Utuh

Utuh
PENOLAKAN


__ADS_3

Terbang dengan flight pagi, pagi-pagi sekali mereka bertiga sudah duduk ruang check in. Bandara sudah menjadi tempat main dan nongkrong untuk orang-orang macam mereka ini.


Jika pekan lalu Zayn harus mengalah ikut Ilham dan Wiya di kelas standar. Hari ini


sebaliknya, mereka berdua yang ikut Zayn duduk di kelas bisnis yang ekslusif, gak tau harus apa rasanya. Mau nolak gak enak, mau girang takut dikira norak.


Hari ini Zayn memilih jaket parasut berwarna merah hati sebagai outfitnya, dengan resleting yang sengaja dibuka memperlihatkan postur tambunya yang dibaluti t-shirt hitam polos.



Sedangkan Ilham memilih t-shirt lengan panjang berwarna misty dengan lis hitam atas di lengannya



Menurut hukum alam harusnya tidak ada wanita yang tak betah berada diantara


keduanya. Tapi teori itu terbantahkan untuk gadis yang saat ini berada di tengah mereka berdua.


Dia masih sibuk sendiri dengan dunia di genggamannya, baginya mereka berdua tak lebih dari pimpinan di tempatnya bekerja, untuk itulah selama ini dia sangat menghargai posisi mereka dengan bersikap wajar dan seadanya.


Karna menurut Wiya boss yang menikah dengan bawahannya itu hanya ada di novel novel online semata.


Berbalas komentar dan berebut poin di grup author novel online yang dia baca nyatanya lebih seru walau jempolnya sering kalah cepat membuka kotak poin yang bertebaran.


Seketika Wiya merasa jiwa pemulungnya meronta. Dia jadi berfikir, tak semuanya bisa dibeli dengan uang. Walau kaya seperti Pak Zayn sekalipun tapi tak akan bisa membeli poin disini.


Karena poin poin betuah ini sama sekali gabisa di purchase dengan rupiah. Harus sama-sama jadi pemulung disana untuk bisa mendapatkannya.


"Argh, kotak kosong lagi!" Rutuk Wiya dalam hati.


1 jam 45 menit yang tidak terlalu


membosankan. Duduk di kelas bisnis ternyata menyenangkan, sehingga waktu


terbunuh tanpa harus melakukan banyak kegiatan.


Yuhuuu dari tadi selain main hp, Wiya hanya menonton tayangan yang di putar di layar 8 inchi disana, bahkan bisa sambil rebahan. Ilham dan Zayn memilih seat yang berhadapan mengisi waktu dengan diskusi di atas awan.


Tapi sempat-sempatnya  ekor mata mereka melirik ke arah Wiya dari kejauhan, begitu terus bergantian Hingga pramugari yang bertugas memberikan


pengumuman bahwa pesawat telah sempurna melakukan pendaratan.

__ADS_1


Welcome back


Bandara International Raja Haji Fisabilillah – Kota Tanjungpinang


Setelah mengambil bagasi yang 90%


nya adalah kepunyaan Wiya, mereka menggunakan jasa porter bandara untuk


mengantarkan barang-barang itu ke mobil.


Hari ini keluarga Wiya tidak bisa datang menjemput dan Ilham dimintai tolong mengantarkan Wiya kerumahnya. Sebenarnya


arah rumah Wiya berbanding terbalik dengan jalan menuju rumah Ilham, jadi Zayn berinisiatif menawarkan diri. Tiba-tiba saja dia menerima jasa antar pulang .


“Rumah kamu dan Wiya tidak searah, biar Wiya ikut mobil saya.”


Wiya yang masih asik menghitung hitung


total bungkusannya sontak kaget


A apa tadi dia menyebut ku ? Wiya ?


“Eh, gimana ? gimana ? maksudnya


“Pak Zayn  yang akan mengantarkanmu pulang Wiy.”


Ilham menjelaskan ulang dengan sedikit mengubah redaksinya


“Bukan, tidak begitu,  maksud saya, kita searah dan saya hanya menawarkan tumpangan.”


Zayn meluruskan. Tak ada bedanya dengan kalimat Ilham tadi, hanya saat Zayn mengucapkan terbaca jelas unsur kegengsian.


“Oh begitu ya,  terimakasih Pak Zayn


tawaran bapak. Tapi jika Pak Ilham tidak bisa mengantarkan saya pulang saya


bisa pesan taksi saja, atau menunggu bang Ridwan.” Ucap Wiya yang berusaha waras.


Ini artinya aku ditolak lagi yaa ?


“Baiklah tidak masalah, kalau begitu saya duluan. Sampai bertemu di kantor besok.“

__ADS_1


Sejurus kemudian meninggalkan dua orang anak buahnya yang masih berdiri disana


“Ilham!” Panggil Wiya sedikit memonyongkan


bibirnya.


Ilham tersenyum, Wiya menepati kata- katanya. Ya tentu saja Wiya itu profesinal dalam hal apa saja. Ini hari libur,


tidak ada rekan kerja lain dan tidak membahas pekerjaan, jadi tidak ada keformalan.


Astaga hanya ingin dipanggil nama saja sebanyak itu syaratnya, apalagi jika ingin


menikahinya ya?


Tapi tak masalah bagi Ilham, toh Akhirnya dia mendengar lagi Wiya memanggilnya manis begini. Ya hanya dengan memanggil Nama.


Ah andai ada embel embel ‘bang’ di depannya pasti bisa kejang kejang abang deeeeeeeeeek. Hahaha. Ngelunjak banget ya gue.


Itulah suara tak tau diri dari batin Ilham. Bang Ilham halu nya kembali yang membuat ekspresi wajahnya jadi aneh karena sesenyuman tak jelas


“Kamu beneran ga mau ngantarin aku pulang?”


“Ha ? aku, tidak ! siapa yang bilang begitu?”


“Yaudah, kenapa masih bengong disitu,


sana ambil mobilnya aku tunggu sini.”


Sementara di jalanan kota Tanjungpinang yang senggang, seseorang sedang kebingungan dan memukul badan stir


dengan telapak tangannya.


Stupid Zayn !!! ngapain juga


tadi gue nawarin tumpangan segala


***


TERIMAKASIH YANG SUDAH MAU MEMBUANG WAKTUNYA MEMBACA NOVEL INI . EH KALAU BELUM BISA DIBILANG NOVEL DIBILANG CERBUNG JUGA NDA APA APA.. HIHI


TAPI, LIKE DAN KOMENTAR NYA BOLEH DONG DI SISAIN BUAT AUTHOR YAAA

__ADS_1


TERIMAKASIH ^_^


__ADS_2