Utuh

Utuh
KITA HARUS BICARA


__ADS_3

Pagi itu semua sudah berkumpul di sebuah gedung yang disewa tempat berlangsungnya akad nikah Ridwan dan Mitty. Gedung sebuah hotel bintang 5 di kota itu. Dari radius 1 km sudah tampak jejeran papan bunga menghiasi jalan menuju hotel bertuliskan selamat dan doa-doa untuk Mitty dan Ridwan.


Akad nikah hanya dihadiri keluarga dan kerabat dekat dari kedua mempelai. Resepsinya akan dilaksanakan dihari yang sama dan diprediksi akan dihadiri lebih dari 1500 tamu undangan. Pesta pernikahan itu dirancang dengan konsep mewah dan megah.


Semua orang yang menghadiri akad nikah memakai pakaian tradisional melayu sesuai yang tertera di undangan. Para lelaki berbaju kurung cekak musang dengan bermacam kreasi butang. Berkain songket senada dengan tanjak di kepala. Para wanita memakai baju kurung keke beraneka warna, dengan selendang menghiasi kepalanya.


Keluarga dan panitia tampil glamour dengan seragam yang sudah di rancang jauh hari. Kecuali Wiya, dia belum mengenakan baju yang sama dengan anggota keluarga lainnya karena rencananya akan dia gunakan saat acara resepsi nanti. Pagi ini dia mengenakan baju kurung berwarna Merah Hati dari bahan yang Mitty berikan kepadanya kemarin. Wiya tampil sederhana dan sangat manis.


Pandangannya menyapu seluruh sisi Gedung mencari Ilham dan Rifa yang belum juga tampak. Ternyata Rifa mengirimkan pesan akan pergi pada saat resepsi bersama rekan kantor yang lainnya karena pagi ini ada pekerjaan di perusahaan yang tak bisa ditinggal. Sedangkan Ilham pagi itu harus menjemput Ibunya yang baru datang dari pulau dan berjanji akan membawa Ibunya saat acara resepsi nanti.


Kecewa mendapati pesan dari keduanya. Namun terkejut saat mendapati seseorang yang baru saja berdiri dari depan pintu masuk gedung yang sedang membenarkan posisi peci hitam yang dia kenakan.


Lelaki itu memakai baju dengan warna yang sama dengan dirinya. Warna songketnya sama dengan warna selendang yang Wiya gunakan. Baju kurung melayu merah hati dengan songket hitam keemasan.


Walau tidak mengenakan tanjak, tapi kopiah hitamnya membuat lelaki itu tak kurang gagah dari  tamu laki-laki yang lainnya. Sesaat Wiya berjalan mendekati sosok itu. Dan ketika mereka menjadi bersisian. Bak pinang dibelah dua. Apakah semesta sedang bermain dengan kebetulan kebetulannya?


Tak hanya Wiya, lelaki itu juga terkejut dengan apa yang dilihatya. Kenapa dirinya dan wanita di hadapannya jadi seperti dua orang dari designer yang sama. Bukan hanya warna, motif emboss pada kain yang mereka kenakan juga persis sama.


“Pa..pak Zayn. Ba-baju kita“ Sapa Wiya dengan tak tau malunya menunjuk baju mereka berdua.


“Maaf Nona, saya hanya menggunakan yang Rifa siapkan. Saya tidak tau kalau, emm kalau..” jawab Zayn yang lebih malu lagi, dia sangat takut Wiya mengira dirinya lah yang sengaja menciptakan kebetulan ini. Walau dia senang bisa tak sengaja berpasangan seragam dengan gadis manis di hadapannya.


Meskipun akhir-akhir ini Zayn sangat sibuk bahkan meniggalkan perusahaan berhari-hari. Namun dia harus menyempatkan diri untuk hadir di acara yang penting bagi salah satu karyawannya. Apalagi Mitty kemarin meminta sendiri dirinya untuk menjadi saksi pernikahan. Zayn meminta Rifa yang mempersiapkan semuanya. Dia sama sekali tak tau kenapa baju kurung yang dia kenakan bisa membuat dirinya dan Wiya terlihat seperti pasangan serasi di pagi itu.


Sedangkan Wiya masih berfikir semuanya adalah rencana dari Rifa. Sangking bahagianya karena memakai baju dengan warna yang sama. Dia sampai meminta izin pada Ibunya untuk tidak ikut mengenakan seragam keluarga agar bisa terus terlihat kompak dengan Bossnya.

__ADS_1


 “SAH”.


Dengan satu tarikan nafas, hari itu langit dan bumi menjadi saksi sebuah perjanjian yang kuat. Ridwan dan Mitty resmi menjadi sepasang kekasih yang halal di mata agama dan juga negara. Kecupan pertama Ridwan di kening istrinya, mengawali awal kehidupan mereka. Sepasang suami istri itu  menghampiri masing-masing orang tua dan yang dituakan dalam keluarga untuk prosesi bersalaman meminta doa dan restu kepada kedua belah pihak keluarga yang hari ini sudah menjadi satu .


Selain berkaca-kaca sangking terharunya. Mata wiya tak lepas dari salah satu petugas saksi pernikahan yang berbaju merah hati itu. Dia tak ingin melewati sedikitpun kesempatan yang dia punya, seperti dia tak akan dapat melihatnya lagi besok. Meski yang dilihat sama sekali tidak menyadarinya. Ralat, tidak ingin menyadari lebih tepatnya.


Setelah memanjatkan doa-doa, dilanjutkan dengan prosesi tepuk tepung tawar. Kemudian pengantin pria dibawa dan di arak menuju persandingan. Pengantin sudah berganti baju adat kebesaran melayu. Wajah pengantin wanita di tutup dengan kipas dan kehadiran pengantin pria di hadang dengan pertunjukan pencak silat yang dilanjutkan dengan pesembahan tarian kipas. Lalu pihak mempelai pria harus menyerahkan sejumlah uang kepada tukang rias yang berlaku sebagai mak andam yang punya wewenang  untuk membuka kipas yang masih menutup wajah cantik pengantin wanita yang sudah duduk manis di pelaminan.


Pada kesemua rangkaian adat yang terlaksana, tentunya terdapat makna di masing-masing prosesinya. Yang pada intinya guna melestarikan budaya dan menjadi penambah seri pesta pernikahan yang dilaksanakan.


Usai sudah segala rangkaian akad dan adat. Semua tamu yang hadir mulai berpamitan pulang satu persatu. Tak terkecuali Zayn Dwika Haris. Usai memberikan selamat kepada kedua mempelai dia langsung berpamitan. Saat Zayn baru saja akan melangkah keluar. Wiya tidak menyia-nyiakan kesempatan .


“Pak Zayn mau kemana? Kita foto dulu yuk sama Mitty dan Bang Ridwan”


“Eh, iya iya, tapi ini lepas dulu no-na."


Wiya pun segera melepas ujung lengan baju Zayn, mereka berdua jalan menuju pelaminan tempat dimana Mitty dan Ridwan sedang bersanding. Mitty tak habis pikir melihat kelakuan adik iparnya yang disaksikannya barusan.


Zayn mengambil posisi, beridiri disebelah Ridwan, namun Wiya dengan penuh percaya diri yang malah mengarahkan gayanya.


“Eng, enggak gitu deh pak. Sini sini.“ Dia menarik Zayn ke tengah tengah Mitty dan Ridwan bergeser di samping kiri kanan Zayn dan Wiya.


“Eh, eh kok gitu sih dek. Kok kalian yang jadi pengantin” protes Ridwan.


“Iya nih Wiya aneh deh“ Tambah Mitty.

__ADS_1


Zayn hanya tersenyum simpul melihat tingkah Wiya yang sama sekali belum pernah dilihatnya. Dengan gemasnya dia menarik pinggang Wiya mendekat ke arahnya. Kini posisi mereka berada di tengah. Ridwan di sebelah Zayn dan Mitty disebelah Wiya.


“Nah gini kan maksud nya?”


Wiya tercekat, baru dia tersadar yang dia lakukan tadi sungguh memalukan. Mau tidak mau dia yang malah mengikuti arahan gaya dari Zayn. Ridwan dan Mitty berkespresi  seolah-olah marah menghadap ke arah Wiya dan Zayn yang tersenyum bahagia seolah berhasil menyadap pelaminan pengantin hari itu.


Zayn menyerahkan ponselnya kepada photographer meminta untuk mengambil satu foto lagi untuk disimpan di dalam ponselnya. Mitty dan Ridwan kompak mengangkat bahu melihat tingkah keduanya.


Setelah puas dengan beberapa bidikan. Mereka berdua turun dari singgasana itu. Zayn menggenggam telapak tangan Wiya dan berjalan menggeret sepanjang jalan menuju pintu keluar. Wiya mengikuti tarikan itu dengan patuh, dia menyembunyikan senyumnya. Sejurus kemudian dia menarik telapak tangannya dari genggaman lelaki tampan di depannya saat mereka malah menuju area kolam renang.


“Pak”


Zayn menoleh ke belakang. Mungkin dia lupa dengan tekadnya untuk tidak masuk dan mengusik gadis itu lagi. Tapi, siapa yang tadi dengan sengaja bertingkah menggemaskan seolah minta dibawa pulang.


“Pak Zayn, mau bawa saya kemana?” lirihnya pelan saat genggaman itu perlahan dilepaskan.


“Pulang!” Jawab Zayn tanpa melihat ke arah Wiya.


“Rumah Bapak? Inituh kolam renang pak. Bapak mau lewat mana?“


"Kamu pengen banget saya bawa pulang kerumah?"


"Ha ? Sa,Saya, Enggak!"


Zayn tau. Dia memang sengaja membawa gadis itu kesini. Setelah beberapa hal yang terjadi satu bulan belakangan. Zayn perlu bicara. Dia berjalan menuju beberapa jejeran kursi kolam diikuti Wiya dari belakang. Kemudian duduk di salah satu kursi itu. Membuka peci hitam yang dia kenakan dan meletakan disampingnya. Wiya ikut duduk di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2