Utuh

Utuh
SEASON II : EPS 27


__ADS_3

Ditya yang masih mengenakan kain sarung, terkejut keluar dan ikut panik melihat ekspresi Wiya dan kondisinya yang sudah bersiap dengan barang-barang bawaan pribadi miliknya. Yang ada dalam fikiran Ditya adalah sesuatu telah terjadi pada keluarga Wiya di kota.


"Pulang? pulang kemana? kamu kenapa Wiya? ayo duduk dulu, ceritakan semuanya," Ditya mengajak Wiya untuk duduk di lantai teras ruangan itu.


"Tidak bisa dokt, maaf saya tidak bisa mengikuti kegiatan ini sampai selesai. Saya harus pulang malam ini juga, ada yang harus saya selesaikan terkait keluarga saya,"


"Oke....oke, setidaknya tunggulah besok pagi. Tidak ada pompong penumpang malam ini. Jangankan pulang ke Tanjungpinang, untuk kembali ke Desa aja tidak bisa kalau malam ini, kamu itu lihat angin kencang sekali,"


Wiya tau hal itu, pompong penumpang yang akan ke pelabuhan kota hanya beroperasi sampai jam 4 sore. Tapi dia tidak bisa membiarkan kesalah pahaman ini mengendap walau satu malam saja sementara mereka tidak bisa saling berbicara seperti sekarang ini.


Wiya termenung sebentar menatap isi pesan yang suaminya kirimkan.


Apa ini Wiya? kamu membagikan kegiatan mu? atau kedekatan mu dengan dokter itu? Apa dia tidak punya tugas lain selain berdekatan dengan mu disetiap kesempatan. Aku menunggu kamu menghubungi ku, tapi kamu malah mengabari ku lewat gambar-gambar ini. 


Sudah jelas ada yang sengaja melakukan semua ini. Sepertinya pesan yang dikirimkan pun sempat di balas, hanya saja langsung dihapus sehingga Wiya tidak dapat melihat isi pesan tersebut. Namun dibawahnya ada pesan balasan dari Zayn yang masih tersisa.


Semua akan selesai sebagaimana mestinya, kamu tenang saja.


Kalimat ini yang membuat Wiya takut. Takut kesalah pahaman berlarut dan tak bisa diurai.


Waktu belum lagi pukul 9 malam, angin dari pelabuhan dusun memang sangat kencang. Tapi badai dalam hatinya terasa jauh lebih bergemuruh, Memikirkan jalan pulang. Ditya tetap tidak mengizinkannya pulang malam ini. Wiya terpaksa mencari cara diam-diam untuk pulang sendiri.


Dia melihat sebuah kapal kayu yang cukup besar, akan tetapi sudah sesak akan muatan. Sepertinya berisi material bahan bangunan, Ada tumpukan karung semen, besi-besi panjang yang melintang, dan yang lainnya. Kemudian ada seorang datang akan turun ke kapal itu. Wiya seperti mendapatkan satu clue untuk masalahnya.


"Ehhh, pak!" panggilnya memberanikan diri.


"Iye nak," jawab bapak itu dengan dialek melayu pedalaman.


"Ma-maf pak mengganggu. Saya mau ke pelabuhan kota, apa saya boleh minta antar dengan kapal bapak? Saya, akan bayar berapapun. Maaf maksud saya anggap saja saya sewa kapalnya pak,"


"Maaf nak, bukannye gan nolong, bapak cume kuli yang mbawak bende-bende ni,"


(Maaf nak, bukannya tidak bisa membantu, bapak ini hanya kuli yang membawa barang-barang ini)

__ADS_1


Wiya agak kesulitan memahami kalimat sang bapak.


"Tolong saya pak, keluarga saya butuh saya malam ini. Saya gak tau harus bagaimana lagi," Wiya membumbui kalimatnya dengan sedikit drama.


Hampir berhasil, bapak tersebut tampak mempertimbangkan permintaan Wiya. Sebenarnya juga setelah mengantar semua material ini, memang mereka akan kembali ke pelabuhan kota. Biaya sewa yang ditawarkan juga lumayan fikirnya.


"Hmm, macam gini lah nak. Kami nak pegi ke pulau C, nak anta semue bende ni kesane, abes dari sane baru balek lagi ke pelabuhan pusat," jelas sang Bapak. Wiya tampak tersenyum seakan harapanna akan segera bersambut. "Tapi kapal ni lah penoh bebena nak, kalau anak nak ngekot pandai-pandailah carik tempat dudok jangan sampai nampak orang laen. Nanti kami yang kene marah toke nak,"


(Hm, begini nak, kami akan pergi ke pulau C untuk mengantar semua material ini. Setelah itu baru akan kembalike pelabuhan pusat. Dan kapal ini sudah sangat penuh, Kalau kamu tetap ingin ikut, pandai-pandailah cari tempat duduk yang aman agar tidak terlihat orang lain. Karena nanti kami yang akan dimarahi boss,)


"Benar? benar saya boleh ikut pak? tidak masalah saya duduk dimanapun, asal saya bisa sampai ke pelabuhan dan kembali segera menemui keluarga saya pak," girangnya


"Ha, yoklah turon kalau memang nak ngekot," sang Bapak membantu Wiya turun ke kapal dan membawakan ranselnya.


Wiya bingung harus duduk dimana, hampir tak ada celah sama sekali. Sepertinya kapal ini kelebihan muatan. Tapi Wiya tak berani buka bicara karena takut awak kapal malah berubah fikiran. Dia melihat kesana kemari dimana ada sedikit ruang untuknya. Karna tidak mungkin dia berdiri selama dua jam. Dan pula angin semakin kencang.


"Bapak lah ngate kan tadi kapal ke penoh, muse tempat ntok dikau, kalau dikau endak dudok je lah kat bawah rumah mesen ni, kalau segan, besok je dikau ekot pompong pagi,"


(Bapak udah bilang kan tadi kapal ini penuh, tidak ada tempat untuk mu. Kalau mau kamu duduk saja dibawah rumah mesin ini. Kalau keberatan, besok saja kamu pulang ikut pompong pagi)


Dengan pasrah Wiya buru-buru masuk ke dalam sekat ruangan kecil yang berada di bagian kapal paling bawah. Tak lama kemudian Wiya mendengar langkah kaki dari atas lantai papan. Seseorang berjalan melangkahi kepalanya. Sepertinya dua orang petugas teman dari Bapak tadi.


Mesin sudah mulai dinyalakan dari atas. Selain bising dan pengap. Disini rasanya panas sekali. Padahal di luar tadi sedang angin kencang. tapi peluh Wiya mengucur hebat, tidak ada angin masuk karena celah-celah papan itu ditutup dengan terpal yang cukup tebal.


Wiya mencoba mengesampingkan kondisinya, yang ada dalam fikirannya adalah dapat segera tiba di pelabuhan kota dan pulang kerumah. Wajahnya kini semakin merah, gendang telinganya mulai sakit karna suara mesin yang tak ramah.


Pasokan oksigen disekitar semakin menipis, Wiya bisa mati lemas di dalam sana. Dia berencana keluar sebentar untuk bernafas sekejap saja. Tapi mesin masih menyala, bergeser sedikit saja badannya akan ikut masuk bersama putaran rantai besar itu.


Wiya hampir menyerah, nafasnya semakin tersekat. Dia semakin kesulitan menghirup udara. Mata sudah hampir terpejam, tubuhnya hampir ambruk disana. Seketika pintu rumah mesin itu terbuka dengan keras seperti sebuah hantaman.


gedebrakk!!!


Bukan hanya terbuka, tapi juga terlepas dari engselnya. Otak Wiya serasa kosong, dia tidak memikirkan apapun selain mengambil kesempatan yang ada untuk merebut oksigen sebanyak-banyaknya yang bisa masuk ke rongga dada.

__ADS_1


"Hufff.... huhh....huhh... Alhamdullillah... Alhamdulillah Ya Allah... " ucapnya terputus dengan badan yang sudah bermandi peluh.


Namun tak sampai dua menit kemudian, terdengar bunyi hantaman susulan yang lebih keras. Kali ini disertai bunyi angin kencang yang seram. Masih dari bawah ruangan petak kecil, Wiya melihat beberapa material jatuh berhamburan ke bawah.


"Astagfirullah, ada apa ini?" teriaknya ketakutan.


Seketika mesin yang tadi bising berhenti mendadak. Wiya masih berfikiran bahwa mereka sudah sampai di pulau C. Dan para awak kapal sedang menaikkan barang-barang yang mereka bawa.


"Tapi... tapi... kenapa ada air masuk ini? Pak... Pak... siapapun di atas sana, ada air masuk dari bawah... toloong.... disini ada orang!" teriaknya histeris saat melihat air asin mulai masuk semakin banyak dan kini merusak salah satu lantai tempat mesin itu diletakkan.


Bruuk!


Mesin yang sudah mati tadi jatuh ke dasar kapal.


"Aaaaaa...Tolooong pak, tolong... saya dibawah, toloong...!"


Teriakannya semakin histeris saat mulai menyadari ada hal tidak diinginkan yang sedang terjadi dengan kapal kayu yang dia tumpangi. Wiya masih sempat mencari baju pelampung, tapi tentu tidak menemukan benda itu disana.


Tidak putus asa, Wiya tetap berteriak kencang walau dia tau kondisi sudah semakin buruk. Bukanlagi rumah mesin, dinding kapal sudah mulai hancur, Wiya mencoba berpegangan pada salah satu balok kayu yang masih terpasang di badan kapal. Dari sana dapat dia lihat kilatan menyala dari atas langit dan mendengar deru angin yang berhembus menakutkan. Mereka sama sekali belum sampai ke pulau, posisi kapal sesak muatan itu masih di tengah lautan.


Kreeeeek.... kreteeeek......


Bhaaaaaaaaaaaaaamb


Tak ada lagi yang bisa dilakukan. Sisa badan kapal yang tinggal setengah, dihantam habis oleh badai gelombang dahsyat.


Keseluruhan bagian kapal ditelungkupkan hanya dengan satu kali gulungan. Tiga orang awak kapal tadi ternyata sudah terlebih dahulu menyelamatkan diri dengan cara terjun ke laut saat mereka mulai membaca situasi buruk.


Peristiwa Kapal pecah di perairan ini bukan yang pertama kali terjadi. Tahun lalu juga ada kapal bermuatan bahan pokok dan minuman pecah dihantam badai tak jauh dari laut ini.


Sementara seorang wanita yang tak sempat mereka selamatkan ditinggal sendiri sampai kapal itu pecah menghamburkan semua isinya di tengah laut lepas. Tinggal menunggu di titik mana dia akan kehilangan nafas.


Wiya masih ada di dunia untuk dapat merasakan tubuh ringkihnya ditimpa besi-besi panjang dan besar yang semakin menekan badannya tenggelam.

__ADS_1


Belum lagi material bangunan berat yang bersedia melukai kulitnya yang terbuka, walau keseluruhan aurat tubuh Wiya masih tertutup sempurna.


__ADS_2