Utuh

Utuh
PERASAAN YANG SAMA


__ADS_3

Zayn menggenggam kedua tangan Wiya. Senyum manis tadi surut dari wajahnya. Mengingat Zayn sekarang seharusnya adalah tunangan dari wanita lain membuat Wiya melepaskan genggaman yang sebenarnya sangat dia harapkan.


Wiya duduk, menyeruput teh jahe yang hangat. Berdebar, jantungnya berdebar sangat kencang.


"Maafkan aku Wiy, aku abai tentang perasaan ku selama ini. Aku memang tidak pernah menyadarinya. Tapi tanpa kamu sadari, aku memperhatikanmu dengan baik!"


"Apa maksud mu?  Kamu memasang kamera pengintai?"


 


"Mana mungkin! Aku tidak menyatakan cintaku, aku tak berani memiliki mu, tapi aku memperhatikan mu, Aku fikir dengan memastikanmu baik-baik saja itu sudah cukup. Aku tau semua yang kamu suka dan sebaliknya. Bahkan kamu pernah jadi alasan utama aku isi ulang kuota."


"Omong kosong! Seperti kuotamu pernah habis saja!"


Padahal orang kaya pasti tak pernah tau rasanya galau saat kuota sekarat padahal pembahasan grup chat lagi panas-panasnya. Atau tetap pengen bersosial media dengan mode gratis tapi yang kelihatan hanya teks tak ada gambarnya.


"Ajari aku Wiy, ajari aku menterjemahkan getaran ini."


Zayn menuntun tangan Wiya menyentuh dadanya. Wiya bisa merasakan debar-debar kecil tak beraturan. Sesekali kencang, sesekali tenang, juga teraba sedikit getar yang bimbang.


"Ini kan? Debar ini kan yang kamu maksud? Ini cinta kan namanya, jelaskan pada ku Qawiya apa kamu bisa merasakannya?"


Wiya mengangguk. Dia benar-benar bisa merasakannya dan benar-benar ada di frekuensi yang sama.


"Kamu sudah merasakannya. Kamu juga harus bisa membalasnya. Aku mencintaimu. Cinta ku mungkin akan banyak menuntut! Sekarang aku mau mendengar jawabanmu!"


Di atas meja itu dua orang sedang mulai mengeja aksara. Zayn tau Wiya punya rasa yang sama, tapi menjadikannya jujur dengan perasaan sendiri? itu yang masih jadi masalahnya. Sulit sekali menjangkau kedalaman hati seorang Ilma Qawiya.


Ada banyak kata yang akan keluar tapi tercekat tak mampu diucap.


"Kamu tunangan orang!"

__ADS_1


Wiya menarik kembali kedua tangan miliknya. Dia bukan perempuan yang kalah. Kalau dia tak bisa memiliki dia tak akan mengambil milik orang lain. Masih banyak laki-laki yang akan dia temui di masa depan.


Mendengar kalimat Wiya, Zayn tersenyum, dia memindahkan posisi duduknya, kini dia duduk di sisi kiri bangku panjang itu. Tepat disebelah Wiya.


"Jadi andai aku bukan tunangan orang lain kamu mau menerima cinta ku?"


Wiya terdiam mencerna kalimatnya. Suhu tubuhnya dingin, namun gelanyar dalam dirinya terasa sangat panas, darahnya mengalir deras ke seluruh tubuh. Saat Zayn tiba-tiba menatapnya intens, seperti ada semut-semut kecil yang banyak merayap di telapak kaki dan tangannya. Perasaan aneh ini benar-benar belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Zayn menyibak ke tepi helaian rambut yang menutupi keningnya, jari-jarinya menyentuh lembut kulit pipi Wiya yang halus, angin malam berhembus seolah mensponsori yang dia lakukan, bola mata hitamnya menatap Wiya lekat dan semakin dekat, Zayn sedikit memiringkan kepalanya, Wiya tau pandangannya berpusat kemana. suasana hatinya sekarang membuat Wiya gagal mengartikan tatapan itu. Wiya malah memilih memejamkan mata, tak ingin menyaksikan apa yang akan terjadi pada dirinya sebentar lagi.


Melihat Wiya memejamkan matanya Zayn tersentak akan niat yang muncul dari naluri kelaki-lakiannya. Berdua dengan seorang gadis cantik yang dia suka, di tempat seperti ini tentu harus punya stok kesadaran yang lebih. Zayn bisa membayangkan betapa manisnya rasa bibir mungil merah muda itu apalagi dia baru saja meminum teh jahe dari cangkirnya. Dengan berat hati Zayn menahan diri.


Namun dia tak ingin melewatkan ekspresi gadis polos ini dengan mata terpejam. Zayn menarik hidungnya dan langsung membenamkan wajah Wiya di dada bidangnya. Wiya terkejut, Zayn memeluknya. Dia mengutuk dirinya sendiri yang bisa-bisanya memejamkan mata karena berharap lebih.


"Jangan lagi pernah menggoda ku dengan memejamkan mata mu begitu" Ucap Zayn tanpa melepaskan pelukannya. Wiya berusaha melepaskan diri, namun tenaganya tak berarti apa-apa, Zayn semakin mengeratkan pelukannya hanya dengan sebelah tangan.


"Jangan mencoba melepaskan diri, kamu sudah menerima cinta ku tadi!" Zayn menggesek-gesekan ujung dagunya di atas pucuk kepala Wiya.


"Zayn lepas! Kapan aku bilang begitu, In Your Dream!!" Wiya merasa malu sekaligus kesal.


Wiya mendongakkan kepalanya menatap wajah Zayn, tatapan matanya meminta penjelasan yang lebih rinci dari kalimat singkat tadi. Zayn melonggarkan pelukannya, kini dekapan itu lembut, hangat dan melindungi.


"Your bee?"


"My Bee? I Have No bee!"  Zayn menautkan alisnya, Bee apa yang Wiya maksud.


"Masih menyangkal! Kamu memanggil Brigitta dengan sapaan Bee. Manis kok!"


Zayn tertawa lepas terpingkal pingkal sampai melepaskan pelukannya. Wiya merapikan kembali rambutnya yang berantakan.


"Dengar sini ya!"  Zayn memegang kedua pundak Wiya. Wiya memasang wajah manyun merasa ditertawakan.

__ADS_1


"Aku memanggilnya Bii, Be i i, Bii untuk Brigitta. Bukan B e e yang berati lebah, seperti yang kamu kira" Zayn menarik gemas hidung Wiya. "Wah kamu berarti harus cemburu juga sama Asistennya Brigitta si Azmi karena dia juga memanggilnya Nona Bii Nona Bii" Zayn menirukan intonasi Azmi saat memanggil Nonanya. Kemudian dia tertawa lagi.


Wiya benar-benar merasa kalah telak malam ini. Harusnya dia tidak mempermalukan dirinya sendiri.


"Aku tidak bertunangan dengan Brigitta, Ilma Qawiya "


"Bagaimana bisa? kalian kan, hari ini harusnya bertunangan, dan undangan itu??"


"Sahabat mu, Ilham! Dia menikung ku. Tapi bagus lah, karena melihat keberaniannya menikung pimpinannya sendiri, aku jadi patah balik ke belakang. Memperjuangkan yang aku yakini!"


"Bicaralah yang jelas Zayn! Aku tak mengerti maksudmu!"


"Aku akan ceritakan semuanya, sekarang kamu harus akui dulu perasaan mu"


"Kamu sudah tau!"


"Aku ingin mendengarnya!"


"Aku mencintai mu Zayn Dwika! Sejak dulu!"


Angin yang berhembus disekitar mereka kini bukan lagi murni aliran udara, sudah tercampur energi baru yang terbentuk dari peleburan makna "teman" yang selama ini menjadi sekat diantara keduanya.


"Hubungan ini mungkin tak selalu mudah. Aku telah memilihmu. Aku akan memperjuangkan pilihan ku. Ku mohon tetaplah di sisiku sampai aku bisa menyelesaikan semuanya. Beri aku harapan, katakan kamu bersedia menunggu dan membantu ku melewatinya"


Zayn membawa gadis itu ke pelukannya sekali lagi. Akhirnya dia bisa memberikan Wiya sebuah perasaan yang lebih, dia melihat Wiya menerobos batas dirinya dengan mengungkapkan perasaannya. Zayn juga untuk yang kedua kali merasa berhasil menentukan pilihan untuk hidupnya sendiri.


Wiya dapat merasakan kehangatan yang Zayn coba salurkan. Sambil mendengarkan Zayn menceritakan semua rangkaian yang akhirnya membawa mereka ke tempat ini. Wiya benar-benar tak menduga ceritanya akan jadi demikian. Entah semesta sedang berkongsi dengan siapa saat sekarang.


Pelukan Zayn semakin erat di akhir kalimat. Wiya semakin mengendus dalam bau tubuh itu, menghirup dengan nyaman, rasanya dia ingin sekali tidur sesaat, mengistirahatkan rindu yang penat.


**************************************

__ADS_1


Terimaksih atas segala kebaikan hati reader semua.


Besok Author Slow Update ya ^_^


__ADS_2