Utuh

Utuh
SEASON II : EPS 22


__ADS_3

Setelah kembali dari pemeriksaan, hari-hari yang Wiya lalui tidak lagi terlalu berat. Seperti satu beban fikirannya telah berkurang. Dia lebih bisa menikmati waktu demi waktu penantian. Wiya bahkan telah membaca isi dari majalah yang dia beli dan menerapkan langsung tips dari Brigitta. Wiya tak sungkan memuji Brigitta dan bertanya langsung disaat mereka berkunjung untuk menjenguk Baby Yumna.


Zayn semakin sibuk karena harus menyelesaikan projectnya sesuai waktu yang sudah dijanjikan. Dia juga tak ingin lebih lama lagi menunda waktu istrinya untuk liburan.


Sebenarnya Zayn sudah menyarankan Wiya untuk tinggal dirumah Ibu atau Mama Wulan saja. Tapi Wiya tetap lebih nyaman tinggal dirumah mereka. Hari ini dia pergi ke IQ Media untuk membawakan Zayn makan siang. Selain itu dia juga sangat ingin bertemu dengan Vela.


"Wiya?" Vela berdiri saat melihat Wiya masuk.


"Hay Vel," sapa Wiya beramah tamah dengan sekretaris suaminya itu. "Gimana kabar kamu?"


"Aku baik,silahkan masuk. Bapak ada di dalam," ucap Vela setengah malu. Dia masih malu atas kelakuannya terhadap Wiya.


"Oke, aku temanin Mas Zayn makan siang dulu ya. Nanti kita ngobrol lagi," pamit Wiya


Dia masuk keruangan suaminya yang memang tengah sibuk dengan beberapa dokumen di atas meja. Wiya langsung masuk menyajikan makanan yang dia bawa.


"Assalamualaikum, Mas,"


"Sayang, kamu udah sampai? bawain apa?


"Cuma kepiting saos tiram sama pergedel jagung mas," ucapnya sambil membuka susunan rantang itu ke atas meja tamu.


"Heummm... aromanya,"


"Masih banyak kerjaanya mas? Aku suapin yah?"


"Gak usah, kita makan sama-sama aja,"


Wiya membuka jendela ruangan Zayn agar aroma dari makanan yang dia bawa tidak mengendap di dalam. Mereka menikmati makan siang sambil menatap pemandangan kota dari ketinggian.


"Wiy, kalau kamu mau ke kantor seperti biasa aku gak masalah kok. Asal kamu bisa enjoy," ucap Zayn. Karena sesungguhnya Zayn merasa bersalah dan takut Wiya merasa terkekang karena permintaanya.


"Hmm, kok gitu sih ngomongnya? Aku gak apa-apa mas. Begini juga udah enak kok. Aku gak mau pekerjaanku sampai melalaikan tugas utama ku,"


"Tapi kamu tau kan? dokter bilang kamu gak boleh stress, kamu harus cari kegiatan yang menyenangkan. Aku belum bisa nemenin kamu dua bulan kedepan,"


"Sebenarnya aku juga belum tau apa yang bikin aku bener-bener bahagia, tapi sementara waktu biar begini aja mas, toh gak buruk juga kok,"


Usai menemani suaminya makan siang, Wiya meminta izin untuk mengobrol dengan Vela di depan. Dan Zayn mengizinkannya.


Vela sudah tidak terlalu canggung. Obrolan mereka mengalir begitu santai dan menyenangkan. Mulai dari cerita Bang Soleh yang terlalu polos, sampai menceritakan hal-hal terkait kegiatan komunitas. Sesekali Zayn tak sengaja mendengar suara tawa istrinya dari dalam ruangan.


"Jadi kamu udah ngajuin surat cuti Vel?" tanya Wiya.


"Sudah Wiy, dan sudah di Acc. Semoga semua berjalan sesuai rencana,"

__ADS_1


"Ku harap juga begitu, aku sudah meminta Risma untuk segera mengirimkan pencairan dana yang terkumpul dari donatur dan dari ZA sendiri," ucap Wiya. "Kamu tau gak? flashdisk yang dikasi sama dokter Ditya kemarin, gambar dan videonya aku ulang-ulang, se menyenangkan itu ya bisa berbuat sesuatu untuk orang banyak," ucap Wiya tulus dengan tatapan yang berbinar.


"Andai kamu bisa ikut ya,"


"Ahahaha, Pengen sih, pengen banget malah. Tapi mana mungkin! Aku gak bisa berenang Vela. Lagi pula aku sudah menikah. Tidak lagi lajang dan bebas seperti mu. Kalau aku pergi, nanti suami ku sama siapa?"


"Kamu mau gabung sama mereka?" tanya Zayn dari depan pintu ruangannya yang membuat Wiya dan Vela terkejut.


"Eh, sejak kapan kamu disitu mas? udah selesai?" berdiri menghampiri suaminya.


"Udah, kita pulang sekarang?"


"Yuk!" menggandeng tangan suaminya. "Kita sambung lain kali ya Vel, aku  pulang dulu. Bye."


"Iya Wiy, hati-hati."


***


Sepanjang perjalanan menuju kediaman mereka. Wiya meminta izin kepada Zayn untuk membuka video yang sudah dipindahkan ke ponselnya. Wiya memasang headset agar tidak mengganggu konsentrasi suaminya yang sedang menyetir.


Ekspresi sumringah, antusias dan bahagia terlihat dari raut wajah istrinya saat mengulang-ulang rekaman video itu. Apalagi pada scene dimana anak-anak kecil di pulau itu mengucapkan terimakasih kepada para donatur dengan dialek bahasa melayu pedalaman dan dengan wajah polos mereka. Zayn menyaksikan tatapan tatapan penuh harap terpancar dari mata istrinya.


"Wiya," panggilnya.


"Iya mas?"


"Kalau kamu mau bergabung sama para relawan itu untuk kegiatan bulan depan, aku tidak keberatan. Hitung-hitung mengisi waktu luang mu. Sebelum kita pergi liburan."


"Mas, kamu serius?" memutar badan menghadap suaminya. "Itu kegiatannya 14 hari mas, dan lokasinya di salah satu dusun di Desa Kunci. Kamu tau kan itu sangat terpencil?"


"Aku bisa lihat kamu bahagia dan begitu antusias setiap membicarakan hal itu,"


"Ya, aku sangat bersyukur mas. Dan cuma seneng aja bisa jadi bagian kecil dari mereka,"


"Pasti akan lebih menyenangkan kalau bisa turun langsung dan bergabung bersama mereka kan?"


"Tapi aku gak kepikiran sampai kesana kok mas, kamu nanti sama siapa disini?"


"Sayang, aku ridho kalau kamu mau pergi. Sesakali kamu butuh main-main. Tapi kamu harus bisa jaga diri. Jaga batas komunikasi dan interaksi. Dan yang paling penting jaga ini," Zayn menggenggam tangan Wiya dan mengarahkan ke dadanya.


"Mas, aku masih gak percaya? Serius kamu ngizinin aku berangkat nanti?" sangking antusiasnya Wiya melompat-lompat kecil di tempat duduknya. Genggaman tangan itu terlepas.


"Tuh kan, yang sebenarnya kamu tuh emang pengen pergi, cuma takut aku gak ngizinin kan?"


"Tapi, janjian kita sama dokter Anne gimana?"

__ADS_1


"Kita belum membuat jadwalnya kan? Kita bisa menemuinya setelah kamu pulang,"


Tanpa menjawab ucapan suaminya, Wiya dengan riang memeluk tubuh Zayn. Rasanya dia baru saja memenangkan undian. Kalau sekarang Zayn bertanya apa hal menyenangkan yang bisa membuatnya bahagia, jawabannya sekarang sudah pasti. Mendapatkan izin dari suami.


***


Hari-hari menjelang keberangkatan terasa sangat mendebarkan. Wiya mempersiapkan segalanya dengan matang, termasuk fisiknya. Dia tak pernah lupa mengkonsumsi vitamin dari dokter Anne dan juga herbal dari Ibunya.


Sejak menyatakan bahwa dirinya mengizinkan Wiya untuk mengikuti kegiatan itu, Zayn  melihat perubahan yang signifikan dari mood istrinya. Wiya tidak pernah lagi gundah dan resah dengan pertanyaan ataupun pernyataan orang-orang soal keturunan.


Setiap kali mereka berhubungan, Wiya juga tidak pernah lagi melakukan hal-hal aneh yang tekesan memaksakan pembuahan itu harus berhasil. Zayn bisa merasakan betapa istrinya jauh lebih menikmati setiap kali mereka bercinta. Tidak lagi ada embel-embel dan rengekan Wiya di belakangnya.


Fikiran yang kerap datang mengusik kewarasannya kini mulai pudar. Wiya sudah bisa memasrahkan semuanya, karena ternyata banyak hal yang telah Tuhan berikan dalam hidupnya namun luput dari kesyukuran. Ya, kini dia fokus mensyukuri apa yang telah dia punya.


Efeknya adalah, kehidupan rumah tangga yang terasa semakin hangat, kadang panas menggairahkan. Hampir setiap hari mereka melakukannya, seolah kegiatan itu semakin memberikan sensasi yang berbeda disetiap harinya. Tak ada malam yang terlewatkan tanpa saling memuaskan.


"Cape sayang?" tanya Zayn dengan nafas yang tersengal.


Wiya mengangguk karena belum bisa berbicara dengan normal usai menarik nafas tinggi dan mengeluarkannya lewat sebuah jeritan panjang. Badannya masih terasa bergetar. Bagaimana tidak, mereka mengulang hal yang sama di tempat yang berbeda. Di ruang TV, kamar mandi, bahkan diatas meja di dalam kamar.


"Baru kali ini aku lihat kamu begitu menikmatinya, istirahatlah! besok kamu harus berangkat," mengecup hangat kening istrinya.


Mereka berdua tertidur diselimuti kehangatan dari gairah yang telah tuntas. Entah karena besok Wiya harus berangkat meninggalkan suaminya beberapa waktu, entah karena memang mereka bercinta tanpa memikirkan sesuatu, yang jelas keheningan harus jadi saksi, betapa perwujudan cinta benar-benar harus dinikmati oleh kedua insan yang mengaku saling mencintai. Seimbang, walau harus sama-sama tumbang.


*************


Happy Reading ^_^


Kalau ada yang nanya itu di ruang tv, di kamar mandi dan di atas meja ngapain?


Tolong bantuin jawab ya sesuai imaginasi masing-masing...Ahaha.


Jangan pelit-pelit dong, like ama komennya. Tinggal TAP jempol aja yaelah paling juga dua detik. Komen apa kek gitu, bilang author kece badai kek, author manis aduhai kek, kan banyak yang bisa kalian jadikan bahan buat bikin pujian. wkwkwk.


Yaudah deh kalau gak mau komen juga, tapi jangan lupa follow author tercantik tingkat kecamatan ini ya ^_^


Follow me on :


Ig : enka2804


Emang apa untungnya kalau kita follow kamu Thor?


Ya biar nambah lah follower aku lah. Hiks..hiks.


Kalian kadang kalau nanya suka bikin author emosi... Gak redo banget sih pada kalau aku jadi author hits. hiks hiks hiks.

__ADS_1


__ADS_2