
Awalnya Zayn merasa biasa saja menghadapi ini semua, bukankah jika tentang keinginan Ibunya pasti akan berakhir sesuai keinginan Ibunya pula? jadi karena hal itulah mengapa sampai hari ini Zayn belum memberikan tanggapan apapun tentang rencana yang Pak Haris sampaikan.
Namun tiba-tiba Zayn teringat wajah penuh harap sang Papa saat membicarakan itu padanya. Dan saat Papa nya mengatakan sangat ingin melihat anak sulungnya segera menikah, memiliki keluarga dan keturunan. Tampak jelas pengharapan besar disana. Tidak dibuat-buat, cahaya berbinar dan menggebu-gebu terpancar dari manik mata teduh papanya yang masih sangat tampan itu. Sangat bersemangat seolah Zayn harus menikah besok saja. Tapi Zayn yang memang tidak banyak bicara hanya berjanji akan memikirkan permintaan kedua orang tuanya.
“Hey, Pak Zayn! Kamu melamun? Memikirkan apa?"
“Aku, tidak!”
“Kamu, Iya. Jelas kamu tidak mendengar aku bicara apa tadi“
“Ah, maaf maaf, memang apa yang kamu bicarakan Bii?“
“Tuh kan, hmmm” Protes Brigitta.
“Aku harus pergi sekarang! Nanti mungkin aku akan kesini saat jam makan siang” Brigitta kini berdiri sedikit merapikan pakaiannya dan menggenggam handbagnya.
“Iya Bii, ayo aku antarkan kamu sampai bawah”
“Tidak Perlu, aku bisa sendiri. See you!" Brigitta tersenyum dan berlalu.
***
Berselang 15 menit sejak meninggalkan ruangan itu, Zayn memanggil Rifa untuk menanyakan jadwal hari ini dan ternyata memang ada jadwal makan siang bersama papanya dan Tuan Setiawan. Rifa keluar setelah membacakan jadwal pimpinannya.
__ADS_1
Zayn kini mengambil figura kecil yang menemani hari-harinya di ruangan itu. Potret dirinya bersama mama papa Nikki dan Vhieya. Mungkin sekarang saatnya dia memikirkan permintaan mama dan papanya. Dia masih tak mengerti kenapa tiba-tiba kedua orang tuanya terutama papa begitu terburu-buru mengambil langkah dalam hidupnya. Memintanya kembali ke Indonesia, menyerahkan perusahaan kepadanya dan sekarang mendesaknya untuk segera menikah.
Zayn bukannya tidak Lelah dengan fikirannya sendiri. Untuk itulah dia menanyakan pada Wiya tadi pagi. Walau gadis itu lebih banyak berkias yang tak jelas, tapi Zayn cukup bisa menangkap maksudnya. Dan keingintahuan Zayn terjawab oleh Wiya.
Sejak Wiya mengatakan seolah-olah cinta adalah faktor utama keutuhan rumah tangga, Zayn tiba-tiba saja membayangkan andai dia memiliki sebuah pilihan, menikah dengan orang yang dia cintai dan merasakan cinta yang tulus lagi hangat dari seseorang wanita secara alamiah, bukan keterpaksaan atau faktor lainnya. Tapi nama tentang sosok wanita itu belum pernah terlintas di benaknya.
Dan gadis pilihan orang tuanya? Brigitta tidaklah buruk. Bahkan dia sangat baik, cantik dan berprestasi. Namun Zayn belum pernah merasakan seperti apa yang tadi Wiya coba jelaskan padanya. Apa itu tadi? Debar-debar kecil? Apa itu pengharapan? Pertemuan? Ketidak sengajaan? Apa semua itu akan dia rasakan nanti saat dia tetap menerima Brigitta dalam hidupnya?
Zayn memanggil Rifa kembali.
“Iya Pak?” Rifa masuk membuka pintu ruangan dan menutupnya.
“Duduk Rifa!“ Perintah Zayn.
Rifa duduk di hadapan Zayn dengan ekspresi siap menanti perintah selanjutnya.
Tanya Zayn langsung pada poin yang dia ingin dengar. Rifa sudah tidak heran, boss nya memang selalu bertanya hal-hal aneh begini. Sebenarnya dia harusnya tersinggung dengan pertanyaan sensitif sekali untuk perempuan lajang usia diatas 30an.
“Siapa yang tidak mau menikah Pak? Semua orang mau menikah. Pernikahan bukan kompetisi jadi saya tidak perlu terburu-buru tampil. Kalau sudah ada yang terbaik untuk saya juga nanti akan tiba. Bapak jangan aneh-aneh lagi deh.“
Rifa yang trauma karena biasanya Zayn akan memberikan perintah yang tidak masuk akal setelah bertanya hal-hal aneh demikian.
“Yang terbaik itu yang bagaimana?“
“Pak, Nona Brigitta itu perempuan baik kok, sopan, manis dan sangat pintar” Rifa tau kemana arah pembicaraan boss nya yang sedang ingin dia sampaikan. “Kalau masalah Bapak belum bisa mencintainya, semua bisa kalian usahakan, kok. Cinta akan tumbuh perlahan"
__ADS_1
“Oh ya, berapa lama biasanya?“
“Mana saya tau pak! Menikah kan gak sama dengan menanam biji kecambah yang bisa kita amati dan catat pertumbuhannya setiap detik”
“Hahah. Seperti praktikum Biologi? Ah harusnya saya gak nanya sama kamu. Payah kamu ahh!”
Rifa hanya tertawa kecil. Mau bagaimana. Itu jawaban terbaik yang bisa dia berikan hari itu. Ponsel Zayn berdering, sebuah pesan masuk kontak yang tertulis nama "Papa"
“Eh, Papa ? Udah 5 menit yang lalu. Pesannya tapi baru diterima sekarang. Rif, papa minta kamu pesankan ketoprak untuk makan siangnya, banyakin toge katanya“ Zayn meletakkan kembali ponselnya ke atas meja.
“Wah, itukan makanan kesukaan Pak Haris. Baik pak, saya akan segera memesannya ke bawah. saya permisi dulu" Rifa segera berlalu keluar dari pintu.
Belum sempat dia menutup sempurna pintu ruangan itu. Rifa tercengang melihat Brigitta yang sudah berdiri di depan mejanya, sejak kapan gadis ini kembali lagi. Bukankah tadi dia pergi dan katanya akan kembali saat jam makan siang nanti? Makan siang masih 2 jam lagi.
Penampilan Brigitta sekarang acak-acakan. Dia tidak lagi memakai sepatu tumit tingginya, rambutnya pun dikuncir sembarang ke atas. Kedua matanya merah sembab masih banyak air mata berjatuhan di pipinya. Dia menangis namun tak ada suara hanya berdiri mematung menatap Rifa. Bingung tak tau harus melakukan apa, Rifa kembali membuka pintu ruangan Zayn dan mengisyaratkan bossnya untuk keluar.
Zayn berjalan keluar dan terkejut mendapatkan Brigitta dengan kondisi demikian. Bukankah tadi dia masih baik-baik saja saat keluar? Apa yang terjadi? Zayn setengah berlari menuju ke arahnya yang masih mematung, namun air mata itu terus mengalir tak terbendung.
“Bii, Bii, Hey…Brigitta, apa yang terjadi? kamu kenapa?" Zayn mengusap pundaknya. Raut wajah Zayn tampak panik sekali.
Brigitta masih tak menjawab bahkan saat Zayn sudah merengkuh tubuh rapuhnya ke dalam pelukan.
“Nona Brigitta, ayo saya bantu nona duduk.” Rifa membantu Zayn membopong Brigitta ke sofa yang ada di ruangan itu. Rifa mengambil segelas air putih tapi Brigitta menolak meminumnya.
“Bii, relax okay“ Ucap Zayn tenang di tengah kepanikan. Brigitta berusaha mengeluarkan sesak yang dirasakannya dan mulai bisa meluapkan emosinya.
__ADS_1
“Zayn !!! Papi…” Teriaknya histeris dan meraung dalam pelukan Zayn.
Zayn semakin mengencangkan pelukannya, dia menekan lembut kepala Brigitta ke dada bidangnya dengan sebelah tangan. Berusaha memberikan ketenangan agar Brigitta bisa melanjutkan ceritanya.