
Puas Zayn meminta maaf dan berjanji pada Mama Wulan akan membawa Wiya bertemu dengannya besok, sesuai yang Mama Wulan inginkan, walau Zayn belum tau bagaimana caranya. Dan Zayn meminta mama menceritakan potongan kejadian yang tidak dia ketahui.
Flashback mode : On
Sore itu petugas keamanan melihat gelagat aneh dari Titin. Entah habis dari mana dia pulang kerumah dengan menggunakan jubah dan selendang beserta kacamata. Titin langsung menuju kamar Wulan yang sudah biasa tidak terkunci. Titin ingin memastikan kondisi kakak iparnya sesuai dengan keinginannya.
Jika rencananya berhasil seharusnya saat ini kakaknya semakin lemah dan tak berdaya. Namun saat dia melihat laporan hasil pemeriksaan gula darahnya 3 kali terakhir. Titin seperti tak terima karena hasil itu menyatakan Mama Wulan semakin membaik dan stabil. Lihatlah sekarang, Mama Wulan sedang setengah berbaring membaca sebuah buku autobiografi yang pernah ditulis suaminya.
"Tres? Abis dari mana?" Mama Wulan menurunkan kakinya ke bawah tempat tidur dan meletakkan buku ke nakas disampingnya saat melihat Titin masuk tanpa memberi salam dan menyapanya. Titin tak menjawab pertanyaan Mama Wulan.
"Kalian hanya memberikan aku dua outlet kecil untuk membalas jasa orang tua ku yang sangat besar kepada suami mu Mba" Ucapnya sinis.
Mama Wulan sama sekali tidak menyangka kalimat itu bisa keluar dari mulut seseorang yang sudah dianggap adiknya sendiri. Di masa lalu orang tua Titin memang menjadi orang yang turut membantu memudahkan proses penelitian Haris muda di pulau terpencil itu. Selama empat bulan Haris diizinkan tinggal di rumah mereka dan kedua orang tua angkatnya juga membantu Haris beradaptasi dengan masyarakat sekitar yang kala itu masih sulit menerima kehadiran orang luar. Hanya sebatas itu. Namun Haris muda menganggap mereka sudah seperti orang tuanya sendiri.
Nama kedua orang tuanya ada di dalam buku autobiografi yang dia tulis, sebagai bentuk penghargaan dan tanda bahwa Pak Haris mengingat jasa mereka. Saat Haris sudah berhasil merintis usahanya, dia tidak melupakan kedua orang tua angkatnya. Kedekatan mereka semakin terjalin, Haris membangunkan rumah yang lebih layak dan membiayai pendidikan Titin hingga memberinya modal usaha. Haris tidak memberhentikan semua uluran itu bahkan setelah kedua orang tua angkatnya meninggal.
Entah bagaimana ceritanya, Haris memang pernah mengatakan akan memberikan Titin kepercayaan mengelola salah satu outlet yang masih atas nama keluarganya. Dan beberapa hari yang lalu, Mama Wulan bahkan telah membalik namakan dua outlet menjadi dibawah tanggung jawab Titin. Namun Ternyata itu diluar ekspektasi Titin karena selama setahun dia bersusah payah bersikap manis, harusnya dia mendapatkan minimal setengah dari seluruh aset perusahaan Haris.
"Tres, Itu semua bukan milik ku. Itu milik Zayn dan kedua adiknya. Semua aset atas nama mereka"
"Oh ya, pantas saja. Lihatlah sekarang. Anak sulung mu mengangkat kekasihnya menjadi manajer keuangan di perusahaan. Kalian ternyata sangat percaya dengan orang luar ya" Ucapnya provokatif.
"Apa maksud mu, Tres? Qawiya? Bukan Zayn yang mengangkatnya. Itu keputusan manajemen. Dan dia memang pantas menduduki posisinya. Dia bukan orang luar, dia adalah bagian penting di perusahaan" Jelas Mama Wulan dengan tenang dan masih berharap Titin bisa mencerna kalimatnya dengan waras.
__ADS_1
Kuping Titin seketika memanas karena kalimatnya tadi tak berhasil jadi umpan. Dia menjalankan rencana kedua yang dia yakin akan berhasil membuat Wulan shock dan marah.
"Mungkin Mba Yu harus lihat foto-foto ini" Menyerahkan amplop coklat "Lihatlah cara perempuan itu menggoda anak mu. Dia berhasil membuat Zayn membohongi kita selama setahun ini. Bukankah aku sudah sering mengingatkan Mba Yu tentang ini? Sekarang lihatlah akibatnya" Ucap Titin mengata-ngatai dengan begitu percaya diri.
Kalau tadi kupingnya, saat ini malah matanya yang rasanya hampir terbakar melihat ekspresi Mama Wulan yang malah tersenyum-senyum malu seolah sedang melihat album kenangan masa kecil.
"Apa yang salah dari foto ini Tres? Terimakasih Tres, aku sekarang sedikit percaya kalau Zayn benar-benar sudah menentukan pilihannya sendiri." Memasukkan kembali lembaran foto itu ke dalam amplopnya.
Titin merampas amplop itu dari tangan Mama Wulan dan kembali melihat satu persatu isinya memastikan yang diberikan oleh paparazi bayaran tadi benar-benar foto kedekatan Zayn dan Wiya. Pantas saja Mama Wulan tersenyum-senyum kecil, potret itu memang tampak sebuah hubungan yang manis.
"Bukankah Mba tidak suka Zayn dekat dengan gadis itu?"
"Memangnya kapan aku bilang begitu?"
"Mba sering bilang, mereka hanya teman dan Mba tidak mau ambil pusing memikirkannya."
Titin tak putus asa, dia masih punya rencana ketiga.
"Baiklah, bagaimana sekarang perasaan Mba Yu saat melihat ini" Menyodorkan sebuah map plastik bening. Mama Wulan mengambil dan mengeluarkan isinya.
Sebuah surat wasiat resmi yang dibubuhi stempel basah dan tanda tangan Notaris yang menyatakan sebagian aset perusahaan keluarga Haris telah sah menjadi miliknya. Dan Titin berhasil direncana ketiga. Dia bisa tersenyum melihat Mama Wulan terkejut, bahkan sempat histeris namun tercekat karena tiba-tiba nafasnya sesak dan tidak bisa mengendalikan diri.
Dengan sigap Titin mengambil obat dari saku jubahnya yang dia beli di apotek atas resep yang dia cari di google dengan *keyword "Obat Penghilang kesadaran" . Tadinya dia sedikit ragu saat menyebutkan nama obat itu, kenapa petugas apotek memberikannya dengan mudah tanpa bertanya apapun? Seharusnya jika itu obat berbahaya kan tidak akan diizinkan tanpa resep dokter. Tapi dia tetap yakin dengan rencananya.
__ADS_1
Dan dia masih memainkan peran terakhirnya menjadi peri dengan membantu Mama Wulan meminum obat itu. Mama Wulan yang hampir hilang setengah kesadarannya meminum obat terkutuk itu begitu saja, sehingga tak sampai 15 menit dia sepenuhnya kehilangan kesadaran dan pingsan di atas tempat tidurnya. Dan Titin melanjutkan dramanya dengan berteriak histeris memanggil seluruh penghuni rumah hingga ikut membawa Mama Wulan ke rumah sakit. Semuanya panik sampai tak ada yang teringat untuk langsung menghubungi Zayn.
Saat Mama Wulan tersadar, samar-samar dia melihat dan mendengar Titin sedang berbicara melalui telpon dengan seseorang. Dan saat Mama Wulan memanggil namanya, dia begitu terkejut, mungkin tidak menyangka efek obat yang dia fikir berbahaya hanya membuat Mama Wulan tertidur tak lebih dari 4 jam saja. Sehingga dia melarikan diri dari ruangan itu, dan Mama Wulan memanggil perawat dengan menekan tombol emergency yang terjangkau oleh tangannya.
Flashback mode : Off
Zayn berdecak kesal dan geram. Titin ternyata berencana menghancurkan keluarganya. Tapi sayangnya ilmunya masih amatiran. Sepertinya hanya di dapat dari modal nonton sinetron di TV. Memang setiap hari Titin punya kebiasaan menonton FTV Azab, tapi bukankah harusnya dia bertaubat ? Atau minimal hafal lagu Kang opick yang menjadi Ost serial TV itu. Ternyata yang di rekam awal bawah sadarnya adalah trik-trik kejahatan yang kenyataannya malah serba nanggung. Tapi walaupun rencana itu gagal Zayn tak akan pernah melepaskannya begitu saja.
"Gimana Mama bisa shock melihat surat palsu itu Ma? Surat wasiat asli dari notaris kita sudah aman di bank. Dan isi surat Titin jelas tidak sah karena surat wasiat kan harus sesuai hukum waris, Ma" Zayn kembali mengusap wajahnya dengan tangan.
"Entahlah, Mama begitu takut dia benar-benar merebut semua yang papa perjuangkan Zayn" Kenang Mama Wulan. "Maafkan mama juga Zayn, Selama ini sejak kamu kecil, hidup mu hanya tentang pilihan Mama, sehingga kamu tak bisa mengenali suara hati mu sendiri. Ini semua salah mama" Mama Wulan memeluk anak sulungnya.
Apa ini? Mama meminta maaf. Berarti Mama sudah tidak marah dan tidak memaksanya atau minimal memberikan tambahan waktu untuknya dalam rangka meluluhkan hati Wiya.
"Tapi Mama tidak mau tau, gimanapun caranya, besok kamu harus bisa membuat Wiya memaafkan mu, dan bawa dia segera menemui mama, atau bawa mama menemui Wiya, dan keluarganya" Mama Wulan melepaskan pelukannya dan kembali mengingatkan dengan tegas.
Lalu ini apa Ma? Ini apa namanya kalau bukan memaksakan keinginan mama?
Menghadapi Wiya besok pagi setelah malam ini aku membuatnya terluka?
Kenapa Gak mama suruh aku masuk ke kandang singa aja sekalian ma.
__ADS_1
Rasanya sekarang Zayn lebih membutuh Oksigen di tabung itu daripada Mamanya.