
Di ruang tamu, Ilham sedang berbincang dengan Bang Ridwan. Beberapa topik hangat tak luput dari pembahasan mereka berdua dan akhirnya Ridwan sampai juga pada sesuatu yang sejak dulu ingin sekali dia tanya.
“ Lo, dan Qawiya, gimana?”
Ilham hanya tersenyum. Jika kemarin mungkin masih tampak ketir namun tidak lagi hari ini, dia sudah benar-benar
membiarkan rasa itu membias karena tetap ingin bisa terus bercanda dengan asistennya itu tanpa ada sekat sekat lagi.
Dia menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan Wiya, tentang bagaimana Ilham yang terang terangan
menunjukan perasaannya terhadap Wiya yang paling bisa menyusun rapi semua ekspresi, tentang dirinya yang selalu mencari bahkan mencuri perhatian kepada Wiya yang tak pernah membuka hati, tentang pesona Wiya yang kadang membuat Ilham tak mampu menahan hasratnya ingin segera memeliki, semua hal tentang Wiya yang selalu membuat hari-harinya tak tenang, dan tentang semua yang berujung penolakan. Hingga pada akhirnya.
“ Gue bukannya keberatan berjuang sendirian sih bang, tapi sepertinya satu-satunya cara untuk tetap dekat dengan orang yang kita sayang, ya dengan tetap menjadi teman. Ikhlas gue udah.“
“Hahaha, adik gue cukup beruntung punya temen macam lo. Semoga lo segera menemukan yang terbaik”
“Doain aja gue ga dicariin jodoh sama emak gue abis ini bang. Hahha. “
Bang Ridwan meninggalkan Ilham untuk melihat Wiya dikamar. Dia masuk saat pintu kamar Wiya ternyata memang tidak ditutup, Mitty mendadak salah tangkah dan segera akan keluar menemui Ilham, mana dia tahan melihat senyuman bang Ridwan yang perlahan-lahan masuk seolah akan menghampirinya, padahal jelas bang Ridwan mendekati adiknya yang sedang sakit.
“ E e e e, Wiy gue pergi sekarang aja. Bang, Mitty permisi duluan ya” Mitty pun berdiri, buru-buru dari pinggir tempat tidur Wiya. Detak jantungnya benar-benar hilang kendali saat bersiap-siap harus melewati tubuh tegap bang Ridwan yang berdiri bersisian dengan lemari.
Dia mempercepat langkahnya takut ada orang lain yang mendengar debaran dari dalam dadanya. Bang Ridwan memperhatikan gadis cantik dengan Jilbab abu-abu itu sampai hilang dari balik pintu.
__ADS_1
***
Ridwan tidak jadi kembali ke kantornya, karena memilih untuk menemani adiknya siang itu. Tidak lama setelah Ilham dan Mitty kembali ke kantor, Ayah dan Ibu pun tiba kembali dirumah.
Ridwan menceritakan apa yang Ilham sampaikan bahwa Wiya mendadak sakit saat jam makan siang. Ibu mengajak Wiya untuk pergi ke dokter karena khawatir dengan kondisinya, ibu mengira asam lambung Wiya kambuh mengingat beberapa bulan ini anak perempuanya itu sangat sibuk dan tidak memperhatikan pola makan, belum lagi Wiya punya riwayat penyakit Hypothyroid yang kerap kambuh saat Wiya sedang stress ataupun berpola hidup tidak teratur.
Tapi Wiya menolak dan meminta Ibu menemaninya beristirahat dirumah saja. Ibupun menemani Wiya, hingga tertidur dikamar Wiya.
Saat Ibu terbangun hari sudah pukul 9 malam , Ibu membangunkan Wiya untuk shalat isya dan Ibu pun kembali ke kamarnya.
Usai melaksanakan kewajiban, hati Wiya sedikit lebih tenang dan bisa Ia kendalikan. Wiya mencari HP nya di dalam tas kerjanya tadi dan membuat panggilan video dengan Mitty.
Itulah titik lemah Wiya saat dia sakit dan sedih, dia benar-benar tak bisa sendiri. Dia selalu mencari teman karena dia tak ingin suasana hatinya keruh berlama-lama. Bisa mati energi dan bakteri baik dalam tubuhnya.
“Abis solat malam Mit ? baru juga jam 9“ Sapa Wiya yang kini merebahkan dirinya ke atas ranjang besarnya, seperti sedang menghempaskan segala gundah yang sempat hinggap sejak siang tadi
“Assalamualaikum kek Wiy, hmm. Abis Isya Wiy, ketiduran gue. Capa banget tadi. Lo gimana ? udah baikan ?”
“Mendingan. Eh jadi lo lagi ngapain sekarang. Eh iya Waalaikumsalam “
“Rebahan aja Wiy, bosan juga ya itu itu mulu posisi gue. Lu ngapain? Masih pake mukena juga”
Tuut .. tuut… menghubungkan kembali
__ADS_1
“Sinyalnya butut Wiy, hujan disini , lu ngomong apa tadi?”
“Hm, Gak ada Mitt. Mitt, apa gue musti sharing masalah ini sama keset kaki aja ya ” Wiya mengubah posisi nya menjadi tengkurap. Meletakan hp nya bersandar di bantal kepala. “Keset kaki pasti ngerti gimana rasanya di injak injak begini.“ Ratapnnya sedih.
“Yaaah dia masih sedih, apa gunanya lo punya teman yang ga Cuma bisa dengerin tapi juga bersedia bantuin lo menghapus kesedihan Lo, Ilma Qawiya”
“Iya sih, Lo udah kaya serbet Mitt buat gue “
“Eh, Lo yang sopan dikit dong ngomong sama calon kakak ipar”
“ Hahahahha. Ngarep banget sih Lo“
“Wiya, gue yakin deh semua ga seperti yang kita bayangin. Jadi lo udah ya jangan berspekulasi. Besok lo temuin beliau. Semua pasti ada penjelasannya. Mana Wiya si akunting handal yang bisa ngerjain neraca tahunan hanya dalam waktu sebulan?“ Mitty menggunakan kata ganti beliau karena takut mengeja nama boss besarnya di hadapan Wiya yang berpotensi murka walau hanya mendengar nama orang yang isengnya emang udah kelewatan itu.
“Lo bijak banget udah, kaya lagi nyampein iklan layanan masyarakat Mitt“
“Hahahahah.“
Setelah dirasa cukup sesi haha-hihi, mereka pun mengakhiri panggilan video itu. Wiya masih sempat membuka grup chat di aplikasi hijaunya, membaca ribuan chat member yang sejak pagi belum dibuka, sedikit menyumbang senyum di bibirnya. Ingin rasanya Wiya membalas salah satu banyolan teman grupnya tapi sudah pukul 09.00 WIB grup sudah di tutup, dan hanya admin yang bisa menuliskan pesan disana.
------------------------------------------------------------
PENJELASAN BANG ZAYN DI PART SELANJUTNYA YAAA DEK WIYAA. TENANG ABANG BISA JELASKAN SEMUANYA!
__ADS_1
LIKE NYA JAN KASI LOLOS !!!