Utuh

Utuh
PUTUS


__ADS_3

Zayn dan Wiya sampai di lantai 9 rumah sakit ruang rawat inap mama Wulan. Nikki sedang duduk melipat tangannya di dada seperti sedang kedinginan. Vhieya dan Titin yang menemani Mama Wulan di dalam. Melihat Zayn dan Qawiya datang, Nikki langsung berdiri dan berhamburan memeluk sang kakak.


"Nikki, ceritakan ke kakak!"


Nikki menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gak ada yang tau kak, tadi mama lagi istirahat di kamar. Kita semua di kamar masing-masing, waktu Kak Zayn pergi Bi Titin yang masuk ke kamar mama. Kita sadarnya pas dia udah teriak manggil-manggil kita semua" Jelas Nikki. Kemudian Nikki memeluk Wiya hangat.


"Ya ampun Nikki, kamu demam! Sebaiknya kamu pulang, istirahat dirumah" Wiya menempelkan telapak tangannya di kening Nikki.


"Zayn, sebaiknya kamu masuk dulu dan suruh Vhieya ikut Nikki pulang. Biar aku temanin Nikki disini" Wiya mengusap-usap pundak Zayn memberi ketenangan.


Zayn membuka pintu melangkah masuk ke dalam ruangan. Mama Wulan yang sudah terpasang infus di tangan dan selang O2 di hidungnya. Melihat Zayn masuk Vhieya sama seperti Nikki, berhambur memeluk kakaknya.


"Vhieya ajak kak Nikki pulang sama sopir ya, Nikki demam. Kalian tunggu kabar dari kakak dirumah." Zayn mengusap lembut rambut adik bungsunya. Vhieya menangguk patuh dan keluar menemui Nikki dan Wiya.


Hanya ada Zayn dan Titin di dalam ruangan. Zayn tidak ingin berburuk sangka, tapi ekspresi Titin yang penuh tanda tanya membuat Zayn tak sabar ingin mendengar penjelasan. Karena Titin satu-satunya orang yang bersama dengan Mamanya sebelum seperti sekarang.


"Apa yang terjadi, Bi?" Tanya Zayn yang memegang tangan Mama Wulan dengan tatapan sendu.


"Bibi tidak tau Zayn! Saat bibi masuk ke dalam kamar melihat mama mu sedang melihat ini" Mengulur amplop coklat meminta Zayn membuka sendiri isinya "Setelah itu mama mu langsung jatuh pingsan" Jelasnya.


Zayn mengambil amplop dari tangan Titin dan membukanya. Matanya memerah saat melihat lembaran itu adalah foto kebersamaan dirinya dengan Wiya satu tahun belakangan. Potretnya sedang duduk di teras rumah Wiya, potret diri mereka sedang menghabiskan akhir pekan di tepi laut, berolahraga bersama, pergi menonton dan yang paling banyak saat mereka sedang menghabiskan waktu di ruangan Zayn saat makan siang.


Zayn masih menyusun logikanya, Mama Wulan pingsan setelah melihat foto-foto ini ? Tapi dia tak ingin mengambil kesimpulan sendiri.


"Menurut Bibi, Mama mu terkejut dan tidak terima atas hubungan kalian Zayn. Mama mu merasa gadis di foto ini yang membuat mu gagal merebut hati Brigitta, kamu tau sendiri kan bagaimana Mba Wulan sangat mengharapkan kamu menikah dengan Brigitta?" Jelas Titin pada Zayn yang sudah meremas semua foto itu dengan geram.


Baru saja dia akan memperkenalkan Wiya dihadapan sang mama. Kenapa malah kabar melalui foto-foto mereka yang sampai duluan. Zayn merasa tentu mamanya sangat kecewa karena Zayn menyembunyikannya selama ini.


"Apalagi setelah tau kamu memberikan gadis itu jabatan sebagai Manajer keuangan di perusahaan kita" Titin menggunakan kata "kita" dengan tidak tau dirinya.

__ADS_1


"Aku tidak memberinya Bi, itu keputusan perusahaan" Sangkal Zayn.


"Yah mau bagaimana, semua udah terjadi, kamu lihat sekarang. Mba Wulan tak sadarkan diri karena kelakuan murahan perempuan itu, lihat itu bagaimana Mama mu melihat pose-posenya di foto itu" Titin tersenyum cukup puas melihat ekspresi Zayn yang mulai keruh karena terpengaruh dengan ucapannya.


Dari semua foto yang ada di tangan Zayn sebenarnya hanya menggambarkan kedekatan biasa diantara keduanya. Tidak ada yang berlebihan dari ekspresi maupun gesture tubuh Wiya di foto-foto yang Zayn yakini ulah paparazi bayaran. Tapi siapa yang ada di balik semua ini? dan apa motifnya?


"Cukup Bi!! Jangan bikin semuanya tambah runyam!"


"Bibi hanya mengingatkan, kamu harus menentukan pilihan mu. Kembali dengan wanita itu atau mama mu kembali ke sisiNya"


"Tutup Mulut Bibi!!" Zayn menggeram marah. Emosinya sudah dikuasai semua kalimat yang keluar dari mulut Titin saat ini. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Belum lama Papa Haris meninggalkan mereka, Zayn tak ingin membayangkan harus kehilangan Mama Wulan, apalagi jika hubungannya dan Wiya menjadi penyebabnya.


Sesorang dari kaca luar berdiri terpaku mendengar pembicaraan Bibi dan keponakannya dari dalam. Lututnya yang lemas tetap berusaha menopang badannya agar tetap tegak mendengar semua kalimat yang serupa belati menyayat-nyayat jatungnya yang tadi baru saja berdegub karena bahagia.


Zayn menyadari Wiya mendengar obrolan mereka segera keluar menemui kekasih hatinya yang malam ini harus kembali kecewa.


"Kita harus bicara!" Tukas Zayn ketus, menarik tangan Wiya menjauh dari pintu.


"Gak ada lagi nanti untuk kita, semua harus selesai sekarang" Zayn mengucapkan kalimat itu dengan tega. Dia bahkan tak memberi celah udara masuk sedikit ke otaknya untuk sekedar berfikir jernih.


"Ja-jangan bicara begitu Zayn" Wiya mengusap pundak Zayn perlahan.


"Aku mencintai mu Wiya, sangat mencintaimu. Aku hanya menginginkan mu di masa depan ku" Zayn mengguncang-guncangkan pundak Wiya.


"Iya Sayang aku tau, aku juga begitu" Balas Wiya


"Tapi mama adalah tanggung jawabku, aku tak bisa melihat mama menderita karena aku"


Kamu berbicara begitu seolah aku juga penyebab derita mama mu, Zayn.


"Aku harap kamu mengerti posisi ku saat ini, kita harus sampai disini"

__ADS_1


Wiya masih tetap tenang dan menganggap kalimat itu hanya reflek dari kepanikan Zayn saat ini.


"Sayang, setidaknya kita tunggu mama sadar, mama sehat dan kita luruskan semuanya. Setidaknya kasih mama kesempatan untuk jelaskan sendiri ke kita. Aku janji aku akan pergi tanpa kamu minta kalau mama kamu sendiri yang menyuruhnya"


"Tidak ada nanti Wiya, aku sudah bilang, tidak ada nanti untuk kita. Saat mama bangun nanti aku tak ingin membahas hal ini yang akan membuat mama kepikiran dan sakit kembali"


Kini Wiya sadar, kehadirannya disana sudah benar-benar tak berarti. Dia mengerti, sangat mengerti kondisi Zayn. Dia sudah melakukan tugasnya menenangkan Zayn disaat-saat genting. Tapi Zayn benar-benar tak mengindahkan kalimatnya yang sarat harapan.


"Baiklah Zayn. Aku tegaskan padamu, hanya karena aku ada untuk mu tiap waktu, bukan berarti kamu bisa seenaknya menyia-nyia akan aku. Aku memang hanya perempuan biasa, aku tak punya cinta sebesar itu! Tolong pertimbangkan kalimat terakhir ku, karena sekali saja aku melangkah pergi, aku tak akan pernah menoleh lagi!"


Wiya mengucapkan kalimatnya dengan getir namun tak ada air mata disana. Rasa kecewanya kini lebih besar dari sekedar sakit hati. Zayn hanya terdiam membeku dan menganggap kalimatnya tadi adalah keputusan terbaik.


"Baiklah, diam mu ku anggap kamu telah mempersilahkan ku pergi dari sini. Juga dari hidupmu" Tatap Wiya dalam di mata Zayn untuk terakhir kalinya. Sungguh dia sangat menyesali Zayn yang takut menerima kenyataan padahal setahun ini Wiya tak kurang memberinya dukungan dan menunggu hari ini datang dengan sabar.


"Pengecut!"  Wiya mengatainya pelan namun menusuk,  memukulkan tas tangannya ke dada Zayn dengan satu pukulan keras lalu berbalik badan meninggalkan Zayn yang menatapnya tanpa ada niat menggenggam tangan itu seperti yang sering dia lakukan pada gadis itu.


Wiya berjalan dengan cepat menyingsing sebelah bagian bawah dressnya yang tiba-tiba terasa menghambat langkahnya. Wiya menyusuri lorong rumah sakit itu dan sama sekali tak ingin menoleh ke belakang lagi. Meninggalkan Zayn yang terpengaruh dengan ucapan wanita yang mengaku Bibinya, Zayn sama sekali tak memberi Wiya kesempatan bertemu dengan mamanya nanti, padahal Wiya sudah memohonnya.


Dia tinggalkan semua yang ada di belakangnya, kedepannya dia akan belajar menikmati apa yang sudah dia pilih. Ya, meninggalkan semuanya.


*******************


Happy Reading


Jangan lupa mampir di karya aku OTW Soleha ya teman-teman


Sudah rilis 5 eps disana.


Jalan ceritanya jauh berbeda dengan yang ini


Jangan lupa, like, comment n vote kalian selalu ku nantikan.

__ADS_1


gabung di grup chat yuk kita kenalan


__ADS_2