Utuh

Utuh
SEASON II : EPS 19


__ADS_3

Eksistensi dan harmonisnya sebuah hubungan rumah tangga, tidak sempurna tanpa adanya ujian dan terpaan yang menempa tingkat kesetiaan dan rasa saling memiliki satu sama lain.


Beberapa BAB awal kehidupan rumah tangga telah terlewati. Konflik-konflik yang hadir tak bisa dihindari. Ya, Zayn dan Wiya selalu menghadapi dan menyelesaikan konflik itu sebelum semakin berlarut.


Bagaimanapun beratnya, mereka berdua tidak pernah beranjak tidur sebelum permasalahan selesai di bahas. Sesekali mereka juga bertengkar seperti pasangan lain, tapi tidak sulit membuat rasa kesal itu kembali mencair. Apalagi Wiya sudah tau jurus jitu peredam amarah suami.


"Jangan pernah membiarkan masalah mengendap, walau satu malam."


Seolah kalimat itu sudah tertanam di benak mereka masing-masing. Tak ada yang terlalu rumit, asal keduanya bersedia untuk tetap saling bicara. Yang menjadi masalah bagi Wiya saat ini adalah hatinya yang semakin hari semakin sensitif terkait apapun pembicaraan yang mengandung konten kehamilan.


Wiya sulit sekali menahan diri, padahal Zayn sudah mengatakan berkali-kali dan meyakinkan Wiya bahwa dia akan tetap bersabar, bagaimanapun kondisi Wiya. Karena mereka juga belum tau apakah masalah benar-benar ada dalam diri Wiya, atau Zayn sendiri?


***


Wiya menghabiskan waktunya dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Tapi dia belum menemukan hal yang benar-benar membuatnya senang. Seperti definisi kebahagiaannya saat ini hanyalah bisa merawat seorang bayi darah daginynya sendiri.


Pekan-pekan ini, Wiya mulai merasakan jenuh yang teramat sangat saat berada dirumah. Suaminya semakin sibuk dan sering pulang terlambat. Berdiam diri dirumah, Wiya merasa seperti terkurung bersama fikiran-fikiran negatif yang kerap datang.


Wiya yang memang anak rumahan, tidak pernah pergi ke acara arisan atau perkumpulan apapun di kompleknya. Selain dia memang tidak terbiasa, Wiya juga menghindar dari pertanyaan dan pernyataan menyakitkan.


Alat test di lacinya sudah hampir habis, tadi pagi dia mencoba 5 alat sekaligus dan belum ada tanda yang berubah disetiap alat itu. Hanya satu garis, tidak pernah lebih. Wiya bahkan membawa senter untuk mencari, barangkali garis itu malu-malu dan tersamarkan.


"Munculah, walau hanya sekedar bayangan." Erangnya frustasi. Tapi yang dicarinya memang belum ada disana. Dan seperti biasa, di susul dengan keluarnya darah tanda masa periode yang kembali tiba.


Wiya meremas perutnya dan terduduk di sudut kamar mandi. Selain rasa sakit yang luar biasa saat periode hari pertama, moodnya juga sedang tidak dalam keadaan baik. Wiya ingin sekali marah atau mengeluh, tapi pada siapa? Saat tersadar, dia segera bangun, mencuci wajahnya dengan air dan beristighfar dalam hati.


Wiya mengambil ponsel dan menghubungi suaminya. Saat panggilan itu tersambung, dia segera meminta izin untuk sebentar pergi keluar menenangkan diri.


"Mas, aku pergi ke apotek ya. Itu tespacknya tinggal dua, mau coba beli yang merek lain lagi," ucapnya dengan nada paling menyedihkan yang tertangkap di pendengaran suaminya.


"Sayang, ku rasa bukan soal merk atau harga alat-alat itu. Sudah jangan beli lagi. Segera atur jadwal kita ke dokter kandungan ya," ucap Zayn sedikit menenangkan hatinya.


"Tapi aku mau tetap keluar sebentar mas, aku beneran jenuh dari pagi tadi,"


"Tunggu aku pulang sebentar lagi ya, kamu mau kemana? kita ke toko buku?"


"Mas gak ada kerjaan emangnya?"


"Nanti abis nemenin kamu jalan-jalan aku balik ke kantor lagi, yang penting kamu gak jalan-jalan sendirian,"


"Oke mas, aku siap-siap dulu. Biar aku yang jemput aja ya mas."

__ADS_1


Setelah mengakhiri panggilan, Wiya segera bersiap-siap. Berpakaian senyaman mungkin, dan langsung menuju ke IQ Media untuk menjemput suaminya.


***


Zayn dan Wiya menuju ke toko buku besar yang ada di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota, tapi sebelumnya mereka mampir ke toko perlengkapan bayi.


"Bagusnya kita beliin apa ya Mas buat Baby Yumna?" tanya Wiya saat mereka memasuki salah satu toko perlengkapan bayi.


Brigitta sudah melahirkan anak keempat mereka, seorang puteri cantik yang diberi nama Yumna. Rencananya, besok Zayn dan Wiya baru akan menjenguknya.


"Ini aja gimana?" Zayn menunjuk sebuah lemari pakaian bayi yang cukup besar berwarna pink pastel dengan motif abstrak yang girly.


"Lucu banget mas, Kamu emang paling ngerti soal kebutuhan anak dan bayi ya, heran deh. Haha,"


Zayn meminta petugas toko tersebut mengirimkannya ke rumah Brigitta besok saat mereka berkunjung. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan masuk ke salah satu toko buku yang ada di gedung itu.


Setelah memilih sebuah buku biografi dan novel fantasi, Wiya menyerahkan buku-buku itu pada Zayn untuk ikut berbaris mengantri di kasir. Sedangkan Wiya menunggu di rak majalah yang letaknya tidak jauh dari meja panjang itu.


Matanya tertarik pada sebuah majalah wanita yang biasa dia baca saat berada dirumah Mama Wulan. Beberapa majalah itu sengaja di letakkan di bagian depan rak display disana.


Yang menarik perhatian Wiya adalah photoshoot Brigitta, Ilham dan keempat anak mereka menghiasi bagian utama sampul majalah itu. WIya mengambil majalah itu dan membaca tulisan yang tertera menjadi judul besar edisi bulan ini.


"Pasca melahirkan anak ke-4, Simak tips tetap cantik dan produktif di usia muda ala Brigitta Senja." Walau terbesit sedikit iri dari hatinya yang sedang sensitif, tapi Wiya tetap tertarik untuk membeli majalah itu.


"Mas, sekalian nih yang ini," dia menyerahkannya pada Zayn.


Zayn hanya menyerahkannya agat terhitung oleh kasir tanpa melihat apa yang istrinya beli. Kemudian mereka keluar dari toko buku tersebut dan masuk ke foodcourt terdekat untuk makan siang sebelum pulang. Tak lupa membawa satu bungkusan makanan untuk Mba Wiwin dirumah.


***


Setelah mengantar suaminya kembali ke IQ Media, Wiya pulang kerumah  dan menyerahkan makanan itu untuk Mba Wiwin. Kemudian dia masuk ke kamar dan meletakkan beberapa buku yang dia beli tadi ke atas meja baca.


Wiya merebahkann tubuh di atas kasur, perutnya terasa sangat sakit. Darah haidhnya juga terasa mengalir lebih deras dari biasanya. Dia mencoba mengambil aromatherapy dan minyak herba yang biasa dia gunakan untuk membalur perut yang sakit, tapi sakitnya tak kunjung reda malah semakin menjadi.


Wiya berdiri, berjalan tertatih dengan meniti dinding menuju ke kamar mandi, mengganti pembalut dan berharap setelahnya akan terasa lebih nyaman. Dia mencoba berubah posisi tidur, badannya diputar hampir 360 derajat tapi tak juga kunjung mereda. Sehingga dia kembali lagi ke posisinya semula dan hanya bisa meringis menahan kesakitan yang teramat sangat.


Awalnya Wiya menahan diri untuk tidak menghubungi Zayn karena khawatir akan mengganggu pekerjaan suaminya yang memang sedang banyak-banyaknya. Tapi sepertinya Wiya tidak mampu lagi bertahan, Dia menggenggam kain selimut dan mencoba meraih ponsel yang tak jauh dari sana. Namun sebelum berhasil membuat panggilan, ada sebuah panggilan masuk dari mertuanya.


"Mama?" desisnya. Fikiran Wiya sedikit tenang karena merasa mungkin mama Wulan bisa memberikan bantuan meredakan nyeri perutnya. Dengan segera Wiya menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum ma," sapa Wiya dengan suara tertahan.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, nak. Kamu lagi ngapain Wiy?" suara mama Wulan malah sangat ceria.


"Wiya lagi kurang enak badan ma, perut Wiya sakit banget," keluh Wiya.


"Oh, jangan lupa minum obat ya. Oh ya mama mau kasi tau sesuatu nih?"


"Sesuatu apa, Ma?" Tanya Wiya. Ternyata mamanya tidak terlalu tertarik membahas nyeri perut yang dia rasakan.


"Eh, mama barusan baca majalah langganan mama Wiy. Kamu tau gak, headline bulan ini  berita lahiran Brigitta loh, yaampun mama tuh seneng banget bacanya," ucap mama antusias.


Ma, ini anak menantu mama lagi kesakitan ma. Aku harus jawab apa ma?


Wiya terdiam mencerna kalimat ibu mertuanya, mama Wulan membicarakan majalah yang tadi dia beli di toko buku.


"Kamu baca deh Wiy! ini ada tips-tips program hamil dari Brigitta. Kayanya kamu butuh ini deh. Lumayan kan buat referensi kamu Wiy biar bisa subur seperti dia. Mama tau kamu pasti sungkan kalau harus nanya langsung ke dia, jadi nanti mama kirimkan ya majalahnya kesana, mama udah baca ini."


Satu sisi, kalimat mama Wulan memang sebenarnya bermakna sebuah kepedulian dan perhatian kepada menantunya. Tapi sakit yang Wiya rasakan justru menjadi berlipat ganda. Wiya kehilangan kendali, dia hampir tak bisa berfikir positif sama sekali. Keringat deras mengaliri wajahnya yang semakin pucat dan bibirnya membiru menahan kesakitan.


Mama, aku lagi kesakitan. Gak bisakah nanti aja kita ngomongin Brigitta dan kehamilan? tidakkah lebih baik mama mendengarkan keluh kesah ku yang sedang menahan sakit. Tidakkah kesehatan ku lebih penting untuk mama?


Tak ingin Mama Wulan mendengar isak tangisnya, Wiya segera mematikan sambungan panggilan itu berikut ponselnya. Dia melempar ponsel itu ke pintu dengan keras. Kemudian dia menjerit sekuat tenaga memukul-mukul perutnya. Tidak tahan lagi, Wiya tak bisa menahannya lagi.


"Aaaarghhhh...kenapa terasa sesakit ini" teriaknya seolah sedang berada di puncak rasa sakit yang kian menyesak.


Terdengar langkah seseorang berlarian dari tangga menuju kamar mereka. Mba Wiwin, perempuan itu tampak khawatir karena mendengar pekikan dari kamar majikannya.


"Non...Non Wiya, apa yang terjadi Non?" Mba Wiwin mengetuk pintu dengan panik. "Nona Wiya, izinkan Mba masuk, Nona kenapa? tolong jangan buat Mba takut Non,"


Tidak ada jawaban. Teriakan Wiya malah terdengar lebih kencang, ditambah dengan ceracau yang tidak begitu jelas karena Wiya mengucapkannya sambil menangis terisak-isak. Mba Wiwin begitu ketakutan. Selama bekerja dirumah itu, ini kejadian pertama kalinya.


"Mba Wiwin, aku sakit...Mba Wiwin ngerti gak aku sakit?" raung Wiya.


"Non, dengerin Mba Wiwin. Buka dulu pintunya, Non Wiya sakit apa?"


Wiya kembali mengacuhkan keberadaan Mba Wiwin. Mba Wiwin tidak tau apa yang harus dia lakukan. Dia tidak memiliki kontak Zayn. Dengan sigap Mba Wiwin menghubungi agen tempat dia melamar pekerjaan dan mendapatkan kontak Zayn disana dan segera menghubungi suami dari majikannya.


Setelah mengabarkan pada Zayn kondisi Wiya yang belum mau keluar, Mba Wiwin kembali menempelkan sebelah badannya ke pintu mencoba mendengarkan apa yang terjadi di dalam. Tidak ada suara lagi dari balik pintu.


Bukannya tenang, Mba Wiwin justru semakin khawatir dan ketakutan. Sambil berdoa menepis semua prasangka buruk yang mungkin terjadi, Mba Wiwin mondar-mandir berjalan di depan pintu kamar itu dan tidak akan meninggalkan Wiya sebelum Zayn datang.


______________________________

__ADS_1


Cuma mau bilang\, terimakasih yang masih mengikuti kisah ini di sela-sela kelabilan jadwal update yang tidak menentu. Happy reading ^_^ mari kita mulai ikuti turun naiknya perasaan pasangan ini. Ini hampir setengah menuju puncak konflik. Lemesin aja yaaaaa ^_^


__ADS_2