
Semilir angin laut menyapu tiap-tiap wajah yang berada di dekat pelabuhan, riak air yang sedang pasang dalam mengangkat perahu-perahu kayu yang berada di atasnya. Di tepi dermaga kecil ini pada relawan telah berkumpul akan segera bertolak ke pulau tujuan.
Ini bukan pelabuhan besar, melainkan sebuah pelantar tempat naik dan turunnya kapal-kapal kayu milik nelayan yang biasanya sekaligus digunakan sebagai alat transportasi utama penghubung pulau Bintan daratan dengan pulau-pulau kecil yang tersebar di lautnya. Sekitar 24km dari kediaman Wiya dan Zayn.
Di depan barisan para relawan, Ditya sedang memberikan arahan kepada anggota tim yang berjumlah 20 orang. yang sudah memakai rompi dengan logo khusus komunitas mereka. Ekor matanya tak berhenti melirik ke arah Wiya yang belum juga bergabung dengan mereka karena sepertinya sedang diberi pesan khusus oleh suaminya.
"Yaudah mas, kamu jaga diri ya. pasti bakal kangen kamu deh, i love you," ucap Wiya sembari memeluk suaminya.
"Kamu yang jaga diri, ingat semua pesan ku kan? i love you too sayang. Aku lebih mencintai mu," balas Zayn sekilas mengecup bibir istrinya tanpa memperdulikan orang sekitar. "Aku pergi dulu, semoga hari mu menyenangkan, Assalamualaikum."
Ditya seketika mengalihkan pandangan ke arah lain karena malu dengan adegan di depannya. Sehingga dia tak sadar Zayn telah pergi dan Wiya sudah bergabung bersama tim, dia berbaris disamping Vela.
"Teman-teman, titik utama kita adalah pulau C. Untuk sampai ke pulau ini tidak semudah yang kita bayangkan, kita semua akan menetap sementara di pulau Kunci dan secara bergantian akan ke dusun Tiung karena pulau C lebih dekat bila ditempuh dengan kapal dari dusun Tiung ini," ucap Ditya
"Kenapa kita gak langsung standbye di dusun Tiung semuanya kak?" tanya salah satu peserta.
"Dusun Tiung juga termasuk pulau yang sangat kecil, hanya ada dua RT disana. Selain belum ada aliran listrik dari PLN, makanan siap santap disana juga sangat terbatas. Sumber listrik dusun hanya dari satu buah mesin genset besar, listrik hanya menyala di waktu-waktu shalat dan biasanya setelah isya akan tetap menyala sampai jam 9 malam, selebihnya dusun Tiung diterangi dengan penerangan seadanya," urai Ditya panjang lebar. "Disana juga tidak ada signal apalagi jaringan seluler. Satu lagi, titik utama kita pulau C, walau kita sudah mendapat izin dan bekerja sama dengan pemerintah setempat, tapi terus terang saya belum tau akan seperti apa medan yang akan ktia hadapi, jadi saya persilahkan bagi yang ingin balik kanan sebelum kita meninggalkan dermaga. Namun relawan sejati adalah yang rela berkorban dalam kondisi apapun," urai Ditya panjang lebar.
Sembari menunggu kapal siap untuk dinaiki, Ditya kembali memberi arahan untuk seluruh anggota tetap mematuhi standar keselamatan. Bagaimanapun juga, keselamatan relawan adalah prioritas utama. Tidak ada yang boleh mencederai baik perasaan maupun fisik salah satu relawan.
"Oh ya, sebelum bersiap. saya akan kenalkan pada kalian semua. Nona Ilma Qawiya, dia adalah donatur utama yang selama ini selalu terdepan mendukung kegiatan komunitas kita. Direktur dari Zahira Akuntansi,"
Dita meminta Wiya untuk maju kedepan berada disampingnya. Wiya memperkenalkan diri singkat dan mengatakan bahwa dirinya sama saja dengan relawan lain. Dia berangkat sebagai panggilan kemanusiaan murni sebagai seroang relawan sehingga tidak ingin diperlakukan istimewa.
Kapal kayu yang akan membawa mereka menuju pulau Kunci telah merapat ke tepi, semua anggota telah masuk dan duduk di bangku panjang kapal yang juga terbuat dari kayu. Wiya agak kerepotan dengan ranselnya karena air pasang dalam, badan kapal naik cukup tinggi dari lantai pijak pelabuhan. Tidak ada tangga atau alat bantu apapun, semua anggota naik dengan cara masing-masing.
"Ayo Wiy, aku bantuin," Ditya mengulurkan tangannya untuk membantu Wiya.
"Ah iya terimakasih, tolong bawain ini aja," menyodorkan ranselnya kepada Ditya, kemudian sedikit menyingsing ujung celananya. Wiya berpegangan dengan ujung kapal dan berhasi naik dengan caranya pula.
Ditya tersenyum, badannya yang jauh lebih besar dengan mudah melangkah ke atas kapal dan menyerahkan ransel itu kepada Wiya.
"Terimakasih dokt," ucap Wiya.
Wiya mengambil posisi duduk di sebelah Vela. Sejak Wiya datang, Vela tampak acuh dan tak banyak bicara. Wiya tidak merasa berhak untuk menanyakannya. Jadi dia memilih mencari teman bicara lain sepanjang perjalanan.
Hampir satu jam mereka berada di laut luas tak bertepian, Wiya menggulung jendela kapal kayu yang terbuat dari terpal dan takjub melihat pemandangan laut lepas tak berbatas. Sepanjang mata memandang hanya birunya air dan putihnya buih yang mengembang. Tak lupa Wiya mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya.
"Vel, apa kamu pernah ke pulau ini sebelumnya?"
"Ha, Aku? ehm, iya. Pulau Kunci itu kampung ibu ku. Masih ada beberapa kerabat disana," jawabnya malas.
"Wah, sekalian kamu pulang kampung Vel. Bisa silaturahim sama keluarga mu,"
__ADS_1
"Hmmm," jawabnya lagi dengan wajah yang tidak bersahabat.
Suasana kembali canggung seperti sebelumnya. Hampir satu setengah jam berada di atas laut lepas, barulah tampak pulau-pulau kecil disana. Jejeran pulau yang ada di Kepulauan Riau, ditandai dengan berkibarnya bendera merah putih di tiang depan pelabuhan, menandakan pulau terpencil ini masihlah bagian dari NKRI.
"Oke teman-teman, selamat datang di Desa Kunci. Salah satu desa di bagian pesisir kabupaten ini," Ucap Ditya berdiri di depan kapal. "Semuanya boleh melepas live jacket kalian dan letakkan kembali ke tempat semula, kapal sudah berlabuh di dermaga, tetap hati-hati dan jaga keselamatan masing-masing,"
Dermaga desa ini sudah lebih baik daripada dermaga tempat mereka turun tadi. Mungkin karena desa ini adalah pusat pemerintahan kecamatan pesisir. Kedatangan para relawan disambut hangat oleh para Pejabat kecamatan, kepala Desa, tokoh masyarakat setempat dan pemuka agama disana.
Setelah serangkaian acara ceremonial penyambutan, para relawan diantarkan ke homestay tempat mereka beristirahat selama berada di pulau yang terdiri dari 10 RT dan 2 RW ini. Bukan desa yang besar, dusun yang menjadi daerah administratif desa pun terpisah dengan lautan. Salah satunya dusun Tiung yang nanti akan mereka kunjungi.
***
Wiya kebingungan, kamar mana yang harus dia masuki. Vela yang dia harapkan dapat menjadi teman yang menyenangkan, sejak tadi benar-benar tidak bersahabat. Sehingga Wiya sungkan untuk memulai pembicaraan lagi dengannya. Belum lagi badannya sudah sangat lelah, ingin rasanya segera beristirahat dan menghubungi keluarganya.
Tim terdiri dari 14 orang laki-laki dan 6 orang perempuan. Rumah singgah terpisah menjadi dua. Di rumah singgah para wanita hanya ada dua kamar. Mau tidak mau Wiya masuk ke kamar yang baru ada dua penghuni di dalamnya, ternyata Vela termasuk yang ada disana.
"Permisi, boleh saya gabung disni?" tanyanya sungkan.
"Wah Ibu, saya fikir ibu akan menginap di rumah Bu camat atau Bu Kades, ternyata bergabung sama ktia-kita disini. Dengan senang hati bu, mari bu saya bantu," ujar Nina salah satu tim wanita yang ada di kamar itu.
"Panggil Wiya saja, dan saya termasuk bagian dari relawan. Jadi saya akan tinggal bersama kalian kalau kalian tidak keberatan," balas Wiya tak kalah ramah,
Tanpa mengucap sepatah katapun, Vela yang tadinya sudah meletakkan barang-barangnya di kamar itu seketika mengemasnya kembali dan keluar dari sana. Saat akan keluar pintu dia mengucapkan sesuatu kepada Nina.
"Eh Vel," cegat Wiya. "Kamu disini aja, biar aku yang keluar. Sorry, "
Vela tidak menggubris ucapan Wiya sama sekali dan segera meninggalkan Nina dan Wiya yang bingung atas sikap Vela yang tidak wajar.
Salah aku apa sih? Walau aku kesini bukan untuk Vela, tapi kenapa jadi terjebak suasana canggung gini sih?
Wiya tidak punya siapa-siapa disana. Yang dia kenal hanya Vela dan Ditya. Tentu akan sangat tidak nyaman jika suasanya harus seperti ini. Tapi dia tetap berfikir positif dan menepiskan hal-hal yang tidak terlalu penting untuk diambil pusing.
"Biarin aja Wiy, nanti juga adem sendiri," ucap Nina menangkan Wiya yang terpana melihat Vela pergi. "Ayo Wiy aku bantu susun barang-barang mu, lalu kita istirahat sebentar karna nanti sore akan langsung rapat pembagian jadwal,"
"Iya Nin, makasih banyak ya. Aku mau nelpon suami ku dulu,"
Beselang beberapa menit, WIndy bergabung bersama Wiya dan Nina. Nina adalah peserta termuda diantara yang lainnya, sedangkan Windy lebih tua dari Wiya dan sudah berkeluarga. Suami Windy juga salah satu tim relawan dalam kegiatan ini.
***
Rapat pembagian jadwal berlangsung singkat, belum ada kendala yang terlalu berat. Hanya jadwal keberangkatan ke Pulau C dari dusun Tiung. Sebelum ke pulau C mereka harus terlebih dahulu bermalam di dusun Tiung, karena berangkat ke pulau C harus pagi-pagi sekali setelah shalat subuh.
Tim dibagi sama rata, 4 laki-laki dan satu perempuan akan bergantian mengisi kegiatan di Desa Kunci, Dusun Tiung dan pulau C. Wiya tidak terlalu sadar bahwa namanya berada di jadwal yang sama dengan Ditya saat harus berangkat ke Dusun Tiung, lusa.
__ADS_1
Rapat di tutup dengan salam dan do'a, semua anggota berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing untuk teselenggaranya kegiatan ini tanpa rintangan yang berarti.
Vela meninggalkan ruang tamu homestay tim laki-laki yang dijadikan ruang rapat. Semua mata tertuju ke arahnya. Ditya segera berdiri menyusul, dan menarik pergelangan tangannnya mengajak Vela menjauh dari jangkauan mata anggota lain.
"Apa sih Dit,,lepasin gak!" Vela meronta menarik tanganya yang digenggam erat oleh Ditya.
"Ravela Gisha, ini peringatan pertama. Kalau kamu berani berbuat sesuatu yang mengusik keselamatan diri Wiya, kamu tau apa yang kita semua akan lakuin?" ancam Ditya langsung mengenai sasaran.
"Maksud anda apa dokter? Apa yang kalian semua akan lakukan? Mau ninggalin gue di pulau sendirian?"
"Saya gak tau kamu punya masalah apa sama Wiya, tapi saya mohon jangan bawa dendam pribadi kamu kesini. Jangan kamu fikir saya tidak memperhatikan gerak-gerik kamu. Ravela, Semua relawan sama pentingnya untuk komunitas ini, jangan coreng nama baik kamu sendiri!" ancam Ditya lagi.
Vela menunduk dan pergi meninggalkan Ditya yang sudah melepaskan tangannya. Saat berpaspasan dengan Wiya di depan pintu, Vela membuang buka. Wiya hanya menggeleng-geleng tak mengerti. Dan tak terlalu peduli.
Saat malam tiba, Waktunya mengistirahatkan diri. Sebelum tertidur, Wiya membaca jadwal kegiatan yang akan Wiya lakukan selama berada di dusun Tiung dan pulau C. Dia begitu bersemangat dan tak sabar menunggu jadwal itu.
Kesepian mulai merasuki saat lampu kamar telah diladamkan. Nina dan Windy belum tertidur tapi asik dengam aktivitas mereka masing-masing.
Wiya mencoba memejamkam mata, namun begitu sulit. Selama satu tahun terakhir, dia tidur didalam pelukan suaminya. Tapi malam ini hanya selimut tipis yang dia gulung menyerupai guling yang pernah Zayn lakukan sewaktu menemaninya dirumah sakit.
Kantuk tak kunjung datang, rindu malah semakin menyeruak ke permukaan. Wiya merain ponsel dan menghubungi suaminya.
"Sayang, kan kamu janji disana akan bersenang-senang. Kenapa malah jadi sedih sedihan sih?" tukas Zayn melalui sambungan telpon.
"Gak sedih mas, cuma kangen. Gak bisa tidur kalau gak di peluk kamu, padahal ini selimutnya udah aku jadiin guling jadi jadian seperti yang pernah kamu bikin,"
"Ahahhaa, yasudah sekarang berarti aku harus nyanyiin lagu itu lagi?"
"Boleh deh mas, tapi gausah di sedih sedihin ya suaranya,"
"Emang suara ku begini sayang, udah gabisa lebih Bagus lagi. Dah sekarang baca do'a, peluk gulingnya. Mas nyannyiin,"
Fly me to the moon and let me play among the star. Let me see what spring is like on
A-Jupiter and Mars
In other words, hold my hand
In other words, baby, kiss me.
Tak ada yanh sadar siapa yang terlebih dahulu memutuskan panggilan.
***
__ADS_1
Mencemen, kalau kalian ga vote author tu ga masalah sama sekali. Tapi pliss pliss plisss banget Like nya jangan sampai terlewatkan. Seseuk dada ini kadang liat yang page yang terbaca ribuan tiap episode, tapi like nya under 100 astaga. Sebagus itu kah novel ini sampai kalian terpana dan lupa nge tap jempolnya?