
Zayn mengantarkan dokter dan menutup pintu kamar itu kembali, dia mengambil ponselnya yang berdering sejak tadi. Panggilan tak terjawab dari Rifa. Zayn melakukan panggilan kembali.
“Sebentar ya Wiy, aku telfon Rifa” Mengusap rambut kecil di kening Wiya. Wiya mengangguk.
“Iya Pak, tadi saya sudah menghubungi Ibu Ria. Penerbangan mereka terpaksa ditunda sampai besok pagi pak, dan saya akan kesana sekarang menggantikan bapak menjaga Wiya.” Ucap Rifa dari seberang sana.
“Oh begitu. Tidak usah Rifa. Kalau boleh kamu tolong ke rumah saja, menemani Mama, nanti aku akan telfon Mama.”
“Tadi saya sudah menghubungi nyonya besar menyampaikan Bapak sedang dirumah sakit karena Wiya harus di rawat, dan nyonya bilang tidak masalah dan minta bapak untuk tetap menjaga Wiya sampai keluarganya datang. Tadi juga ada nona Brigitta disana Pak” Lapor Rifa dengan rinci.
Zayn teringat tentang janji dengan Mama Wulan untuk bicara dengan Brigitta perihal pernikahan mereka. Dia melupakannya karena kondisi Wiya saat ini. Setelah shalat Isya Zayn berniat akan menghubungi mamanya.
Kemudian Zayn membuat panggilan ke nomor ponsel Mamanya, tidak menunggu lama panggilan itu langsung dijawab dengan salam. Suara mama terdengar hangat dan lebih segar.
“Iya Nak, Rifa sudah memberi tahu mama tadi. Kamu disana saja jagain Wiya sampai orang tuanya kembali, itu tanggung jawab mu karena kejadiannya pada saat jam kerja”
“Iya Ma, apa mama sudah makan? Rifa akan kesana kalau mama butuh sesuatu.”
“Mama sudah makan, Brigitta ada disini Zayn, kamu jangan suruh Rifa. Kasihan anak itu sudah lelah seharian di kantor”
Pantas saja suara mama terdengar bahagia.
Kenapa Brigitta sangat pandai mengambil hati mama?
“Brigitta? Ah, ma maaf, soal Brigitta itu tadi siang, Zayn…” Kalimat itu menggantung dan di potong oleh mama Wulan.
“Iya iya mama sudah tahu, Brigitta sudah bilang ke mama. Makasih ya sayang”
Apa? Makasih?
Brigitta bilang apa ke mama?
“Oh yasudahlah, Mama apa benar tidak apa-apa?”
“Benar Nak, Oh ya mama lupa. Bibi mu baru saja sampai. Dia juga akan menemani mama disini. Kamu tak perlu khawatir. Salam untuk Wiya, mama mendoakannya semoga lekas kembali pulih.”
Zayn menaikan satu alisnya saat mendengar kata “bibi” disebut mama Wulan.
“Bi Titin ? “ Zayn menyebut nama adik angkat mendiang Papanya yang nyentrik abis.
“Iya mama memintanya tinggal disini beberapa hari. Yasudah Zayn, mama akhiri ya panggilannya. Kamu jangan lupa shalat dan makan.“ Mama Wulan menutup panggilan dari seberang sana.
Zayn masuk ke dalam dan duduk ditempatnya semula. Ternyata Wiya sedang melakukan panggilan video dengan Ibu dan ayahnya. Zayn memilih duduk di sofa dan membuka macbook memeriksa beberapa laporan yang masuk.
__ADS_1
Setelah mengakhiri panggilannya Wiya melihat Zayn yang masih fokus dengan pekerjaannya
“Zayn”
“Hmm?”
Bergumam tanpa mengalihkan tatapannya dari pekerjaannya.
“Udah malam, kamu ga pulang?”
Wiya sejujurnya masih menikmati wajah yang sedang fokus menatap layar itu. Ekspresi seorang pekerja keras tampak dari situ. Bagaimana tidak, Zayn adalah insan dari kalangan industri kreatif, bila dilihat dari gelar akademiknya, dia adalah seorang designer grafis.
Namun keadaan menghendakinya menjadi pewaris perusahaan kuliner ayahnya. Dia tentu tidak spesifik menguasai ilmu ini, namun dia memaksakan dirinya dan bekerja keras untuk itu semua. Wiya mencuri tatapan itu sangat dalam dan lama dari tempat tidurnya.
Zayn mematikan layarnya dan berjalan menuju Wiya dengan kancing kemeja yang sudah terbuka seluruhnya dan menampakan t-shirt abu-abu pas badan yang dia kenakan. Rambutnya masih tetap rapi walau tak se klimis tadi pagi. Zayn membuka kemejanya dan meletakan di badan sofa.
“Kalau aku pulang siapa yang nemanin kamu?“
“Aku bisa sendiri, diluar banyak perawat yang bisa menjagaku. Bu Wulan sedang tidak sehat Zayn. Beliau pasti lebih membutuhkanmu”
Sisi lain hati Wiya berkata jika Zayn nekat tidur satu kamar dengannya, malah akan menambah daftar harapan dan kenangan manis yang bermunculan bagai lumut dikala musim hujan.
“Mama yang meminta aku tetap disini. Mama mendoakan kesembuhanmu”
“Ada Brigitta disana yang menemani mama.” Imbuhnya lagi.
Ditariknya kembali senyum bahagia yang tulus tadi sambil merutuk kebiasaan berharap yang akhir-akhir ini sering sekali terjadi. Dia hanya ber Ohh tanpa mengeluarkan suara. Terlalu jauh halusinasinya jika berharap dianggap calon menantu.
“Zayn” Panggil Wiya berusaha mengalihkan tema.
“Iya”
“Aku suka ngeliat kamu kalau lagi kerja, keliatan banget berusaha mengerti semuanya. Inget deh waktu kamu susah payah belajar sistem keuangan perusahaan waktu itu”
Zayn menahan tawanya karena Wiya pasti marah besar kalau tau saat itu dia tak sungguh-sungguh sedang belajar. Dia mencari kalimat apa yang tepat untuk menghindari interogasi berlanjut.
“ Hm, iya dong. Pasti! Aku kan juga pengen pinter kaya kamu. Pengen sukses menekuni ini semua. kata orang bijak, Gak ada kesuksesan yang instan dalam hidup ini” Ucapnya asal.
“Iya, bahkan kalau pengen mie instan pun harus rebus air dulu. Gabisa langsung” Jawab Wiya tak kalah serius.
“Yhaaaaaaaa, kamu laper nih sepertinya. Yuk aku siapin makannya”
Wiya sebenarnya sungkan sekali dilayani Zayn seperti ini, walau tidak terjadi apa-apa namun tetap saja mereka berdua di dalam satu kamar yang sama. Tapi sikap Zayn benar-benar tampak hangat dan tulus melakukan semuanya. Dia pun tetap melakukan yang sesuai batasannya.
__ADS_1
Setelah itu Zayn membantu menyiapkan makanannya, Wiya menolak Zayn suapi, dia lebih memilih makan sendiri. Tapi Zayn malah gemas melihat Wiya makan malah sesekali minta disuapi. Akhirnya Wiya makan sambil menyuapi Zayn yang ketagihan membuka mulutnya lebar-lebar di hadapan Wiya.
Apa bedanya kalau begini? huft.
Usai menikmati makan malam yang porsinya lebih banyak masuk ke lambung Zayn, Wiya minta Zayn menyalakan TV dan menemani Wiya menonton program yang mereka ganti-ganti. Tak hanya itu Zayn selalu tepat waktu mengingatkan dan membantu Wiya minum obat. Tak ada yang menyadari kadang selipan canda dan pecahnya tawa diantara mereka hanya akan membuat mereka sulit melepaskan satu sama lain.
“Sudah yuk, kamu harus istirahat" Zayn menutup mulutnya dengan tangan karena menguap, dirinya sudah sangat mengantuk.
“Iya, yasudah. Kamu tidur gih“
Malam itu Wiya tidak bisa memejamkan matanya. Senyaman apapun kamar VVIP ini tapi tak bisa menggantikan kehangatan kamar sederhananya dirumah. Dia melihat Zayn sudah terlelap dengan pulasnya di bed tamu. Andai dia bisa turun sendiri dan memberi Zayn selimut ini, pasti akan dia lakukan. Wiya terus bergerak tak nyaman di tempat tidurnya membuat Zayn terjaga.
“Wiya?”
Zayn memanggil Wiya yang membelakanginya.
“Zayn, kamu terbangun? Maaf. Tapi aku gak bisa tidur”
Zayn berjalan menghampirinya.
“Kamu nangis? Kamu kepikiran kata-kata dokter Ivan ya? Jangan khawatir. Ini terapi dari dokter Ivan, dia dokter Onkologi terbaik di sini. Percayalah sambil tetap berdoa" Zayn memastikan bahwa yang tergenang di pipi Wiya adalah air mata, dia menyeka builr itu dengan kedua tangannya.
Wiya menggelengkan kepalanya. Karena bukan hal itu yang mengganggu fikirannya. Sebenarnya Wiya memang sudah tau dirinya mempunyai riwayat medis gangguan hormon thyroid.
“Kamu kangen Ibu?“
Kini dia menganggukkan kepalanya. Biasanya saat Wiya sedang sakit Ibu akan menemaninya tidur dikamar hingga Wiya terlelap.
Seolah mengerti apa itu rindu, Zayn mengambil selimut miliknya yang harusnya dipakai untuk penjaga pasien, menggulungnya sehingga mirip dengan bentuk guling. Meletakan disamping Wiya. Dia meraih tangan Wiya untuk
memeluk guling jadi-jadian itu. Kemudian dia menyelimuti tubuh Wiya dengan selimut satunya, menutupi tubuh Wiya sampai ke batas lehernya. Wiya diam menerima yang Zayn usahakan untuk membuatnya nyaman.
Kemudian Zayn duduk di kursi yang ada di samping tempat tidurnya, sebelah tangannya direntangkan di
atas tubuh Wiya membentuk setengah lingkaran ke pinggang Wiya.
“Mungkin ga akan senyaman pelukan Ibu, tapi Cuma ini yang bisa aku lakukan. Sekarang kamu tidur ya. Kamu harus istirahat. Apa kamu ingin aku nyanyikan?“
Wiya memejamkan matanya, benar saja. Ini nyaman, lumayan! hawa dingin yang masih meresap dari balik selimutnya membuat dirinya hampir melayang sehingga tak lagi merespon kalimat Zayn. Sayup terdengar di telinganya Zayn menyanyikan sebuah lagu untuknya dengan suara beratnya.
Fly me to the moon, and let me play among the stars
Hanya bagian itu yang masih terdengar sampai dia benar-benar terlelap malam itu. Zayn pun tak menyadari sampai di lirik yang mana dia berhenti dan ikut tertidur. Di alam bawah sadarnya dia benar-benar ingin berusaha membuat Wiya nyaman di pelukannya. Namun alam sadar tak kunjung peka akan keinginan hati yang sebenarnya. Dia hanya melakukan hal-hal itu dengan tulus tanpa mengharapkan apa-apa.
__ADS_1