Utuh

Utuh
SEASON II : EPS 29


__ADS_3

Ditya menggantikan bidan Rina melakukan semua prosedur keselamatan semaksimal mungkin sampai Wiya terbatuk dan mengeluarkan air dari mulut dan hidungnya. Namun dia tak langsung sadar. Ditya memeriksa kondisinya dan bisa bernafas lega karena masa menegangkan dalam hidup pasiennya terlewat sudah.


Bidan Rina mengganti pakaian dan jilbab Wiya dengan yang baru. Walau belum sepenuhnya sadar, tapi dia sudah bernafas seperti biasa dan Ditya memastikan tidak ada lagi air asin yang masih tersisa di saluran pernafasannya. Wiya beruntung karena segera ditemukan.


Ditya segera menggunakan sarung tangan untuk segera memberi pengobatan pada luka yang cukup banyak di wajah Wiya. Selama dia menjalani prosesnya menjadi dokter, baru kali ini Ditya begitu ngilu dan tidak tahan saat melakukan prosedur pengobatan.


Dia mulai memberikan tekanan lembut pada permukaan sekitar luka dengan kapas steril, baru kemudian mencabut kotoran dan beda kecil yang masih menancap disana dengan pinset yang juga sudah dibersihkan dengan alkohol. Wajah Wiya tampak tenang dan tidak terpengaruh sedikitpun dengan setiap tindakan yang Ditya dan tim dokter lakukan. Hingga semua rangkaian pengobatan selesai.


***


Hampir puku tiga dini hari, angin sudah lebih teduh. Karena lokasi puskesdes berada di atas bukit desa, jadi hawa dingin masih terasa masuk dari celah jendela lembut menyapu wajah seorang wanita yang masih tampak nyenyak di tempat tidur dalam ruangan seadanya.


Terdengar derap langkah cepat, berat dan tergesa. Zayn dengan jaket kulit hitam dan wajah paniknya berjalan sedikit berlari menuju ruangan dimana istrinya berada, tampak pula Pak Taufik dan Soleh adiknya, setia menyamai langkah atasan mereka. Lelaki paruh baya itu tak kalah khawatir dengan keadaan nyonyanya.


Zayn menyusuri lorong yang tampak lumayan ramai, sekelompok wanita berjalan dari arah berlawanan. Salah satu diantara mereka tampak sangat panik, cemas dan berusaha menghindar dari Zayn.


Tapi Soleh sepertinya sadar dan mengenali wanita yang sedang betingkah aneh diantara 2 wanita lain.


"Dek Vela?" tegurnya.


Soleh tentu senang dan tidak menyangka akan bertemu Vela disini. Sudah beberapa hari sejak Vela cuti, tak pernah lagi membalas pesan Soleh lagi.


Vela berusaha melarikan diri, tapi sayang tangan Zayn dua kali lebih cepat dan meraih leher kemeja yang dia kenakan. Sekujur tubuh Vela membeku. Windy dan Nina menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Siapa mereka ini?


"Saya sudah bilang kan? hari ini semua akan saya bayar tunai! Silahkan kamu berlari keujung dunia, kalau kamu bisa!" ancam Zayn dengan nada yang sangat halus.


Kemudian Zayn melepaskan cengkramannya dari kerah baju itu, Vela langsung tersungkur keras ke lantai dan menaham badan dengan kedua tangannya. Walau sama takutnya, tapi Nina dan Windy tetap berusaha membantu temannya itu.


Pak Taufik menggeleng-gelengkan kepala tidak menyangka. Selama ini dia mengenal Vela adalah perempuan yang pintar, cekatan dan sangat ceria. Soleh ikut merasa ketegangan yang terjadi diantara mereka.


"Kan Abang sudah pernah bilang to dek Vela, kamu jangan nekat. Dengerin abang kalau mau selamat. Sekarang abang sudah gak bisa bantu apa-apa. Kamu rasakan sendiri resikonya," ucap Soleh yang ikut membantu Vela berdiri.


Zayn berhenti saat melihat Ditya berada di depan ruangan yang diperkirakan pastilah ruangan tempat istrinya berada. Ditya yang sedang duduk mengurut kening seketika berdiri saat meilhat Zayn dari kejauhan.

__ADS_1


"Dia...dia ada di dalam, sedang beristirahat," ucap Ditya yang gugup, ini kali pertama dia berkomunikasi dengan suami dari salah satu timnya. Bagaimanapun sebagai ketua tim dalam misi ini dia merasa bersalah karena keselamatan Wiya selama perjalanan adalah tanggungjawabnya.


Zayn hanya memberikan tatapan setajam pedang tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dia berlalu masuk sementara Pak Taufik tinggal diluar untuk berbicara dengan Ditya.


Ditya menjelaskan apa yang telah terjadi. Semua begitu cepat dan tidak pernah diduga sama sekali. Dan pula Ditya tidak tau apa yang membuat Wiya begitu nekat untuk pulang malam itu juga.


"Saya mewakili Pak Zayn dan keluarga, berterimakasih banyak atas pertolongan dokter Ditya," Pak Taufik menepuk pundak Ditya yang masih memakai jubah putihnya.


Ditya hanya membalas dengan anggukan dan tersenyum pahit. Dia belum bisa membaca situasi yang sebenarnya.


Padahal sejak dia melihat gelagat Vela dari awal, dia sudah mewaspadai dan mengawasi tingkah Vela. Dia juga yang mengatur agar Wiya tidak pernah bertugas di hari yang sama dengan Vela.


Dia akan segera menanyakan Vela nanti.


***


Di dalam ruangan yang sempit. Sesempit hatinya saat ini karena sudah sesak sejak tadi. Dia tau pasti Wiya nekat pergi dengan kapal naas itu malam ini juga, karena takut Zayn akan salah sangka dan termakan jebakan murahan yang dibuat oleh seorang perempuan picisan yang sedang patah hati.


Assalamualaikum sayang, maaf aku baru datang. Harusnya aku tidak mengizinkan mu kesini. Mana katanya kamu akan bersenang -senang disini? mana Wiya? Bangun yuk sayang, kita pulang ya. Apa yang harus aku bilang sama mama, sama Ibu. Ayo sayang abis ini kita liburan.


Ditya memberanikan diri masuk, walau dia tak ingin menganggu, tapi dia harus menyelesaikan tugasnya sebagai dokter, pun sebagai ketua tim ini. Tidak bermaksud berlepas tanggung jawab, namun dia memang sudah berusaha mencegah Wiya untuk pergi malam tadi.


Zayn mengusap air matanya yang masih menggenang sedikit di pipi, dia berdiri dan mengucapkan terimakasih. Dia sudah tau, Ditya sudah banyak membantu Wiya selama berada disini. Dia juga menyesal pernah membiarkan fikiran buruk terbesit walau sedikit.


"Terimakasih banyak dokter, saya akan membawanya pulang besok pagi. Apa kami harus membawa rujukan?"


"Tidak pak,..."


"Panggil Zayn saja!"


"Oke Zayn, Wiya sebenarnya sudah melewati masa kritis. Beruntung dia dapat memegang fiber yang entah dari mana. Alhamdulillah," melihat sekilas ke arah Wiya. "Tadi sebenarnya dia sempat membuka mata, semuanya stabil hanya tinggal pengobatan luka gores di wajahnya. Tenanglah, semua akan baik-baik saja, InsyaAllah...dan.. saya... saya minta maaf..."


"Sudahlah dokter, ini bukan kesalahan anda. Sekarang saya ingin berdua Dengan istri saya, "

__ADS_1


"Iya... iya tentu saja, memang itu lebih baik. Saya akan kembali ke camp untuk menyelesaikan sesuatu. Dokter jaga ada diruangannya kalau sewaktu-waktu Wiya bangun harus segera dieperiksakan terlebih dahulu..."


"Kapan kira-kira dia akan terjaga?" bertanya memelas.


"Kalau tidak ada komplikasi lain, mungkin besok pagi. InsyaAllah. Memohonlah padaNya lebih banyak lagi," ucap Ditya menenangkan disaat hatinya juga butuh ketenangan.


Tidak berselang lama setelah Ditya berlalu. Zayn masih Setia disamping istrinya. Melafal doa dan terus memanggil-manggil nama Wiya dengan pelan. Tak lupa dia melakukan shalat dua rakaat menengadahkan, mengetuk pintu-pintu langit memohon dengan Sang Maha Kasih untuk keadaan kekasihnya.


Sudah lewat lima belas menit dari pukul empat, mata Zayn masih terjaga membaca tiap ayat pada Mushaf Alqur'an digital di ponselnya. Sebelah tangannya tak pernah lepas mengusap-usap lembut telapak tangan Wiya.


Tiba-tiba dia tangannya geli merasakan jari-jari yang bergerak pelan, Zayn menyudahi bacaan dan memastikan yang tadi dia rasakan adalah jemari Wiya yang membalas genggamannya.


"Mas... " panggil Wiya lirih sambil membuka matanya. "Mas, aku belum shalat isya," ucapnya dalam keadaan setengah sadar.


***


.


.


.


.


.


.


.


.


Dah dulu ya gaess hari ini. Udah semaput ngetiknya. Udah gak sedih kan? padahal gak perlu sedih, kalau Wiya gak ada kan Bang Zayn bisa sama author eNKa.heum...

__ADS_1


__ADS_2