
Tidak terlalu peduli, Zayn melangkah masuk ke ruangannya. Dia takut membuat istrinya menunggu terlalu lama, dia tak ingin mengingat tragedi mi instan tadi pagi. Zayn berhenti di depan pintu saat melihat Vela yang ada disana. Bukanlah Wiya yang sangat dia tunggu.
"Kamu ngapain disitu?" tanya Zayn dengan nada terkejut, seolah Vela ada penyelinap yang masuk ke ruangannya tanpa permisi. Padahal seorang sekretaris punya akses masuk ke ruangan pimpinan tanpa harus izin khusus.
Vela yang sedang mengeluarkan pesanan dari kemasannya itu sontak terkejut dengan nada bicara Zayn.
"Sa..saya sedang menyajikan makan siang untuk Bapak," jawab Vela yang berhenti saat sedang meletakkan piring di atas meja makan kecil di ruangan itu.
"Saya gak pernah nyuruh kamu siapin makan siang saya!" jawabnya ketus.
"Em, tapi ini tadi perintah dari Ibu Qawiya pak," Vela kini sudah berdiri menjauh dari hidangan yang sudah tersaji sempurna. Dengan terbata-bata dia menjelaskan apa yang tadi Wiya sampaikan. Namun ada redaksi yang sedikit berubah, membuat kening Zayn sedikit mengkerut mendengarnya.
"Masukkan lagi semua makanan ini ke dalam wadahnya seperti semula!" perintah Zayn.
"Tapi pak?"
Zayn tidak lagi mengulang kalimatnya. Sementara Vela memasukkan kembali makanan itu ke wadahnya seperti semula. Zayn membuka ponselnya dan menghubungi kembali panggilan tak terjawab dari istrinya. Sedikit kecewa karena ternyata Risma yang menjawab panggilan itu.
Dia langsung meraih bungkus makanan tadi, menghubungi Pak Taufik dan akan segera pergi ke ZA. Mengunjungi istrinya.
Sesekali gak masalah kalau aku yang nyamperin kesana, Wiya pasti seneng banget!
"Nona Vela!"
"Saya pak," Sahut Vela cepat.
"Saya akan ke kantor istri saya, ingatkan petugas divisi CD, besok pagi prototype produk dan kemasan sudah ada di meja saya!"
"Akan sesuai permintaan Bapak!" jawab Vela tegas saat pimpinannya sudah berlalu dan mungkin tak melihat anggukannya itu.
____________________________________________
Zayn sudah sampai di depan gedung Zahira Akuntansi, dia meminta Pak Taufik untuk kembali ke perusahaan dan meninggalkannya masuk ke dalam sendiri.
__ADS_1
Kantor ini tak sebesar gedung perusahaan IQ Media. Tapi Zayn cukup kagum dengan kerja keras Wiya. Walau dia tidak terlalu berbangga, menerima kenyataan bahwa pimpinan perusahaan yang ada di dalam sana adalah Ilma Qawiya, istri tercinta yang namanya menjadi akronim dan simbol di perusahannya sendiri.
Zayn akan jauh lebih bangga, jika Wiya bersedia hanya menjadi permaisuri dirumah tangga mereka, tanpa harus ikut bekerja. Diam-diam Zayn mulai mendambakan istri yang duduk dirumah menantinya pulang bekerja sambil menghabiskan uang belanja, sedikit boros tidak masalah. Toh itu yang menjadi semangatnya mencari nafkah.
Zayn rindu dengan Wiya yang tersenyum manja Membukakan jas dan dasinya, memberi ciuman yang genit di pipi, menemaninya menikmati teh di bangku taman, Bayangan itu sangat manis di kepalanya.
Namun dia tak mungkin mencegah apalagi menghentikan apa yang sudah Wiya perjuangkan dari dulu. Tentu Wiya akan berkecil hati jika Zayn mengekang potensinya. Dan yang paling penting, kebutuhan batin Zayn yang utama sebagai seorang suami, tak pernah diabaikan oleh Wiya walau sekalipun. Zayn masih memaklumi dan tetap mendukung Wiya sepenuhnya.
Zayn meneruskan langkahnya ke ruangan istri tercinta. Sepanjang langkahnya Zayn tak henti memperhatikan ragam bentuk susunan ruangan disana. Biasa saja, sangat normal seperi design ruang kantor lainnya. Tak lebih unik dari tata ruang kantor di IQ Media.
Yang unik disini adalah para karyawannya. Tak peduli dari divisi apapun, kalkulator akan selalu ada di meja kerja mereka. Saat Zayn tak sengaja melihat dari dinding kaca yang transparan, mata mereka menatap ke monitor besar komputer di depannya, tangan kanan mengoperasikan mouse, tapi kelima jari kiri mereka dengan lihai menekan tuts angka di kalkulator.
Pantesan aja, Wiya hafal diluar kepala kalau soal uang kembalian. Hahaha
_____________________________________
Zayn langsung masuk tatkala sampai di sebuah ruangan yang bertuliskan nama istrinya. Seperti biasa dia akan terlebih dahulu menemukan Risma. Tapi dia tidak mengindahkan keberadaan gadis polos dan kaku itu.
Walau tidak melakukan kesalahan apapun. Nyatanya Risma sangat takut setiap melihat Zayn datang. Tatapan mata Zayn seperti ingin menelan setiap orang yang dia lihat. Risma memilih membiarkan Zayn melihat sendiri apa yang sedang Wiya kerjakan.
Zayn kecewa, Dia belum pernah mengizinkan Wiya tampil di TV. Ingin sekali rasanya Zayn masuk dan menghentikan liputan itu. Namun tentu saja Wiya dan perusahaan yang akan dinilai tidak profesional karena ulahnya. Sekali lagi dia terpaksa menahan diri dan memilih untuk kembali menutup pintu.
"Kamu gak bilang kalau ada wawancara program TV!"
Risma hanya bisa tecengang melihat reaksi suami dari bossnya. Belum sempat dia menjawab pertanyaan itu, Zayn meninggalkannya dengan tatapan penuh kekesalan.
_______________________________________
Zayn menuju ke ruang istirahat yang ada di dalam gedung kantor. ruangan ini masih baru, Zayn yang menyarankan Wiya untuk membuat sebuah tempat untuk beristirahat yang bersebelahan dengan mushola.
Dia meletakkan bungkusan makanan tadi di atas meja panjang yang ada disana, rasanya dia sudah lapar sekali karena belum makan sejak meninggalkan mi kuah yang dianggapnya sebuah tragedi tadi pagi. Tapi dia tak tega jika harus makan sementara istrinya masih bekerja. Zayn memasukkan kembali makanan itu ke plastiknya.
Seorang laki-laki masuk dan ikut duduk disebelah Zayn, sepertinya bukan karyawan ZA. Hanya tamu atau mitra kerja yang sedang beristirahat seperti dirinya. Lelaki itu tersenyum sedikit ke arah Zayn sambil mengeluarkan sebatang rokok dari dalam saku celananya.
__ADS_1
Karena merasa Zayn terus saja memperhatikan gerak-geriknya, lelaki itu menegur Zayn saat sebatang rokok sudah di selipkan di kedua bibirnya. Seketika batangan tembakau yang belum menyala itu dikepitkan diantara jarinya, menyodorkannya ke hadapan Zayn.
"Rokok mas?" tawarnya.
"Tidak mas, terimakasih. Saya nggak ngerokok," tolak Zayn sopan. "Ngerokok, gak takut mati masnya?" tanya Zayn sarkas, bermaksud menyindir agar perokok itu tidak mengeluarkan asap di tempat umum.
"Ah enggak, kan bawa korek api, kalau mati tinggal nyalain." jawab lelaki itu sambil mengeluarkan alat pemantiknya tampa rasa bersalah.
Bukan rokoknya, tapi elunya! Bambhang!
Zayn menepuk jidadnya dan segera berlalu dari sana. Dia lupa untuk mengingatkan WIya memasang Sign Board besar bertuliskan No Smoking! di setiap sudut ruangan. Zayn segera menuju mushola untuk shalat dzuhur.
____________________________________
Waktu sudah menunjukan pukul tiga sore. Setelah pengambilan gambar dan video yang berulang-ulang, Liputan itu baru selesai. Wiya segera keluar membiarkan mereka kembali membereskan ruangannya.
"Dimana suami ku?" tanyanya gusar pada Risma yang dari tadi tak kalah gusar menunggunya diluar.
"Se...sepertinya kembali lagi ke kantornya Bu," jawab Risma gugup.
Wiya melirik jam tangannya. Bagaimana bisa dia sampai lupa waktu. Kini dia begitu takut membayangkan kemarahan suaminya. Dia bahkan hampir melewatkan waktu shalat dzuhur.
"Minta OB segera membersihkan kembali ruangan ku, aku shalat dzuhur di mushola aja. Setelah itu aku akan langsung ke IQ Media."
"Baik bu," jawab Risma.
Wiya bergegas menuju ke mushola. Hatinya terasa berpasir saat dilihatnya sang suami tidur dalam keadaan bersandar dengan wajah lelah dan kemeja yang sudah dilonggarkan, dasinya entah kemana, jas hitamnya diletakkan persis disamping tempatnya duduk. Tampak pula bungkusan yang pasti berisi makanan yang Zayn bawa untuk Wiya.
_______________________________________
JANGAN LUPA TAP JEMPOLNYA MENTEMEN ^^
KOMEN DAN JUGA VOTE NYA YA KALAU KALIAN SUKA DENGNA KARYA INI ^^
__ADS_1
10 POIN DARI KALIAN SANGAT BERHARGA UNTUK KELANGSUNGAN KARYA INI ^_^