bahkan tak pernah melirik. Tapi Vela punya satu cara terakhir, dia akan berusaha mencobanya.
Vela menghembuskan nafas berat. Dia tak yakin apakah cara ini akan menuaikan hasil sesuai yang dia inginkan. Tapi yang pasti dia tak ingin ada pihak yang tersakiti.
Vela bangun, mengambil laptop dan membukanya dari atas tempat tidur. Masih ada beberapa laporan kegiatan sosial yang belum Vela selesaikan. Tapi tiba-tiba dia teringat jadwal pimpinannya besok pagi yang sangat penting dan tidak bisa di geser lagi. Tadi sore saja dia sudah sangat kewalahan memindahkan serentetan jadwal itu untuk esok hari.
"Aduh, ini bener-bener pertemuannya harus jam 7 pagi besok. Pak Zayn pasti datang jam 8 kalau gak aku ingatkan. Tapi menelponnya di jam segini sama aja aku cari mati, gimana dong?"
Vela melirik jam walker di nakasnya, baru beberapa menit berlalu dari jam delapan malam.
"Tapi kalau gak di telpon, besok aku yang di semprot dikatain gak ngingatin. Duh...telpon aja deh ah. Dimarahin hari ini atau besok toh sama aja dimarahin juga," ucap Vela lagi.
Akhirnya Vela mengambil ponsel yang tidak jauh dari posisi duduknya dan membuat panggilan suara ke nomor Zayn.
Cukup lama nada sambung panggilan itu berdering, hampir saja Vela membatalkan niatnya dan mengakhiri panggilan. Namun seketika panggilan itu langsung terhubung. Vela hampir tak percaya, Zayn menjawab panggilannya di luar jam kerja.
Di kediaman Ayah Ilyas
Zayn dan Wiya sudah berada di kamar mereka usai makan malam sambil mengobrol ringan dengan Ibu dan Ayah. Walau lelah, namun masing-masing diri mereka tampak segar setelah berolahraga. Menghabiskan waktu berkualitas berdua.
"Besok kamu ke kantor Wiy?" tanya Zayn pada istrinya yang kini sudah berada disampingnya.
"Eumm, kayaknya engga deh mas," jawab Wiya sambil menusuk-nusuk telunjuk di kulit dada suaminya.
"lho, kenapa? kan besok jadwal ke kantor. Gak bosan dirumah?"
"Hmmm, jangan bilang kamu lupa ya besok hari apa?"
"Gak mungkin aku lupa sayang, besok hari kamis kan?" goda Zayn
__ADS_1
"Tuh kan..."
"Ehehhee, Gimana aku bisa lupa sayang. Besok adalah hari dimana aku berhasil memperjuangkan kamu,"
"Iya besok aku mau bikin masakan spesial, kita makan malam romantis dirumah, ya mas?"
"Iya, tapi malam ini izinkan aku makan kamu dulu ya,"
Zayn mulai meloloskan gerakan-gerakan kecil yang membuat posisi Wiya mulai tidak stabil. Menggeliat, mengeluarkan suara mendesis, merespon sentuhan suaminya yang amat intens dan posesif.
Zayn membuat kecupan kecil di sudut bibir istrinya yang terasa amat manis. Kemudian dia memegang dagu Wiya untuk dapat melesap semua keranuman disana. Membuat istrinya tak bisa lagi berdiam diri.
Wiya membalas perlakuan suaminya dengan manis pula. Zayn menelurusi seluruh bagian sensitif yang ada dalam tubuh Wiya, lenguhan istrinya membuat keinginannya semakin menggebu-gebu lagi.
Suasana yang mulai terasa panas seketika terjeda karena suara ponsel yang berdering. Wiya melepaskan dirinya karena yang berdering adalah ponsel suaminya. Wiya mengizinkan suaminya untuk menjawab panggilan itu terlebih dahulu.
Dengan posisi yang masih di dalam dekapan, Wiya meraih ponsel dan melihat nama siapa yang tertera di atas layar itu.
Zayn tak peduli, dia tetap melancarkan aksi mencumbu setiap inci lekuk tubuh istrinya.
"Vela? Mas, Vela nih," tukas Wiya memberikan ponsel pada suaminya.
Wiya sama sekali tidak berburuk sangka. Dia tahu benar, pastilah ada hal penting yang menbuat Vela harus menghubungi Zayn di jam segini.
"Kamu angkat aja," titah Zayn dengan suaranya yang sudah terdengar parau.
"Hal..halo," sapa Wiya terbata, karena Zayn ternyata tidak melepaskan pagutan di sudut bibirnya.
"Selamat malam Bu, mohon maaf mengganggu. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan dengan Pak Zayn!"
"Iya....iya...gi,gimana?" menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara aneh karena kini tangan suaminya semakin bergeriliya. "Emmh, gimana nona Vela?"
"Bu? Ibu Wiya? Apa anda baik-baik saja?"
Wiya menjauhkan ponsel itu agar suaranya tidak terdengar ke sebrang sana. Dia mencoba menarik diri dari aksi yang sedang dilakukan suaminya. Tapi percuma, Zayn semakin bersemangat melakukan yang ingin dia lakukan.
"No..na Vela, emmh...tolong di wasap kan aja ya, ini saya lagi...la..lagi kurang enak badan,"
"Astaga, maafkan saya bu. Baik, saya kirim lewat pesan saja. Sekali lagi saya minta maaf. Selamat malam"
Tanpa menjawab salam dari Vela, panggilan itu Wiya putuskan. Dia menatap kesal ke arah suami yang sengaja menggodanya saat dia sedang berbicara dengan Vela. Sedangkan Zayn menyeringai penuh kemenangan. Melihat senyuman usil suaminya, Wiya langsung mencampakkan ponsel itu ke sembarang arah dan membalas semua perlakuan suaminya dengan pembalasan yang setimpal, bahkan lebih gila.
***
Setelah kembali berpakaian, Wiya mengambil ponsel yang tadi dicampakkanya. Membuka pesan dari Vela.
__ADS_1
"Mas, ini Vela mengirimkan jadwal mu besok. Dari jam tujuh pagi. Ini pertemuan penting banget jam tujuh besok mas!" Wiya membacakan pesan dokumen itu.
"Iya, semua jadwal siang sampai sore tadi aku batalin, jadi harus diselesaikan besok pagi-pagi sekali. Kamu gak apa-apa kan disini dulu aja?"
"Iya deh mas, gak apa-apa," ucap Wiya
Zayn memberi kecupan lembut di kening istrinya, mengajak Wiya untuk segera mengistiraharkan diri. Tapi mata Wiya tak kunjung terpejam, sebuah fikiran mengganjal di kepalanya. Seperti mendesak untuk segera dibicarakan.
"Mas, udah tidur?"
"Hampir,"
"Mas, kalau seandainya nanti aku gak bisa hamil. Kamu bakalan ninggalin aku gak?"
"Kamu ngomong apa Wiy? jangan terlalu banyak mikir. Ayo sekarang kita tidur," melingkarkan lengannya untuk memberi pelukan setengah lingkaran.
"Aku serius mas!" mencoba melepaskan diri.
"Kamu akan hamil sayang, aku berjanji akan menghamili mu,"
"Aku pegang kalimat mu mas, kamu tau kan aku tidak mentoleransi kebohongan. Jadi sebaiknya kita saling jujur. kalau emang kamu mau nikah lagi, mending bilang, aku gak bisa membayangkan rasanya dicurangi,"
"InsyaAllah sayang," ucap Zayn di ambang batas kesadaran.
"InsyaAllah apa mas? kamu bener-bener mau nikah lagi mas?"
"InsyaAllah gak bakalan curang sayang. Astagfirullah Wiy, aku ngantuk banget cinta. Besok aku harus berangkat pagi-pagi banget kan?"
"Huuuu...huuu...iya mas, maafin ya aku suka gak kontrol kadang kalau udah baper seharian."
"I feel you, sayang. Kamu itu terlalu banyak berfikir. Sekarang tidur ya, mas pelukin."
Dan pelukan itu mengantarkan mereka terlelap sampai pagi.
___________________________________
Dear readers, banyak dm dan komen yang masuk dan bilang deg-deg gan dan terkesan tidak menikmati cerita ini. Ehehehe. yang sedang kalian baca adalah season ke dua dari kehidupan Zayn dan Wiya. Ini baru eps 14, jadi maaf ya kalau agak membosankan. Karena ini kan sama aja kalian baru kembali ke part pembuka, pengenalan tokoh dan sebagainya.
Seperti yang author bilang, konflik di season II ini tidak jauh dari konflik alami kehidupan rumah tangga yang terjadi. Sebisa mungkin loh ya author tidak membuat konflik yang mengada-ada. Semua akan saling berhubungan, dan pastinya nanti itu baru bisa terlihat setelah puncak konflik dan antiklimaksnya.
Ini adalah novel author yang pertama, Jadi masih banyak banget cacat dan kurangnya. Masih sangat butuh kritik dan saran yang membangun untuk kelanjutan karya kedepannya.
Kabar baiknya pula, Novel kedua ini gak akan panjang-panjang kok. puncak konflik dan uraian penyelesaiannya hanya akan update kurang dari satu bulan (Semoga sesuai rencana).
Follow me on another socmed
__ADS_1
ig : enka2804
fb : Nela Kurniaty Idris