
Hari Sabtu yang tak ditunggu. Rasanya Wiya lebih baik berangkat ke kantor hari ini daripada harus dirumah memikirkan hal apa yang bisa dia gunakan untuk menghindari ajakan Brigitta sore nanti. Apa yang harus dia lakukan berada diantara sepasang calon pasutri itu. Apalagi perasaannya kepada Zayn yang tumbuh subur baru saja dia kubur. Bisa rusak benteng pertahanannya. Namun menolak Brigitta sama saja menampakan kegagalan usaha move on nya. Wiya tak mau terlihat sebagai gadis yang kalah rebutan cinta.
Ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk dari Ilham yang mengajaknya makan es krim di Melayu Square sore nanti. Disitu pula muncul ide mencari jalan keluar dari masalahnya ini.
Wiya mengajak Ilham untuk menjadi temannya memenui Brigitta dan Zayn sore nanti. Ilham menolak tegas ajakan itu. Padahal sebelumnya Ilham tak pernah tega mengatakan tidak jika itu adalah permintaan Wiya. Entah kenapa hari ini dia langsung menolaknya.
“Tega kamu Ham!“ Kemudian Wiya diam, sengaja diam agar Ilham membaca kekecewaanya, tidak tega, dan berubah fikiran.
“Huft. Tapi hanya sebentar ya Wiy” Ilham benar-benar luluh dan tidak tega membiarkan Wiya sendirian.
“Waaaaah, Terimakasih Ilham. Ketemu disana nanti sore ya”
“Gak ada ya! Kamu tunggu dirumah, aku jemput”
“Hehehe. Oke. Siyap Boss” Wiya menjawab dengan girangnya. Setidaknya disana nanti ia tak mati gaya melihat keserasian dua sejoli itu.
***
Sore harinya Wiya sudah siap dengan long t-shirt berwarna ungu muda, rambutnya dibiarkan tergerai di bahunya, dia sempat membentuknya curly dan sedikit memberi warna tadi. Wiya menyilangkan tas kecil dibahu dan
turun menemui Ilham yang sudah di ruang tamu. Ilham dengan kemeja polos biru muda, tampak maskulin dengan rambutnya yang disisir belah ke samping. Mereka pamit dengan anggota keluarga dan pergi menemui Zayn dan Brigitta yang sudah menunggu disana.
__ADS_1
Mereka telah sampai di sebuah gerai teh tarik sesuai titik lokasi yang diberitahu Brigitta lewat pesan singkat tadi. Sebuah gerai sederhana namun menjual menu yang tidak dijual di café manapun di kota itu. Teh tarik asli Kota Tanjungpinang. Tampak Zayn dan Brigitta sudah duduk disana namun sibuk dengan ponselnya masing-masing. Brigitta berdiri melihat Wiya dan Ilham menghampiri mereka.
“Hayy Qawiya! Aku kira kamu gak bakalan datang Wiy. Ayo pesan teh mu“ Wiya duduk berhadapan dengan Zayn. “Hallo Ham” Sapa Brigitta sedikit canggung. Ilham hanya tersenyum sedikit membalas sapaan Brigitta dan bersalaman dengan Zayn lalu duduk disebelah Wiya dan posisinya berhadapan dengan Brigitta.
Beberapa saat dilalui dengan kecanggungan diantara mereka. Zayn yang merasa gemas melihat Wiya yang sedikitpun tidak melihat atau mengajaknya bicara. Ingin rasanya dia menarik hidung minimalis kesukaannya itu
andai mereka hanya berdua. Brigitta turut canggung melihat Ilham yang tidak melempar senyum dan keramahan seperti biasanya. Sampai pesanan mereka tiba.
4 gelas teh tarik di atas meja tak lantas menjadikan suasana cair seperti cream susu dan gula yang larut dalam setiap gelasnya.
Tik tok tik tok
Mereka benar-benar larut dalam gelas mereka masing-masing.
“Eh iya Wiy, ini undangan jamuan makan malam pesta pertunangan aku dan Zayn. Untuk kamu dan Ilham. Datang loh!”
Wiya hanya menatap undangan di tangan mulus itu beberapa detik. Ingin rasanya Wiya meneriaki ketidak mampuannya menerima kenyataan ini. Dirinya diundang ekslusif langsung oleh orang yang beritanya diincar oleh seluruh media dan para netizen.
Mungkin Wiya akan senang karena Wiya termasuk salah satu dari jutaan insan pengikut Instagram Brigitta yang mendapatkan keberuntungan ini. Namun masalahnya Brigitta akan bertunangan dan menikah dengan orang yang mengisi celah-celah pengharapan hati Wiya. Orang yang Wiya harap namanya ada bersama orang itu dalam undangannya. Namun Wiya harus cukup puas dengan hanya namanya yang berada di kolom nama tamu saja. Kemana Wiya bisa sembunyikan luka-luka sayat dalam hatinya?
“Wah iya, pasti! Pasti kita akan hadir. Mana mungkin kita tidak hadir, iya iya. Kita harus hadir. Ya kan Ham? Dengan gerakan buru-buru Wiya memasukan undangan itu ke dalam tas sampingnya.
“Kita gak bisa pergi Wiy!”
__ADS_1
Semua mata beralih menatap wajah misterius Ilham. Berbeda dengan Wiya yang mampu menyimpan segalanya dengan rapi, Ilham justru menampakkan ekspresi ketidak nyamanannya berada diantara mereka.
“Kenapa Ham?“ Tanya Zayn heran.
“Bukankah hari Rabu saya harus berangkat perjalanan tugas ke Kalimantan, Pak? Acara ini hari Sabtu depan depan kan?”
Zayn baru ingat hasil rapatnya dengan para manajer bagian kemarin tentang masalah salah satu outlet mereka disana. Kemudian dia hanya mengangguk-angguk pelan sambil kembali mengaduk teh miliknya.
“Hmmmm. Zayn. Apa jadwalnya tidak bisa di geser? Padahal mereka berdua adalah tamu yang sangat kita tunggu kan?“ Kini Brigitta berbicara dengan nada manja, dia malah menggenggam telapak tangan Zayn yang berada diatas meja. Wiya menelan berat ludahnya sambil ekor matanya tak lepas memandangi adegan itu.
“Tidak mungkin Nona Brigitta, tapi tentu kami akan tetap mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua” Ucap Ilham yang sudah berdiri, kalimatnya tadi terasa berat dan panas sekali. dia menggenggam tangan Wiya memberi isyarat untuk mengikuti langkahnya.
“Maaf kami masih ada acara lain. Ayo Wiy!”
Wiya sedikit kesulitan menggeser kursinya dan akhirnya ikut berdiri dan pamit permisi dengan Brigitta. Hanya dengan Brigitta. Zayn semakin kacau melihat tingkah Wiya.
Ilham dan Wiya melanjutkan acara mereka, berburu es krim di tepi laut kota Tanjungpinang untuk mendinginkan hati dan menghanyutkan segala rasa yang pernah ada. Selain butuh tenaga, pura-pura bahagia juga butuh banyak banyak asupan udara.
__ADS_1