
Hari Senin di Omelate Food.
Zayn bisa bernafas lega walau hanya beberapa jam saja. Pasalnya semalam dokter belum mengizinkan Mama Wulan pulang dan artinya dia mendapat tenggang waktu satu hari untuk memikirkan cara membujuk, bila perlu memohon pada Wiya untuk memafkan kebodohannya.
Hari ini dia datang lebih pagi dengan harapan bisa lebih cepat bertemu Wiya dan menyelesaikan semuanya. Namun alangkah terkejutnya Zayn saat membuka map dari tim HRD di atas mejanya, yang isinya adalah pengunduran diri atas nama Ilma Qawiya.
Zayn menghempas map hijau itu di atas meja dan meminta HRD segera memanggil Wiya ke ruangannya.
Wiya sedang dibantu oleh Bian mengemasi beberapa perlengkapan pribadi yang akan dia bawa pulang sambil mengamati sekitar.
Ini harus jadi hari terakhirnya berada di perusahaan yang hampir 6 tahun menjadi tempat Ia meniti karir. Wiya sangat mencintai profesinya. Namun dia harus merelakan semuanya demi ketentraman hidupnya ke depan yang sudah dia fikirkan matang-matang.
Saat Tim HRD menghubunginya untuk menghadap pimpinan, Wiya yang memang sudah menunggu panggilan itu datang ke ruangan Zayn, dia tau Zayn tak akan mungkin menandatangani surat itu dengan mudah. Wiya membuka pintu ruangan itu setelah Rifa mempersilahkannya.
Tidak terlihat ekspresi apa-apa di wajah Wiya, kabut kekecewaan mampu menutupi semua sisi kesedihan. Dia duduk dan menghadap Zayn tak lebih dari sebatas hubungan Manajer dengan Direktur perusahaan. Zayn menatap gadis yang pernah dan masih sangat dicintainya dengan perasaan tak menentu.
"Qawiya, Maafkan aku," tentu saja hanya kalimat itu yang mendominasi di kepalanya saat ini.
Wiya tersenyum manis. Manis sekali.
"Saya sudah memaafkan anda pak, saya tidak suka menyimpan rasa marah berlama-lama."
"Lalu ini apa?" Membuka map hijau yang tertera data diri Wiya."Kamu tidak profesional,mengundurkan diri karena hal pribadi."
"Apa bapak sudah membacanya sampai selesai? di poin-poin alasannya jelas sudah saya tuliskan. Alasan saya mengundurkan diri adalah untuk melanjutkan pendidikan. Semalam saya sudah mendaftar untuk ikut test administrasi beasiswa S3 tahap pertama. Peraturan nomor 9 tentang pengunduran diri menyebutkan salah satu alasan yang dibolehkan adalah melanjutkan pendidikan." Wiya menjelaskan dengan sangat gamblang dan tenang.
Zayn membaca ulang poin yang Wiya maksudkan. Benar-benar diluar prediksinya. Wiya sama sekali tidak mau terlihat tidak profesional walau Zayn yakin itu hanyalah alasan formalitas sedangkan alasan utamanya adalah dia memang ingin pergi.
"Ada yang mau aku bicarakan Wiy." Zayn menurunkan nada suaranya.
"Silahkan Pak." Wiya tersenyum , senyuman si keras hati.
" Wiy, Mama sudah sadar."
"Alhamdulilah, saya senang mendengarnya."
"Apa kamu tidak mau mendengar ceritanya?"
"Kenapa tidak? silahkan Jika masih ada yang mau Bapak jelaskan."
"Mama memarahi ku, karena membiarkan mu pergi."
"Kalau yang bapak maksud adalah peristitwa kemarin, Bapak bukan membiarkan, tapi meminta saya pergi. Kalau bapak lupa."
__ADS_1
"Dengarkan aku sebentar Qawiya!" Zayn meninggikan nada suaranya.
"Tidak perlu marah pak, santai saja. Saya masih mau mendengarkan cerita anda. Lanjutkanlah!" Ucap Wiya datar.
"Aku mengakui kesalahan ku, aku labil, aku bodoh, aku keliru mempercayai Titin begitu saja. Semua memang tak seperti yang aku duga. Bukan hanya aku, mama juga membutuhkan mu saat ini, Qawiya."
Kemudian Zayn menceritakan semua bagian cerita yang harusnya Wiya juga ikut mendengarnya malam itu, andai Zayn tak memintanya segera pergi.
Demi apapun juga, hati kecil Wiya tak sanggup menahan lajunya air mata yang akan tumpah. Tapi entah kenapa air mukanya sangat pandai berdusta. Dia diam, hanya diam dengan ekspresi seperti sedia kala.
Betapa dia bahagia karena kesadaran Ibu Wulan, semakin bahagia tatkala dia tahu selama ini Ibu Wulan mengharapkan dirinya dalam diam dan semua yang Titin katakan itu memang tidaklah benar.
Namun gulungan badai kebahagia itu seperti habis begitu saja dihantam gerimis kecil dari sikap Zayn yang acap bimbang dan tidak berusaha memperjuangkannya. Sulit sekali rasanya membuat narasi tentang perasaan terabaikan yang Wiya rasakan saat ini.
Mama Wulan membuat ultimatum untuk Zayn jika tak bisa membawa Wiya kembali, maka seluruh aset atas nama Zayn harus diserahkan kepada Nikki.
Tapi bukan itu yang Zayn fikirkan, Zayn benar-benar tak ingin Wiya pergi dari hidupnya. Sejak Wiya hadir, jauh sebelum Wiya menjadi kekasihnya, Wiya adalah penyeimbang, Wiya adalah jawaban setiap bimbang.
Zayn sungguh-sungguh menyesal membuat Wiya merasa terbuang. Walau andai saja kenyataanya mama tak bisa menerima Wiya, Zayn juga pasti akan sama hancurnya seperti sekarang.
Namun kekasih di hadapannya bukan wanita biasa. Zayn bisa masuk ke hatinya di masa lalu sudah merupakan sebuah keberuntungan. Tak akan semudah itu membuatnya kembali luluh.
"Maafkanlah aku yang lemah ini, Aku tak ingin membuat janji lagi. Tapi aku sungguh-sungguh akan berusaha menjadi yang terbaik setelah ini. Aku sangat mencintai mu Wiya, tidak ada wanita lain! Aku tak pernah menginginkan wanita lain. Kamu yang pertama, dan aku cuma mau kamu yang menjadi satu-satunya."
"Hentikan omong kosong ini Zayn Dwika Haris! Anda mengatakan itu karena anda butuh saya sekarang. Karena Ibu Wulan meminta anda mengejar saya kan? Bukan karena anda menginginkan saya menjadi wanita dalam hidup anda."
"Kamu bebas menganggap aku sejahat apapun. Aku tak akan menyangkal. Tapi aku mohon, beri aku cara agar kamu mau kembali."
"Kembali setelah Kamu meminta ku pergi? Kembali setelah kemarin kamu jemput aku ke rumah, memberi ku mawar merah lalu membiarkan aku pulang sendiri? Coba ulangi, setelah semua itu kamu ingin aku kembali? Maaf, aku memang lemah, tapi bukan bodoh!"
Kali ini 90% dari kalimat Wiya adalah emosi. Dia ingin mengeluarkan yang ada dalam hatinya. Cinta itu memang masih ada dan besarnya masih sama. Tapi logika nya bisa menang melawan hati. Kemudian dia melanjutkan kalimatnya.
"Maaf saya emosi. Anda sudah kenal saya cukup lama. Dan satu tahun saya selalu ada untuk anda. Saya rasa anda mengenal saya lebih baik. Anda pasti tau kenapa saya hari ini bisa berad di posisi ini di perusahaan anda?"
"Ya, iya karena kamu adalah seroang Akuntan yang handal" Zayn mengakuinya. Memang kemampuan, ketelitian dan sikap profesional Wiya di bidang keuangan selalu di atas rata-rata.
"Bukan hanya tentang rugi dan laba, seorang akuntan juga terbiasa membedakan mana aset yang menguntungkan dan mana yang hanya menjadi beban! Saya berlepas diri dari anda, dan dari jabatan saya di perusahaan ini!"
Zayn pasrah, hatinya sangat getir mendengar kalimat Wiya.
"Tidak kah kamu berbelas kasihan Wiya? Aku sedang mengemis maaf mu. Tidak kah kamu bisa menerima semua itu sebagai kelemahan ku? Aku sudah mengakui kesalahan ku, aku labil, aku dikuasai kepanikan malam itu."
"Bukankah saya sudah menerima semuanya? Apa anda juga lupa ya, saya sudah berusaha meminta, mengemis agar anda bersabar dan menunggu penjelasan dari Ibu Wulan. Apa anda sudah adil dengan saya? Jangankan dengan orang lain, dengan ego anda saja saya tak bisa menang!"
__ADS_1
Zayn terdiam pasrah.Lisannya masih ingin memohon tapi kata-kata di otak dan hatinya sudah habis. Yang tersisa hanya kesadaran bahwa Zayn membutuhkan Wiya di perusahaanya dan di dalam hidupnya. Sayangnya perasaan butuh itu datang saat semuanya sudah tak bisa utuh seperti sedia kala.
"Saya akan pergi sekarang, tapi saya mohon. Jangan tahan tangan saya seperti yang sering anda lakukan."
Karena kalau kamu melakukannya, hati yang lemah ini akan kehilangan keyakinannya.
Zayn terdiam menatap nanar ke mata gadisnya yang cantik, manis dan keras hati sambil menandatangi surat pengunduran diri yang Wiya ajukan.
Wiya berdiri merapikan lipatan roknya dan mengambil map hijau di atas meja. Zayn ikut berdiri menghampiri Wiya semakin dekat, semakin dekat dan langsung menarik tubuh mungil itu ke pelukannya. Wiya hanya tak mengizinkan memegang tangan kan ? Berarti Zayn boleh memeluk, mencium atau yang lain selain menggenggam tangannya.
Seketika Wiya hanya bisa terdiam,terpaku seperti patung yang terpahat. Tidak membalas pelukan Zayn namun juga tidak berusaha melepaskan. Wiya merasa bahunya hangat dan basah. Ini kali kedua Zayn menangis dihadapannya. kemarin di pangkuan dan hari ini di dalam pelukan.
"Maafkan aku sayang, Maafkan ego lelaki mu yang lemah ini. Jangan pergi sayang, beri aku kesempatan sekali lagi" rengeknya.
Hanya sepersekian detik daging kecil yang bernama hati itu rasanya luluh lantah dan bergeming. Tapi keputusan sudah dibuat, surat pengunduran diri terlanjur sudah ditanda tangani.
"Aku sudah memaafkan mu, hiduplah dengan baik dan hanya dengan pilihan mu. Jangan lagi abaikan kata hati" Wiya melepas pelukan itu dan tersenyum "Aku juga akan pergi, melanjutkan kehidupan ku. Terimakasih untuk semua kesempatan selama aku bekerja dan belajar disini" Wiya melangkah meninggalkan Zayn yang terdiam berdiri tak mau melihatnya lagi.
"Jaga dirimu dengan baik" Kalimat terakhir yang masih terdengar walau Zayn mengucapkannya dengan sangat lirih
*Aku gak janji. Mana mungkin aku baik-baik saja selama nama mu masih di hati " *
Wiya melangkah keluar dan mendapati Rifa yang sudah berdiri menunggunya. Wiya memeluk erat Rifa seperti sedang memeluk sahabatnya sendiri. Rifa juga menangis, bersedih melepaskan teman sekaligus rekan kerja terbaik selama dia bekerja sebagai sekretaris direktur utama di perusahaan ini.
***
Saat Wiya kembali ke ruangan , Bian sudah selesai memberesi semua barang-barang yang akan Wiya bawa pulang. Wiya tak menyisakan satupun barang pribadinya disana. Wiya pun tak menunggu jam kerjanya habis. Mitty akan datang menjempuntya sebentar lagi.
Wiya membuka laptopnya memeriksa email yang masuk dari penyelenggara beasiswa tempat dia mendaftarkan diri. Wiya tersenyum saat semua berkas sebagai syarat administrasinya sudah diterima. Tidak berlama-lama lagi, Wiya langsung menghubungi kerabatnya yang ada di Malaysia untuk mengabarkan keberangkatannya besok pagi.
Seakan tak ingin menunggu lebih lama, Wiya langsung memeriksa paspor dan segala dokumen pentingnya lalu memesan tiker Fery Tanjungpinang-Malaysia untuk keberangkatannya. Dia akan berangkat ke negeri Jiran untuk melanjutkan pendidikannya. Walau jadwal masuknya masih lama dan masih banyak test yang harus Wiya jalani, Wiya tetap akan kesana besok pagi untuk melihat Universitas yang dia pilih, mencari tempat tinggal dan mempersiapkan segala sesuatunya sebelum dia memulai semuanya.
***********************************************
Happy reading
Entah sampai eps berapa yang jelas novel ini memang akan segera ending ya teman-teman.
Terimakasih buat yang sudah membaca sejauh ini.
Teman-teman boleh mampir ke karya ku yang satunya ya ^_^
Jangan lupa Like,komen dan vote kalian ya...
__ADS_1