
Tanpa menunggu jawaban dari boss yang hari itu adalah customer mereka, Mitty menarik tangan Wiya dan melangkah pergi ke tempat sepeda motor mereka terparkir tadi. Mitty buru-buru memberikan helm kepada Wiya dan melaju dengan kecepatan 60KM/s membelah jalanan menuju rumah Wiya yang memang tidak terlalu jauh.
“Eh Demit, lu kenapa sih tadi, diajakin masuk juga" Protes Wiya sambil meletakkan helm di cantolannya.
“Qawiya, lu tadi gak liat atau gimana itu boss kita seksi begitu terus kita mau-maunya disuruh masuk kerumahnya?"
"Astaga otak lu aja Mitt yang kemana-mana"
Wiya yang tadi hanya fokus memandang wajah yang beberapa hari ini membuat dia berimajinasi tidak terlalu memperhatikan yang lain.
“Wiy, bukannya kemaren elo yang yang merasa merdeka setelah hidup lo gak lagi berkaitan dengan beliau?” Mitty menggunakan kata ganti beliau agar Wiya tak kembali teringat wajah boss nya yang memang aduhai “Terus kenapa sekarang lo kegirangan waktu cuma disuruh masuk doang?”
“Gue, engga ya, siapa yang kegirangan?“ Cuma itu yang mampu Wiya katakan sekarang. Karena dia sendiri belum bisa memastikan apa-apa yang membuat sikapnya bisa auto plin-plan.
“Eh gue baru inget” Kata Mitty
“Apa?”
“Pesanan atas nama Wulan Santi tadi belum kita ambil uangnya Wiy. Gak selamat nyawa kita hari ini!”
Bukannya ikut panik. Wiya malah tersenyum licik.
“Mitt, tenang lo gausah risau, kali ini teori lo benar”
“Apaan?”
“Yang tadi pagi lo bilang. Pasti ada hikmah disebalik kejadian” Senyuman Wiya makin dilebarkannya.
“Hikmah apaan, ada juga kita nombokin ini mana itu tadi hampir 2 juta Wiy notanya”
“Kali ini lo serahkan semua sama gue“ Wiya menepuk nepuk pundak Mitty.
__ADS_1
“Gak Lucu Wiy!!!“
Senyum Wiya semakin terkembang membayangkan hikmah demi hikmah akan dia terima besok.
***
Hari sudah semakin petang, angin juga semakin kencang. Para pujangga pecinta senja sudah mulai gusar membuat kolase yang indah dari potongan kata-kata andalan. Wiya dan Mitty sudah masuk membantu Ibu menyalakan lampu, menutup jendela dan pintu, tiba-tiba deru suara mesin mobil berhenti di garasi rumah Wiya. Ayah dan Bang Ilham baru pulang sejak tadi.
Wiya keluar membukakan pintu untuk ayahnya
“Ayah! Abang ! abis dari mana sih? Tega banget hari libur tapi baru pulan jam segini“ Sungut Wiya.
Tanpa menjawab Ridwan mengeluarkan sesuatu dari dalam plastik kecil, sebuah kotak beludru merah hati kemudian Ridwan membukanya dan ternyata isinya adalah sebentuk cincin emas bertahta kan berlian di atasnya. Sangat cantik sekali.
“Ini dek, Ayah nemani abang beli ini Buat calon kakak ipar kamu” Saut ayah
Ridwan hendak mengambil tangan Mitty
“Eh, ehhh, ehhh enak aja nyobainnya di tangan Mitty. Sana di tangan cewe abang ih"
“Lah kan Mitty nanti yang akan pakai dek, tadi Mitty udah terima lamaran abang. Di waktu yang akan datang Mitty adalah kakak ipar kamu!"
Wiya menatap Mitty tajam. Tadi kapan yang dimaksud Ridwan. Sejak mereka bersama Mitty tak menceritakan apapun.
“Ha? Aku, tidak ! Bang, Kapan Mitty bilang iya. Mitty bahkan belum jawab. Ayolah Wiy, gue bisa jelasin” Mitty melihat kedua mata Wiya yang menuntut penjelasan.
“Yaudah jawab sekarang"
Mitty terdiam memikirkan ketiga pilihan jawaban yang Ridwan berikan.
__ADS_1
“Apa Mitty gak mau menerima abang? menikah dengan abang? jadi orang yang pertama kali abang pandang saat sadar? abang peluk saat abang gusar, jadi orang yang nungguin abang pulang, yang selalu abang doakan malam dan siang, eh kalau itu sih udah Mitt. Oke Mit, abang mungkin bukan pujangga sekelas Ilham, tapi apa Mitty mampu menolak lamaran abang yang apa adanya ini?”
"Eh kok bawa-bawa Ilham sih bang" Wiya menepuk lengan abangnya. Dia teringat betapa panjangnya syair dan filosofi malam yang Ilham ungkapkan saat menyatakan cinta.
Benar memang, kalimat Ridwan yang panjang malah kedengaran kontradiksi. Tapi ternyata cukup membuat Mata Mitty tak berkedip dan berkaca-kaca. Khayalan lamaran romantis seperti pada novel-novel yang dia baca lenyap sudah. Dengan cara biasa dirinya justru merasa amat istimewa.
“Aaaah, Demiiit. Sahabat gueeee. Yaudah Lo mikir apa lagi? Udah lah gausah dijawab. Ini kan do’a lo selama ini? Yaudah kesiniin jari lo. Biar gue yang cobain”
Wiya mengambil cincin itu dari tangan abangnya, menyelipkan di jari manis Mity, sahabatnya sendiri. Memang sih sejak beberapa bulan yang lalu abangnya sealalu meminta Wiya menceritakan tentang Mitty, tapi Wiya tidak menyangka Abangnya berani mengambil langkah secepat ini. Bahkan Jum’at depan Mitty akan dilamar secara resmi.
Ridwan adalah seorang kepala bagian di salah satu instansi pemerintahan dibawah kementrian kesehatan. Usianya sudah 32 tahun. Padahal Mitty cukup sering berkunjung ke rumah mereka, namun baru saat Mitty mengantarkan Wiya sakit tempo hari Bang Ridwan mulau rutin memikirkannya. Dan terus mencari informasi tentang Mitty dari adiknya.
Ayah dan Ibu ikut mengantarkan Mitty pulang sampai pintu depan, Mitty tadi membawa mobilnya sendiri. Mitty termasuk putri dari seorang kalangan terpandang. Namun sangat mandiri. Ibu Mitty sudah meninggal
dunia sejak Mitty lulus sekolah menengah. Ayahnya mengizinkan Mitty merantau ke Tanjungpinang dengan catatan Mitty harus pandai menjaga diri dan tetap menggunakan fasilitas rumah dan mobil yang ayahnya berikan. Tak banyak yang tau Mitty adalah anak dari pengusaha property di kota metropolitan itu.
----------------------------------
RENCANA NYA MAU UPDATE KE 4 EPS YANG UDAH DI SETOK
TAPI UDAH DI TEGOR WAKTU NGEDITNYA BARU SAMPAI SINI
INSYALLAH BESOK DISAMBUNG LAGI YA ^_^
TERIMAKASIH BANYAK YANG UDAH SEDIA MAMPIR DAN MEMBACA
__ADS_1