
Zayn sampai dirumah pukul sembilan malam. Dia mengira istrinya sudah tertidur mengingat tadi siang sudah sangat lelah. Ternyata dia salah, saat Zayn melangkah masuk ke dalam, Wiya sedang menunggunya di ruang makan mereka.
"Mas," berdiri menghampiri suaminya. "Mau bersih-bersih dulu? atau langsung makan? tadi aku bikinin telur dadar."
"Aku mau mandi aja, tadi udah makan di rumah mama, kamu makan sendiri, gak apa-apa kan?"
"Iya mas, gak apa-apa. Handuk mas udah aku siapin di atas."
Zayn mengusap lembut kepala Wiya dan langsung naik ke atas menuju kamar mereka. Sementara menunggu Zayn membersihkan diri, Wiya menikmati sendiri makan malamnya. Itu pula sisi kebaikan dari suaminya. Walau semarah apapun tetap bersikap lembut dihadapan istrinya namun hal itu membuat Wiya semakin merasa bersalah.
Usai mandi, Zayn kembali ke ruang makan. Wiya yang sedang mencuci piring segera menghampiri suaminya. Dia menarik satu kursi meja makan tepat di hadapan Zayn. Tidak bersebelahan seperti biasanya.
"Wiya," Zayn menautkan kedua telapak tangannya ke atas meja."Maaf ya aku kasar sama kamu dari tadi siang,"
"Sama sekali tidak mas, ak...aku yang minta maaf. Mengenai liputan itu...." Kalimatnya menggantung.
"Aku udah sering bilang kan? Aku gak mau kamu tampil di layar kaca, aku gak suka istri ku dinikmati banyak mata dan suaramu di dengar banyak telinga, aku gak bisa Wiya, kenapa kamu gak mau ngerti?" intonasi Zayn sedikit dinaikkan, namun tetap tidak terdengar meninggi.
Wiya tahu, yang harus dilakukan saat suami sedang berbicara adalah diam. Kunci mulut dari berkata apapun walau sudah memiliki segudang kalimat pembelaan. Wiya hanya tertunduk mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut suaminya.
"Dan kamu melakukan semua tanpa izin ku, aku belum pernah memberi mu izin melakukan itu. Hanya karena aku memaklumi semua kesibukan mu akhir-akhir ini, bukan berarti kamu bisa bebas melanggar batas." nadanya kembali di pelankan. "Aku harap kamu punya alasan untuk ini,"
Gak punya mas, aku gak punya alasan apapun
Aku salah mas, istri mu bersalah kali ini.
"Aku selalu mendukung aktivitas mu satu tahun terakhir ini, tidak pernah protes sedikitpun, iya kan? bahkan tiga bulan terakhir kamu seakan gak punya waktu untuk walau hanya sekedar istirahat di akhir pekan. Aku masih diam dan mendukung semua kegiatan mu."
Benar mas, itu semua kebenaran.
"Satu hal lagi, sore tadi kamu shalat dzuhur disaat waktu ahsar udah mau masuk, sebanyak apa rupiah yang kamu cari sampai melalaikan kewajiban utama kamu sendiri?"
__ADS_1
Wiya tertunduk semakin dalam. Tidak berani menjawab sama sekali. Wiya hafal benar, lelaki hanya butuh di dengarkan. Walau Zayn berkata sesuatu yang salah sekalipun, Wiya tak akan langsung menyanggah, karena hal itu tidak akan menyelesaikan masalah. Kini dia hanya menunggu, Zayn biasanya sudah menyiapkan konsekuensi yang harus Wiya jalani.
"Sekarang, aku udah putuskan. Aku hanya mengizinkan mu datang ke perusahaan tiga kali dalam sepekan. Selebihnya kamu atur sendiri agar bisa dikerjakan dari rumah."
Wiya mengangkat wajahnya, menatap Zayn atas keputusan barusan.
"Itu hanya keputusan seroang suami. Kalau kamu tidak suka, kamu tidak perlu mengikutinya."
Mana mungkin Mas.
"Ak..aku, tidak. Maksud ku, aku setuju. Itu tidak masalah."
"Aku tau kamu masih Ilma Qawiya yang faham akan batas dan prioritas, Apa kamu merasa terkekang dengan keputusan ku?"
Wiya menggeleng-gelengkan kepalanya. Walau dia harus berfikir keras menyesuaikan keputusan ini. Tapi dia lega setelah tau keinginan suaminya. Bukankah tidak ada gunanya melakukan sesuatu tampa ridha dari suami?
"Enggak mas," jawabnya pelan.
"Dan, aku gak mau kamu merasa aku melakukan semua ini karena maksud tertentu, sama sekali bukan. Maaf ya udah bikin kamu ketakutan." Kini dia mencium tangan lembut itu beberapa detik. "Wiya melepaskan tangannya dari genggaman Zayn, tapi tak sengaja mengenai bagian sensitif dari tubuh suaminya yang membuat Zayn terkaget dan kembali meraih tangan Wiya untuk diletakkan kembali disana.
"Mas?" Tanya Wiya heran.
"Kamu pasti sengaja kan?"
"Enggak mas, sumpah enggak!"elak Wiya.
"Yasudah kalau tidak, anggap aja ini hukuman."
Sebelah tangan Zayn meraih dagu Wiya dan perlahan mendaratkan sebuah kecupan yang lembab di bibir ranum milik istrinya.
Yaampun, kalau cuma begini cara meredam emosi, kenapa aku harus susah-susah ketakutan dari tadi, mas?
__ADS_1
Wiya dengan senang hati membalas perlakuan suaminya. Dia menyambut kecupan itu dengan perasaan lega. Walau semakin lama pergerakan suaminya semakin menuntut. Bukan mulut, tangannya kini ikut bekerja sama memberi sensasi yang berbeda, Wiya tau kemana aktivitas ini akan bermuara.
Zayn berdiri akan mengangkat tubuh istrinya. Tapi Wiya segera menahan tangan suaminya agar tidak langsung menggendongnya.
"Mas, kita jalan aja ya, gausah sambil gendong-gedongan"
Zayn mengerutkan alisnya dan tanpa menjawab permintaan Wiya, kedua lengannya seketika dia lingkarkan ke pinggang istrinya dan mengangkat tubuh itu seperti saat dia melamar Wiya dihadapan orang ramai.
"Gak mau, aku maunya ada adegan gendong-gendongan,"
Wiya pasrah melingkarkan tangan ke leher suaminya dan tersenyum manis semakin menimbulkan kesan menggoda yang dibuat-buat. Senyum itu tidak hilang sampai mereka menyelesaikan permainan.
***
"Sayang, kamu beneran ikhlas menerima keputusan ku tadi?" tanya Zayn saat mereka masih sama-sama terkapar kelelahan.
Zayn bisa merasakan Wiya mengangguk-anggukan kepala dari dalam pelukan.
"Istri pintar, oh ya maaf ya sayang belum ada ART yang bantuin kamu dirumah. Tapi aku udah coba hubungi pihak agennya lagi, dan katanya hari senin nanti kita udah bisa kesana buat milih beberapa kandidat yang udah mereka siapin."
"Mas, kamu terlalu banyak pertimbangan."
"Itu benar sayang, segala sesuatu yang ku pilih selalui melalui tahapperbandingan, kecuali..."
"Kecuali?" Wiya mendogakkan kepala menghadap ke wajah suaminya.
"Kecuali kamu, aku mencintai mu tanpa punya pilihan. Kamu yang pertama dan satu-satunya sampai sekarang"
"Dan aku lebih mencintai mu, mas. Maafin semua kesalahan ku ya mas"
__________________________________________
__ADS_1
Happy Reading ^_^