Utuh

Utuh
LUKA KECIL


__ADS_3

Zayn tau. Dia memang sengaja membawa gadis itu kesini. Setelah beberapa hal yang terjadi satu bulan belakangan. Zayn perlu bicara. Dia berjalan menuju beberapa jejeran kursi kolam diikuti Wiya dari belakang. Kemudian duduk di salah satu kursi itu. Membuka peci hitam yang dia kenakan dan meletakkan disampingnya. Wiya ikut duduk di hadapannya.


“Ehm, boleh saya panggil kamu Qawiya?"


Wiya mengangguk menyetujui kebijakan barusan. Cih, padahal tempo hari dirinya yang meminta Zayn untuk tetap menjaga jarak dengan memanggilnya no-na!


“Ada Apa Pak?” Tanya Wiya penasaran. Kenapa Zayn membawanya kesini? Apa salahnya? Dia kan hanya ngajakin foto tadi.


“Kenapa? Kamu ga suka aku ajak kesini? Merasa terganggu? Risih? Mau nyalahkan aku yang melanggar janjiku untuk gak gangguin kamu?”


“Eh,eng-enggak kok enggak“ Elak Wiya. Tentu saja tidak. Jujur saja entah kenapa dia malah bahagia. Andai Zayn tau selama Zayn berusaha untuk tak mengganggu Wiya, selama itu pula bayangan diri Zayn justru mengusik fikiran dan angan Wiya. Gak orang, gak bayangannya sama aja!


“Saya pulang dulu, Papa sakit. Dan saya harus ke kantor ada urusan penting. Nanti sore mungkin saya akan datang lagi, sama anak-anak lain."


Wiya mengangguk dan tersenyum mendengar kalimat itu. Apa Zayn tau Wiya menunggunya untuk datang lagi dan lagi.


“Pak Haris sakit apa, Pak?“


“Sudah satu bulan kesehatannya semakin menurun. Belum bisa dijelaskan dengan pasti. Mohon doanya.”


“Iya Pak Zayn, yasudah bapak pulang saja sekarang. Mungkin bisa istirahat sebentar”


“Wiya“


Panggil Zayn dengan nada rendah


“I-iya”


Wiya menjawab dengan susah payah karena gemetar saat Zayn memanggilnya sambil menatap manik matanya dengan tajam.


“Saya sudah lelah menghindar. Bisakah kamu melupakan semua kesalahan yang pernah saya lakukan?”


Tunggu tunggu, ini bukan kata pembuka sebelum menyatakan cinta kan? Bukan kan?


“Semakin saya hindari, kamu malah semakin mendatangi, kerumah saya lah, keruangan saya lah, nagih hutang lah, ngajakin foto lah. Kamu mempermainkan usaha saya. Saya bukan kamu, yang paling jago bersikap biasa saja” Zayn sengaja memenggal suku kata pada kalimat terakhirnya.


Wiya semakin gugup dan tak sabar menanti untaian kalimat selanjutnya. Apa harus secepat ini.


“Iya ma-af Pak“


“Zayn untuk mu, panggil saya Zayn!”


Wiya mengangguk. Kini dia dalam keadaan merunduk menghindari tatapan itu. Tangan Zayn meraih telapak tangan yang berada di atas meja. Dingin. Kenapa Wiya? Kenapa dingin sekali telapak tangannya? Wiya tidak menarik kembali tangannya yang kini sudah dalam genggaman Zayn.  Zayn menggenggam erat sekali.

__ADS_1


“Look at me, Qawiya!” Pintanya.


Wiya mengangkat kepalanya. Untuk pertama kalinya dihadapan seorang pria dia gagal menyembunyikan perasaan. Pipinya bersemu merah muda.


“I-iya Pak, maksud saya Iya Zayn. Ada apa?”


“Bisakah mulai hari ini, kita berteman? berteman baik, seperti kamu bisa berteman dengan Mitty, dengan Rifa, atau dengan Ilham?”


Saat ini Wiya rasanya ingin berdiri di bibir kolam dan melakukan atraksi lompat indah lalu tenggelam dan tak lagi menampakan wajahnya ke permukaan. Dia sudah terlanjur memperlihatkan ekspresi memalukan di hadapan orang yang hanya mengajaknya berteman. Ya Tuhan. Apa yang aku harapkan. Kenapa tiba-tiba jadi gak tau diri gini Gusti!


Wiya menarik genggaman tangan yang mengunci lengannya.


“Kenapa? Kamu gak mau berteman dengan saya?”


“Saya gak bilang gitu. Emmm. Oke saya setuju!”


Berteman bukanlah sesuatu yang buruk.


Plis jangan pake adegan taut-tutan kelingking segala ini


“Yaudah kita teman.”


Ucap Zayn menunjukan jari kelingkingnya yang seukuran dengan telunjuk Wiya. Wiya hampir saja menepuk jidatnya karena Zayn benar-benar menawarkan kelingking persahabatan. Dengan berat hati Wiya menautkan kelingkingnya sebagai simbolis hari ini mereka telah menjadi teman.


Nambah satu daftar temen gue.


Setelah itu Zayn pamit pulang, Wiya mengantarkannya sampai lift dan Zayn memintanya untuk kembali sebelum ibunya mencari, dan berjanji akan kembali datang sore nanti.


“Wiya," Ucapnya sebelum lift terbuka.


“Hm,”


“Kamu semakin cantik pakai ini.”


Zayn memberi isyarat dengan tangannya menunjuk ke arah hijab dan selendang yang Wiya kenakan. Sukses membuat sepasang pipi chubby itu kembali merona kemerahan. Untung saja lift segera terbuka tapi Zayn sempat melihat senyuman itu merekah dari bibir merahnya.


“Makasih” Ucapnya sebelum pintu lift tertutup sempurna.


***


Resepsi pernikahan telah dimulai. Gedung semakin ramai sesak dipenuhi tamu undangan dari berbagai kalangan. Wiya menyapa tamu-tamu yang dia kenal. Rasanya dia jenuh sekali menunggu Ilham dan Rifa yang entah jam berapa akan tiba. Ibu dan ayah ikut duduk di atas pelaminan bersama dengan Ayahnya Mitty.


Wiya duduk di deretan kursi VVIP bersama keluarga dan kerabat dekat yang lain. Tapi Wiya justru terlihat asing karena warna baju yang tidak sama dengan keluarganya.

__ADS_1


Wiya benar-benar enggan mengganti baju yang sudah terlanjur kembaran dengan Zayn. Namun betapa terkejutnya dia saat melihat satu rombongan datang dari arah depan memakai outfit dengan warna yang sama dengan dirinya, tak ubah seperti satu kontingen yang kompak akan melakukan pertunjukan. Mereka adalah manusia-manusia dari manajemen Omelate Food.


Wiya melupakan satu hal. Bahan baju yang dia gunakan sekarang adalah dari bahan kain yang Mitty berikan. Dan Mitty memberikan itu tak hanya untuk dirinya tapi untuk semua orang di lantai 3 dan 4, tak terkecuali Pak Zayn.


Lihatlah itu Rifa dan Ilham juga berada di barisan orang kantor yang sedang mengantri prasmanan disana dan mereka juga memakai seragam kondangan yang sama dengan yang Wiya kenakan.


Itu artinya Rifa sama sekali tidak mengatur agar Zayn memakai couple outfit dengan Wiya. Tentu saja, karena Rifa sama sekali tidak tau apa yang akan Wiya gunakan hari ini.


Dan bagaimana jika Zayn melihat ini dan menyadari sikap Wiya tadi disponsori oleh rasa percaya diri yang terlalu tinggi?


Tak cukup sampai disitu. Kini Wiya kembali tercengang melihat Zayn yang sudah datang sesuai dengan janjinya. Kini malah sudah berganti pakaian. Namun bukan pakaian lagi yang menjadi persoalan melainkan seseroang yang berdiri disamping Zayn. Walau tak bergandengan tangan, tapi mereka kompak dengan batik couple berwarna putih tulang .


Wiya sesak, memastikan wanita cantik dan tinggi semampai dengan midi dress itu bukanlah Nikki atau Vhieya apalagi Bu Wulan. Wajahnya tak asing lagi seperti yang Wiya lihat muncul di iklan-iklan produk hits di Instagram.


Tak salah lagi, Pak Zayn pergi kondangan bersama Brigitta Senja. Seorang selebgram dan youtuber terkenal, dan putri tunggal dari seorang pengusaha tambang bauksit di negara berflower ini. Wiya harus mengakui dalam hatinya, mereka sangat pantas dan kalau ada mungkin Wiya akan memilih mereka sebagai best couple di pesta ini. Serasi sekali.


Lutut Wiya lemas. Wiya kini merasa siapalah dirinya gadis yang bahkan rela tidak berganti pakaian yang sudah lusuh hanya demi bisa kembaran.


Wiya sedang berfikir keras untuk melarikan diri dari lokasi pesta saat itu juga. Nanti saja memikirkan perasaan yang udah duluan hancur tak berbentuk lagi.


Baru saja tadi berbunga walau hanya diajak temenan aja. Saat ini sebentar saja dia harus menghindar dari keadaan ini, terutama bertemu dengan Zayn kembali.


Wiya tidak bisa membayangkan dirinya dengan lipstick yang sudah tersapu minyak seusai makan tadi, jika berhadapan dengan Brigitta. Ah jangankan dari penampilan. Dari jumlah follower aja Wiya udah kalah telak.


Daripada gue dikira panitia sapu jagad  kalau berdiri di depan Brigitta.


Wiya melepas high heelsnya demi mempermudah langkahnya, keluar melalui pintu samping gedung menuju kamar hotel atas namanya yang sudah di reservasi untuk tempat istirahat. Tak ada yang menyadari kepergian Wiya. Hanya Rifa dan Ilham yang mencari-cari dan mencoba menghubungi Wiya berkali kali namun tak ada jawaban.


Wiya menghempaskan diri di atas kasur king size putih itu setelah melepas hijabnya. Dia menenggelamkan diri. Menumpahkan kekesalan pada kebodohannya sendiri. Kenapa hatinya sakit sekali menyaksikan pemandangan tadi. Apa rasa suka memang biasa datang beriringan dengan luka? Ini bahkan belum bermula, tapi kenapa rasanya pedih sekali.


Siapa gadis itu? Ya gue tau itu Brigitta. Tapi apa hubungannya dengan Zayn? Jika tidak ada yang istimewa lalu batik couple itu? Sialnya lagi mereka kenapa terlihat sangat serasi.


Apa selama ini Pak Zayn jarang ke kantor karena mereka menghabiskan waktu bersama? Apa Brigitta begini dan begitu? Semua pertanyaan tentang gadis itu bermunculan di benak Wiya. Dan dia menyadari betapa naifnya dirinya selama ini, betapa dia tak tahu diri menaruh hati kepada pimpinannya sendiri.


Bukankah saat Zayn mencoba mendekatinya tempo hari Wiya kesal setengah mati? kenapa takdir senang sekali bermain-main. Wiya tak suka dengan kebetulan yang diciptakan semesta hari ini. mungkin ini hanya sebuah luka kecil, ya luka kecil yang terkena perasan jeruk nipis. Pedih.


Hingga dia tak sadar sudah tertidur sampai Ibu yang baru akan istirahat shalat ashar datang ke kamar itu membangunkannya.


 


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


WAH GA BERASA YA UDAH 3500 KATA. PER 3 CHAPTER INI. TERIMAKASIH YANG SUDHA SUDI MEMBACA. INI BENERAN NGEDITNYA SAMPAI JAM 3 DINI HARI. PLISSS JANGAN LUPA JEMPOL DAN JEJAK KOMENTARNYA YA. WALAU CUMA NGINGANTIN TYPO JUGA AUTHOR UDAH BAHAGIA.

__ADS_1


EH ITU POIN POIN YANG MASIH ADA SISA BOLEH LAH DI WAKAFKAN KESINI DARIPADA MUMBAZIR. WKWKWKW. 😂


THANK YOU.


__ADS_2