Utuh

Utuh
SEASON II : EPS 6


__ADS_3

Setelah kegiatan itu, ZA dibawah kepemimpinan Wiya semakin dikenal khalayak. Semakin banyak pula tawaran kerjasama yang datang. Terlebih saat mereka tau perusahaan pembuat dan pengembang software akuntansi terkemuka itu, ternyata dipimpin oleh seorang direktur perempuan. Ini menjadi lebih menarik lagi, tak hanya tawaran kerja sama, tawaran mengisi seminar bisnis hingga kuliah umum pun berdatangan.


Risma sedikit kewalahan dengan agenda Pimpinannya. Sementara Ilma Qawiya seperti tidak ada lelahnya saat dihadapkan dengan rentetan jadwal yang kadang mengambil jatah weekendnya. Beruntung dia memiliki suami yang juga terjun di dunia usaha, sehingga cepat mengerti dan paham dengan aktivitas perusahaan yang baru berkembang.


Hampir satu tahun usia pernikahan, belum ada tanda-tanda akan kehadiran cahaya mata yang sangat diharapkan. Pergi bekerja dan berkonsentrasi dengan pekerjaanya adalah cara terbaik Wiya membunuh waktu agar tidak terlalu menghiraukan pertanyaan dan pernyataan sensitif tentang hadirnya keturunan dalam rumah tangga mereka.


Tak jarang Wiya kelelahan, sering tiba-tiba kedinginan dan sakit kepala hebat. Kendati demikian, selelah apapun fisiknya. Wiya tak pernah menolak jika sang suami menginginkan dirinya. Wiya selalu bersedia, Bahkan sesekali tak sungkan menawarkan jasa. Karena dia tetap ingin segera hamil dan memiliki keturunan. Usaha mereka baru sebatas itu, ya sesering mungkin melakukan pembuahan.


"Bagaimana sayang?" tanya Zayn saat masih berada di dalam tubuh istrinya.


Dengan telapak tangan lembut dan nafas yang masih tersengal, Wiya menyentuh pipi suaminya yang sedikit ditumbuhi rambut wajah.


"Biarkan tetap seperti ini beberapa menit ya mas," tuturnya pelan.


Sejak keinginan memiliki anak semakin menggebu, Wiya sangat rajin membaca ragam tips, tekhnik dan intrik mulai dari jurnal ilmiah, postingan para dokter, bahkan mencari referensi pengetahuan bercinta dari novel online. Kadang dia hanya membaca chapter yang bertanda 21+ saja. Karena dirinya sekarang adalah seorang pimpinan bukan lagi asisten seperti dulu yang punya banyak waktu untuk berhalusinasi di dunia platform biru,oren ataupun ungu.


Wiya sebenarnya dari dulu tidak nyaman dengan bacaan semacam itu, namun semuanya dia lakukan demi menemukan sebuah metode yang sesuai. Mungkin cara yang terakhir tadi sedikit tidak masuk akal.


Menurut beberapa artikel yang Wiya baca, memberi jeda antara pelepasan dan pergerakan selanjutnya. cukup baik, agar cairan yang dibutuhkan bisa sampai dan membuahi sel telur dengan sempurna.


Setelah menahan suaminya agar tetap ditempat, mata Wiya malah terpejam sangking lelahnya. Zayn menarik dirinya perlahan, melebarkan kain tebal menutupi badannya dan juga Wiya, tak lupa menghadiahi sebuah kecupan di kening istri tercinta.


"Kamu terlalu memaksakan diri, Sayang!" menyingkap rambut Wiya yang masih berantakan, lalu melingkarkan lengan dengan nyaman ke tubuh mungil itu, menyusul istrinya ke peraduan.


____________________________


Wiya punya kebiasaan bangun sebelum fajar, dia sadar diri dengan daftar kesibukannya, tak mungkin mengikuti keinginan tubuhnya berleha-leha. Terlambat dalam hitungan menit saja, entah berapa banyak jadwalnya akan berantakan. Itu juga akan sangat merepotkan Risma.


Sebelum adzan subuh berkumandang, Wiya turun ke bawah untuk mengeringkan pakaian yang dia cuci semalam sore. Sambil menunggu mesin pengering bekerja, Wiya langsung menyapu lantai. Tak lupa mengambil mop dan sedikit mengepel lantai dapur rumahnya, karena selain kamar utama, hanya dapur yang sering mereka gunakan.


Sambil mengerjakan semua pekerjaan itu, Wiya selalu tak pernah meletakkan ponselnya jauh sedikit saja. Seakan dia tak bisa jauh dari benda itu walau sebentar. Sesekali Wiya memantau sesuatu disana, entah apa.  Setelah itu baru dia mandi dan melaksanakan shalat subuh dirumah, saat suaminya berangkat ke masjid.


Setelah melaksanakan kewajiban subuh, Wiya kembali ke dapur. Mereka belum juga memiliki Asisten rumah tangga, apalagi kalau bukan karena Zayn yang sangat perfeksionis menentukan pekerja. Dia berencana meminta Divisi HRD IQ Media yang melakukan seleksi PRT untuk rumahnya.


Tapi Wiya tentu saja tidak menyetujui ide konyol suaminya. Mereka tetap menunggu agen penyedia jasa ART menghubungi mereka jika sudah ada pekerja dengan kualifikasi yang mereka minta. Sampai sekarang mereka berdua sepakat mengerjakan pekerjaan rumah tangga bersama-sama.


Wiya sedang membuat susu dingin untuknya dan secangkir teh hangat untuk suaminya. Zayn baru pulang dari masjid, langsung mengampiri Wiya di dapur. Dia melepaskan peci hitam dari kepala dan meletakkannya di atas meja makan, langsung duduk dan menyeruput teh buatan Wiya.


"Aku mau bikinin sarapan, tapi bahan masakan udah habis. Aku lupa, sabtu kemarin kita gak jadi ke pasar." sesal Wiya.


"Ehehe. bukan cuma sabtu kemarin sayang. udah 4 kali sabtu kita gak belanja. Ya pantes aja kosong itu kulkas," jawab Zayn sambil melingkarkan lengan ke pinggang istrinya yang sedang mencuci beberapa gelas. "Masak apa yang ada sayang, mi instan masih ada kan?"

__ADS_1


Wiya melepaskan lingkar lengan suaminya dan mengambil dua bungkus mi instan dari counter top yang berada tepat di atas kepalanya.


"Rasa ayam bawang mas, mau?" membaca varian rasa yang tertera di kemasan.


"Asal jangan rasa yang tertinggal aja dah yang,"


Wiya tak lagi menjawab, dia tau suaminya sedang memberi sedikit sindiran. Belum lagi sempat meletakkan wajan di atas kompor listriknya, ponsel yang berada di atas meja makan, tepat di hadapan suaminya, benda itu berdering sangat kencang. Seolah ikut menyindir Wiya.


Wiya jadi serba salah, panggilan di pagi hari begini pastilah sangat penting sekali. Kalau bukan Ibu atau mama, itu biasanya dari Risma, sekretarisnya. Wiya hanya berani melirik sedikit dan melanjutkan rencana masaknya.


Zayn juga ikut melirik, bukan ke ponsel itu, tapi ke arah istrinya. Tidak biasanya Wiya melewatkan panggilan suara kalau dia mendengarnya. kecuali dari nomor tidak dikenal. Karena istrinya masih sengaja tak merespon dering ponsel yang terdengar berulang-ulang itu, Zayn akhirnya menoleh ke benda berukuran 6 inchi itu dan menjawab panggilan dari seberang sana.


Seseoang yang membuat panggilan sepertinya terkejut karena yang memberi salam adalah suami dari pimpinannya.


"Pak Zayn, maafkan saya pak menghubungi Ibu Wiya sepagi ini," ucap Risma


Duh, Risma ya? Tanya Wiya di dalam hatinya.


"Katakan Risma, apa kantor kalian sudah mengubah jam kerja, sampai kamu menelpon boss mu pagi-pagi buta begini?"


"Itu, em, maafkan saya pak."


Zayn sebenarnya paham, Risma tidak mungkin menghubungi Wiya jika tidak ada urusan yang sangat mendesak. Zayn hanya ingin sedikit melihat reaksi Risma. Gadis itu hampir mirip dengan Wiya saat masih bekerja sebagai asisten di perusahaanya dulu, sangat jarang berekspresi di depan orang yang asing baginya.


"Ba...baik pak, tidak masalah. Saya akan menunggu Ibu Wiya di kantor saja nant.i"


"Kalau tidak ada masalah, kenapa kamu menghubunginya pagi-pagi? sampaikan saja, apa kamu takut saya membocorkan rahasia perusahaan kalian?"


Sambil memasukkan air ke dalam panci, Wiya mencoba mendengar suara Risma yang sedikit-sedikit menggema dari sumbernya. Tapi suaminya malah berdiri menjauh saat Risma menyampaikan berita yang dia bawa sepagi ini.


Perasaan Wiya semakin tak karuan saat Zayn kembali menghampiri dirinya dan menyerahkan ponsel itu. Dia takut Zayn merasa tidak nyaman dan terganggu karena semakin lama, urusan pekerjaan sedikit banyak mulai mengambil jatah waktu Wiya yang seharusnya berlama-lama dirumah.


"Nih," menyerahkan ponsel itu ketangan Wiya. "Risma mengingatkan jadwal kamu ngisi kuliah umum, jam tujuh nanti, sini biar aku yang lanjutin, kamu buruan ganti pakaian nanti terlambat kalau harus masak dulu."


Bagaimana Wiya bisa melupakan jadwal penting itu? Dia tak lupa jika hari ini akan menjadi narsumber di salah satu universitas, tapi yang dia lupakan adalah, sudah tentu dia harus berangkat lebih pagi hari ini. Andai tadi malam dia memberi tahu dan meminta izin terlebih dahulu pada suaminya, pasti tidak akan secanggung ini meninggalkan Zayn membuat sarapannya sendiri.


"Terlambat sedikit tidak akan masalah Mas," sanggahnya terbata-bata, karena tak sesuai dengan apa yang ada dihatinya.


Zayn menaikkan sebelah alisnya, dia tau Wiya tidak pernah mentoleransi keterlambatan walau untuk dirinya sendiri.


"Apa kamu fikir aku akan marah?" melingkarkan lengan ke tubuh istrinya, mencari sesuatu untuk segera dilepaskan. "Aku memang sedikit keberatan, tapi...." kini sebelah tangannya meraba leher belakang Wiya yang sudah meremang, mereka sudah tak berjarak. Wiya takut sekali jika suaminya benar-benar memberikan status bebas bersyarat pagi ini, dia tidak mungkin menolak.

__ADS_1


"Tapi apa mas?" jawabnya pelan, memastikan.


"Tapi lepas dulu apronnya sayang, sini gantian aku yang masak," ucapnya sambil tertawa saat pengikat apron di pinggang dan di leher Wiya sudah berhasil dilepaskannya. Zayn mengusap pucuk hidung Wiya yang sudah memerah seperti buah saga. Sebelum sah jadi miliknya pun, benda itu selalu terlihat menggemaskan.


Wiya mencubit kecil dada bidang suaminya, hanya sebatas cubitan kecil. Bukan karena mesra, melainkan karena dada yang bidang itu dagingnya amat keras.


"Aku naik dulu ya, Mas" pamitnya sambil berlalu meninggalkan suaminya.


______________________


Dua porsi mi kuah rasa ayam bawang sudah tersaji menggiurkan di atas meja makan, Zayn masih memainkan ponselnya sambil menunggu istrinya turun agar mereka bisa sarapan bersama.


Air di mangkuk mi instan itu mulai berkurang, asapnya yang tadi mengepul pun sudah hilang, Wiya tak juga selesai berpakaian. Zayn melirik ke arah jam dinding. Mau berapa lama lagi dia menunggu istri tercinta hanya untuk sarapan berdua. Tapi nyatanya dia masih sabar, porsi miliknya belum dia apa-apakan.


Akhirnya Wiya turun dengan tergesa-gesa, sudah dengan pakaian kerja, hijab yang senada, riasan wajah sederhana dan tas tangan terbaru yang kemarin dia minta dibelikan suaminya.


"Istri ku selalu cantik dengan pakaian apapun," puji Zayn apa adanya. "Ini mi kuah mu sayang, ayo kita sarapan dulu." Zayn menarik satu kursi disebelahnya yang biasa diduduki Wiya.


Wiya melirik jam tangannya, sudah hampir terlambat. Apalagi kalau harus sarapan dulu.


"Em, Mas..." ucapnya ragu, "Aku...aku nanti sarapan di kantin aja ya?"


"Sedikit aja sayang, cobain masakan ku," Zayn masih berdiri dengan apron yang melekat di badannya.


"Tapi Mas...."


"Yasudah, tidak apa-apa," tampaknya Zayn masih harus mengalah. "Tapi nanti kita makan siang bareng lagi di kantor ku, jadi kan?"


"InsyaAllah mas, akan aku usahakan." Jika sudah terburu-buru, Wiya kadang sering mengesampingkan perasaan. "Aku pergi ya, Assalamualaikum." Meraih telapak tangan Zayn dan menciumnya.


"Waalaikumsalam," Jawab Zayn pelan melihat istrinya pergi membiarkannya sendiri menikmati dua mangkuk mi kuah dingin yang teksturnya sudah berubah mengembang. Zayn memasukkan ujung sendok kuah mi itu ke mulutnya.


"Oh jadi gini ya, mi instan dengan varian 'rasa yang tertinggal'?"


Zayn meninggalkan meja makan tanpa melanjutkan sarapannya. Dia lebih memilih melanjutkan tidurnya sebelum Pak Taufik datang menjemputnya untuk berangkat bekerja.


_____________________________________


Jangan sampai lupa TAP Jempolnya ya ^_^


Pembaca yang kece selalu bersedia meninggalkan jejak komentar,

__ADS_1


Pembaca yang dermawan pasti gak sungkan mengeluarkan infaq poinnya, wkwkwkwk


Terimakasih buat yang sudah membaca ^_^


__ADS_2