
Sore itu Wiya dan Zayn sudah siap dengan outfit olahraga lengkap denga helm sepeda masing-masing.
Pak Taufik sudah menaikkan sepeda ke bagian belakang mobil. Zayn dan Wiya akan menuju Taman olahraga Sulaiman Abdullah yang ada di Komplek Angkatan Laut Dewa Ruci.
Sesampainya di lokasi, suami istri itu melakukan beberapa pemanasan singkat, sebelum mengayuh sepeda mengelilingi cycling area.
Sambil berkayuh, Wiya memperhatikan sekeliling. Suasana sore hari yang begitu teduh, Berhasil mengembalikan moodnya. Disekitar taman bunga yang rimbun, ramai orang tua berlari-lari mengejar buah hati mereka.
Ada juga kelompok karate anak-anak yang sedang berlatih. Di dalam lapangan hijau yang di pagar besi, tampak pula beberapa orang yang sedang latihan tennis. Suasana semakin ramai dengan gerobak-gerobak pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar lapangan.
Hari sudah semakin sore, entah sudah putaran yang keberapa kali ini. Wiya sudah tampak kelelahan.
"Udahan sayang?" tanya Zayn terlebih dahulu menghentikan kayuhan.
"Iya mas, udah sore juga ini."
Mereka turun dari sepeda dan duduk berselonjor kaki di hamparan rumput sambil menenggak air putih dari botol minum masing-masing.
Seorang balita perempuan berlarian menghindari kejaran orang tuanya, gadis kecil itu bersembunyi di belakang tubuh Zayn yang memang berhasil menutupi seluruh bagian dari tubuh kecilnya.
Tak jauh dari gadis itu tampak pula kedua orang tua yang sepertinya wali dari gadis ini.
"Zayn, Wiya... "
Gadis itu mengintip dari balik badan Zayn. Sepertinya dia terperangkap, karena orang tuanya mengenali orang yang menjadi tempat persembunyiannya.
"Jadi puteri cantik ini Nadya Azmi ya?" ucap Wiya tak menyangka dan membawa gadis kecil itu ke pangkuannya. "Bu Rifa, gak nyangka ya kita ketemu disini." Kemudian Wiya berdiri dan memeluk Rifa.
"Iya Wiya, kalian apa kabar?" tanya Rifa hangat
Sementara Azmi sudah bersalaman dan bertegur sapa dengan Zayn lalu meminta maaf atas tingkah Nadya, puteri mereka.
Nadya kini berpindah memegang tangan Ayahnya.
"Nad, ayo minta maaf pada paman Zayn. Kamu sudah sembarangan memeluk orang, " ucap Azmi pada putrinya.
"Maafin Nadya, paman," ucapnya mengulurkan tangan pada Zayn. Zayn menekuk lutut menyamai posisinya dengan tinggi badan Nadya, setengah berlutut mengecup punggung tangan itu, seperti seorang pangeran yang menyambut tuan puterinya.
"Tidak masalah tuan puteri," mengusap lembut rambut Nadya. "Berapa usia mu, cantik?"
"Aku lima tahun paman," jawab Nadya sambil menunjukkan kelima jari tangan kanannya.
"Gadis pintar," timpal Wiya.
Kini Zayn mengangkat tubuh Nadya ke gendongannya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau sekarang kita minum teh tarik bersama?"
"Maaf Zayn, kami harus segera pulang karena Nadya harus pergi mengaji setelah magrib nanti," tolak Azmi pelan.
"Duh, sayang banget ya," ucap Wiya.
"Iya, lain kali kita janjian jauh-jauh hari dulu,gimana?" tawar Rifa.
"Yah sepertinya kita harus berpisah nih," Zayn mencebik di hadapan Nadya dan menyerahkan Nadya pada Azmi.
"Sampai bertemu kembali paman dan bibi," ucap Nadya melambaikan tangannya.
Usai berpamitan, Rifa dan Azmi mengajak Nadya segera masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan mereka sekali lagi.
Setiap kali melihat interaksi Zayn dengan anak-anak kecil, hati Wiya menghangat membayangkan bagaimana Zayn memanjakan anak-anak mereka nanti.
"Aku jadi kangen banget sama Vinny, " ucap Zayn saat mobil Azmi sudah tidak tampak lagi.
"Maaf ya mas, kita belum punya anak sendiri."
"Apa kata-kata ku melukai hati mu? kalau iya, maafkan aku. Kita pulang sekarang?"
"Aku pengen ke rumah Ibu,"
***
Besok, satu tahun pernikahan mereka. Selama satu tahun pula mereka sudah berusaha dan berdoa untuk segera dipercaya memiliki keturunan, tapi takdir belum jua mengizinkannya.
Sebagai pasangan yang saling mencintai kehadiran buah hati di tengah-tengah pernikahan tentu dambaan semua pengantin. Selama satu tahun pula, entah sudah berapa banyak alat test kehamilan dari berbagai jenis dan merk Wiya coba. Tak ada satupun yang memunculkan garis dua.
Terkadang Wiya mencoba berdamai dan melupakannya sejenak. Namun disaat-saat tertentu keinginan untuk segera hamil semakin mengusik fikiran. Ada ketakutan dirinya tak bisa memberikan Zayn keturunan dan lambat lau Wiya takut cinta dan perhatian suaminya akan semakin memudar.
Padahal itu hanya pendapat buruk Wiya sendiri. Zayn, dia memang sangat mengiginkan segera memiliki anak-anak yang lucu yang akan membuat rumahnya riuh dan gaduh. Tapi jika dirinya dirasa belum pantas menjadi seorang ayah, dia tak mungkin menyalahkan Wiya untuk keadaan ini.
Suasana senyap menyelimuti perjalanan mereka hingga tiba di depan rumah Ayah Ilyas dan Ibu Ria. Ibu tidak tau kalau hari ini anak dan menantunya akan berkunjung ke rumah mereka, dia sangat terkejut dan bahagia menyambut kedatangan Wiya. Begitupula sebaliknya.
"Yaampun nak, Ibu tu udah kangen banget sama kamu. Baru aja besok Ibu mau ngajakin ayah ke rumah kalian," Ibu menepuk-nepuk pundak Zayn dan mengajaknya masuk ke dalam. "Duduk sini, Ibu telpon ayah dulu ngasi tau kalian ada dirumah. Kalau gak di kasi tau nanti ayah abis shalat magrib biasanya gak langsung pulang." Ibu mengambil ponselnya.
"Ibu, yang anak ibu sekarang siapa sih? kok Mas Zayn aja yang di sambut?" sungut Wiya.
"Ah kamu ini, yasudah ajak suami mu ke atas dulu bersih-bersih sebentar lagi adzan," perintah Ibu "Setelah itu bantuin ibu masak buat makan malam ya, kalian nginap disini kan?"
"Gak usah bu, kita delivery aja nanti daripada ibu repot lagi malam-malam."
"Ah, gak repot. Lah anak dan menantu ibu datangnya cuma sesekali ini kok,"
__ADS_1
"Yaudah nanti Wiya bantuin ibu masak ya, sekarang Wiya siapin pakaian mas Zayn dulu bu," pamit Wiya
"Iya..iya..sudah sana kalian naik, Ibu juga mau shalat magrib dulu."
***
Wiya kembali ke dapur setelah selesai mandi, dan shalat magrib. Membantu ibu mempersiapkan makan malam. Zayn menemani ayah mengobrol di ruang TV.
"Potong seledrinya Wiy," Ibu menyerahkan beberapa lembar daun seledri kepada Wiya.
Wiya segera meraih pelengkap sup itu dan memotongnya kecil-kecil. Ibu memperhatikan air wajah Wiya yang tidak seceria biasanya.
"Bagaimana pernikahan kalian, nak?"
"Ha, baik bu. Alhamdulillah. Mas Zayn selalu memberikan yang terbaik."
"Syukurlah, iya ibu yakin nak Zayn akan membahagiakan mu," hibur ibu Ria sambil meletakkan masakan yang sudah matang ke dalam wadah.
"Tapi, Wiya yang takut tidak bisa memberikannya yang terbaik bu," ungkap Wiya.
"Apa masih masalah anak?"
"Mas Zayn sama sekali tidak mempermasalahkannya Bu, Wiya aja yang takut,kalau...."
"Apa belum ada tanda-tanda?" selidik Ibu.
Wiya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ibu pergi ke toko miliknya yang ada di sebelah rumah, mengambil beberapa produk herbal dari sana. Lalu kembali ke dapur dan menyerahkan beberapa box untuk Wiya bawa pulang.
"Ampun bu, banyak amat. Ibu gak suruh aku jadi member ibu kan?"
"Kamu kan udah ibu memberkan Wiy,hehe. Kalau gak ada masalah kesehatan yang serius. InsyaAllah produk herbal ini cukup efektif Wiy,"
"Ya tapi ini banyak banget bu, kapan habisnya?" keluh Wiya.
"Ya namanya juga usaha Wiy, coba aja dulu. Ini untuk stok 6 bulan. Kalau belum ada hasilnya nanti Ibu tambahin lagi,"
Wiya menelan berat ludahnya. Sejak dulu dia tidak terbiasa mengkonsumsi obat-obatan. Selain sering lupa, Wiya juga tidak suka bau-bau daun, rempah atau sejenisnya dari produk herbal. Tapi Wiya akan menepiskan semua itu dan berjanji pada diri sendiri untuk disiplin mengkonsumsi beberapa herbal yang ibunya tawarkan tadi.
***
MAAF YA KALAU MASIH ADA TYPO YANG BERTEBARAN
AKU NGEDIT NASKAH INI NYAMBI NGERJAIN AKTIVITAS DUNIA NYATA YANG BEGITU MENYITA PERHATIAN
Minta like, komen dan Vote nya ya kak jika kalian berkenan ^_^
__ADS_1