
Zayn sedang membantu Wiya duduk di kursi rodanya. Wiya diizinkan untuk rawat jalan dan diberi rekomendasi dokter kulit untuk penyembuhan luka di wajah dan kulit tangannya. Zayn tidak ingin dan tidak mengizinkan Wiya untuk menceritakan detil kejadian yang sudah pasti sangat mengerikan untuk diingat.
"Kamu benar-benar tak ingin mendengar cerita ku, mas?" tanya Wiya saat mereka sedang menunggu Pak Taufik mengemasi seluruh barang pribadi Wiya.
"Aku tak ingin kamu mengingatnya. Andai bisa, aku akan menghapus cuplikan ingatan mu tentang kejadian itu,"
"Mana mungkin mas,baiklah aku tak akan membahasnya lagi. Aku akan mengubur kenangan itu di dasar laut paling dalam, tapi dengan syarat,"
"Tumben sekali istri ku bermain tawar-menawar? Hanya satu syarat?"
"Huumm, bisa?"
"Jangan aneh-aneh lagi, Wiya," Zayn mengingatkan istrinya. Kini dia duduk di kursi pasien, siap mendengarkan syarat yang akan istrinya ajukan. "Syarat apa?"
"Aku akan mengubur semua kenangan pahit tentang peristiwa ini mulai dari titik awal kecelakaan ini terjadi," Wiya menarik nafas menjeda ucapannya. "Termasuk melupakan semua kesalahpahaman yang sengaja dibuat oleh Vela,"
Zayn tampak ingin memutus kalimat Wiya. Dia sangat keberatan dengan syarat itu, karena menurut Zayn, Vela haruslah mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya.
"Dengarkan aku dulu mas," ucap Wiya pelan. Zayn kembali tenang dan mencoba mendengarkan Wiya sampai selesai.
"Kalau kamu memberinya hukuman, aku pasti selalu terbayang alasan dari hukuman yang dia jalankan, dan mau tidak mau akan selalu berkaitan dengan peristiwa itu kan? Jadi, aku ingin melupakan semua sampai ke akar-akarnya. Dan pula, sebaiknya kita tidak lagi memperdulikannya. Mengetahui kamu percaya padaku sepenuhnya, itu sama aja udah bikin dia jatuh tanpa harus ktia sentuh. Lepaskan dia, lupakan bahwa dia pernah hadir diantara kita," urai Wiya dengan begitu tenang.
"Tidak ada yang pernah hadir, aku tidak merasa ada orang lain diantara kita," protes Zayn tak terima.
"Tapi dia memang pernah ada diantara kita mas. setidaknya dengan hadirnya Vela membuat kita semakin saling menjaga, iya kan?"
Zayn sama sekali tak tertarik untuk membahas kalimat Wiya yang sebenarnya hanya alibi semata. Wiya memang orang yang tidak suka membesar-besarkan masalah.
__ADS_1
"Ayolah sayang! kamu bukan tokoh protagonis dari sebuah cerita, kamu bisa membalas semuanya,"
"Dan kehidupan kita juga bukan sekedar draft naskah, yang setiap antagonis gak pernah ada sisi baiknya. Ada yang lebih berhak membalasnya mas, bukan kita! Mas? Tadi itu syarat ku, apa terlalu berat?" tanya Wiya dengan ekspresi memelas.
"Tapi aku akan tetap memecatnya dari perusahaan,"
"Itu sepenuhnya hak mu, kamu pimpinannya," ucap Wiya tersenyum lega. "Ayo mas, kita pulang sekarang!" Wiya menyilangkan tas kecil dan meminta suaminya untuk mendorong kursi roda.
Kursi roda itu pelan di dorong menyusuri lorong. Sejujurnya Zayn tidak berpuas hati, dia masih sangat ingin memberikan Vela pelajaran. Tapi syarat yang Wiya ajukan sangat masuk akal. Semua yang istrinya ucapkan seolah selalu dengan perhitungan yang matang.
"Mas kok diam aja sih?" menggenggam tangan suaminya dan memecahkan tembok sunyi diantara mereka. "Ikhlas mas, memaafkan akan membuat hidup kita tenang. Setelah ini kita akan bersenang-senang kan? Kamu mau repot mikirin dia nanti?"
Zayn menjawab ucapan Wiya dengan usapan lembut di kepala istrinya.
***
Mereka sudah di pelabuhan, Zayn menggendong tubuh istrinya untuk masuk ke dalam boat yang cukup mewah. Kemudian dia kembali ke atas dan berpamitan dengan Ditya, dan tentu saja Vela yang sejak tadi hanya berani menundukkan pandangannya di belakang Ditya.
"Sama-sama Zayn, semoga Wiya lekas pulih," balas Ditya.
"Nona Ravela," panggil Zayn tegas. Vela seketika terpaku menatap pimpinannya. "Silahkan menikmati masa cuti mu, kamu tidak perlu lagi kembali ke perusahaan. Pak Taufik akan mengurus semua termasuk pembayaran sisa masa kontrak. Kamu saya pecat!" Kalimat itu terucap begitu mantap. Vela tampak terkejut padahal dia sudah bersiap-siap.
"Terimakasih pak Zayn, maafkan saya. Sekali lagi saya mohon maafkan saya. Saya harus meminta maaf kepada Ibu Wiya, Izinkan saya bertemu dengannya sebentar saja," pinta Vela dengan penuh penyesalan.
"Istri saya sudah memaafkan kamu, kamu tidak saya laporkan ke pihak berwajib itu karena kemurahan hati Wiya yang meminta saya untuk mengikhlaskannya. Jadi kamu tak perlu menemuinya lagi, dimanapun nanti. Kalau perlu pergilah menjauh dari kota Tanjungpinang, Jika suatu saat kita berpas-pasan dijalan, berusahalah menghindar, saya tidak ingin Wiya kembali mengingat kejadian buruk yang pernah kamu reka untuknya,"
"Tapi saya..."
__ADS_1
"Vel,cukup!" Ditya menarik pergelangan tangan Vela agar gadis malang itu berhenti bicara.
"Oh ya, hampir lupa. Setelah kejadian ini, semoga tidak ada lagi perasaan yang mudah tertarik hanya karena diperlakukan baik. Waspadai hati mu yang rentan, sedangkan yang dimanja belum tentu dicinta. apalagi yang tidak pernah diberi kesemapatan sama sekali!"
Kalimat yang membuat harga diri Vela runtuh, tidak ada lagi tiang-tiang penyangga jiwa yang menopang keberaniannya selama ini. Semua sirna dikutuk oleh kebodohan dirinya sendiri.
Ditya turut merasa malu atas apa yang Zayn ucapkan untuk perempuan yang pernah dia tunggu. Tapi itu tidak seberapa dibanding kondisi yang harus Zayn dan Wiya terima saat ini.
Zayn segera masuk ke boat untuk segera menyusul istrinya. Ditya masih berdiri di bibir dermaga sampai *boat *yang membawa Zayn dan Wiya kembali ke kota telah hilang sempurna.
***
Selama berada di atas laut luas, Zayn tidak melepaskan pelukannya. Mereka saling mendekap sambil mendengarkan Wiya bercerita tentang tempat-tempat indah yang sempat disinggahinya beberapa hari disana.
Mereka juga membahas rencana pengobatan, jadwal bertemu dokter kandungan dan tak lupa bulan madu yang tak boleh terlewatkan. Zayn dan Wiya berdiskusi dengan begitu tenang sambil sesekali ikut berayun bersama gelombang
Setelah banyak hal yang mereka temui di tahun pertama pernikahan. Rumah tangga memang serupa bahtera yang berlayar di atas samudra. Pasang surut kan selalu ada, namum air laut tak akan pernah berubah rasa.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
2-3 eps menjelang Final... yeay!