
Wiya yang berencana akan berangkat ke Malaysia pagi hari, namun dia memilih menunda keberangkatannya. Tiba-tiba saja dia membayangkan akan ada sebuah kejutan acara lamaran untuk dirinya. Dengan santai sambil tetap berharap Wiya menjalan aktivitas rumah seperti biasanya.
"Kamu bukannya ikut Fist Ferry dek?" Melihat Adiknya yang bukannya bersiap-siap malah asik menguncir rambut panjang keponakannya.
"Hehehe, Iya gak apa-apa bang, pengen nyobain Last Ferry aja hari ini," elak Wiya.
Turun-naik tangga, keluar-masuk kamar, yang dia cari belum juga ada. Akhirnya Wiya menetapkan diri di dalam kamarnya sambil tetap patroli dari balik jendela.
"Kalau emang ada rombongan yang datang kan bunyi tabuh atau rebananya pasti kedengeran dari sini Wiy, gak perlu lo nya bolak-balik kaya setrikaan. haha. Lagian bukannya rapi, malah makin kusut tuh muka gue liat." Ucap Mitty dengan nada seolah sedang prihatin. Wiya terkejut melihat Mitty yang entah sejak kapan sudah berada di pintu kamarnya, Kemudian satu bantal sofa berhasil terbang ke arah Mitty.
"Oooop ketangkep," berhasil pula ditangkap oleh Mitty "I Feel you, Wiya, tapi kan kalau emang khayalan tentang lamaran itu akan jadi nyata, Harusnya adegan itu ada sejak tadi pagi. Ini loh udah mau jam dua, yang ada lo bisa ketinggalan Ferry sia-sia, mau?"
"Mitty......"
"Udah cepetan beres-beresnya! itu Bian udah nungguin dibawah."
Mitty meninggalkan kamar Wiya. Wiya membenarkan yang Mitty ucapkan. Ah Mitty memang selalu mengerti bahkaan sebelum Wiya menceritakannya.
Wiya kembali ke Negeri pengembaraan, Apa yang sudah di mulai harus pula di selesaikan. 3 hari lagi Wiya akan resmi mendapat gelar tambahan di belakang namanya.
***
Wiya sudah berada disebuah gedung tempat perhelatan acara wisuda bersama seluruh calon wisudawan lain. Meski ini bukan yang pertama sepanjang sejarah pendidikannya, namun perasaannya masih tetap sama. Haru,bahagia dan penuh syukur atas pencapaian yang masih Tuhan percayakan untuknya. Di dalam gedung utama hanya ada peserta dan panitia Wisuda, sedangkan tamu dan keluarga hanya dapat menyaksikan dari layar lebar di ruangan berbeda.
"Ilma Qawiya, S.E, M.Ak P.hd Binti Ilyas Syukri M.pd" Wiya berdiri dari kursinya dan melangkah dengan pelan seolah tambahan gelar di belakang namanya sekaligus menambah beban tugasnya sebagai seorang akademisi yang memilih terjun ke dunia usaha.
Setelah bersalaman satu persatu dengan dewan kehormatan yang merupakan dosen ketua program studi, pembimning,penguji disertasi,serta dosen lainnya, sampailah dia di hadapan Rektor.
Wiya sedikit menundukan kepala sebagai penghormatan, baru kemudian sang rektor memindahkan tali toga itu ke kanan, yang mempunyai filosofi tersendiri.
Wiya berjalan turun dari pentas dan tersenyum sedikit ke arah kamera yang sedang menyoroti langkahnya, mengizinkan para potografer mengabadikan momen penting itu. Berharap keluarganya diluar sana dapat melihat senyumnya dari layar besar dan juga turut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan sekarang.
Cukup lama Wiya berada di ruangan sehingga semua rangkaian kegiatan acara wisuda telah berakhir dan semua yang berada di dalam gedung utama keluar perlahan mencari keluarga yang turut hadir disana. Tak terkecuali Wiya, Dia menyingsing ujung jubah hitam kebesaran itu, sedikit tergesa-gesa ingin bertemu keluarganya.
Tapi ruang dimana seharusnya para keluarga berkumpul tampak sepi, semua telah menemui orang yang dicari dan merayakan hari bahagia itu di halaman depan kampus yang luas. Walau hatinya sedikit kecewa karena tak mendapati yang dia cari di sana, namun Wiya tak putus asa, dia tetap bersemangat melangkah keluar, mungkin mereka semua telah menungunya di depan sana.
Sambil menyusuri tiap sudut yang dia lewati sambil mencari keberadaan keluarga tercinta, Wiya melihat semua teman-teman seangkatannya sudah berbagi kebahagiaan dengan keluarga masing-masing. Hampir semua doktor yang diwisuda hari ini sudah berkeluarga, memiliki anak bahkan cucu yang semua mereka boyong kesana untuk menyaksikan hari penting itu.
Wiya semakin bersemangat karena tak sabar rasanya ingin memeluk dan menggendong serta berpose bersama Vinny dengan seragam wisuda yang masih lengkap di badannya.
Penat Wiya berputar-putar, namun tak satupun dia jumpai, padahal halaman kampus tidak terlalu ramai. Wiya mencoba menghubungi berkali-kali tak ada satupun yang merespon panggilannya.
Panik, kesal, kecewa bercampur jadi satu di kepala. Rasanya dia ingin sekali menjerit sekencang-kencangnya. Tak ada satupun yang menyaksikan hari yang paling ingin dia persembahkan ini.
__ADS_1
Wiya kembali mencoba menghubungi Ayah,Ibu, Bang Ridwan, Mitty bahkan Mba Asih. Namun hasilnya belum berubah, belum ada yang bisa tersambung dengannya.
Walau gusar, tangannya tak berhenti membuat panggilan, matanya tak berhenti menyapu seluruh sudut halaman gedung berulang kali, berharap dapat menemukan keberadaan keluarganya atau sebaliknya.
Di tengah kepanikan, dia merasa seseorang menepuk-nepuk kecil pundaknya dari belakang. Wiya butuh beberapa detik untuk menjernihkah fikiran sebelum menyadari bahwa dia kenal dengan tekstur telapak tangan yang berada di bahunya, wangi parfum dan juga ........... suara itu....
"Hey! Nyariin siapa sih?"
Wiya menoleh perlahan.
"Kamu?" Ucap Wiya setengah berteriak. Padahal bukan Zayn yang dia cari, tapi kehadiran laki-laki itu seketika menyirnakan segala panik dan gundahnya. Wiya seperti merasa cukup.
Wiya masih menatap lekat laki-laki di hadapannya yang tersenyum serius. Hari ini Wiya baru melihat, wajah putih halus itu kini tak lagi ditumbuhi bulu-bulu, seperti saat dia melihatnya di pantai sebulan yang lalu.
Rambutnya juga sudah kembali di pangkas rapi. Walau sejujurnya Wiya tertarik dan berfikir macam-macam saat melihat penampilan Zayn kemarin, tapi hari ini Zayn tampak segar sekali.
"Congratulation for your graduation, welcome to the new chapter!" Sambil menyodorkan satu buket besar bunga mawar putih segar.
Tak ada apa-apa yang bisa Wiya narasikan tentang perasaanya saat ini. Seperti ingin langsung meledak. Hanya itu saja.
Wiya menerima buket itu hati-hati. Sedikit berbeda dari buket yang biasa dia terima, kali ini di atas kelopak mawar itu terselip sebuah benda berbentuk lingkaran berwarna emas. Benda kecil dan bundar itu berkilau dan sangat menarik perhatian.
"Ini?" Wiya menunjuk ke arah benda itu
Tanpa memperdulikan orang sekelilingnya Zayn duduk setengah berlutut menumpukan lututnya ke tanah. Wiya malu dan menutup wajahnya dengan buket besar itu.
"Menikahlah dengan ku, Ilma Qawiya!" Langsung meraih jari manis Wiya dan melingkarkan cincin emas itu. Tanpa memberi Wiya pilihan apapun.
Seluruh mata sudah melihat ke arah mereka berdua. Sorak sorai dan siul tak lepas dari mereka yang menyaksikannya. Wiya malu setengah mati, beruntung buket besar tadi cukup untuk mentupi wajahnya yang memerah.
"Zayn, berdiri sekarang! apa-apaan sih kamu? semua orang jadi ngeliatin kita gini." Wiya berbicara dari balik penutup wajahnya.
Entah siapa pemandunya, tiba-tiba disekliling mereka sudah ada tim sorak yang berteriak
"Te-ri-ma, te-ri-ma, te-ri-ma!!!" Teriakan itu diikuti yang lainnya dan mereka semakin menjadi-jadi.
Bukannya malu, Zayn malah merasa mendapatkan supporter dadakan dan semakin bersemangat melanjutkan aksinya. Kini dia berdiri di hadapan Wiya, dengan satu kali gerakan , tubuh Wiya yang masih memakai baju wisuda sudah berada di gendongannya.
"Aaaaaaaaaah.... How sweet u are, guys."
Teriak histeris salah seorang wanita berkebangsaan India yang sepertinya seumuran dengan Wiya.
Wiya belum membuka wajahnya, kini dia meronta-ronta, tapi ternyata hanya tungkai kakinya yang menjuntai yang mampu di gerakan.
__ADS_1
Tanpa memikirkan yang lain, Zayn dengan santai berjalan menimang tubuh Wiya di gendongannya entah akan membawa Wiya kemana.
Puluhan pasang mata yang menyaksikan itu bertepuk tangan, tak sedikit pula yang mengabadikan momen langka ini dengan ponsel mereka. Sebagian lain mencari keberadaan hiden camera, karena mengira adegan ini adalah bagian dari acara reality show.
"Zayn sumpah ini norak! Turunin aku! Ini bukan di negara kita Zayn! Gak waras kamu ya?" Cerca Wiya meronta-ronta. Usia mereka tak muda lagi, melakukan aksi menyatakan cinta ala ABG seperti ini terasa sangat menggelikan.
"Tetap diam dan bertumpulah di leher ku! atau kamu akan terlepas dan jatuh disini."
Wiya merasakan Zayn melonggarkan lengannya yang mencengkram di pinggang Wiya, dengan terpaksa Wiya melingkarkan kedua tangan yang masih menggenggam buket bunga itu ke leher Zayn. Zayn terdiam saat menatap kedua bola mata yang jaraknya tak sampai sejengkal.
"Turunkan Aku!" Pinta Wiya
"Jawab pertanyan ku tadi!" Pinta Zayn lirih tanpa mengalihkan pandangannya. Wiya memalingkan wajah ke arah lain.
"Kamu sudah memasangkan cincin ini secara paksa, untuk apa bertanya lagi?" Jawab Wiya ketus mencoba melawan kata hatinya yang sebenarnya ingin langsung berteriak menjawab "Iya!"
Zayn menghentikan langkahnya dan senyumnya semakin lebar mendengar kiasan Wiya yang dianggapnya sebuah jawaban.
"Sekarang turunkan!" Pinta Wiya saat mereka sudah berada di hall parkir tepat di depan mobil Wiya. Entah dari mana Zayn bisa tau informasi tentang kampusnya, dan sekarang bahkan kendaraan yang Wiya gunakan.
"Jangan berkias, ucapkan dengan jelas!"
"Apa lagi ?"
"Jadilah Istriku!" Pinta Zayn sekali lagi dengan tatapan lembut namun menghujam ke bola mata milik Wiya. Zayn memohon dengan nada paling rendah dari pita suaranya. Namun terdengar jelas dan pasti .
"Iya!" Semakin mengencangkan rengkuhan tangannya.
Zayn tersenyum puas, menurunkan Wiya perlahan dan kini membawa Wiya ke dalam pelukan tanpa mengucapkan apa-apa. Wiya masih malu untuk membalas pelukan itu, Ia memilih menikmati aroma maskulin itu diam diam.
"Dimana mereka semua?"
"siapa?"
"Keluarga ku."
*****************************************
Alhamdulillah, selesai juga menuliskan part ini. maaf ya kalau kurang dapet feel nya . Maklumlah, aku bukan cuma penulis amatiran tp juga penulis ketengan . Nulisnya eceran 😂😂😂😂
ini adalah chapter tersulit yang pernah aku tulis. Udah dua hari nulis hapus nulis hapus lagi dan cuma dapet segini. 😂
Selamat berpuasa bagi kalian yang menjalankannya. Semoga semua selalu dalam keadaan teebaik.
__ADS_1
jangan lupa tap like, komen dan vote seikhlasnya 😂😂😂