
Satu tahun sejak hari yang hampa itu.
Zayn mulai berusaha menata kehidupan. Meski dia tak berhenti sedikitpun mengejar Wiya walau tak pernah tau dimana wiya berada . Hidupnya tetap berjalan walau tidak sebagaimana biasanya.
Sesuai ultimatum Mama Wulan satu tahun yang lalu, Omelate Food kini jatuh ke tangan Nikki. Nikki sebenarnya sangat tidak menginginkan ini terjadi, namun ternyata dibawah kepemimpinanya semua berjalan dengan sangat baik. Banyak cabang baru di berbagai kota dan luar negeri. Latar belakang pendidikan Nikki di bidang bisnis memang sangat berguna di perusahaan keluarganya ini.
Mama Wulan membiarkan Zayn bangun dan mewujudkan mimpinya sendiri. Perlahan namun pasti Zayn mulai merintis usahanya di bidang Design grafis. Walau baru satu tahun berdiri, IQ Media , perusahaan impiannya, sudah memiliki banyak Staf dan perancang bertalenta. Tak terhitung sudah berapa karya ilustratifnya terjual mahal untuk beberapa brand ternama maupun kebutuhan industri hiburan.
Walau hatinya tak berubah, tetap menanti orang yang sama. Namun tidak dengan fisiknya. Zayn yang biasanya selalu memangkas rambut dan mencukur bulu-bulu halus diwajahnya, kini dia membiarkan rambut itu sedikit panjang terjulur, Bulu-bulu halus di wajahnya tak lagi dia cukur. Walau terlihat dewasa namun tidak mengurangi karismanya, seolah menggambarkan penampilan para pelaku seni sejati.
Malam itu sepulang dari menghadiri sebuah karnaval program tahunan pemerintah daerah yang memakai jasa perusahaanya, Zayn mengendarai mobilnya menuju area bukit cermin. Tempat dimana dua tahun yang lalu dia memaksa Wiya untuk ikut dengannya. Zayn memarkirkan mobilnya dan naik ke lantai 3, lantai dimana yang tersisa hanya kenangan yang mungkin hanya Zayn yang masih mengingatnya.
Zayn menyapu sekeliling ruangan terbuka itu, sepi. Tak ada meja yang terisi, persis sabtu malam dua tahun yang lalu. Kalau tahun itu dia sengaja menyewa seluruh meja di lantai ini,dan malam ini mungkin tanggal yang sama jatuh di hari senin sehingga cafe tampak sepi dan lantai 3 ini benar-benar tak berpenghuni.
__ADS_1
Zayn memesan secangkir teh jahe dan duduk persis di meja dimana tahun dua tahun lalu dia bisa menatap Wiya dihadapannya. Masih jelas di ingatannya wajah polos gadis mungil yang sampai hari ini belum mau pergi dari fikirannya. Gadis yang membuatnya jatuh sekaligus patah hati pertama kali.
"Kamu lagi apa sekarang Wiy ? Sudah dua tahun nyatanya bayangan mu belum memudar sedikitpun" Gumamnya sambil menyeruput teh hangat, menghirup aroma jahe dari gelasnya mengembalikan angan saat menghirup dekat aroma nafas Wiya malam itu.
"Kamu dimana sih Wiy ? Semuanya masih sama persis disini, anginnya juga sama masih sangat dingin, bedanya sekarang aku cuma sendiri, ga ada kamu yg hidungnya bisa aku cubit cubitin ? "
Pertanyaan kedua itu menyeret ingatannya akan kejadian satu tahun berikutnya. Kalau malam saat dia menyatakan perasaan terasa sangat indah dalam ingatannya. Mungkin Wiya malah mengingat malam satu tahun setelahnya, saat mereka tengah berbahagia merayakan Anniversary pertama dan akan membuat rencana lebih jauh untuk kehidupan mereka.
Malam disaat Mawar merah merekah itu layu. Zayn teringat kesalahan fatal yang menjadi jawaban kenapa malam yang seharusnya menjadi Anniversary kedua ini hanya diperingati dirinya sendiri. Bukankah dirinya telah memberi bayangan indah tentang melewati ulang tahun pernikahan sebagai keluarga ?
***
Sementara di negeri sebrang, Wiya yang sudah mulai sibuk dengan aktivitas studinya kembali ke tempat tinggal yang dia sewa tak jauh dari kampusnya. Wiya belajar dengan sungguh-sungguh untuk mempertahankan beasiswa yang dia dapatkan. Target lulusnya paling lama hanya 3 tahun. Itu artinya kurang dari 2 tahun lagi dia sudah harus mendapatkan gelar Doktoral.
__ADS_1
Walau baru satu tahun,Wiya sudah merancang proposal disertasi dan sudah menyusun rencana ke arah mana penelitiannya nanti. Bahkan dia sudah mulai merintis sambil mengembangkan rencana usahanya agar semakin mampu bersaing di dunia global. Kehadiran seorang malaikat kecil dalam hidupnya membuat Wiya merasa hidupnya semakin berwarna.
Wiya menelungkupkan dirinya diatas kasur empuk di kamar itu, bukan sebuah tempat tinggal yang besar, kecil namun cukup mewah dan sangat nyaman, Wiya membiarkan jendela kamarnya tetap terbuka, hatinya tak bisa berbohong bahwa otaknya memang sedang mengingat sesuatu bertepatan dengan tanggal hari ini.
Dia membiarkan angannya melayang di atap-atap gedung bangunan kota yang sedang dia tatap. Dari kamarnya yang berada di lantai 21, Menara kembar, icon kebangaan negara asal upin-ipin itu tampak jelas dan semakin indah jika dipandang pada waktu malam.
Sekali lagi fikirannya dia biarkan mengembara dan menangkap satu bayang yang belum pernah pergi dari angan.Kemudian dia mengambil ponselnya, setelah satu tahun, ini kali pertama Wiya membuat sebuah postingan di akun sosial media miliknya.
Magical view from my room. Good night, you. from Kuala Lumpur.
Begitu caption yang diimbuhnya pada foto yang dia unggah. Wiya tak perlu takut karena dia sudah memastikan Zayn dan seluruh keluarganya tak akan ada yang bisa membaca postingan itu.
__ADS_1
Lalu Wiya merebahkan dirinya dan mengabaikan semua pemberitahuan yang masuk bertubi-tubi dari unggahan fotonya barusan. Wiya malah menekan tombol Home sehingga ponselnya kembali ke layar depan, kemudian dia menarik garis lengkung dari kedua sudut bibirnya yang tipis seolah membalas sebuah senyuman, melihat wajah polos tanpa dosa dari foto yang menjadi lockscreen ponselnya.
"Tunggu Bunda pulang, Ya Sayang."